
Pada jurus jurus awal, Puguh selalu menghindar, setiap mendapatkan serangan. Hal itu semakin menambah rasa percaya diri Gogor Gora.
Dengan tubuhnya yang tinggi besar, setiap pukulan atau pun cakaran yang Gogor Gora lakukan, menimbulkan suara berkesiutan.
Namun, perasaan percaya dirinya berubah menjadi rasa terkejut, saat Puguh mulai menangkis dan mengimbangi kecepatan serta kekuatannya.
Setiap pukulan Gogor Gora selalu ditangkis Puguh yang membuat lengannya terasa bergetar. Sedangkan saat Gogor Gora melakukan serangan cakaran, Puguh selalu memapaki cakarannya dengan tusukan jari ke arah telapak tangannya.
Merasa serangan tangan kosongnya tidak berhasil, setelah pukulan terakhirnya, Gogor Gora melompat ke belakang sambil meloloskan kedua senjata kapaknya.
"Bocah bau kencur ! Jangan salahkan aku jika kau mampus dengan tubuh tidak utuh lagi !" teriak Gogor Gora.
"Hhhh !!!" Puguh hanya mendengus sambil sedikit tersenyum, sambil memperhatikan pertarungan yang lainnya. Puguh selalu menyempatkan melihat keadaan Den Roro dan Den Bagus.
Melihat lawannya yang masih sangat muda tidak takut sedikitpun, Gogor Gora menjadi bertambah murka.
Kedua kapaknya diputar pelan di masing masing genggamannya. Kemudian, dengan berteriak, tubuhnya kembali melesat ke arah Puguh.
"Haaarrrccchhh !!! Rasakan ini ! " teriak Gogor Gora.
Kedua kapaknya bergantian mengarah ke bagian bagian tubuh Puguh dengan sangat cepat. Gerakan inilah yang membuat Gogor Gora sangat terkenal.
Belum ada lawan yang mampu menghadapi ataupun menghindari serangan bacokan kapak yang dilakukan secara beruntun dengan sangat cepatnya.
Seringnya, lawannya akan tewas dengan keher yang hampir putus atau dengan dada yang terbelah kapak. Paling ringan, lawannya bisa menghindar dengan salah satu anggota tubuh yang putus atau terluka terkena mata kapak.
Namun kali ini Gogor Gora seperti membacok udara kosong. Kemanapun kapaknya menebas, selalu tidak bisa mengenai tubuh Puguh.
Bahkan, serangan serangan balasan ataupun tangkisan Puguh membuat kedua tangannya bergetar dan kedua kapaknya serasa hendak terlepas.
Sementara bersamaan dengan itu, delapan anak buah Gogor Gora mendapatkan perlawanan dari para pendekar. Den Roro, Den Bagus dan beberapa senopati, menghadapi satu lawan satu anak buah Gogor Gora. Sedangkan sisa anak buah Gogor Gora dikeroyok oleh para prajurit dibantu oleh para pendekar.
Terlihat, Den Roro sudah di atas angin. Dirinya sudah menguasai keadaan dengan bisa mendesak lawannya. Senjata pedangnya sudah memberikan banyak luka pada lawannya.
Merasa sudah hampir menang, Den Roro sekilas melihat ke pertarungan Puguh.
__ADS_1
Dilihatnya, walaupun hanya terlihat berkelebatan karena begitu cepat gerakannya, Puguh selalu menghindari serangan lawannya.
"Puguh ! Apakah kau butuh bantuan ?" teriak Den Roro yang juga mengkhawatirkan keadaan Puguh.
Teriakan Den Roro itu juga terdengar oleh Gogor Gora.
Sedikit senyum terlihat di kedua sudut bibir Gogor Gora. Sambil menambah tenaga dalamnya, Gogor Gora merangsek maju mencoba menekan Puguh.
Puguh yang juga telah menambah aliran tenaga dalamnya, menangkis tebasan senjata kapak tetap dengan tangan kosongnya.
Namun serangan Gogor Gora ternyata hanya untuk pengalihan perhatian. Begitu posisinya cukup dekat dengan Den Roro, dilemparkannya senjata kapak di tangan kanannya ke arah Den Roro, dengan tujuan den Roro terluka dan konsentrasi Puguh terpecah, hingga kemudian diserangnya dengan senjata kapak yang satunya.
"Swiiinnnggg !!!"
Melihat gerakan curang lawannya, yang tidak diperkirakan sebelumnya, Puguh segera melemparkan buntalan yang ada di punggungnya ke arah senjata kapak yang melesat ke arah Den Roro.
