
semburan api yang keluar dari mulut Naga terus saja menghujani Zhang Ziyi. Hingga kulit serta daging anak itu tak tersisa lagi. Menyisakan tulangnya yang berwarna silver.
Dia tak berhenti dan terus menyemburkan apinya.
Sehari berlalu, Si Naga tetap tidak berhenti dengan apa yang dia lakukan. Hingga suatu hal aneh terlihat dari tulang-tulang Zhang Ziyi.
Debu-debu cahaya mengelilingi tulang Zhang Ziyi. Cahaya itu semakin banyak seiring dengan berjalannya waktu.
Sesuatu yang menyerupai daging melapisi tulang Zhang Ziyi. Daging-daging itu semakin menebal. Hingga dalam waktu tiga jam, tubuh Zhang Ziyi telah kembali seperti sedia kala.
Tubuhnya melayang di udara. Naga tadi telah berhenti melancarkan semburannya. Beberapa saat, tubuh Zhang Ziyi memancarkan cahaya emas serta merah. Semakin terang seiring dengan berjalannya waktu, hingga mengisi seluruh ruangan. Dalam lima detik, cahaya itu redup kembali.
Zhang Ziyi tengah menutup kedua matanya. Di tangan serta kakinya saat ini tengah di ikat oleh rantai besi.
Mendadak kedua kelopak matanya terbuka, memperlihatkan pupil mata berwarna emas. Menyala sesaat, namun tak berlangsung 2 detik nyala pada pupil mata Zhang Ziyi kembali redup, meninggalkan warna emasnya saja.
Zhang Ziyi memperhatikan sekitar, Dia merasa aneh dengan itu.
"Bukankan aku telah mati, dalam ujian kedua? Mengapa aku malah kembali di sini. Dan rantai-rantai ini serta–" Dia tidak melanjutkan perkataannya. Menilik sekitar, semuanya telah berubah. Dimana Magma yang sebelumnya ada di mana-mana telah menghilang. Dia saat ini tengah berada di panggung, dengan di kurung oleh dinding energi transparan.
"Apakah ujian kedua telah berhasil ku lewatkan?" pikirnya, namun setengah tidak percaya.
Dia mengecek tingkat kultivasinya,. Dan yah, dia telah melewati dua tahapan sekaligus. Tidak hanya itu, tubuhnya terasa begitu segar, penuh energi, dan tidak ada beban sama sekali. Sensasi dimana tubuhnya terasa begitu nyaman saat selesai berendam di air panas yang dahulu sering di sediakan oleh Zhang Zhili kembali dia rasakan. Namun kali ini lebih nyaman dua kali lipat.
Zhang Ziyi menghela napas. "Jika memang ujian kedua telah aku lewati, maka aku harus bersiap untuk menyambut ujian berikutnya!"
Zhang Ziyi terdiam. Dia menunggu ujian ketiga di mulai. Tiga puluh menit berlalu. Sama halnya ujian kedua, kini tanda-tanda ujian ketiga telah nampak.
Selayaknya sebuah ilusi, Zhang Ziyi melihat sekitarnya mulai berubah. Yang tadinya di kelilingi oleh dinding transparan, kini berubah menjadi pegunungan.
Dua buah gunung terlihat di bawahnya. Dia di atas dengan rantai yang sangat panjang mengikat kedua kaki serta tangannya. Posisinya sendiri saat ini dalam keadaan berdiri di udara dengan batuan rantai-rantai teraneh.
__ADS_1
Zhang Ziyi menoleh ke bawah, yang di penuhi oleh warna hijau pepohonan rimbun. Lalu pandangannya ia arahkan pada rantai yang mengikat tangan serta kakinya.
"Kenapa rantai-rantai ini selalu mengikuti–ku!" Zhang Ziyi mendengus. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan keadaannya.
Zhang Ziyi mengambil sikap waspada. Sesuatu yang sangat berbahaya akan datang kapan saja. Pendengarannya yang tajam mendengar sesuatu yang datang. Menoleh ke samping kanan, segerombolan pedang dengan mata yang sangat tajam melesat ke arahnya. Jumlahnya pun tidak hanya satu, melainkan ribuan. Semuanya bergerak lurus membentuk garis berkelok-kelok.
Whush!!!
Whush!!!
Whush!!!
Pedang-pedang itu bergerak sangat cepat. Zhang Ziyi refleks menghindar ke samping kala pedang-pedang itu datang hampir menghunjam dirinya dari depan.
