Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 158 ~ Ujian Pengakuan


__ADS_3

"Maafkan aku, kakek. Lagi aku telah menyusahkan mu!" Zhang Ziyi meminta maaf, merasa bersalah.


"Ini semua tidak ada hubungannya dengan–mu. Kau tidak bersalah dan jangan meminta maaf!" ucap Dewa Gou Liang, dia tidak suka Zhang Ziyi yang meminta maaf padanya.


"Tetap saja Kakek, ak—!" Zhang Ziyi tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat Dewa Gou Liang memotongnya.


"Jangan lagi kau mengatakan hal bodoh, Ziyi'er. Kau tak bersalah dan jangan menyalahkan dirimu!" Dewa Gou Liang berkata dingin. Tampaknya pembantahan tidak dia terima dalam kalimatnya ini.


Terdiam sembari merenung sejenak. Zhang Ziyi masih tidak bisa tenang.


"Oh ya... Ziyi'er, aku melihat ada aliran darah di tubuhmu yang merupakan berlawanan namun juga tidak saling bertentangan!" Dewa Api memecah suasana hening yang tercipta selama beberapa saat.


Menoleh ke arah Dewa Api sejenak, Zhang Ziyi lalu mengangkat kedua tangannya dan memperhatikannya.


"Benar ... Aku memiliki racun di tangan kiri–ku dan... Ya—!" Zhang Ziyi tidak melanjutkan kalimatnya, dia langsung menoleh ke arah Dewa Gou Liang.


"Mari kita mencobanya!" ucap Zhang Ziyi.


Dewa Gou Liang dan Dewa api tidak segera bertanya. Mereka telah mengetahui akan apa yang akan di lakukan Zhang Ziyi nantinya.


Zhang Ziyi mengeluarkan belati dari cincin ruangnya, lalu tanpa pikir panjang langsung melukai telapak tangannya. Darah yang menetes dia kendalikan hingga membentuk sebuah pil. Zhang Ziyi kemudian meminta Dewa Gou Liang untuk membuka mulutnya.


Tanpa menolak, Dewa Gou Liang melakukan seperti apa yang Zhang Ziyi minta tadi. Setelahnya pil darah yang semula berada di tangan Zhang Ziyi mulai terbang perlahan. Dan masuk ke dalam mulut Dewa Gou Liang.


Lima detik berlalu. Pil darah Zhang Ziyi mulai melakukan reaksi. Tubuh Dewa Gou Liang mulai memancarkan cahaya hijau.


Dewa Gou Liang mengambil sikap lotus, lalu mulai mengontrol energi esensial yang terkandung dalam pil tersebut, untuk membersihkan racun yang tersebar dalam tubuhnya.


Detik ke empat puluh, Dewa Gou Liang mulai memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Kali ini bersamaan dengan warnah hijau gelap. Bau yang begitu menyengat bahkan lebih menyengat dari sebelumnya, tercium dari darah hitam itu.


Belum selesai, Dewa Gou Liang kembali melanjutkan kultivasinya, membersihkan sisa-sisa racun dari tubuhnya.


Semenit telah berlaku semenjak menyerap khasiat pil. Kini racun yang bersarang di tubuh Dewa Gou Liang telah dibersihkan sepenuhnya.


Tapi yang menjadi masalahnya adalah Dewa Gou Liang kini tidak lagi memiliki banyak energi tersisa. Hal ini sendiri di sebabkan oleh racun Kelabang Neraka yang sempat bersarang di tubuhnya itu telah memakan separuh dari kekuatan Dewa Gou Liang. Sehingga saat racun itu keluar, kondisi tubuh Dewa Gou Liang akan pulih sepenuhnya. Tapi energi spiritual–nya telah menghilang oleh racun tersebut. Sehingga dia perlu mengumpulkan kembali Kekuatannya.


Zhang Ziyi mengeluarkan lima butir pil tingkat Surgawi, memberikannya pada Dewa Gou Liang.


