Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 78 ~ Tantangan


__ADS_3

N/A : Mohon maaf atas kesalahan yang terjadi di Chapter sebelumnya. Bukan kehendak author terkait masalah tadi. Chapter yang seharusnya lolos dalam beberapa menit, malah butuh berjam-jam baru bisa lolos. Sehingga yg di lolosin hanya tulisan yang di draft.


Tapi sekarang udah lolos kok. cuman yg tadi aja lolosnya lama banget. Bagi yang udah terlanjur baca chapter 77 tadi gak jelas. Kalian bisa baca ulang yah, :)


\=\=\=\=


"Cih, jangankan menghancurkan batu tebing itu. Bahkan menghancurkan sekte ini dalam sekali serang pun tidak masalah bagi kak Ziyi!" Zhang Meng berkata dalam hati. Belajar dari Zhang Lan. Dia tidak mau mengeluarkan cibiran lewat mulut, walau dengan berbisik sekalipun. Sebab Pendengaran pak tua pak tua ini ternyata sangat tajam.


"Bagaimana Bocah-bocah? Apakah kalian sanggup? Ya, kalau tidak sanggup, silahkan meninggalkan tempat ini!" pria yang memberikan tantangan itu berkata dengan senyum miring. Seolah-olah dia sudah meramal kalau anak-anak ini tidak akan sanggup untuk melakukannya.


"Mudah saja!" ucap Zhang Ziyi. "Kalian tunggu di sini!"


Berjalan menuju tebing batu yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri. Setelah sekitar 20 meter dengan tebing tersebut, Zhang Ziyi mulai mengambil sikap kuda-kuda.


Pedang Naga Langit ia keluarkan dari cincin ruangnya. Mengaliri dengan energi Qi secukupnya. Lalu mulai melakukan aksinya.


"Tornado Penghancur Surga!!" Zhang Ziyi berteriak lantang.


Pusaran angin yang berputar dengan sangat kencang tercipta di hadapan Zhang Ziyi. Bergerak dengan kecepatan tinggi, setelah sampai di tebing batu, Mendadak terjadi ledakan dahsyat yang mengguncang dunia.


Duarr!!


Ledakan yang menimbulkan gempa sesaat. Kabut tebal mengepul hebat, dan menyebar dalam hitungan detik.


Empat orang pria yang melihat aksi yang barusan di pertonton Zhang Ziyi tidak bisa untuk tidak terkesiap. Bahkan saking tergemap, sampai-sampai mereka lupa untuk menutup mulut.


"Ba-bagaimana dia melakukannya?" salah seorang bertanya tak percaya. Pasalnya, tebing batu itu sangatlah besar. Sementara Zhang Ziyi baru di ranah Langit tahap 9. Bahkan dia yang saat ini berada di ranah Dewa tahap 2 saja, belum tentu bisa menghancurkan batu tebing itu dalam sekali serangan nya.


Mengucek-ucek kedua mata, namun tetap tak terjadi perubahan. Bahkan dari keempatnya ada yang sampai mencubit keras pipinya, karena mengira ini hanyalah mimpi. namun memang tidak ada yang berubah. Semuanya tampak nyata.


"Bahkan tebing batu setinggi 50 meter, hancur begitu saja dengan satu serangan darinya.


Tak hanya itu, luas kerusakan yang di hasilkan pun setara dengan salah satu wilayah divisi sekte." Salah satunya berucap, tentu saja antara percaya dan tidak.


"Mustahil! Anak ini pasti menggunakan ilusi untuk mengakali kita!"


"Heeh! Apa yang kau katakan pak tua! Jelas di hadapanmu bagaimana Kak Ziyi melakukannya, dan kau menganggap itu tadi sebagai ilusi? Ckckck... Miris!" ucap Zhang Lan.


Sementara keempat tetua tidak menanggapi ucapan Zhang Lan. Mereka tetap fokus pada tanah kosong yang ada di hadapan mereka. Meski begitu terdapat tanda yang begitu besar, bekas ledakan.

__ADS_1


Memeriksa dengan seksama. Benar, semuanya tampak nyata.


Keempatnya menghampiri Zhang Ziyi. Hendak bertanya sesuatu, namun menghentikan aksinya kala melihat banyak orang yang tiba-tiba saja keluar dari gerbang sekte.


***


Suara menggelegar itu, sukses membuat panik satu sekte. Apalagi getaran pada tanah terjadi sesaat, sehingga membuat kepanikan bertambah dua kali lipat.


Satu per satu orang-orang mulai keluar sekte untuk mengetahui ledakan apa yang tejadi barusan. Bahkan ada beberapa orang yang nampak telah menyiapkan senjata. Siap bertarung karena mengira musuh telah datang menyerang.


"Apa yang tejadi?"


Seorang pria tua berpakaian merah datang dan langsung bertanya kepada keempat orang yang menjaga gerbang sekte.


"Hormat ketua! Tidak terjadi apa-apa di sini. Hanya sebuah permainan kecil saja!" Salah satu diantara keempatnya mencoba untuk menjelaskan masalah itu kepada pria tua berbaju merah tersebut.


"Hmm...!" Pria tua itu melempar pandangan ke samping kanan. Dimana hanya ada tanah kosong yang begitu luas di sana.


