Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Janji Puguh


__ADS_3

Melawan Muka Pucat, mungkin Rengganis masih bisa mengimbanginya. Namun dengan bergabungnya Putri Mahatariti yang kemampuannya tidak jauh berbeda dengan ibunya, membuat pertarungan ini sangat berat bagi Rengganis.


Beberapa kali tubuhnya dibuat jungkir balik untuk menghindari semua serangan lawannya. Bahkan pukulan ataupun tendangan kedua lawannya sudah mulai mengenai tubuhnya.


Hingga pada suatu saat, Rengganis yang sudah sangat terpojok, tidak bisa menghindari serangan kedua lawannya.


Serangan Muka Pucat dan Putri Mahatariti yang dilakukan secara bersamaan, berusaha ditangkis Rengganis dengan sekuat kemampuannya.


Namun akhirnya Rengganis harus menerima kenyataan. Dua pukulan tangan Muka Pucat yang mengenai dada dan perutnya serta tendangan Putri Mahatariti yang menghantam punggungnya, membuat Rengganis jatuh terkapar.


Rengganis masih berusaha untuk bangkit berdiri, namun serangan yang mengenai tubuhnya membuat dadanya sesak dan akhirnya memuntahkan darah segar.


Kesempatan itu dimanfaatkan Muka Pucat untuk mendekat dan mencengkeram kepala Rengganis.


----- * -----


Sementara itu di pertarungan yang lain pada waktu yang bersamaan.


Tanpa disadari oleh keduanya, pertarungan Puguh melawan Dharma Shankara telah berlangsung lebih dari lima puluh jurus. Pertarungan mereka berjalan dalam gerakan yang sangat cepat.


Dalam pertarungan itu, Dharma Shankara yang sudah mengeluarkan sebagian besar kekuatannya, tetap belum bisa mendesak Puguh, bahkan dia masih dibuat terkejut dengan kecepatan Puguh yang masih bisa mengimbanginya bahkan mungkin melebihinya.


Dengan gerakan yang masih lebih cepat dari Dharma Shankara, pedang Puguh berhasil memberikan beberapa luka pada Dharma Shankara. Pukulan dan tendangan Puguh beberapa kali membuat tubuh Dharma Shankara harus terjatuh dan bergulingan di tanah.


Luka luka yang diterimanya membuat gerakan Dharma Shankara menjadi sedikit melambat. Hingga pada satu rangkaian serangan, tendangan kaki kiri Puguh berhasil mengenai bahu kanan Dharma Shankara dan membuat goyah kuda kudanya lalu kemudian terjatuh. Hal itu dilanjutkan dengan tebasan pedangnya ke arah senjata cambuk yang memaksa Dharma Shankara harus melepaskan pegangan pada gagang cambuknya. Dan dengan gerakan yang sudah tidak bisa diimbangi lagi oleh Dharma Shankara, ujung pedang Puguh berhasil menorehkan luka memanjang di dada Dharma Shankara yang kemudian terjatuh lagi dalam posisi duduk berlutut.


Namun, baru saja Puguh menggerakkan pedangnya untuk mengejar Dharma Shankara, tiba tiba terdengar suara Muka Pucat.


"Anak muda ! Hentikan seranganmu ! Atau kepala gadis ini aku hancurkan !" teriak Muka Pucat.


Mendengar perkataan Muka Pucat, Puguh sejenak melihat ke arah Muka Pucat. Dilihatnya tangan kanan Muka Pucat mencengkeram ubun ubun Rengganis.


Sementara itu, mendengar suara istrinya dan melihat lawannya yang masih muda itu tidak mengejarnya, Dharma Shankara segera menjauh dari Puguh dan segera dilindungi oleh Putri Mahatariti.


"Ibu, biar aku yang bicara dengannya !" sahut Putri Mahatariti.


"Puguh ! Menyerahlah dan terimalah tawaran kami !" kata Putri Mahtariti lagi.

__ADS_1


"Kau bebaskan dulu temanku !" jawab Puguh cepat.


"Hiiihhh hinhi hi ... kalian semua harus kami tahan !" sahut Muka Pucat.


"Baiklah !" jawab Puguh pelan sambil mengeluarkan tenaga dalamnya cukup besar, membuat pendaran sinar hijau terang yang keluar dari bilah pedangnya menyala semakin terang.


"Kalian semua berani menyakitinya walaupun seujung rambutnya, kalian semua akan mati di sini !" ucap Puguh setengah berteriak.


Kemudian Puguh segera memasang kuda kudanya lagi dan pedangnya siap digunakan untuk menyerang.


Putri Mahatariti terkejut mendengar kenekatan Puguh. Apabila mereka tetap menyerang Puguh, walaupun dengan mengerubutnya, nampaknya akan sulit untuk menang, bisa bisa mereka semua akan tewas di tangan Puguh.


Maka segera saja Putri Mahatariti maju beberapa langkah dan memberi tawaran.


