
Aura membunuh yang pekat diarahkan Zhang Ziyi pada lelaki berbadan besar.
Aura yang selama ini tersimpan dalam tubuhnya. Aura membunuh yang dia dapatkan ketika membunuh banyak nyawa. Baik anggota klan Zhang maupun binatang buas yang ada di hutan Luori.
Anehnya, meski aura membunuh yang begitu pekat itu terkumpul banyak dalam tubuhnya, namun Zhang Ziyi tak merasakan mentalnya yang terganggu.
Jika anak seumuran dirinya yang memiliki aura membunuh yang begitu pekat layaknya Zhang Ziyi ini, mungkin mereka akan mengalami gangguan mental dan selalu di hantui oleh rasa takut.
-
Pria berbadan besar merasakan tekanan yang kian memberat. Degup jantung yang berdetak kencang. Lutut yang tak berhenti bergetar hebat, dan bahkan keringat kini telah membasahi seluruh tubuhnya.
Baru kali ini dia merasakan aura yang begitu pekat itu.
"A–aura membunuh yang be–begitu pekat ini? Anak itu bukan manusia. Ka–kalaupun manusia, pastinya dia berasal dari aliran Hitam," ucap pria itu dengan sedikit terbata-bata.
Zhang Ziyi mendadak muncul di belakang lelaki berbadan besar.
"Senior, sebenarnya aku ingin sekali memotong tubuhmu, sayangnya kita berasal dari divisi yang sama, juga aku mengetahui potensi–mu dalam berkultivasi juga lumayan baik." Bisikan pelan namun penuh dengan tekanan besar. Lelaki berbadan besar itu sendiri sampai dibuat merinding karenanya..
Menarik kembali tekanannya. Zhang Ziyi menepuk-nepuk pundak lelaki itu setelahnya beralih ke arah 11 orang temannya.
"Senior-senior, sebenarnya aku tidak ingin berkelahi. Sebab selain kalah, kita juga berasal di divisi yang sama," ucap Zhang Ziyi.
"Kau terlalu banyak bicara, bocah... Matilah!" Seorang lelaki menyiapkan pedang yang telah di lapisi dengan energi petir yang ganas. Lalu dia berinsiatif untuk menyerang Zhang Ziyi.
Tidak hanya lelaki itu, seorang wanita yang berlekuk tubuh indah juga yang lainnya telah bersiap untuk menyerang Zhang Ziyi.
Namun belum juga melesat, mereka telah lebih dulu di hentikan oleh seorang pemuda yang dari tadi duduk santai memperhatikan Zhang Ziyi.
"Berhenti! Berikan harimau itu dan biarkan dia pergi," perintahnya. Perkataannya yang begitu dingin, juga pembawaannya yang tanpa ekspresi.
__ADS_1
Kesembilan orang yang berada di dekatnya mengernyit kebingungan.
"Ta–tapi mengapa ketua?" tanya gadis tersebut.
"Tidak ada alasan. Cepat lepaskan harimau itu dan biarkan dia pergi," Lagi dan lagi, perkataan pria itu menghipnotis semuanya. Tatapan matanya yang tegas mengisyaratkan bahwa dirinya tak menerima penolakan ataupun bantahan.
"Ba–baik ketua!" Meski enggan, namun mereka tidak ada pilihan lain selain melepaskan Harimau api itu dan membiarkan Zhang Ziyi membawa serta si harimau pergi bersamanya.
Bagaimana tidak, pria itu sendiri merupakan ketua dari organisasi kecil beranggotakan sebelas orang, dengan pria tersebut yang memiliki kultivasi tertinggi dari anggota yang lainnya. Yaitu di ranah Dewa tahap 3.
"Cih, Kalau bukan kultivasi mu yang lebih tinggi dariku, mungkin aku akan langsung membunuh mu saat ini juga!" gadis yang bersenjatakan cambuk itu membicarakan pria tersebut dalam hatinya. Tentu saja dia tidak bisa berbicara langsung lewat mulutnya. Salah-salah, malah dia yang akan di bunuh oleh lelaki berwajah tampan namun dingin ini.
"Kau! lepaskan tali yang melilit tubuh harimau itu!" perintah gadis tersebut kepada seorang lelaki yang berdiri di dekat Laohu.
"Baik!" Tanpa ada penolakan, dia langsung bergegas untuk melepaskan tali di tubuh Laohu.
Setelah terlepas, Laohu langsung berlari menghampiri Zhang Ziyi.
