
Kedai Kopi, seorang lelaki saat ini tengah duduk sendirian. Menyeruput segelas kopi, duduk di pojokan sembari mendengar apa yang diceritakan oleh dua orang yang duduk tidak jauh darinya.
Sesekali dia akan memasang sunggingan kecil, saat mendengar sesuatu yang menurutnya lucu.
"Hahaha, baru juga mencari masalah di lembah Bulan Malam, kini dia kembali berbuat masalah dia Lembah Daratan Sunyi. Memang patut untuk di apresiasi!" gumam Lelaki itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya setelah teh yang dia pesan telah habis. Meletakkan beberapa koin perak, untuk membayar teh yang dia pesan tadi, setelahnya berjalan meninggalkan kedai.
***
Zhang Ziyi saat ini tengah berkumpul di sebuah halaman kediaman mereka di Topeng Darah Hantu. Berdiskusi kecil, setelahnya mereka sama-sama beranjak dari sana. Hari ini Topeng Darah Hantu menggelar rapat, namun hanya di hadiri oleh orang-orang penting saja di Topeng Darah Hantu. Termasuk Zhang Ziyi, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Lan, Zhang Zhili, Shui Shan dan Shui Bing yang menjadi orang penting di Topeng Darah Hantu ini.
"Mari!"
Sampai di ruangan rapat, mereka langsung di sambut oleh seorang murid yang bertugas mengantar mereka ke kursi yang di sediakan khusus untuk Zhang Zhili serta yang lainnya. Di sisi lain, Zhang Ziyi memiliki kursi yang letaknya lebih khusus dari rekan-rekannya itu, bahkan lebih istimewa dari para petinggi Topeng Darah Hantu sendiri.
"Silahkan!" Murid tersebut mempersilahkan Zhang Ziyi untuk menempati kursinya, dimana letaknya sendiri berada di berdampingan dengan Guru Besar.
Semenjak memasuki ruangan itu, tatapan mata banyak terkunci pada Zhang Ziyi. Bahkan sampai Zhang Ziyi duduk pun mereka masih saja memandanginya. Memandangi Zhang Ziyi karena rasa kagum, takjub, dan perasaan lainnya. Guru Besar yang menyadari itu segera mengambil tindakan, takutnya membuat Zhang Ziyi tidak nyaman dengan tatapan mereka.
"Ehemm... Karena Pemimpin telah berada di ruangan bersama dengan kita, maka rapat ini resmi kita mulai!" Guru Besar sengaja memperlantang suaranya. Dan benar saja itu berhasil membuat mereka yang semula memperhatikan Zhang Ziyi segera mengalihkan perhatiannya.
"Musuh telah berhasil kita kalahkan dalam perang satu malam itu. Tidak hanya menimbulkan banyak korban jiwa, tapi kita juga mengalami penurunan kekuatan oleh pasukan musuh. Beberapa di antara anggota ada yang terluka dan belum pulih sepenuhnya. Begitupun juga dengan aku, yang juga belum pulih seratus persen setelah bertarung melawan Dewa Kematian!"
Guru Besar memulai pembicaraan serius. Semua yang ada di dalam ruang rapat terdiam dan fokus menyimak perkataan Guru Besar. Seiring dengan cerita yang di sampaikan oleh Guru Besar, beberapa di antara mereka langsung kembali terbawa pada ingatan semalam, dimana perang antar para pengendali roh terjadi dan merekalah peran dalam perang tersebut.
"Aku yakin akan ada kelompok tertentu yang mengambil kesempatan dari ini. Pertempuran semalam telah menyebar luas ke berbagai pelosok Wilayah Kekaisaran Langit dan mungkin juga telah menyebar ke kekaisaran tetangga. Dan saat mereka, kelompok musuh datang untuk menyerang kita, aku masih belum memiliki cukup kekuatan untuk melindungi Topeng Darah Hantu dari musuh..." Guru Besar kembali menghentikan perkataannya sejenak. Dia menoleh samping kanan dimana Zhang Ziyi duduk dan sedang menyimak apa yang dia sampaikan.
"Beruntungnya, kita masih memiliki pemimpin baru bersama dengan kita," ucap Guru Besar. Kini perkataannya lebih sopan dari sebelumnya. Bahkan ada rasa ketidak beranian terhadap Zhang Ziyi. Apalagi setelah melihat bagaimana aksi Zhang Ziyi semalam yang menurutnya itu sangat luar biasa.
