
Cahaya emas menyilaukan belum berhenti keluar dari tubuh Zhang Ziyi. Hingga saat Zhang Ziyi membuka kedua matanya yang semula terpejam, cahaya tersebut ikut meluas, membantuk gelombang lingkaran energi emas.
"Mari bertarung secara imbang!"
Tepat setelah Zhang Ziyi menyelesaikan kalimatnya, dia tiba-tiba menghilang dan muncul kembali tepat di hadapan sosok berbentuk monster itu.
Zhang Ziyi mengarahkan tapak pada dada sosok itu.
Dengan mengeluarkan refleks cepat, sosok berbentuk monster itu segera menepis tapak Zhang Ziyi. Lalu juga membalas dengan menggunakan kepalan tinju yang dibalut dengan energi hitam.
Tempo pertarungan semakin cepat. Keduanya kian berpindah seiring dengan berjalan waktu.
Terlihat pula energi hitam dan emas ber.gerak melurus layaknya komet yang saling berbentur-benturan.
Keduanya sama-sama mengambil jarak setelah melakukan ribuan adu tangan kosong. Zhang Ziyi memperhatikan lawannya sejenak, lalu pandangannya dia alihkan ke arah bawah di mana Laohu yang tengah membawa Zhang Zhili, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Lan, Shui Shan serta Shui Bing di punggungnya. Entah Bagaimana nasib rekan-rekannya yang saat ini masih terjebak dalam ilusi.
"Aku harus cepat! Jangan sampai jiwa mereka kalah dan mati di alam ilusi Sosok menyerupai Monster ini!" gumam Zhang Ziyi pelan.
Dia kemudian mengeluarkan Pedang Naga Langit Dari cincin penyimpanannya. Lalu mulai mengendalikannya, menciptakan ribuan duplikat Pedang Naga Langit.
Pedang-pedang itu bergerak cepat layaknya angin put*ng beliung. Bergerak mengelilingi Zhang Ziyi sebentar lalu berpindah mengarah ke sosok menyerupai monster itu setelah dikendalikan oleh Zhang Ziyi.
Ribuan pedang yang bagaikan Hujan pedang, dengan bilah yang tajam serta ujung yang runcing bergerak bergerombol layaknya seekor naga terbang memutar. Mengalir deras bak arus sungai, hingga dalam hitungan detik telah berada 5 meter dari tempat sosok berbentuk monster itu berdiri.
Melihat ribuan pedang yang mengarah padanya, sosok berbentuk monster itu tertinggal diam. Kepalan tangannya tiba-tiba saja berubah besar, dengan urat hitam terlihat di pergelangan tangan hingga ke otot lengan. Setelahnya dia maju mengadang ribuan pedang dan meninju mereka.
Sring!
Sringg!
Sring!
Beberapa pedang yang berada di depan langsung terpental kala di hantam oleh tinju keras dari sosok itu. Namun karena ketajaman pada Pedang Naga Langit yang tidak bisa dibohongi, maka pedang-pedang itu berhasil melukai atau menggoresi kulit tangan sosok itu. Namun tidak membuat sosok menyerupai monster itu berhenti melakukan aksinya. Malahan terus meninju dan bahkan semakin ganas meninju peduli dengan kondisi kulit tangannya yang telah terkelupas.
Ribuan duplikat Pedang Naga Langit tidak berhenti untuk menghujani tubuh sosok menyerupai monster.
"Sial, jika terus begini, bisa-bisa aku yang akan mati oleh ribuan pedang-pedang ini." Sosok menyerupai monster itu berkata dalam hati. Dari tubuhnya, melepaskan energi hitam hitam sangat besar. lalu membentuk sebuah tameng energi.
Sring!
Sring!
Sring!
Ribuan duplikat Pedang Naga Langit menghantam perisai tersebut. Beberapa diantaranya terpantul di arah lain layaknya air mengalir dari ketinggian.
Zhang Ziyi yang melihat pedang-pedang yang dapat terhalang oleh perisai tersebut, tidak tinggal diam. Laju pada duplikat Pedang Naga Langit semakin dipercepat.
Pada akhirnya perisai energi yang dibuat oleh sosok menyerupai monster itu hancur juga. Bagaimana tidak, kecepatan luar biasa itu membuat daya tekanan duplikat Pedang Naga Langit semakin keras dalam mengantar perisai energi, hingga menimbulkan keretakan yang semakin membesar kala terhantam oleh duplikat pedang naga Langit secara terus menerus dengan kelajuan yang sama di masing-masing pedangnya.
__ADS_1
Duplikat-duplikat Pedang Naga Langit berhasil lolos dan menghantam kembali tubuh sosok menyerupai monster itu. Dia tidak bisa mengelak hingga ribuan pedang menembus tubuhnya.
"Arrggghhkk! Siii_aa_llaaann!" Sosok itu mengumpat sangat keras. Namun tidak menutup pedang-pedang itu untuk berhenti bergerak.
