
Dewa Api memperhatikan orang-orang kuat di atas sana. Orang-orang itu sendiri membentuk beberapa kelompok, namun ada juga orang bergerak sendiri.
Masing-masing dari mereka mengeluarkan aura. Mencoba untuk menakut-nakuti lawan, namun sayangnya lawan tidak terkecoh sama sekali.
"Hmm, jika aku menghadang secara langsung, bisa-bisa aku akan mati keok sebelum melakukan serangan balas!" gumam Dewa Api. Dia tampak memikirkan cara jitu untuk mengatasi permasalah di atas, tanpa menimbulkan masalah terhadapnya.
Dia megambil insiatif untuk menciptakan sebuah perisai yang melindungi seluruh planet ciptaan Dewa Gou Liang.
Dinding transparan tercipta dan mengikuti ukuran dari planet. Dewa Api menjadikan perisai itu berlapis-lapis. Setidaknya mereka akan membutuhkan waktu lumayan lama untuk memecahkan perisai ini, sampai Dewa Gou Liang datang, dan memindahkan planet–nya. Tapi, dia juga tidak yakin perisai yang di buatnya ini akan bekerja seperti yang dia harapkan.
Pandangannya dia lemparkan ke atas. Dimana para penghuni alam atas tengah berkumpul di sana.
Ledakan terdengar menggelegar di atas sana. Tampaknya para penghuni alam atas kini telah saling berkelahi. Saling menjatuhkan satu sam lain, demi mendapatkan sebuah pil yang begitu di idamkan, yang berada di planet kecil itu.
Dewa Api semakin menajamkan Indra penglihatannya. Dia mengawasi setiap gerak-gerik dari para penghuni alam atas.
Di sisi lain, Pertempuran besar tak terelakkan itu telah terjadi selama beberapa menit lalu.. Di saat seorang atau suatu kelompok yang hendak bergerak menuju ke planet, maka di situlah kelompok lain akan menghentikannya.
"Hahaha, pil itu adalah milik Sekte kami. Siapapun yang berani merebutnya maka dia berurusan dengan sekte Gajah Langit!" ucap pria berbadan besar nan berotot.
"Cih, berhentilah mengatakan hal konyol yang pada akhirnya hanya akan menambah kotoran di telinga ku!" Dewa Pedang berkata, membalas pengakuan dari Tetua Sekte Gajah Langit.
Pertarungan antar kedua orang itu pecah. Sangat dahsyat, kala mereka melepaskan sebuah serangan. Dua energi yang mengandung kekuatan besar bertemu di titik tengah.
Duarr!
Ledakan besar yang disertai dengan angin kencang. Kedua orang itu tidak berhenti dan melanjutkan pertarungan mereka dengan jarak dekat.
Tidak hanya dua orang itu saja yang bertarung, melainkan semua penghuni alam atas yang ada di situ menemukan lawannya masing-masing.
Pertarungan baru berhenti tatkala mendengar sebuah seruan dari seseorang.
"Kalian bertarung dan akan saling membunuh hanya sebuah benda yang tidak jelas kepastiannya? Tch, Bahkan pil itu belum tentu bisa di sempurnakan dengan baik!" Gadis cantik yang mengenakan pakaian hitam dengan sabuk merah berjalan di udara. Suaranya yang menggelegar dan begitu dingin, tapi tidak ada orang mau membantahnya.
__ADS_1
Memang apa yang dikatakan oleh gadis itu benar adanya. Belum pasti terkait dengan kondisi pil Suci Agung yang mereka perebutkan ini. Bisa jadi dalam proses pemurnian pil, terjadi suatu kesalahan yang mengakibatkan pil tersebut tidak sempurna.
"Bahkan, sempurna atau tidaknya pil itu, kalau memang dia masih bernama pil Suci Agung, tetap akan memberikan dampak besar bagi penggunanya!" Tetua Klan Cahaya berucap. Perkataannya itu langsung di setujui oleh yang lainnya.
"Sotthi hotu ... Yang dikatakan tetua Klan Cahaya memang benar. Pil Suci Agung masih berada di posisi teratas, meski dalam keadaan cacat sekalipun. Bahkan Pil Suci Surgawi saja belum mampu untuk menandinginya." Seorang Biksu juga mengangkat bicara.
"Hmm, kalian masih ingin melanjutkan pertarungan konyol itu. Sementara di bawah sana, pencipta pil tersebut pasti sudah mengonsumsinya!" Gadis cantik yang mengenakan pakaian hitam itu kembali berucap, sembari pandangannya mengarah ke arah planet.