"Silahkan, Pemimpin untuk menyampaikan apa yang hendak pemimpin sampaikan!" Guru Besar mempersilahkan Zhang Ziyi untuk mengambil alih berbicara.
Zhang Ziyi mengangguk. Semenjak tadi dia telah mencoba merangkai kata dalam hatinya. Sebab dia yakin saat ini akan tiba, dimana saat-saat dirinya akan berbicara di depan para petinggi Topeng Darah Hantu.
"Ehem, baiklah. Sebelumnya terima kasih pada Guru Besar, telah memberikan kesempatan kepadaku untuk berbicara. Tidak banyak yang akan aku sampaikan, hanya sekitaran tentang kondisi Topeng Darah Hantu saat ini." Zhang Ziyi menghentikan perkataannya sejenak.
"Seperti yang telah di katakan oleh Guru Besar, bahwa memang tidak menutup kemungkinan akan ada beberapa kelompok atau individu yang memanfaatkan momen ini. Banyaknya musuh membuat kota semakin terancam, apalagi Dewa Kematian juga belum berhasil untuk di bunuh, takutnya nanti dia akan kembali datang dengan membawa pasukan yang jauh lebih besar dari sekarang... Maka dari itu, kalau aku boleh memberi saran, sebaiknya kita menutup diri dari dunia luar terlebih dahulu. Setelah kekuatan Topeng Darah Hantu pulih seratus persen, baru setelahnya kita bisa kembali menampakkan diri," jelas Zhang Ziyi.
__ADS_1
Semua yang ada di sana menganggukkan kepala tanda setuju dengan saran yang di paparkan oleh pemimpin mereka yang baru.
Setelah membahas beberapa masalah, rapat pun akhirnya selesai. Semuanya keluar dari ruangan dan masing-masing kembali menyibukkan diri dengan aktivitasnya masing-masing. Di ruangan rapat, tersisa Zhang Ziyi, Guru Besar, Zhang Lan serta rekan Zhang Ziyi.
"Guru Besar, kami tidak berniat untuk menetap di Topeng Darah Hantu untuk waktu yang lama. Setelah ini akan pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan."
Guru Besar mengangguk. "Aku mengerti. Pergilah, datanglah jika kau butuh perlindungan, kami akan selalu ada jika di butuhkan. Dan jika saat itu tiba, kami akan menjadi pasukan garis terdepan mu!" ucap Guru Besar sembari menepuk pundak Zhang Ziyi.
"Terima kasih, Guru Besar. Aku akan menyerahkan kepemimpinan Topeng Darah Hantu padamu."
Guru Besar mengangguk. Setelahnya Zhang Ziyi serta rekan-rekannya kembali ke kediaman mereka.
-
Besoknya, Zhang Ziyi mendatangi Guru Besar. Sebelum dia pergi meninggalkan Topeng darah Hantu, Zhang Ziyi akan meninggalkan sesuatu di sini. Sesuatu yang nantinya akan berguna bagi kemajuan Topeng Darah Hantu sendiri.
"Kami memiliki beberapa bahan tingkat tinggi, tapi dari kami tidak ada yang bisa merubahnya menjadi pil. Jika tuan berkenan, bisakah Pemimpin menyuling–nya?"
Guru Besar menjawab pertanyaan dari Zhang Ziyi yang mempertanyakan pil jenis apa yang di butuhkan oleh Topeng Darah Hantu. Mengingat status mereka sebagai pengendali roh, tentunya tidak sembarang pil yang bisa mereka konsumsi.
"Baiklah, tolong antar aku ke sana!"
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat tersebut. Sebelah Utara Topeng Darah Hantu, terdapat sebuah array menyerupai air yang terpantul. Di sini, mereka bisa berkaca, melihat bayangan mereka sendiri.
"Mari ikuti aku!" ujar Guru Besar.
Guru Besar melakukan segel tangan,e membuka kunci Array barus setelahnya mereka memasuki tempat itu.
Pertama kali, Zhang Ziyi melihat begitu banyak tanaman yang memancarkan hawa aneh, namun kuat. Tidak hanya itu, di sini juga terdapat batu-batu berharga yang memiliki jiwa. Batu-batu itu sendiri bisa di gunakan sebagai bahan dalam penyulingan pil.
