
Duaarr!
Ledakan besar tercipta dari dua bentrokan dua kekuatan besar. Sampai-sampai area pertandingan dibuat bergetar karenanya.
Hembusan angin kencang pun juga tercipta dari dua kekuatan tadi. Meski demikian tak membuat dua kontestan itu berhenti untuk bertarung.
Cuaca tiba-tiba saja berubah mendung, setelahnya menurunkan salju dari langit. Ini adalah fenomena langka, dimana sebelum-sebelumnya tidak pernah turun salju di Tebing Matahari ini. Bagaimana tidak, matahari di sini begitu panas sehingga tidak memungkinkan untuk turun salju di sini. Bahkan hujan pun tidak berani turun.
Namun kali ini, telah turun salju dari langit. Burung Phoenix es memutar tubuhnya di udara, muncul serpihan-serpihan duri es dari bekas putaran tubuh tadi, langsung melesat lurus ke bawah.
Tai Yang tidak tinggal diam. Dia melakukan tebasan beruntun di udara. Tebasan-tebasan itu meninggalkan bekas energi yang juga melesat ke atas.
Bamm!
Bamm!
Bamm!
Ledakan beruntun terjadi.
Dua orang itu semakin bersikeras untuk menumbangkan lawan. Berbagai trik serta kartu yang niatnya di simpan buat babak final, mulai terbuka satu per satu. Hingga di puncak pertarungan, keduanya sama-sama melepaskan energi yang sangat besar.
Tanah tiba-tiba saja bergetar hebat. Begitupun juga dengan bangunan yang ada di sekitaran situ juga ikut bergetar hebat. Nyaris retak dan hancur, beruntung beberapa orang langsung turun tangan dan mengamankan kekacauan yang nyaris menghancurkan tempat itu.
Formasi terbentuk, setelahnya memunculkan dinding transparan berbentuk persegi yang mengelilingi panggung luas itu.
Bayangan matahari terbentuk di belakang punggung Tai Ying. Memancarkan cahaya api panas, yang membakar oksigen. Tubuh Tai Ying sendiri saat ini telah di balut oleh energi api panas. Dia masih mengumpulkan energi pada bayangan matahari di belakangnya itu. Setelah merasa cukup, Tai Yang kemudian mengangkat pedang Matahari dan menunjukkan ke depan. Seketika energi berbentuk laser besar datang, melesat lurus ke arah burung Phoenix Es.
Sisi lain, Burung Phoenix Es juga hendak melepaskan serangan kuat. Tubuhnya semakin membesar dua kali lipat. Kekuatannya pun juga meningkat kala itu. Suhu sekitar semakin menurun, hingga membuat apa saja yang dekat dengannya akan membeku, termasuk dengan udara.
Setelahnya melepaskan semburan es yang langsung di arahkan ke arah Tai Yang.
Dua energi berbeda, mengandung kekuatan yang sangat luar biasa bertemu di titik Tengah.
Whush!
Kedua energi itu saling beradu selama beberapa saat.
Baamm!
Hingga ledakan besar terjadi, menciptakan dampak yang tidak main-main besarnya. Lingkaran energi tercipta, menerbangkan Tai Yang dan Burung Phoenix.
Dinding transparan yang telah tergetar hebat itu, kini telah retak oleh tabrakan dua orang itu.
Mereka berdua terjatuh di pinggir arena tepat di bawah dinding transparan itu, dengan keadaan tidak berdaya. Tapi dari dua orang itu, yang lebih parah adalah Bing Ruyue. Dia kini telah tak sadarkan diri. Dirinya terlalu menggunakan banyak kekuatan saat bertarung tadi.
Berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Tai Yang. Meskipun dia juga menggunakan kekuatan besar tadi, namun setidaknya dia masih menyimpan sekitar 10% kekuatannya. Sehingga Tai Ying masih bisa bangkit.
__ADS_1
Dinding transparan telah menghilang. MC datang untuk memeriksa keduanya. Mendapati Bing Ruyue telah tak sadarkan diri, sementara Tai Ying masih bisa berdiri walaupun dalam keadaan terbungkuk, dia kemudian mengumumkan pemenangnya.