Berlangsung selama lima menit. Duplikat Pedang Naga Langit telah berhenti melaju. semuanya menghilang, menyisakan satu buah pedang saja. Zhang Ziyi mengangkat tangan kanan dengan posisi telapak tangan terbuka. Setelahnya pedang Naga Langit itu melayang dan tetap di cengkraman tangan Zhang Ziyi.
Memperhatikan kondisi tubuh lawannya yang kini telah tersungkur di tanah. Tampak begitu tak berdaya. Tubuhnya banyak mengeluarkan darah hitam. Terbaring di tanah dengan keadaan menyedihkan. Di tambah, teknik rahasia yang sempat dia gunakan tadi kini telah melewati durasi yang telah di tetapkan, maka dia akan menemukan rasa sakit berkali-kali lipat.
***
Roh Dewa Kematian saat ini masih bertarung melawan Sosok dengan dibalut oleh kabut hitam. Pertarungan mereka telah memakan beberapa jam, dan belum terlihat adanya kekalahan dari seorang pun.
"Arrggghhkk! Siii_aa_llaaann!"
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seseorang. Sosok asap hitam dengan mata merah itu segera menghentikan pertarungan sesaat. Dia begitu mengenali pemilik suara itu yang tidak lain adalaha muridnya.
"Hahaha, tampaknya kondisi murid–mu saat ini tengah berada di ambang kematian!" Roh Dewa Kematian berkata dengan intonasi penuh provokasi.
Benar saja, sosok asap hitam tidak terima dengan perkataan Roh Dewa Kematian itu. Namun memang seperti itulah kenyataannya.
Memilih untuk menghindari Roh Dewa Kematian sejenak, Sosok asap Hitam itu berniat untuk menghampiri muridnya dan menolongnya. Asap di tubuhnya semakin tebal, lalu dia menghilang dari tempatnya.
Roh Dewa Kematian memasang seringai sinis. "Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja, Tch!" Dia kemudian juga ikut menghilang.
Zhang Ziyi yang tengah memperhatikan Apakah menyerupai monster itu tiba-tiba saja merasakan hawa di sekitarnya yang mencekam. Angin panas datang berhembus, bersamaan dengan membawa angin-angin tajam yang terasa menyayat di paru-paru.
Beberapa saat, muncul sosok lain di hadapannya. Sosok itu tanpa aba-aba langsung menyerang Zhang Ziyi dengan serangan energi gelap. Zhang Ziyi refleks menghindari serangan itu.
"Hehehe, urusan kita belum selesai, mengapa kau begitu terburu-buru!" Roh Dewa Pedang berkata dengan nada remeh.
"Cih, aku akan menghadapi–mu nanti, setelah aku membunuh anak itu!" ujar Sosok asap hitam bermata merah tersebut dengan nada geram.
"Hoi, apakah kau lupa, dia telah berating dengan murid–mu ... Dan lihatlah ke bawah sana! Murid yang kau banggakan itu telah kalah dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Itu berarti tinggal kita berdua yang juga harus mencari akhir dan pemenangnya!" ucap Roh Dewa Pedang kembali.
Sosok asap hitam bermata merah menoleh ke bawah, Diaman dia juga bisa melihat muridnya dan tengah meregangkan nyawa. Muridnya begitu membutuhkan bantuannya saat ini. Melihatnya saja telah mampu membuat hatinya sakit. Ingin sekali dia menghampiri dan menolongnya, namun situasinya saat ini tidak memungkinkan untuk itu.
"Persetan dengan kamu! Tak peduli mau kau seorang diri, atau berdua dengan pemuda sialan di samping mu itu... Intinya hari ini juga aku akan membalas rasa sakit yang diterima oleh murid–ku, hingga berkali-kali lipat dari rasa sakit yang dia alami!"
Sosok itu kemudian melepaskan kekuatannya. Sangat besar hingga mengguncang tempat itu. Hawa mencekam dengan membawa rasa dendam datang menyebar, menyatu dengan kabut tebal di tempat itu. Bahkan Zhang Ziyi sendiri sempat merasakan sedikit sesak oleh hawa tersebut.
Beberapa saat, roh-roh yang semula menguasai tempat itu, yang semula tersebar di beberapa daerah terkumpul di satu tempat. Yaitu ke dalam tubuh sosok asap hitam dengan mata hitam. Kekuatannya pun kian bertambah saat itu juga.
"Hahaha... Kemari–lah wahai roh-roh yang tersesat! Menyatukan bersamaku, jadilah bagian dari energi–ku... Hahaha!" Sosok itu tertawa renyah, berkata dengan suara yang sangat menggema layaknya guntur.
Roh Dewa Kematian melihat hal itu juga tidak bisa untuk tidak khawatir. "Gawat, dia akan menggunakan jurus itu..." ucapnya panik. Dia semakin merasakan pertambahan kekuatan pada sosok asap hitam dengan mata merah itu. Dia kemudian menoleh ke arah Zhang Ziyi. Lalu menghampirinya.
