
Raja Shang kembali ke singgasananya setelah selesai meningkatkan kekuatannya. Sampai Dia di sana, tepat setelah bokongnya bersandar pada kursi kebesaran, mendadak seorang prajurit datang.
Berlutut, prajurit itu lantas melapor.
"Ampun Yang Mulia! Pasukan kerajaan Shang yang di kirim untuk menangkap pemuda bermata emas serta sebab kawan-kawannya itu saat ini telah mengalami masalah. Mereka saling serang menyerang dan saling membunuh. Jenderal ke empat dan kelima juga telah turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini, namun bukannya berhasil, mereka malah ikut terlibat dan di serang oleh para prajurit!" Prajurit tersebut menunduk tak berani mengangkat pandangannya.
Raja Shang yang mendengar laporan dari prajurit, mengepal keras pegangan singgasana.
"Apa!!?" Emosi menyeruak, menimbulkan tekanan serta aura menakutkan yang terpancar dari tubuh Raja Shang.
Prajurit yang melapor tadi langsung gemetaran. Dia memberi hormat lalu perlahan bangkit dan bergerak mundur, keluar dari aula singgasana.
"Kurang Ajar!! Ini pasti ulah pemuda sialan itu!" geram Raja Shang. "Tampaknya aku harus memanggil jenderal ketiga dan jenderal kedua untuk menyelesaikan masalah ini!"
Raja Shang menutup kedua mata. "Jenderal Kedua! Jenderal Ketiga ..." Panggilan dia tujukan untuk kedua Jenderal tersebut. Dia sendiri memanggil mereka lewat telepati.
"Jenderal Kedua! Jenderal Ketiga... Aku memanggil kalian, segeralah datang kemari.!" Kembali Raja Shang mengulangi panggilannya.
Jenderal Kedua dan Jenderal Ketiga yang tengah menjalankan misi terpaksa harus meninggalkan misi tersebut. Mereka berdua sama-sama menghilang dari tempat berbeda lalu kemudian muncul kembali di tempat yang sama di mana muncul di aula istana singgasana kerajaan Shang. Sama-sama menangkupkan kedua tangan sembari berlutut.
"Hormat Yang Mulia!" keduanya sama-sama memberi hormat.
"Aku ingin kalian berdua menyelesaikan masalah yang terjadi di kota pusat saat ini. Dan juga jangan biarkan masalah ini tersebar di luar. Cukup orang-orang dalam kota yang mengetahuinya," tegas Raja Shang.
"Baik, Yang Mulia!"
Setelah memberi hormat, kedua Jenderal itu segera menghilang dari sana.
Kedua orang itu muncul kembali di udara, tepatnya di tengah-tengah kota pusat. Melempar pandangan di sekitar. Beberapa bagian dari kota pusat ramai akan prajurit kerajaan Shang. Saling bertempur dan membunuh. Terdengar tawa serta teriakan meminta tolong dari beberapa wilayah tersebut. Sementara di tengah-tengah para prajurit itu, Jenderal terkuat ke lima dan Jenderal Keempat semula tengah berusaha mengatasi permasalahan yang terjadi pada prajurit itu, tapi yang terjadi malah mereka ikut terlibat dan menyebabkan suasana semakin kacau.
"Cih, benar-benar konyol! Pantas saja mereka masih menyamai posisi peringkat 25 ke atas Jendral Kekaisaran Langit!" Jenderal Ketiga berkata dengan malas. Begitupun juga dengan Jenderal kedua yang juga menampakkan wajah sinis.
Terlihat di sana telah banyak prajurit tewas di tangan rekan-rekannya sendiri. Jenderal Ketiga dan Jenderal Ke dua tidak tinggal lebih lama, takutnya semakin mereka menunda waktu, semakin banyak pula korban jiwa yang berjatuhan.
Kedua jenderal berpencar, melesat di dua arah berbeda. Singgah di tempat dimana Prajurit-prajurit itu saling membunuh, Jenderal Ketiga langsung mengeluarkan serangan energi pada Array Ilusi ciptaan Zhang Ziyi.
Krrkkk!!
Seketika Array itu retak. Para prajurit yang semula tengah bertarung dan di bawah kendali Array Ilusi pun kini telah tersadar. Mereka melihat rekan-rekan mereka yang mati dan terluka. Sementara tidak ada lagi wujud atau bayangan Zhang Ziyi serta rekan Zhang Ziyi yang semula mereka serang. Tangan mereka berdarah, tubuh gemetaran kala memikirkan kejadian ini.
"A–apa yang terjadi?" salah seorang prajurit berkata dengan suara sedikit gemetar. Dia tidak berani menebak bahwa dia telah membunuh rekannya sendiri.
"Cepat bereskan rekan prajurit yang mati itu. Dan obati mereka yang terluka!" ucap Jenderal ketiga datar. Baru setelahnya dia beralih ke arah lain.