Sesaat, dia menyadari kalau rantai-rantai yang mengurung tangan dan kakinya itu sebenarnya bisa memanjang dan memendek mengikuti setiap gerakannya. Dia lantas memanfaatkan kesempatan itu, untuk menghindari pedang-pedang itu yang kini telah kembali berbalik mengejarnya.
Zhang Ziyi terbang, menghindar. Di belakangnya kini, pedang-pedang itu bergerak cepat seperti ular.
Dai mengumpat. Kini pedang-pedang itu tinggal sepuluh meter sebelum mencapai dirinya.
Dia mencoba untuk menggunakan elemen waktu. Sialnya itu tidak bekerja, jika rantai masih mengikat kedua tangan dan kakinya.
Tak ada pilihan menghindar, Dia menggunakan dua rantai yang mengikat tangan kanan serta tangan kirinya sebagai tameng. Menyilang–kan kedua tangannya ke depan.
Sring!!
Sring!!
Sring!!
Pedang-pedang itu terpantul satu persatu saat bertabrakan dengan rantai. Tapi jumlahnya sangat banyak. Di tambah, pedang-pedang itu begitu keras dalam menghantam rantai yang mengikat kedua tangan Zhang Ziyi.
__ADS_1
Percikan bunga api tercipta dari benturan kedua benda tersebut. Semakin lama, tangannya terasa semakin kebas. Zhang Ziyi kewalahan. Bahkan seiring dengan berjalannya waktu, rasa kebas itu semakin bertambah.
Fisiknya yang bisa di bilang kuat itu, malah mati kutu saat ini. Hantaman itu seperti mengandung energi yang diluar nalar besarnya. Hampir saja dia dibuat terdorong keras oleh hantaman tersebut kalau saja rantai besi itu tidak menahan gerakannya.
"Haaaarrgghhhhhhh!" Zhang Ziyi berteriak. Sudut bibirnya kini mengeluarkan darah.
Energinya terkuras banyak hanya dalam waktu singkat. Kini dia hanya bisa mengandalkan keberuntungannya.
Tiga puluh menit berlalu. Pedang-pedang yang seperti tidak ada habisnya itu akhirnya sampai pula pada bagian terakhir. Saat itu, Zhang Ziyi yang tak sanggup, hendak menyerah. Tangannya gemetaran, apalagi rantai itu yang lumayan berat, semakin. bertambah berat pula seiring dengan energinya yang terkuras. Jika tadi dia masih bisa mengangkat rantai itu dengan mudah, namun kali ini dia tampaknya tak akan sanggup lagi.
Tangannya yang semula menyilang, mendadak terpisah dan menggantung. Beruntung di saat-saat terakhir kemampuannya, pedang-pedang itu juga telah berhenti untuk muncul dan menghantamnya.
"Haaahhh.... Huuuhhh... Haaahhh!!"
Napasnya tak beraturan. Dia berusaha menetralkan deru nafas yang kian memburu itu. Setelahnya Zhang Ziyi bergumam. "Akhirnya berakhir juga ujian ini! Haaahh!"
Lima menit terlewatkan. Tapi Zhang Ziyi belum juga kembali ke tempatnya semula. Dia masih saja berada di dunia asing. Dunia dimana ujian ketiga ini di laksanakan.
"Aneh, mengapa aku masih di sini? Juga kekuatanku kenapa tidak meningkat?" gumam Zhang Ziyi. Penasaran dengan yang sebenarnya terjadi.
"Apa mungkin ujiannya belum selesai?" mengira-ngira dengan ekspresi kaget.
Benar saja, selesai dengan bergumam, Zhang Ziyi langsung di kagetkan oleh suara gong yang di pukul dengan keras. Suara itu terdengar tiga kali, setelahnya tidak terdengar lagi.
Zhang Ziyi mencari-cari keberadaan gong di sekitarnya, namun tak ia temukan.
"Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba terdengar bunyi Gong di tengah-tengah hutan belantara ini?"
Zhang Ziyi menilik ke bawah. Memperhatikan pepohonan hijau yang tumbuh begitu rimbun. Mencari keberadaan Gong tersebut. Namun tetap tak dia temukan.
"Pertanda apa ini? Apakah sudah lolos ujian, atau malah belum selesai?" Zhang Ziyi bertanya-tanya terkait hal itu.
__ADS_1