Zhang Ziyi berjalan mengikuti langkah Guru Besar. Sepanjang jalan, dia bisa melihat banyak sekali tanaman herbal aneh yang tidak pernah dia temui sebelumnya. Semakin ke dalam, aura yang di pancarkan oleh masing-masing tanaman herbal juga semakin kuat. Begitupun juga dengan bahan lainnya.
"Di sini adalah inti dari tempat ini. Kami menyimpan bahan-bahan pil dengan kualitas tinggi di sini. Kamu bisa memilih sendiri bahan yang akan kau gunakan."
"Hmm, baiklah! Namun, melihat begitu banyak bahan-bahan bagus di tempat ini, aku berniat langsung membuat atau Menyuling Pil di tempat ini!" ujar Zhang Ziyi.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu aku tinggal dulu. Ada banyak urusan yang harus aku urus. Termasuk rencana penutupan Topeng Darah Hantu dari dunia luar."
"Umm!"
Setelahnya, guru besar meninggalkan Zhang Ziyi. Sedangkan Zhang Ziyi melanjutkan menjelajahi lebih jauh tempat penyimpanan bahan-bahan obat itu.
"Di sini memang bagitu banyak bahan tingkat tinggi dengan kualitas tidak main-main hebatnya. Melihat aura yang di pancarkan oleh masing-masing bahan yang tidak biasa, mungkin masing-masing dari mereka memiliki jiwa," gumam Zhang Ziyi.
Terpikirkan olehnya untuk meningkatkan usia dari bahan-bahan pil ini dengan menggunakan elemen waktu.
"Mari kita mencobanya!"
Zhang Ziyi bersiap. Setelahnya dia mulai melakukan aksinya.
"Elemen Waktu; Percepatan waktu!" gumam Zhang Ziyi. Dia mengatur percepatan waktu hanya jarak 50 meter dari tempatnya berdiri.
Menunggu hingga beberapa saat, Zhang Ziyi mengentikan percepatan waktu dan melihat hasilnya.
"Sial, ini sangat menakutkan!" Zhang Ziyi berdecak kala melihat beberapa di antara tanaman herbal yang bergerak. Mereka tampak hidup. Itu karena jiwa yang sebelumnya mendiami suatu bahan pil baru bereaksi setelah bahan yang di diami telah mencapai usia tertentu.
Berjalan beberapa langkah, mendadak sepasang mata besar muncul tepat di depan wajah Zhang Ziyi. Itu berasal dari salah salah satu batu berharga. Zhang Ziyi kaget dan hampir menyerang batu tersebut. Beruntung dia segera mengendalikan diri.
"Sial, mengapa jadi seperti ini!" umpatnya. Batu berharga itu kini telah melarikan diri.
Zhang Ziyi kemudian mendekati salah satu tanaman herbal yang tampak diam saja. Sebelumnya, dia menargetkan tanaman herbal itu sebab setiap bahan pil yang akan dia gunakan untuk membuat pil selalunya melarikan diri.
Saat hendak meraihnya, mendadak tanaman herbal itu memancarkan cahaya pink, mengeluarkan gas racun, setelahnya akar panjang keluar dari tanah menarik kaki Zhang Ziyi.
Refleks, Zhang Ziyi langsung menggunakan serangan energi untuk memotong akar tersebut.
Slash!!
Satu kali lesatan energi langsung memotong akar tersebut. Sebelum tanaman herba itu melarikan diri, Zhang Ziyi langsung menangkapnya.
Setelah berhasil menangkap tanaman herbal itu Zhang Ziyi langsung mengeluarkan kantung sihir. Kantung Sihir itu sendiri merupakan pemberian dari orang tua angkatnya saat Zhang Ziyi hendak pergi ke klan utama waktu itu.
__ADS_1
Setelahnya Zhang Ziyi bergerak dan menangkap bahan pil lainnya.
Butuh waktu sepuluh menit untuk Zhang Ziyi mengumpulkan beberapa bahan. Setelah merasa cukup dan dia kemudian melangkah menuju lahan kosong membundar dengan diameter 10 meter. Di situlah Zhang Ziyi memulai proses penyulingan pil.