"Nak, kekuatannya saat ini telah melebihi batas kekuatanmu.Kau tidak akan mampu melawannya, meski mengerahkan segenap kemampuan mu!" kata Roh Dewa Kematian pada Zhang Ziyi.
Mengernyit, Zhang Ziyi kemudian menjawab, "Aku bahkan belum mencoba kekuatan ku ini untuk menghadapinya, bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan secepat itu!"
__ADS_1
"Hmm, kau memang masih memiliki beberapa kekuatan serta teknik rahasia yang belum kamu keluarkan. Tapi itu masih belum bisa dan belum cukup untuk mengalahkannya. Kemungkinannya berada di bawah dua puluh persen!" Roh Dewa Kematian mencoba untuk membuat Zhang Ziyi mengerti.
Alis Zhang Ziyi naik turun. Mempertimbangkan perkataan Roh Dewa Kematian tadi. Dia melihat kedua telapak tangannya, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah sosok asap bermata merah. Kekuatan sosok itu sendiri semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan telah melewati batas kekuatannya.
Dia kemudian mengangguk. "Lantas, apa yang akan kita lakukan?" tanya Zhang Ziyi meminta pendapat.
"Hmm, ini mungkin akan sulit kamu terima, tapi dengan cara ini, kita akan bisa untuk mengalahkannya!" ucap Roh Dewa Kematian.
***
Suasana yang kian mencekam, hanya di terangi oleh cahaya temaram merah darah dari bulan yang membulat sempurna. Sekeliling hanya terlihat siluet pepohonan bambu, menjulang tinggi. Udara pun telah tercampur dengan kabut darah.
Di tengah-tengah itu semua, terlihat beberapa orang tengah bertarung. Bukan bertarung sesama mereka, melainkan dengan Binatang-binatang melata dengan ukuran di batas normal.
"Sial, ini begitu sulit! Bagaimana kita bisa mengatasinya!" Zhang Lan berucap, nafasnya terputus-putus setelah energinya telah dia kerahkan untuk melawan Bintang-bintang tersebut. Memang Zhang Lan telah membunuh beberapa diantaranya, namun itu belum cukup untuk dikatakan selesai.
Ya, bukannya habis, binatang-binatang itu malah semakin bertambah banyak. Entah berapa persen lagi energi yang akan mereka keluarkan. Sementara untuk membunuh satu Binatang Melata saja sudah membutuhkan beberapa waktu. Apalagi kulit mereka yang begitu keras.
"Semuanya, tetap fokus dan usahakan jangan menjauh!" Zhang Zhili mengomando mereka. Sembari itu, pedangnya bergerak lurus dan menusuk seekor ular raksasa dari leher hingga tembus sampai kening ular itu, membuatnya langsung meregangkan nyawa saat itu juga.
Ketujuh orang itu bergerak di satu tempat, saling memunggungi. Mereka berada dalam keliling ribuan hewan melata yang berjalan lambat.
"Bagaimana ini?" tanya Zhang Meng.
"Hmm, mari saling melengkapi, jangan saling menjauhi!" ucap Zhang Zhili.
"Baik!"
"Baik!"
Ucap mereka Bersamaan. Setelah menelan pil untuk memulihkan energi mereka, semuanya Kembali bergerak.
Zhang Zhili menciptakan akar rambat yang langsung mengikat puluhan binatang melata sekaligus. Kemudian Shui Shan datang menyalurkan kekuatan petir pada tubuh Zhang Zhili. Kontan saja, Akar rambat yang mengikat puluhan Binatang Melata itu langsung menyalurkan energi listrik bertegangan tinggi.
Crisstt!
Crisstt!
Crisstt!
Listrik tersebut langsung menyetrum hewan-hewan melata.
Hewan-hewan melata itu sendiri tidak bisa berbuat banyak, sebab akar-akar rambat berduri milik Zhang Zhili yang begitu kuat dalam menekan leher mereka. Di tambah dengan setrika energi listrik bertegangan tinggi itu, membuat mereka semakin kewalahan.
Masih belum mati, Zhang Lan menyatukan kekuatan dengan Zhang Meng, menciptakan pisau angin yang sangat tajam, serta bertekanan batas maksimal energi api, menghantam hewan-hewan melata yang terikat. Langsung memotong leher mereka.
"Berhasil!" ucap mereka serampangan.
Kini giliran Shui Bing yang beraksi. Dengan di padu oleh kekuatan elemen lain dari rekan-rekannya, mereka juga berhasil membunuh puluhan hewan Melata hanya dalam sekali serangan saja.
__ADS_1
Teknik penyatuan atau penyaluran kekuatan itu sendiri, baru mereka temukan saat berada di sini. Sebelumnya memang mereka telah mendapatkan ilmu itu dari tujuh Dewa Elemen, namun mereka belum bisa menggunakannya, sebab saat itu, Tujuh Dewa Kematian hanya menjelaskannya tanpa berniat untuk melatih mereka. Dan saat ini baru mereka menyadarinya. Bahkan sampai bisa menggunakan teknik itu.