"Den Roro ! Awasss !" teriak Puguh sambil segera melenting ke atas sambil mengayunkan tendangan kaki kanannya ke arah muka Gogor Gora.
Paaaccckkk !!!
Gogor Gora segera berusaha bangkit lagi. Kepalanya yang sedikit pusing digeleng gelengkannya. Terlihat darah di kedua sudut bibirnya.
Melihat lawannya sudah berdiri lagi, Puguh kembali berkelebat cepat dan secara beruntun melayangkan pukulan dan tendangannya. Gogor Gora yang masih pusing, tidak bisa mengimbangi lagi kecepatan Puguh.
Muka Gogor Gora dua kali terkena pukulan Puguh, disusul dengan tendangan kaki kanan Puguh mendarat di perutnya dengan telak.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Buuuggghhh !!!
Tubuh besar Gogor Gora tersurut ke belakang dengan tubuh membungkuk, dan kemudian jatuh terlentang. Gogor Gora terlihat sudah tidak bergerak lagi.
Sementara itu pada saat yang bersamaan, begitu mendengar teriakan Puguh yang memperingatkan dirinya, Den Roro menggeser sedikit tubuhnya kesamping saat ada benda putih yang melayang dan jatuh di depan kakinya.
Melihat hanya buntalan dari kain putih yang jatuh di dekat kakinya, Den Roro segera melesat lagi ke arah lawannya. Karena sudah terluka dan kehilangan banyak darah, membuat gerakan lawannya sudah tidak secepat tadi. Hanya membutuhkan dua jurus, Den Roro berhasil menghujamkan pedangnya ke dada lawannya, dan membuat tewas lawannya.
__ADS_1
Den Roro menyelesaikan lawannya hampir bersamaan dengan Puguh menjatuhkan Gogor Gora.
Melihat Puguh juga sudah berhenti bertarung, Den Roro kembali melihat ke arah buntalan yang dilemparkan Puguh ke dekat kakinya.
Didekatinya buntalan putih itu, dan Den Roro segera mengetahui kalau itu adalah buntalan bekal dan baju ganti Puguh.
Den Roro merasa diledek oleh Puguh. Dengan kaki kanannya, ditendangnya buntalan itu hingga melayang cepat ke arah muka Puguh.
"Puguh ! Apa maksudmu ini !" teriak Den Roro sambil menendang buntalan putih itu.
Puguh yang saat itu juga sedang melihat ke arah Den Roro, tidak menduga jika buntalan itu bakalan ditendang oleh Den Roro, sehingga tidak sempat lagi menghindar dan buntalan itu tepat mengenai mukanya.
Buuukkk !!!
Puguh segera menangkap kembali buntalan yang jatuh dari mukanya itu.
Bersamaan dengan muka Puguh terkena buntalan bekalnya sendiri, terlihat sebuah bayangan putih melesat ke arah tubuh Gogor Gora yang terlentang tak bergerak. Bayangan putih itu langsung menyambar tubuh Gogor Gora dan membawanya melesat pergi dari tempat pertempuran itu.
Puguh yang terlambat melihatnya, segera melesat mengejar ke arah bayangan putih itu menghilang.
Sementara Den Roro yang hanya melihat kelebatan dua bayangan menjadi ragu untuk menyusulnya.
Sesaat Den Roro menunduk. Pada saat itulah pandangan matanya terhenti pada senjata kapak yang tergeletak di tanah di tempat tadi buntalan Puguh berada.
Diambilnya senjata kapak itu. Kapak milik Gogor Gora.
"Jadi, tadi Puguh bukan melemparkan buntalannya ke kakiku, tapi, buntalan itu untuk menghentikan kapak yang dilemparkan kearahku," gumam Den Roro.
Matanya memandang ke arah dua bayangan yang tadi melesat pergi. Timbul perasaan menyesal, karena tadi telah menendang buntalan milik Puguh.
Namun Den Roro tidak bisa lama berdiam diri. Dilihatnya pertempuran di sekitarnya belum berakhir.
Untuk melampiaskan perasaan kecewa dengan apa yang telah dilakukannya, sekaligus rasa menyesal, Den Roro segera ikut bergabung lagi dalam pertempuran. Seolah mendapatkan tambahan tenaga, tubuhnya melesat cepat dan sabetan pedangnya yang bertubi tubi seperti tidak bisa dibendung.
Anak buah Gogor Gora yang sebenarnya sudah terdesak, semakin kewalahan menerima serangan Den Roro. Sehingga sebentar kemudian, kedelapan anak buah Gogor Gora tewas di tangan Den Roro dan pendekar lainnya.
__ADS_1
__________ ◇ __________