Pertarungan yang terbilang seru itu, nyatanya tak menuai antusias dari para penonton. Hanya beberapa orang saja yang bersorak, itupun tidak lebih dari dua puluh orang.
Hal itu tentu saja menimbulkan perasaan lain dari beberapa orang yang ada di sana.
Hari-hari sebelumnya, setiap kali ada pertarungan yang terbilang cukup seru, maka penonton akan langsung antusias dalam menyambutnya. Namun berbeda cerita dengan hari ini.
"Hahaha... Semakin memperjelas keadaan, bahwa hari ini sedang tidak baik-baik saja. Aku penasaran dengan tindakan apa yang akan di ambil oleh kelompok itu dalam menangani acara besar mereka." Salah seorang yang duduk di bangku penonton, berada di paling pojok berkata dengan diselingi oleh tawa sinis.
"Ya, kamu benar. Pertunjukan menarik akan segera terlihat beberapa saat lagi... Ckckck, aku jadi tidak sabar untuk segera melihatnya." Salah seorang membalas perkataannya.
MC bukannya tidak menyadari akan hal itu. Namun demi menjaga image, dirinya pun mengeluarkan suara kembali.
"Baiklah, mari kita lihat, peserta yang akan bertanding setelah ini!" ucap Lantang MC.
Lelaki yang bertugas memutar nama itu kemudian melakukan kembali tugasnya.
Klik!
Nama Hei An yang muncul di awal.
Hei An memandangi Zhang Ziyi sesaat. Zhang Ziyi sendiri juga membalas menatap Hei An. Setelahnya sama-sama menyaksikan kartu token yang kini telah kembali berputar.
Beberapa saat, terlihat nama yang menjadi lawan Hei An.
"Hahaha, akhirnya kita bertemu. Aku tidak akan membiarkan lelaki sialan itu berhasil lolos ke babak selanjutnya dan mendapati pengakuan dari Roh Siluman Surgawi sebagai hadiah peringkat lima besar," ucap Hei An.
"Hmm, meski demikian, kamu jangan pernah meremehkan lawan–mu. Bisa jadi kamu kalah darinya nanti," ujar Zhang Ziyi, memberi saran.
"Hmm, baiklah. Aku akan berusaha."
Setelahnya Hei An melompat ke atas panggung arena. Tak lama setelahnya Qin Chen juga datang ke atas aren.
"Hahaha... Saudari Hei, aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu begitu cepat di babak ini!" ucap Qin Chen.
"Heeh, tapi aku lebih senang bertemu dengan mu di babak ini. Sehingga aku bisa menyingkirkan mu lebih awal." Hei An berkata dengan garis wajah sinis.
"Hohoho... Percaya diri tingkat tinggi Bahkan lebih tinggi dari tebing Tertinggi di Bukit Penghidupan ini! Baiklah aku akan melihat sejauh mana perkembangan mu sehingga kamu memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi itu."
MC mempersilahkan kedua kontestan untuk bertarung. Tanpa menunggu lama, Hei An langsung datang menyerang Qin Chen. Tak mampu membiarkan kesempatan bagi Qin Chen untuk menyerang.
Debu gelap terkumpul di satu titik. Telat di belakang Qin Chen, Debu tersebut berada. Sementara Hei An sendiri menyibukkan Qin Chen di depannya. Terus membuat Qin Chen termundur.
Benar saja, titik itu kemudian melebar, mengurung kaki Qin Chen, membuat pemuda itu kian kesulitan dalam bergerak.
Hei An memasang seringai sini saat melihat jebakannya berhasil. Semakin gencar pula dirinya dalam menyerang Qin Chen. Tak memberikan jeda sedikitpun. bahkan sempat dia membentuk duplikat tubuhnya, yang langsung dia arahkan pada Qin Chen.
__ADS_1
Qin Chen sendiri sibuk dalam menghindar dan menepis setiap serangan yang dilancarkan oleh Hei An. Begitu cepat dan terus menerus layaknya air mengalir.
"Sial, mengapa jadi begini... Cih gadis ini!" Qin Chen mengumpat dalam hati. Bahkan dirinya tidak diberikan kesempatan untuk menyerang balas. Membuatnya kian berada di posisi terpojokkan.
"Hiyaahh!" Qin Chen terpaksa melepaskan kekuatan besar dari tubuhnya untuk mengetik aksi Hei An. Dan itu berhasil.
