
Larut malam yang kelam. Tak ada setitik pun cahaya keperakan rembulan yang menyinari nuansa kala itu.
Whush!
Whush!
Beberapa bayangan melesat dengan kecepatan tinggi. Melompati atap demi atap rumah, hingga sampai di sebuah bangunan memanjang di paling ujung dekat dengan hutan.
Diam-diam mengawasi rumah tersebut. .
Salah seorang dari mereka memberikan kode kepada yang lainnya untuk maju. Tapi tidak ada yang bergerak mengikuti instruksinya.
Orang itu merasa geram, dia lantas menoleh ke belakang untuk menyuruh kembali para bawahannya, namun apa yang dia lihat? Tidak ada seorang pun di sana.
"Ai? Kemana perginya mereka? Sialan!" umpatnya.
Sejenak, dia merasakan tengkuknya yang dingin. Segera dia melesat menghindar ke samping. Benar saja, sebilah pisau tajam nyaris menusuk tengkuknya. Beruntung refleks yang dia keluarkan cepat, sehingga masih sempat menghindarinya.
Sayangnya, pisau itu tidak tinggal diam dan membiarkan dirinya hidup lebih lama. Dengan sangat cepat, pisau itu kembali bergerak melingkar, dan tepat menghunjam otaknya. Darah menetes melewati alis dan membanjiri matanya. Seketika pemimpin dari kelompok pengintai malam itu mati begitu saja.
Niat hati untuk membunuh dalam diam, namun belum juga sampai melakukan aksinya, mereka telah lebih dulu di bunuh oleh orang yang bahkan mereka sendiri pun tidak mengetahuinya.
***
Babak 25 besar kembali di mulai. Kali ini memiliki peraturan yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Dimana peserta di sini akan dibagikan masing-masing batu dengan warna berbeda. Ada lima jenis warna dalam sebuah kantong kain.
Para kontestan akan memilih dengan tanpa melihat warna batu tersebut. Dalam kata lain, saat mereka mengambil batu dalam kantong mereka tidak melihat langsung warna apa yang akan mereka pilih melainkan itu secara kebetulan.
Salah satu peserta yang mendapatkan batu berwarna hitam maka dia akan langsung di diskualifikasi. Sementara itu peserta lain yang memiliki warna yang sama maka mereka akan bertarung bersamaan, dimana ada tiga batu yang memiliki warna yang sama.
Tentunya hal itu memberatkan mereka para kontestan, namun mereka juga tidak bisa komplain karena ini merupakan keputusan wasit.
Pemilihan batu tersebut kemudian diaimulai. Para kontestan satu persatu meng ambil batu dari dalam kantong kain. Belum ada yang membukanya. Menunggu komando dari MC sebelum mereka akan melihat warna apa yang mereka peroleh.
Mengambil batu dengan penuh harap-harap cemas. Tak ingin salah mengambil batu berwarna hitam dan berakhir dengan dikualifikasi tanpa bertanding. Mereka belum melihat batu tersebut dan masih dalam kepalan tangannya.
"Baik, silahkan kalian buka, dan lihat!" ucap MC menyuruh para kontestan untuk membuka kepala tangan mereka.
__ADS_1
"Yes!"
"Yes!"
Beberapa diantaranya langsung kegirangan kala mendapatkan batu berwarna selain dengan warna hitam.
"Kak Ziyi, bagaimana?" tanya Zhang Lan.
"Aman!"
"Kalau kamu?" Zhang Lan beralih pada Zhang Meng.
"Tentu saja lolos. Aku tidak akan kalah begitu saja dengan tanpa bertarung sedikit pun. Zhang Meng menyombongkan diri.
"Cih!" Zhang Yin yang melihat tingkah Zhang Meng hanya membuang muka malas.
MC kembali menyerukan suaranya. "Kepada kontestan yang mendapat batu berwarna hitam, silahkan meninggalkan panggung arena.
Salah seorang jangan ada di barisan para peserta berjalan dengan kesal keluar arena. Tampak dirinya begitu tidak terima hingga tidak berhenti mengomel
"Baik, karena sekarang sudah ada 24 peserta yang akan bertanding, maka sesaat lagi kita akan menyaksikan perjuangan para peserta ini dalam menemukan tempat sebagai pewaris Dewa.
Semua peserta mengangguk mendengar apa yang di ucapkan oleh MC tadi.
Pertandingan pun resmi di mulai. Zhang Meng, Zhang Lan berada dalam satu warna batu. Artinya mereka berdua akan bertanding bersama. Sialnya yang menjadi lawan mereka adalah Mu Ai, yang merupakan perwakilan dari ras Iblis. Dia juga keturunan dari Raja Iblis.