"Sepertinya ada yang aneh dengan tempat ini!? Tapi, apa yah?" memegangi dagunya sembari berpikir.


"Ah... Yah! Aku ingat–" Menjentikkan jari sembari menampakkan ekspresi riangnya. Namun tak berapa lama, raut wajahnya kembali bingung dan tampak kembali berpikir. "Hmm...! Apakah kalian tahu, apa yang hilang!" pria tua itu bertanya kepada 4 orang penjaga gerbang seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Apa yang terjadi di sini? Mengapa tebing batu di sini menghilang!" ucap pria dengan setelan hijau itu dengan intonasi meninggi.


"Ah... Nah, itu dia! Tebing batu.... Aku ingat kemarin ada tebing batu di sini. Namun mengapa sekarang tidak aku lihat lagi?" pria tua ber–hanfu merah itu sembari memukul-mukul kepalanya dengan telapak tangan.


Keempat orang masih saja termangu. Bingung hendak berkata apa.


"Apa yang kalian pikirkan? Jawab aku! Dimana tebing batu yang ada di sini?" pria yang mengenakan setelan hijau itu berkata dengan nada membentak.


"Eh, a–anu ketua! A–anak ini yang melakukannya!" salah satu pria penjaga gerbang menunjuk Zhang Ziyi.


Kedua pria sama-sama mengarahkan pandangan ke arah pemuda yang di tunjuk laki-laki penjaga gerbang.


"Benarkah?" mengernyit. Pria dengan setelan hijau tampak tak percaya remaja seperti Zhang Ziyi yang baru saja di ranah Langit tahap 9 ini bisa menghancurkan tebing batu yang begitu besar.


"Jangan bercanda! Aku tidak suka ada yang bercanda denganku!" kembali berkata dengan intonasi dingin dan penuh tekanan.


"Ka–kami tidak berani bercanda ketua. Memang anak ini lah yang menghancurkan tebing batu ini!"

__ADS_1


"Hmm...." Pria itu kemudian mendekati Zhang Ziyi.


"Nak, berani sekali kau membuat rusuh di sekte kami! Apakah kau tidak menyayangi nyawamu?" pria ber–setelan hijau itu maju dan menarik kasar kerah baju Zhang Ziyi.


"Paman, kalau aku tidak salah tebak, kau seharusnya salah satu dari ketua divisi dari sekte Tujuh Elemen ini bukan? Kebetulan sekali! Perkenalkan, aku Zhang Ziyi. datang bersama teman-teman ku dan ingin berguru di sini!" Zhang Ziyi dengan santainya berbicara. Meski kini kerah bajunya masih di kepal oleh tangan besar pria ber–setelan hijau itu.


Pria itu sendiri mengernyit sesaat. Baru kali ini dia bertemu dengan orang setenang Zhang Ziyi ini, meski berada dalam posisi tidak baik.


"Cih, kami tidak butuh orang seperti mu!. Dasar lemah! Silahkan pergi dari sini!" pria itu melempar Zhang Ziyi. Namun bukannya terjatuh, Zhang Ziyi malah mendarat dengan berdiri sempurna.


Kembali di buat takjub dengan Zhang Ziyi. Namun pria itu menyembunyikan ekspresi takjubnya dengan raut wajah cuek nya.


"Hohoho! Aku suka anak ini! Begitu tangkas juga cerdas. Kau patut menjadi murid–ku!" Pria tua tiba-tiba saja berkata seraya bertepuk tangan.


"Terima kasih, Senior!" ucap Zhang Ziyi.


"Cih, anak ini. Jangan karena kau mendapat pujian dari ketua Lu, lalu kau bisa mendapat maaf dariku."


"Lalu, apa yang harus junior ini lakukan supaya bisa mendapatkan maaf dari senior!" ucap Zhang Ziyi.


Pria yang ditanya tak di jawab.


"Sudahlah anak muda? Tak usah kau hiraukan pak tua yang berlagak muda itu. Mari ikut aku masuk ke dalam!" pria tua yang mengenakan hanfu merah.


"Eeh. Enak saja. Kau harus mendapat persetujuan dari ku terlebih dahulu baru bis pergi dari sini."


Pria berpakaian hijau dengan merah itu beradu mulut. Memperdebatkan tentang Zhang Ziyi.


"Ck, pak tua–pak tua ini!" gumam Zhang Ziyi.


"Mohon maaf senior-senior! Begini saja... Bagaimana kalau aku bertarung melawan senior ini. Jika aku menang, maka senior harus memaafkan aku atas hancurnya tebing batu ini," ucap Zhang Ziyi menengahi keduanya.


Berhenti berdebat, ketua divisi api dan ketua divisi Tumbuhan itu menoleh ke arah Zhang Ziyi.


"Hohoho ... Kau yang memintanya sendiri bukan? Aku suka dengan kepercayaan dirimu yang terlalu besar itu, sampai-sampai kau tak melihat batasan–mu!"


"... Kalau aku menang, maka kau juga teman-teman mu itu harus angkat kaki dari sekte dan menjadi budak ku selama satu tahun!"


"Kesepakatan macam apa itu! Bagaimana bisa?" Ketua divisi api menyanggah kesepakatan yang di utarakan oleh ketua divisi Tumbuhan.

__ADS_1


"Baik. Aku terima!"


__ADS_2