"Pil-pil ini mungkin hanya bisa memulihkan delapan persen dari kekuatanku!" ucap Dewa Gou Liang.


"Benarkah?" tak percaya Zhang Ziyi saat mendengar penuturan Dewa Gou Liang tadi.


"Ya, sebab semakin tinggi kultivasi seseorang, maka dia akan membutuhkan pil yang memiliki tingkatan lebih tinggi lagi." Dewa Api membantu menjelasakan.


Mendengar itu, Zhang Ziyi yakin dan semakin yakin bahwa kultivasi Dewa Gou Liang ini bisa lebih tinggi dari Dewa Api sendiri.


"Bahkan, kultivasi kakek yang begitu besar ini saja masih tak mampu, dan bersembunyi dari kejaran Kaisar Langit ..." Pikir Zhang Ziyi. "Jika memang demikian, maka aku juga harus bisa melampaui Kakek. Agar bisa setara dengan Kaisar Langit sendiri!" Dia bertekad dalam hati. Tapi Dewa Gou Liang dan Dewa Api mengetahui akan tekadnya itu dari sorot matanya.

__ADS_1


"Kau tenang saja, Ziyi'er. Suatu saat nanti, aku yakin kau akan mampu untuk melampaui ku. Bahkan melampaui Kaisar Langit sekaligus!" Dewa Gou Liang menepuk pundak Zhang Ziyi sembari menampakkan sunggingan tulus.


"Aku akan berusaha Kakek!" ucap Zhang Ziyi yakin.


"Bagus... Aku suka semangat mu ini!"


Zhang Ziyi teringat akan pil tingkat Suci Agung dalam cincin ruangannya. Dia lantas mengeluarkannya dan berniat menyerahkan pada Dewa Gou Liang.


"Kakek—"


"Simpan saja untukmu. Kau akan membutuhkannya nanti... Tak usah kau mempedulikan aku. Aku bisa me yembuhkan diriku sendiri. Cepatlah kau ke arah portal itu sebelum portal menutup!" ucap Dewa Gou Liang, yang menolak pil pemberian Zhang Ziyi.


Sempat merasa ragu, namun Zhang Ziyi segera menepisnya kala melihat senyuman yang terukir di wajah Dewa Gou Liang.


"Baiklah Kakek!"


"Oh, ya... Ziyi'er, aku dan Dewa Gou Liang tidak akan menemanimu untuk beberapa waktu ke depan. Kami akan memulihkan kondisi kami terlebih dahulu. Baru setelah itu aku dan Dewa Gou Liang akan kembali menemui mu!" ujar Dewa Api.


"Baik, Kakek. Aku mengerti!"


Setelah memberikan sembah hormat, Zhang Ziyi lantas bangkit dan berniat memasuki portal yang perlahan mulai mengecil.


"Jaga dirimu baik-baik, Ziyi'er ... Jangan tumbang sebelum kami menemui mu nanti..." Dewa Api mengucapkan kata terakhir dalam perpisahan ini.


"Aku akan bertemu dengan mu di lain waktu, dan saat itu tiba, maka kau harus lebih kuat tiga kali lipat dari ini!" Dewa Gou Liang juga mengucapkan kata terakhirnya.


"Baik Kakek..."


Setelah itu, Zhang Ziyi memasuki portal.


Whush!


Tepat setelah Zhang Ziyi berada dalam portal, portal itu pun juga menghilang.


"Ku harap dia bisa menyelesaikan ujian ini dan mendapat pengakuan dari langit."


"Ya!"


Dewa Api dan Dewa Gou Liang mendadak menghilang dari sana.


***


Zhang Ziyi berada di tempat asing. Di penuhi oleh kabut tebal sehingga menghalau Indera penglihatannya. Saking tebalnya kabut itu, sampai-sampai skill Mata Elang sendiri tidak bekerja di sini. Bukan hanya pada indera penglihatan, melainkan panca indera yang lainnya pun di rasa terbatas saat berada di tempat ini.