"Berhati-hatilah... Lawan kalian berasal dari ras Iblis. Takutnya kekerasan akan sangat dia terapkan nantinya," ucap Zhang Ziyi mengingatkan dua orang rekannya itu.
"Kami mengerti, kakak Ziyi."
"Kakak Ziyi tenang saja. Selagi ada aku, maka dia tidak akan ada apa-apanya dibandingkan kami.'' Kedua kalinya Zhang Meng menyombongkan dirinya.
Setelahnya, mereka berdua turun di atas arena, sebab pertandingan pertama adalah warna yang di peroleh kedua laki-laki itu.
Sisi lain arena pertandingan, seorang pria saat ini tengah duduk menyaksikan jalannya pertandingan, yang telah berlangsung sejak satu menit yang lalu.
Meski tatapannya lurus di atas panggung arena, tapi tidak sedikit pun pertandingan yang tengah berlangsung itu menarik perhatiannya.
__ADS_1
Selang beberapa saat, seorang pria mendatanginya. Pria itu sendiri hendak membisikkan sesuatu padanya
Raut wajah Pria yang duduk itu seketika memburuk saat mengetahui kabar yang dibawakan oleh pria tersebut.
"Apa?!" Hendak marah namun di segera memposisikan dirinya. Berada diantara kerumunan banyak orang membuatnya harus bisa mengontrol emosinya, sebab bisa jadi itu akan membuat dia malu dan menjadi perbincangan orang di sekitarnya.
"Bagaimana mereka bisa mati?"
"Entahlah, Yang Mulia. Namun kami menduga bahwa orang yang telah membunuh mereka adalah Zhang Ziyi," ujar pria tersebut menjelaskan.
"Hmm, anak ini memang tidak bisa untuk dianggap remeh," ucap laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Raja Shang.
***
Pertandingan telah dimulai sejak 30 detik yang lalu. Namun tidak terlihat tanda-tanda pergerakan ada tiga orang yang saat ini berdiri di atas panggung. Ketiganya saling tetap menatap lawan.
Zhang Lan dan Zhang Meng salam berpandangan sejenak, sebelum sama-sama mengangguk lalu kemudian maju melesat dengan kecepatan tinggi dari arah berbeda.
Berlari secara Zig-zag. Berhenti di kedua sisi Mu Ai. Kedua pedang yang telah dilapisi oleh energi Qi serta telah melakukan perubahan unsur elemen diangkat lalu diarahkan ke satu arah yaitu tubuh Mu Ai.
Whush!
Whush!
Mu Ai tidak berniat menghindar. Dia dengan santainya menahan dua pedang tersebut dengan kedua tangannya pula. Tak terlihat adanya perubahan energi saat menahan kedua benang tadi.
Hanya dengan sedikit gerakan tangan, langsung menerbangkan Zhang Lan serta Zhang Meng.
Keduanya berhasil mendarat dengan sempurna, meski harus terdorong beberapa langkah. Zhang Lan mengumpat. Dia tidak menyangka bahwa kekayaan lawan mereka kali ini akan begitu kuat.
Kedua orang itu kembali menyerang dari arah berbeda-beda. Menyerang di titik buta dan vital, namun tetap saja pertahanan Mu Ai begitu kuat sampai sangat sulit untuk ditembus.
Baik Zhang Lan, maupun Zhang Meng sama-sama menambah tempo kecepatan gerak. Juga serangan yang mereka lancarkan terhadap tubuh Mu Ai semakin diperkeras. Sayangnya itu masih belum bisa memaksa Mu Ai untuk menggunakan kekuatannya.
"Cih, dasar lemah!" Mu Ai berucap sedikit malas. Lalu dia meraih tangan Zhang Lan serta kaki Zhang Meng yang saat itu hendak meninju dan menendang dirinya.
Mu Ai kemudian membenturkan tubuh keduanya dengan sangat keras. Tidak berhenti dan merasa belum puas, Mu Ai kemudian mengaliri kepalan tinjunya dengan enegi merah gelap, Lalu meninju Zhang Meng hingga membuat Zhang Meng terpental cepat menabrak lantai hingga membuat lantai retak. Begitupun juga Zhang Lan. Dia juga mendapat tinju telak darinya.
__ADS_1
Mu Ai tidak berhenti sampai di sana. Dia bahkan menyiksa Zhang Lan dan Zhang Meng hingga darah telah membanjiri baju keduanya.
Pertandingan pertama pun telah usai. Mu Ai pergi keluar panggung dengan begitu santai. Seolah tidak memikirkan bagaimana kondisi Zhang Lan serta Zhang Meng saat ini.