
Berlatih dan terus berlatih. Terhitung, sudah tiga hari Zhang Ziyi berlatih teknik pedang Naga Langit tahap ke-3.
Dalam kurun 3 hari itu pula lah Zhang Ziyi telah berhasil menciptakan tiga buah duplikat pedang Naga Langit.
Masih ada satu hari sebelum dia memutuskan untuk kembali. Satu hari tersebut Zhang Ziyi memanfaatkannya dengan berlatih mengendalikan ketiga buah duplikat pedang Naga Langit tersebut.
Beberapa saat mencoba, Zhang Ziyi akhirnya bisa mengendalikan tiga duplikat pedang Naga Langit itu pada satu arah.
Sebenarnya Zhang Ziyi berniat terus melatih teknik pedang Naga Langit ini, hingga empat sampai lima duplikat pedang berhasil ia buat. Akan tetapi waktu yang tidak mendukung, sehingga Zhang Ziyi harus menghentikan latihan dan kembali ke alam Nyata.
"Laohu," panggil Zhang Ziyi.
Tak butuh waktu lama, harimau api itu muncul.
"Auumm!"
Mengelus kepala Laohu sesaat, Zhang Ziyi serta Laohu pun kembali ke dunia nyata.
-
Keduanya muncul tepat di kamar Zhang Ziyi.
Tampak hari juga telah menunjukkan pagi telah datang.
Zhang Ziyi keluar dari kamar dan berniat mandi. Selesai dengan itu, dia lantas sarapan. Seperti biasa, hidangan telah tersaji di atas meja makan. Hanya tinggal di menghidangkannya saja.
-
Keluar barak, Zhang Ziyi serta Laohu mengarah ke aula pelatihan yang kebetulan tidak jauh dari barak–nya.
Sepanjang perjalanan, Zhang Ziyi menjadi pusat perhatian orang-orang. Bagaimana tidak, anak itu saat ini tengah berjalan bersama seekor binatang buas. Bahkan dia berjalan dengan begitu santainya, seolah-olah harimau itu tidak akan menerkamnya.
Zhang Ziyi serta Laohu hampir sampai di aula pelatihan, Namun sesuatu menarik perhatian Zhang Ziyi sesaat. Ya, untuk Zhang Ziyi namun tidak menarik bagi Laohu. Sehingga harimau api itu tetap melanjutkan perjalanan tanpa memedulikan majikannya.
Sepuluh menit terlewatkan. Barulah Zhang Ziyi sadar bahwa peliharaannya telah menghilang.
"Gawat, kemana perginya?"
__ADS_1
Zhang Ziyi lantas menelusuri sekitar. Mencari-cari keberadaan Laohu. Yakin dan percaya, di mana pun harimau itu berada saat ini, pastinya sesuatu yang buruk akan segera terjadi setelahnya.
Beberapa saat mencari, namun Zhang Ziyi tidak menemukan keberadaan Laohu.
"Sial!" umpatnya. "Jangan sampai dia di buru oleh anggota divisi Halilintar ini!" gumam Zhang Ziyi yang mulai sedikit khawatir.
Mengaktifkan skill Mata elang. Setiap sudut di wilayah itu ia perhatikan. Tepat setelah menemukan keberadaan Laohu, Zhang Ziyi lantas bergegas ke arah dimana dia melihat harimau api tersebut yang saat ini tengah di kelilingi oleh kultivator Ranah Dewa.
-
Laohu memberontak. Di tubuhnya saat ini terlilit tali berwarna biru terang dengan energi listrik terlihat timbul–lenyap.
"Aauumm!"
Laohu marah besar. Harimau api itu mengaum sejadi-jadinya. Memperlihatkan taringnya yang panjang nan runcing.
Memberontak dan terus memberontak. Namun dia tidak bisa beraksi lebih. Pasalnya tali yang melilit tubuhnya akan langsung bereaksi dengan menyalurkan energi listrik ke tubuh Laohu.
"Crisst!"
Laohu seketika terdiam. Tubuhnya kejang-kejang. Beberapa bagian bulu belangnya telah gosong. Hendak melawan, namun dia tidak bisa.
Laohu tak bisa menjawab. Namun dia menatap wanita tersebut dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
"Heeh... Biasa saja kau melihat gadis cantik sepertiku ini. Tak perlu bersedih! Meski kau hanya seekor binatang buas, bermain denganmu juga tidak jadi masalah" ucapnya kembali kepada Laohu, seraya mengedipkan sebelah mata.
