Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 77 ~ Sekte Tujuh Elemen


__ADS_3

Selesai dengan bercerita, Zhang Zhili pun mengajak mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan.


"... Tidak baik menunda sesuatu!" ucap Zhang Zhili.


"Kau benar guru! Mari, kita kembali melanjutkan perjalanan!" Zhang Ziyi ikut menambahkan.


Portal dimensi tercipta di hadapan mereka.


Whush!


Whush!


Whush!


"...."


Satu per satu dari mereka lantas memasuki portal tersebut. Dan menghilang di balik energi hitam yang berputar.


-


Muncul di tempat dimana Zhang Ziyi serta Zhang Zhili sebelumnya berhenti.


Setelahnya sama-sama melesat dengan menggunakan burung elang sebagai tunggangan.


Dua hari perjalanan tanpa adanya hambatan berarti, akhirnya mereka sampai di tujuan.


Zhang Zhili menghentikan rombongan kala melihat tembok yang terbuat dari beton beberapa ratus meter dari tempat mereka berhenti, yang tertutupi sebagiannya oleh rimbunan pohon yang tumbuh lebat.


"Guru, apakah kita sudah sampai di sekte Tujuh Elemen?" tanya Zhang Bie.


"Umm, Tembok besar itu adalah sekte Tujuh Elemen!"


"Hmm. Kalau begitu, apa yang kita tunggu? Mari melanjutkan perjalanan!" Zhang Lan nampaknya mulai tidak sabar untuk segera ke sana.


Zhang Zhili menghela napas sejenak. Ingatan tentang bagaimana dahulu dirinya saat berada di sekte Tujuh Elemen. Suka duka namun lebih banyak duka dibanding suka.


"Semoga saja mereka tidak mengalami hal yang sama seperti ku dahulu!" batin Zhang Zhili dalam hati.


"Baik, mari kita kembali melanjutkan perjalanan!" Zhang Zhili memimpin rombongan ke arah tembok besar itu.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai.

__ADS_1


Sekitar 50 meter dari gerbang masuk sekte, mereka memilih untuk berjalan kaki. Burung elang tunggangan di simpan dalam ruang dimensi milik Zhang Zhili. Setelahnya sama-sama berjalan kaki memasuki sekte.


Zhang Zhili membiarkan murid-muridnya untuk berjalan lebih dulu. Sementara dia memilih untuk berjalan di belakang.


Bukan karena apa, melainkan dia merasa sedikit belum siap untuk bertemu kembali dengan orang-orang sekte.


-


Di sisi lain, empat orang pria yang bertugas menjaga gerbang sekte langsung menghentikan langkah Zhang Ziyi serta yang lainnya.


"Berhenti, orang asing di larang masuk tanpa ijin. Jika tidak ada keperluan penting, silahkan meninggalkan sekte! Kami tidak menerima orang rendah seperti kalian!"


Baru saja sampai di sekte, mereka langsung di sambut dengan perkataan yang tidak sedap untuk di dengar dari salah seorang penjaga gerbang.


Empat penjaga gerbang itu sendiri memiliki kultivasi di ranah Dewa tahap 1. Pastinya mereka bisa mengukur tingkat kultivasi Zhang Ziyi serta yang lainnya. Dimana yang paling tertinggi diantara rombongan itu adalah Zhang Ziyi serta seorang pria yang nampak menyembunyikan wajahnya di balik jubah hitam yang berdiri di belakang rombongan.


"Ck, berani sekali kau mengatakan perkataan itu pada kami. Belum pernah kau merasakan di bakar api bukan?" Zhang Meng yang terpancing emosinya mulai melakukan perubahan unsur elemen. Kedua tangan pria itu mengeluarkan api yang berkobar. Berharap dengan demikian, empat orang ini akan takut sekaligus takjub dengannya.


Pasalnya, Zhang Meng mengetahui di benua sebelumnya mereka berasal tidak ada yang bisa melakukan perubahan unsur energi Qi menjadi unsur elemen. Maka ia berinsiatif untuk memamerkan hasil latihannya itu kepada keempat orang ini.


Sayangnya, Zhang Meng hanya mengetahui yang tidak bisa melakukan perubahan unsur elemen itu hanyalah orang-orang di benua dirinya berasal saja. Namun berbeda cerita dengan kultivator di benua Naga ini.


"Hahaha... Kau mau menunjukkan apa bocah! Hanya melakukan perubahan unsur elemen tingkat dasar saja, kau sudah sombong!" Berkata diselingi dengan tawa keras. Keempat orang itu tidak tanggung-tanggung mengeluarkan suara saat menertawai Zhang Meng.


"Perasaan tidak ada yang salah dengan ini?" Batinnya.


"Cih, Aku tau, kalian tertawa seperti itu pasti karena tidak tahu cara melakukan perubahan unsur elemen, bukan? Hahaha... Sudahlah kawan, tak usah malu-malu denganku! Mengaku–lah!" Zhang Meng berbalik tertawa.


Zhang Lan pun juga tidak ingin ketinggalan momen. Bersama dengan Zhang Meng, mereka berdua menertawai keempat orang tersebut.