Prajurit-prajurit terbengong sesaat, hingga sebuah suara dari seorang pria datang dan mengingatkan mereka akan perkataan jenderal Ketiga tadi. Sontak mereka langsung bergerak dan melakukan seperti apa yang di perintahkan oleh Jenderal ketiga tadi.
__ADS_1
Mengumpulkan mayat-mayat prajurit, sementara prajurit yang terluka mereka bawa ke satu tempat untuk di berikan pertolongan pertama.
Beberapa saat, Jenderal Kedua dan Ketiga telah kembali bertemu. Mereka juga telah bersama dengan Jenderal Keempat dan Jenderal Kelima.
"Mengapa Kalian begitu lelet? Bahkan untuk menyelesaikan permasalahan kecil ini saja tidak bisa untuk di selesaikan. Pantas saja kalian begitu lemah!" Jenderal Kedua menghardik Jenderal keempat dan Jendral kelima.
Dua Jenderal yang dibentak itu hanya diam saja saat mendapat perkataan pedas dari Jenderal kedua itu. Tidak berniat untuk membantah ataupun mengelak karena memang mereka menyadari kesalahan mereka.
"Karena Kalian, misi kami jadi tertunda... Cih." Jenderal Kedua berdecih kesal. "Tugas kalian berdua adalah memastikan bahwa apa yang terjadi di kota ini tidak tersebar di luar kota! Bagaimanapun caranya."
"Kami mengerti, Jenderal Kedua!" Mereka berdua memberi hormat. Telah lama bersama, membuat Jenderal keempat dan Jendral kelima mengetahui bagaimana perangai dari kedua jendral ini. Sehingga mereka tidak terlalu mengambil hati atas perkataan itu.
"Ingat, sampai kerajaan Shang pulih, tidak ada orang yang berani masuk ataupun keluar dari kota ini!" perintah Jenderal Ketiga dengan nada dingin.
"Kami mengerti Jenderal kedua!"
Setelahnya Jenderal kedua dan Jenderal Ketiga Kerajaan Shang, pun menghilang dari sana dan kembali untuk melaksanakan misi mereka yang sempat tertunda.
"Sialan, ini semua gara-gara Bocah sialan itu."
"Sudahlah, tidak ada gunanya menyalakan dia. Lebih baik kita melaksanakan apa yang dikatakan oleh Jenderal kedua dan Jenderal ketiga tadi, sebelum semuanya terlambat dan berakhir dengan masalah bagi kita berdua!"
Jenderal Keempat mengangguk. Mereka kemudian melesat, menuntaskan tugas dan pekerjaan mereka di kota ini. Tak membiarkan kejadian yang barusan menimpa Kerajaan Shang tadi tersebar. Takutnya terdengar oleh kerajaan lain dan mereka mengambil kesempatan dari itu. Apalagi saat ini kerajaan Shang kekurangan prajurit sekitar satu per lima dari jumlah prajurit sebelumnya.
***
Laohu serta Niao keluar dari alam jiwa, seperti biasa Laohu akan membesar dua kali lipat sementara Niao akan mengecil kan ukuran tubuhnya.
Zhang Ziyi serta rekan-rekannya mengendarai Laohu, begitupun juga dengan Niao. Mereka melesat dengan kecepatan tinggi.
Wilayah kerajaan Shang sendiri begitu luas, sehingga mereka membutuhkan waktu sekitar sehari perjalanan untuk meninggalkan kerajaan Shang sepenuhnya.
Malam datang, dengan Laohu yang terus mengepakkan sayapnya. Beberapa burung-burung malam terbang di samping Laohu. Gelapnya malam, dengan kesunyian yang tak kira-kira, hanya dengan api dari sayap Laohu serta Kilauan cahaya jingga dari tubuh Niao yang menerangi suasana.
Roh Dewa Kematian telah menampakkan diri sejak tadi. Sejak mereka meninggalkan kota pusat kerajaan Shang.
"Semoga saja kau segera membunuh Pria sialan itu!" ucap roh Dewa Kematian.
"Apakah aku mengetahui keberadaannya?" tanya Zhang Ziyi.
"Hmm, dahulu memang aku mengetahuinya. Tapi entahlah untuk sekarang."
"Bagaimana kalau kita ke sana. Ke tempat sesuai dengan yang kau ingat!"
"Baiklah, mari kita coba ke sana!" ucap Dewa Kematian menyetujui ajakan Zhang Ziyi tadi.
__ADS_1
Laohu melesat semakin cepat. Mengikuti arah sesuai instruksi Roh Dewa Kematian.