Tentu saja Laohu merasa jijik dengan kedipan mata itu. Lantas ia memalingkan wajah. Kembali berusaha memberontak, namun sayang sengatan energi listrik dari tali yang meiliti tubuhnya juga semakin ganas dalam menyetrum dirinya.
Sementara itu, Zhang Ziyi sampai di tempat dimana Laohu saat ini di sandera.
Melihat satu arah, dimana Laohu yang saat ini di kelilingi oleh dua belas orang kultivator Ranah Dewa tahap 1 sampai 3. Dia lantas maju di hadapan dua belas orang tersebut.
"Mohon maaf senior-senior. Harimau itu adalah binatang peliharaan ku. Jadi Sudi kiranya senior sekalian mau mengembalikannya kepadaku!" Zhang Ziyi berbicara dengan sopan, sembari menangkupkan kedua tangan.
"Hohoho, anak dari mana ini! Berani sekali mengaku-ngaku kalau harimau ini miliknya. Kami yang mendapatkannya dari dulu, berarti harimau ini menjadi milik kami!" Seorang pria kurus berkata dengan sombongnya.
"Senior, Harimau Api itu memang milikku, kalau tidak percaya, tanya saja sama harimau itu?"
__ADS_1
Beberapa orang diantara kedua belas orang tersebut mengernyit. Bagaimana bisa berbicara dengan binatang buas, apalagi binatang buasnya setingkat harimau ini.
"Jangan bercanda bocah! Kami sedang tidak membutuhkan hiburan yang tak lucu! ... Pergilah, sebelum kau pulang dalam keadaan memar serta patah tulang!" Seorang pria berbadan besar berkata dengan penuh tekanan.
Zhang Ziyi tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak akan pulang, sebelum harimau api itu kembali padaku!"
Mengernyit sejenak, gadis dengan lekuk tubuh indah yang menggantung cambuk di pinggangnya, lantas maju beberapa langkah ke depan rombongan.
"Sayang sekali, pemuda tampan seperti mu harus mencari masalah dengan kami. Kalau tidak, aku pasti akan begitu bersedia bermain denganmu malam ini!" gadis tersebut berucap sembari melakukan gerakan tubuh yang membuatnya bertambah menggoda.
Jika tadi gadis tersebut, sekarang malah giliran Zhang Ziyi yang mengernyit. "Mengapa di sekte ini ada orang seperti dia?" gumam Zhang Ziyi dalam hati.
"Mohon maaf, tapi aku tidak ada waktu untuk berbicara bersama kalian seharian di sini. Mohon segera berikan aku harimau itu dan aku akan pergi dari sini." Kali ini Zhang Ziyi nampak semakin serius dalam setiap katanya.
"Sombong sekali kau bocah!" pria berbadan besar mengangkat pedang bergiginya dan langsung melesat ke arah Zhang Ziyi.
Menutup kedua matanya, mencoba untuk menenangkan diri. Setelah merasa lelaki berbadan besar tersebut hampir mendekatinya, Zhang Ziyi mendadak menghilang dari tempatnya berdiri.
Lelaki berbadan besar itu terdiam bingung. "Kemana perginya anak itu?" tanyanya sembari menilik sekitar.
Detik berikutnya, dia merasakan kakinya yang lemas. Energi yang begitu besar saat ini tengah menekannya. Membuat lututnya bergetar. Dalam hitungan detik, keringat dingin telah bercucuran di sekujur tubuhnya.
"A–ada apa ini?" Tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Pedang bergigi di tangannya yang semula terasa ringan, kini malah kian memberat seiring dengan waktu yang terus saja berjalan. Hingga pada akhirnya dia tidak mampu lagi menahan beban pedang besar itu dan memilih untuk menjatuhkannya.
Laki-laki berbadan besar berusaha sekuat tenaga untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tidak ambruk. Mengaliri kedua kakinya dengan energi Qi yang begitu banyak. namun tetap saja kedua lututnya tidak berhenti bergetar.
Di sisi lain, teman-temannya menautkan kedua alis kala melihat teman mereka yang satu itu tidak bergerak. Bahkan hahya untuk menoleh ke arah mereka pun enggan untuk laki-laki itu lakukan.
Kedua lutut yang bergetar hebat, juga keringat yang membanjiri tubuhnya dapat mereka lihat dari laki-laki itu. Seolah-olah dia tengah mengangkat sesuatu yang sangat besar di punggungnya.
"Ada apa dengan mu? Mengapa kau diam saja?" tanya wanita berlekuk tubuh menggoda kepada lelaki berbadan besar.
Tak ada jawaban darinya, membuat si wanita semakin menautkan kedua alisnya.
......TBC......
__ADS_1
...----------------...