Di sisi lain, Pria yang menutupi wajahnya dengan jubah hitam. Yang berdiri di belakang rombongan Zhang Ziyi menggelengkan kepala. Betapa cerobohnya kedua muridnya itu.


-


Sementara itu, empat orang pria yang menjaga gerbang menghentikan tawanya sejenak, sehingga membuat Zhang Meng dan Zhang Lan merasa menang. Kedua anak itu sendiri semakin mem–perkencang suaranya.


Namun tidak sampai sepuluh detik, empat orang penjaga gerbang mulai kembali tertawa. Tawa yang semakin keras sampai-sampai ada diantara empat orang itu yang memegangi perutnya.


"Sudah... Huhh! Sudah!" Salah satu penjaga gerbang memerintahkan temannya untuk segera berhenti tertawa. Tentu saja berbicara dengan nafas yang memburu.


Ketiga temannya pun mengikuti apa katanya.

__ADS_1


Setelah merasa agak tenang, Salah satunya kemudian mengangkat bicara.


"Bocah, aku salut dengan rasa percaya dirimu yang begitu tinggi itu. Namun kau tidak melihat batasan–mu sendiri, sehingga membuatku terasa lucu dan ingin terus tertawa!"


"Hehehe, pak Tua. Aku tahu kau tidak bisa melakukan perubahan unsur elemen bukan?" Zhang Meng menanggapi perkataan orang itu dengan mengulang kembali perkataannya. Dia sendiri telah menghentikan tawanya saat penjaga gerbang berhenti tertawa.


"Cih, bocah ingusan sepertimu berani meremehkan ku! Hahaha... Bocah, kau mau sesuatu menarik bukan?"


Pria yang berbicara lantas menciptakan pedang api dari tangannya. Setelahnya pria itu memamerkan pedang api tersebut pada Zhang Meng serta yang lainnya.


Sontak, Zhang Lan serta Zhang Meng tersedak nafasnya sendiri kala melihat pedang api itu. Niat hati ingin pamer, ternyata orang yang mau di pamer lebih hebat dari dia.


Malu bukan main, Zhang Meng mengingat kembali perkataannya tadi. Juga tawa yang begitu keras barusan, membuat wajah Zhang Meng sedikit memerah karena rasa malu. Ibarat yang tadinya di atas awan-awan, malah terlempar ke jurang yang paling dalam.


Di sisi lain, Zhang Yin serta Zhang Bie yang sedari awal diam tak bersuara, kini mulai menampakkan senyum kecil melihat ekspresi kedua temannya.


"Bodoh! Jika hendak pamer, lebih baik lihat dulu batasan–mu, juga siapa yang hendak kau jadikan sebagai target!" Zhang Yin memukuli kepala bagian belakang Zhang Meng.


Pemuda itu sendiri tidak menanggapi pukulan tersebut. Zhang Meng hanya bisa terdiam tanpa suara. Terlanjur malu dia.


"Sudahlah Bocah! Kalian bisa meninggalkan tempat ini. Karena kami tidak menerima orang lemah seperti kalian!" ucap salah satu penjaga gerbang mengusir Zhang Meng serta yang lainnya.


"Mohon maaf paman, kami datang kemari dengan baik-baik. Juga kami melakukan perjalanan berminggu-minggu untuk sampai di tempat ini. Bagaimana kami bisa kembali tanpa hasil!" Zhang Bie maju dan memberikan penjelasan, berharap dengan demikian keempat penjaga itu mau membukakan jalan untuk mereka masuk. Walaupun dia tidak begitu yakin perkataannya itu akan meluluhkan hati para penjaga gerbang.


"Kalian yang melakukan perjalanan, lantas apa masalahnya dengan kami. Apapun alasan mu, kami tak peduli... Silahkan tinggalkan tempat ini sebelum kami bertindak kasar."


"Cih, Pak tua sialan! Sombong sekali!" cibir sekaligus umpat Zhang Lan dengan suara berbisik


"Bocah, aku bisa mendengarnya. Cari mati kau hah!"


Pria itu maju ke depan dan hendak menyerang Zhang Lan. Namun dengan segera di cegah oleh Zhang Ziyi.


"Mohon maafkan teman-teman ku paman! Mohon jangan di ambil hati!" Zhang Ziyi berbicara dengan sopan.


"Heeh! Kau siapa bocah! Berani memerintah–ku!" pria tersebut berbicara kasar lalu melayangkan tinjunya terhadap Zhang Ziyi.


Meski gerakannya cepat, namun nyatanya Zhang Ziyi bisa menghindari dengan mudah.


Berhenti sejenak, pria itu tak menyangka pemuda ini bisa menghindari serangannya dengan mudah. Padahal, dia begitu yakin kalau anak itu berada di ranah Langit tahap 9.


"Baiklah bocah, aku akan memaafkan kalian dan mempersilahkan kalian masuk, asal kalian bisa menghancurkan batu tebing itu dengan sekali serangan saja!" Pria tersebut menunjuk sebuah batu tebing yang tingginya sekitar 50 meter dan besar.

__ADS_1


Hendak mengetes sejauh mana kemampuan anak ini. Meski begitu, dia yakin kalau tadi, anak ini bisa menghindari serangannya barusan karena sebuah kebetulan juga keberuntungan.


__ADS_2