"Puguh ! Kalau temanmu itu kami lepaskan, apakah kamu akan menyerah pada kami ?" tanya Putri Mahatariti.


"Lepaskan dia ! Aku akan menyerah !" jawab Puguh.


"Baik ! Aku pegang kata katamu sebagai seorang pendekar !" kata Putri Mahatariti yang sengaja menggunakan kata kata pendekar, agar Puguh tidak melanggar janji.


"Ibu, tolong lepaskan gadis itu," pinta Putri Mahatariti.


"Hiiihhh hi hi hi .... Gadis ini sudah aku tangkap ! Kenapa harus aku lepaskan lagi ?" jawab Muka Pucat menolak permintaan Putri Mahatariti anaknya.


"Ibu, ... apakah ibu ingin kita semua mati ? Ayah sudah terluka parah !" kata Putri Mahatariti menjelaskan.


Muka Pucat melihat ke arah Dharma Shankara suaminya. Otaknya dengan cepat berhitung. Kalau gadis ini mati, lawannya akan mengamuk dan dengan keadaan suaminya tidak bisa ikut bertarung, mereka kemungkinan besar akan kalah dan terluka, bahkan bisa tewas.


Maka Muka Pucat segera mendorong Rengganis ke arah Puguh.


"Pergilah !" kata Muka Pucat.


Rengganis yang merasakan sesak pernafasannya, dengan tertatih berjalan ke arah Puguh.


Puguh segera mendekat ke arah Rengganis kemudian memberikan pedangnya pada Rengganis.


"Adik Rengganis, pegang pedang ini dan tempelkan bilah pedang ini pada dada adik. Pedang ini sudah kakang masuki tenaga dalam kakang, semoga sedikit mengurangi rasa sakit akibat luka luka adik," bisik Puguh pada Rengganis.

__ADS_1


Tanpa mempertanyakan, Rengganis segera menerima pedang yang bilahnya mengeluarkan pendaran sinar hijau terang, yang disodorkan oleh Puguh. Segera saja bilah pedang itu Rengganis dekatkan ke dadanya yang terasa sesak.


Sesaat kemudian, Rengganis merasakan ada hawa dingin yang membanjir masuk ke dadanya dan menyebar ke seluruh peredaran darahnya. Perlahan Rengganis merasa dada dan pernafasannya menjadi ringan dan tubuhnya merasakan sehat lagi serta tenaga dalamnya seperti terkumpul kembali. Bersamaan dengan itu, pendaran sinar hijau terang yang keluar dari bilah pedang yang didekap di dadanya semakin meredup dan akhirnya pendaran sinar hijau itu menghilang.


Pada waktu yang bersamaan, begitu Rengganis menerima pedang yang dia sodorkan, Puguh segera melesat ke arah enam orang paruh baya yang menjadi anggota inti Perkumpulan Jaladara Langking yang kemaren mengawal Putri Mahatariti.


Plak plak plak !


Bugh bugh bugh !


Dengan gerakan yang sangat cepat, Puguh melayangkan beberapa pukulan ke arah keenam laki laki paruh baya itu sehingga mereka.semua pingsan.


"Puguh ! Apa yang kau lakukan ! Kau hendak melanggar janjimu !" teriak Putri Mahatariti dengan histeris.


"Aku tidak akan melanggar apa yang sudah aku ucapkan ! Aku hanya memastikan, mereka semua tidak mengejar saat temanku meninggalkan tempat ini !" jawab Puguh.


Kemudian, Puguh segera mendekat lagi ke arah Rengganis.


"Adik Rengganis, pergilah, tinggalkan tempat ini secepatnya. Berlarilah secepat yang adik bisa. Pergilah ke Kadipaten Langitan, disana adik Rengganis akan bertemu dengan guruku. Kakang titip pedang ini !" bisik Puguh pada Rengganis.


"Tapi kakang, ... kita kan bisa membunuh mereka semua sekarang ?" tanya Rengganis.


"Ssttt ... kakang sudah berjanji untuk menyerah. Kakang tidak mungkin mengingkarinya. Adik Rengganis tidak usah mengkhawatirkan kakang. Kakang akan segera menyusul," sahut Puguh.


"Tapi kakang janji, berhati hati dan segera menyusul Rengganis," pinta Rengganis.


"Kakang berjanji, akan segera menyusul adik Rengganis !" jawab Puguh.


Kemudian, dengan berat hati, Rengganis bersiap untuk pergi dari tempat itu.


Sementara Puguh segera berdiri menghadap ke arah Putri Mahatariti dan kedua orangtuanya, sambil mengeluarkan tenaga dalam yang cukup besar.


"Siapapun yang mengganggu dan menghalangi perginya temanku, artinya siap menerima kematian !" kata Puguh cukup keras.


Dan pada saat itupun, Rengganis segera melesat meninggalkan Puguh dengan berlari secepatnya. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sekarang, hanya dalam sekejap, Rengganis sudah sangat jauh dari rumah bercat hijau tempat mereka bertarung tadi.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2