Zhang Ziyi berjalan tanpa arah. Dia juga tidak menurunkan kewaspadaannya.


Sejenak, dia menyadari kalau kabut yang tersebar ini bukanlah kabut biasa. Melainkan mengandung racun yang sangat pekat. Beruntung hal ini sangat tidak mempengaruhi Zhang Ziyi.

__ADS_1


Selang beberapa saat melangkah, Zhang Ziyi tidak sengaja menendang batu lumayan kecil, kira-kira seukuran mata kaki.


Zhang Ziyi menunduk dan memperhatikan batu itu. Dia menyentuh batu dan merasakan batu tersebut yang basah.


"Hmm, batu ini basah oleh air!" gumam Zhang Ziyi. "Kalau demikian, harusnya di sekitar sini ada sumber mata air!" Dia melanjutkan berjalan.


Kabut di rasa mulai menipis, Zhang Ziyi mulai bisa melihat sekitar dalam radius sepuluh meter.


Benar saja, sepuluh meter dari tempatnya memeriksa batu tadi, terlihat sebuah waduk yang lumayan luas.


"Mengapa ada waduk di sini..." gumam Zhang Ziyi.


"Jika waduk ada di tempat ini, seharusnya tempat ini ada penghuni yang membuat waduk ini!" Zhang Ziyi menghampiri waduk tersebut. Mencelupkan tangannya pada waduk dan membaui air dalam waduk.


Zhang Ziyi merasakan ada campuran racun pada waduk tersebut. Dia mewajarkan hal itu sebab di tempat ini memang ketat akan racun.


Tapi, yang mengganjal di pikirannya adalah, batu yang barusan dia periksa tadi yang basah akan air, sementara sumber air yang terletak agak jauh dari waduk itu sendiri.


Zhang Ziyi menilik sekitar, secara samar terlihat jembatan gantung yang menghubungkan dua daratan terpisah oleh waduk.


Zhang Ziyi lalu menghampiri jembatan itu. Berjalan di atasnya hingga sampailah dia di seberang. Rumah yang tampak kosong Di tambah kabut yang mengepul itu lumayan menghalau pandangan, menciptakan kesan horor pada rumah itu.


Dengan hati-hati Zhang Ziyi melangkah semakin mendekat ke arah rumah yang terbuat dari papan itu. Tampilan luarnya begitu berantakan.


Dari sisi depan, belakang, dan samping kanan serta kiri rumah tersebut telah Zhang Ziyi periksa. Namun tak dia temukan adanya tanda-tanda si penghuni rumah.


"Aneh... Mengapa tidak ada tanda-tanda penghuninya?" gumamnya.


Zhang Ziyi berjalan menuju pintu yang telah lapuk. Yakin dan percaya, satu sentuhan kasar tak berenergi saja bisa langsung merobohkan pintu itu.


Zhang Ziyi membuka pintu dengan hati-hati. Memasuki rumah lapuk itu, dan memeriksa di dalamnya.


Whush!


Whush!


Whush!


...


Zhang Ziyi segera menunduk dan memiringkan tubuhnya ke samping kiri. beberapa benda berduri melayang dan nyaris mengenai tubuhnya. Duri-duri itu langsung menempel pada dinding kayu.


Tidak berakhir sampai di situ, duri-duri itu kembali melesat menargetkan tubuh Zhang Ziyi. Tapi tak satupun duri yang berhasil menempel di tubuhnya, sebab Zang Ziyi begitu lihai dalam menghindar.


dua puluh detik, berlalu. Kini duri-duri tadi berhenti terlihat. Namun hal lain malah menimpa Zhang Ziyi.


Aura kematian yang begitu pekat menyebar dan mengisi satu ruangan dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Zhang Ziyi tersentak dan sedikit merasa merinding kala merasakan aura kematian itu. Entah mengapa dia merasa takut sekarang.


__ADS_2