"Tunggu, apakah itu array?" ucap salah satu diantara mereka yang menyadari sesuatu.
"Kau benar! Yang dikatakan gadis ini juga benar. Kita tidak akan mendapatkan pil jika orang yang menciptakan pil mengonsumsinya. Apalagi kalau dia telah kabur."
"Mari buat kesepakatan untuk ini!"
Mereka mulai berunding, hingga sampai pada suatu kesepakatan. Mereka sama-sama mendekat ke arah planet. Tinggal satu menit sebelum mereka menyentuh Array.
Dewa Api yang memperhatikan mereka dari atap istana pun sampai dibuat khawatir.. melihat para penghuni Alam atas telah mendekat.
Baammm!!
"Kau tenang saja, aku akan membantumu untuk ini!" Seseorang berucap di dekat Dewa Api.
***
"Hahaha, Anak kecil, lebih baik kau menurut. Tidak ada gunanya kau menghadapai ku ... Kau masih kalah jauh dibandingkan diriku!" ucap seorang lelaki berpakaian hitam dengan corak abu-abu.
"Pak Tua! Kembalikan pil milikku!" Zhang Ziyi berkata dengan penuh ancaman. Dia juga menekan kalimatnya tadi.
"Hohoho, kalau kau mau mengambilnya, maka mari ambil sendiri!"
Pria itu menciptakan portal dimensi. Setelahnya dia memasuki portal dan berniat pergi dari sana.
Zhang Ziyi tidak tinggal diam. Dia melesat dengan kecepatan tinggi. Melompat dan memeluk erat lelaki itu. Hingga portal tertutup kembali.
__ADS_1
-
Swoshhhh!
Portal dimensi tercipta di atas sana. Setelahnya melemparkan dua orang lelaki, yang satu muda yang satunya lagi adalah paruh baya.
"Kurang ajar kau, Bocah!" Pria itu yang marah langsung melepaskan tapak yang dipenuhi enegi Qi pada dada Zhang Ziyi.
Zhang Ziyi tak sempat menghindar hingga membuatnya terlempar beberapa meter, dan menghantam batu besar di tengah gurun.
Meski demikian, dia masih sempat berhasil mengambil pil Suci Agung dari tangan lelaki itu.
"Bocah kurang ajar! Kembalikan pil itu!" Tampak jelas kemarahan darinya. Dia lantas berjalan mendekat ke arah Zhang Ziyi.
Pil yang tergeletak di tanah. Zhang Ziyi langsung memasukkannya ke dalam. cincin ruang. Setelahnya dia bangkit dan mengambil sikap bertarung.
"Aku harus berhati-hati! Orang di depan ku ini adalah seorang Dewa dari Alam Atas. Pastinya dia memiliki kekuatan hebat bersamanya," batin Zhang Ziyi. Dia mengeluarkan Pedang Naga Langit dari cincin ruangnya. Mengambil sikap kuda-kuda dan siap bertarung.
"Owh, kau mau beradu kekuatan denganku yah ... baiklah, jangan menyesali tindakan mu ini bocah nakal." Pria itu melepaskan kekuatannya.
"Ranah Semesta tahap 5!" Zhang Ziyi tersentak kala mengetahui tingkat kultivasi pria itu. Meski hanya terpaut satu ranah saja dengannya, namun perbedaan itu sangatlah jauh. Ditambah dengan tingkat yang semakin memperjarak dirinya dengan pria di hadapannya ini.
Pria itu berjalan santai, dan dalam sekejap mata, dia telah berpindah di hadapan Zhang Ziyi. Sembari pedang yang siap memenggal kepalanya.
Kontan, Zhang Ziyi mengangkat pedang dan menangkis serangan itu. Dia lantas membalas dengan serangan mematikannya.
Lelaki itu bisa menghindar dengan mudah. Zhang Ziyi semakin mempercepat gerakannya, Menyerang di bagian vital, namun masih tidak bisa menyentuh lelaki ini.
Zhang Ziyi berusaha untuk mencari titik lemah dari pergerakan lawan, malah sangat susah dengan kuda-kuda yang tampak biasa saja namun celah tak terlihat sama sekali.
Melompat mundur, Zhang Ziyi kemudian menggunakan salah satu tekniknya.
"Teknik Ilusi, Hujan Darah!" Zhang Ziyi berkata dingin.
__ADS_1
Tempat itu yang semula begitu panas oleh mentari, kini berubah menjadi menyeramkan. Mendung di atas sana yang membawa kabut merah darah. Suasana kian menggelap, hingga cahaya merah bersinar dari bulan purnama merah terlihat di ufuk timur.