"Kenapa kau ini begitu ceroboh, Laohu?! Beruntung Pria itu mau melepaskan–mu begitu saja. Kalau tidak, mungkin pertarungan tidak dapat terhindarkan. Dan tentunya, aku akan mendapatkan masalah nantinya!" ucap Zhang Ziyi saat dalam perjalanan menuju tempat pelatihan.
Zhang Ziyi tidak menjawab. Dia nanya menundukkan kepala tanda menyesal
-
Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai tujuan.
Pertama kali memasuki gapura, mereka langsung di sambut oleh beberapa orang yang mendatangi mereka.
"Ini dia orangnya Kakek!" seorang lelaki menunjuk Zhang Ziyi dengan ekspresi marah.
Sekilas, Zhang Ziyi mengenali mereka sebagai orang yang sebelumnya sempat menggangu dirinya, namun malah berakhir dengan bernasib sial.
__ADS_1
Pria tua yang di panggil kakek oleh anak itu menautkan kedua alisnya. Sejenak, dia terdiam. Pria tua ini mengetahui akan bagaimana kekuatan dari anak ini.
Sesaat, terbelalak mata pria tua itu kala mengetahui bahwa Zhang Ziyi telah meningkat satu tahapan. Padahal beberapa hari yang lalu, saat anak ini bertarung dengan ketua Han Yue, dia bisa mengukur bahwa kultivasi Zhang Ziyi ini setidaknya berada d ranah Langit tahap 9, namun sekarang malah naik satu tahapan dan berhasil menerobos hingga ranah Dewa.
Niat awal ingin memberi pelajaran Zhang Ziyi, pria itu malah berbalik haluan. Apalagi anak ini yang datang-datang membawa binatang buas sebagai peliharaannya.
"Mohon maaf, senior. Bukan aku yang memukuli dia, akan tetapi anak-anak buahnya yang memukulinya!" Zhang Ziyi mencoba untuk menjelaskan.
"Hehehe! Kau tak perlu meminta maaf. Anak ini memang nakal. Dia selalu membuat onar dan menyusahkan banyak orang. Aku akan menghukumnya!" ucap Pria tua itu.
"Yongli'er. Kenapa kau ini selalu saja berbuat masalah. Kali ini kakek tidak akan memaafkan mu!" ucap pria tua itu. '"Lekas pulang ke rumah dan tidak boleh ke mana-mana. Berani kau melanggar, kakek tidak akan maafkan–mu!"
"A–apa?"
Terbuka lebar mulut anak tersebut kala mendengar apa yang di katakan kakeknya barusan. Tak percaya. Bagaimana tidak, kakeknya ini tidak pernah membentaknya sebelumnya.
"Ka–kakek! Bukan aku yang salah, tapi memang anak inilah yang lebih dulu mencari masalah denganku!" berusaha mengarang cerita untuk membela diri.
"Cukup!! Kau ini terlalu banyak alasan... Lekas ke rumah dan lakukan seperti yang aku perintah kan!" Sang kakek berkata tanpa ragu. Dia berencana akan menghukum cucunya ketika dia pulang ke rumah.
Meski kesal, namun Wei Yongli tak bisa berbuat apa-apa. Dia pun bersama antek-anteknya beranjak menuju kediaman Wei Yongli.
Sepeninggal cucunya, Wei An mengalihkan perhatiannya pada Zhang Ziyi.
"E–eh! Maafkan atas kelakuan cucuku, anak muda," ucapnya dengan sopan.
"Sudahlah senior. To aku juga tidak terlalu memikirkannya!" ucap Zhang Ziyi.
"Mari!" Wei An langsung mengajak Zhang Ziyi masuk dan memulai latihannya. Di sana juga telah banyak murid-murid divisi Halilintar yang telah berlatih.
Zhang Ziyi menuruti ajakan dari pria itu. Sebenarnya dia sendiri merasa aneh dengan sikap pria tua ini. Padahal, awal dirinya bersama Laohu memasuki gapura tempat pelatihan, dia bisa melihat ekspresi Wei An ini yang tampak begitu garang. Tidak ada senyum kecil di bibirnya. Namun entah mengapa, pria ini malah merubah sikapnya.
__ADS_1
"Sepertinya pria ini merupakan salah satu dari orang yang membuat Master Zhili tidak nyaman di tempat ini!" batinnya. Secara samar, Zhang Ziyi memasang senyum miring. Senyum yang di penuhi dengan kelicikan.