Hei An mengambil jarak, serangan yang dia lancarkan tadi ada beberapa yang mengenai bagian vital Qin Chen. Dia puas dengan itu apalagi melihat langsung bagaimana ekspresi Qin Chen tadi.
Qin Chen melepaskan kakinya dari jebakan buatan Hei An. Menatap tajam gadis di hadapannya itu dia lantas berkata, "Kamu yang mengundangku untuk ini!"
Usai mengatakan kalimat tersebut y Qin Chen kemudian berjalan pelan menuju ke arah Hei An. Dalam sekali melangkahkan kakinya, dirinya tiba-tiba telah berpindah tempat dan sudah berdiri di belakang Hei An dengan pedang yang juga dia arahkan pada Leher Hei An.
Tak ada rasa panik. Bahkan Hei An masih sempat menyunggingkan sunggingan kecil di kedua sudut bibirnya. Dirinya tiba-tiba saja menghilang dari sana. Berubah menjadi debu-debu hitam yang langsung bergerak ke samping kanan, dimana berlawanan arah dengan arah gerak libasan pedang Qin Chen.
Keduanya bertemu, Jika sebelumnya Hei An yang mendominasi, namun sekarang keduanya terlihat tampak berimbang. Saling Serang menyerang, balas-membalas, serta menepis serangan.
Bersamaan dengan mengeluarkan jurus, dari yang memiliki efek kecil-kecil hingga berdampak pada yang besar.
Terlihat energi Cahaya dan enegi gelap melesat dengan kecepatan tinggi di atas panggung. Terlihat seperti dua garis yang bergerak memanjang. Namun karena kedua orang berpindah dalam waktu yang relatif ekstrem, maka dua hari berlawanan arah itu terlihat sangat berantakan.
Zhang Ziyi memperhatikan pertarungan kedua orang itu. Dia sendiri merasa tertarik dan sedikit terkesiap dengan kecepatan keduanya dalam berpindah tempat. Ditambah, perpindahan tempat yang relatif singkat itu tidak membuat atau menghalau serangan mereka. Tetap tajam dan terarah.
Keduanya sama-sama mengambil jarak.
"Kamu cukup mampu Nona Hei. Namun bagaimana kamu bisa menahan seranganku yang ini?"
Qin Chen mulai melakukan suatu gerakan tubuh. Kedua jemari tidak berhenti dalam melakukan segel tangan. Setelahnya bayangan burung Rajawali raksasa tercipta di hadapannya. Berwarna emas kemerahan dengan tatapan yang terlampau tajam, mengalahkan tajamnya pedang.
Kyaakk!!
Burung itu menukik tajam. Setelahnya terbang dengan cepat ke arah Hei An.
Hei An tetap tenang meski tahu bahwa energi yang datang ke arahnya ini mengandung enegi yang sangat besar.
Kedua tangannya yang terlapisi energi kegelapan bergerak layaknya sebuah tarian tangan. Setelah merasa waktunya sudah pas, dia kemudian mengarahkan kepalan tangan nya di balut oleh energi gelap tersebut pada rajawali itu.
Whush!
Burung rajawali seketika hancur tak bersisa. Dalam kecekatan sabat tunggu, Hei An menghilang. Tak butuh reaksi dari Qin Chen, Hei An kembali muncul tepat di hadapannya dengan tapak yang mengandung energi gelap sangat besar mendarat mulus tekat di perut Qin Chen.
Sontak saja hal itu membuat Qin Chen terpental jauh keluar panggung arena. Ini mungkin tidak seseru pertandingan antara Tai Yang dan Bing Ruyue tadi, namu. pertandingan kali ini cukup tertarik untuk di saksikan.
Pada apa yang di lakukan oleh Hei An tadi, juga telah memperjelas bahwa kekuatan Hei An ini masih berada di atas Qin Chen. Dan tentunya dengan jarak yang relatif jauh.
Sementara di sisi lain, Zhang Ziyi yang melihat akan bagaimana aksi Hei An dalam membereskan Qin Chen tadi merasa sedikit kagum.
"Setidaknya, Hei An ini berada satu tahapan di atas kultivasiku!" gumam Zhang Ziyi
__ADS_1