***
Dua hari telah berlalu, Zhang Ziyi serta rekan-rekannya masih berada di atas punggung Laohu. Dalam Dua hari ini, mereka akan turun apabila menemukan suatu perkampungan. Bukan apa-apa, selain untuk melepaskan rasa bosan berada di punggung Laohu tanpa melakukan apa-apa, mereka juga berniat mengunjungi perkampungan tersebut untuk melihat kondisi ekonomi dan sosial mereka.
"Tidak lama lagi kita akan sampai. Di mulai dari sini, kalian sudah harus mempersiapkan senjata. Sebab musuh bisa datang kapan saja. Banyak yang menjaga markas Dewa Kematian. Entah itu roh-roh jahat, atau Siluman-siluman peliharaan pria sialan itu." Roh Dewa Kematian mencoba untuk menjelaskan terkait akan situasi di tempat ini.
"Umm, terima kasih telah memberitahu kami!" ucap Zhang Ziyi.
Terbang beberapa saat, kabut hitam mulai mendekati mereka. Semakin tebal, bersamaan dengan membawa aura mencekam. Zhang Yin serta Shui Shan merasakan tubuhnya yang merinding.
Selang beberapa saat, muncul aura merah darah. Bersamaan dengan membawa kekuatan mental yang sangat kuat bersamanya.
"Tidak, semuanya hati-hati! Jangan terpengaruh oleh kekuatan mental ini." Zhang Ziyi berkata, mencoba untuk memperingati rekan-rekannya. Tapi terlambat. Mereka terlanjur terpengaruh oleh kekuatan mental. Hingga membawa rekan-rekan Zhang Ziyi ke dunia berbeda.
Suasana yang semula gelap, kini berubah menjadi merah sepenuhnya. Bulan Merah darah terbit di balik cakrawala. Kelelawar malam dengan pupil mata merah menyala terbang ke sana kemari.
Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Lan, Zhang Zhili, Shui Shan serta Shui Bing saat ini berdiri di tanah tandus. Banyak sekali hewan melata hidup di atas tanah gersang, mengelilingi mereka. Suasana merah temaram, membuat suasana kian menakutkan.
"Tempat apa ini?" Zhang Lan bertanya pada rekan-rekannya. Tapi dia tidak mendapatkan jawaban sebab rekan-rekannya juga sama bingungnya dengan dirinya.
"Dimana Kak Ziyi... Laohu dan Niao juga tidak ada!" Shui Bing ikut bersuara saat tidak melihat keberadaan Zhang Ziyi serta dua hewan peliharaan Zhang Ziyi bersama mereka.
"Kita mungkin telah terjebak oleh dunia Ilusi. Dunia yang dibawa oleh kekuatan mental tadi," ucap Zhang Zhili kala menyadari sesuatu.
Binatang melata yang ada di tanah gersang tadi kini bergerak mendekati tempat Zhang Zhili serta murid-muridnya berdiri. Dengan mulut ternganga lebar, seekor buaya bermata merah datang, berlari cepat dan berniat menggigit Zhang Lan.
Zhang Lan bertindak cepat dengan mengarahkan pisau angin untuk membunuh Buaya itu. Sayangannya itu tidak bekerja pada kulit keras si Buaya.
Melihat serangannya tidak begitu mempan, maka Zhang Lan memutuskan untuk menghindar. Begitupun juga dengan Zhang Zhili serta lainnya yang kuga ikut menghindari Bintang melata yang mendekat.
Mengeluarkan pedang masing-masing mereka mulai menyerang dengan senjata. Butuh lima kali serangan pedang hingga membuat salah satu dari binatang melata itu terbunuh.
Sementara untuk jumlah binatang-binatang tersebut mencapai puluhan bahkan ratusan ekor. Suasana kian mencekam saat tiba-tiba Bulan Merah Darah memancarkan cahaya merahnya, begitu terang dan menyinari semua tempat di dunia itu. Binatang-binatang melata tersebut mulai mengeluarkan asap merah dari punggungnya. Zhang Zhili serta yang lainnya segera menghentikan aksinya masing-masing. Semakin khawatir saat tiba-tiba Binatang-binatang itu berubah menjadi besar seukuran raksasa.
"Apa-apaan ini? Mengapa jadi semakin rumit!"
***
Sementara Zhang Ziyi yang masih di alam normal mencoba untuk membantu rekan-rekannya untuk keluar dari pengaruh kekuatan mental. Tapi belum juga dia melakukan aksinya, mendadak tubuhnya bergetar saat angin dengan hawa panas serta tajam datang menyapa tubuhnya.
"Sial!" umpatnya. "Laohu, kau jaga mereka. Aku akan menyelesaikan pemilik kekuatan mental ini, baru setelahnya aku akan mengurus mereka!" ucap Zhang Ziyi pada Laohu. Hewan peliharaannya itu mengangguk.
Laohu dan Niao sendiri tidak terpengaruh oleh kekuatan mental itu, sebab mereka juga memiliki kekuatan mental yang kuat.
__ADS_1