
Bentrokan dua roh yang memiliki kekayaan besar terjadi. Menciptakan ledakan besar yang disertai dengan angin kencang.
Guru Besar termundur beberapa meter ke belakang. Dampak dari ledakan yang terjadi oleh Roh yang dia kendalikan dan roh yang di kendalikan oleh Dewa Kematian tadi Namun Dewa Kematian sendiri tidak bergerak dari tempatnya. Hanya terdiam dengan menatap datar ke arah keluhkan kabut tebak.
"Apakah hanya sebatas ini kemampuan dari Sosok Guru Besar dari Topeng Darah Hantu?" cibir Dewa Kematian.
"Sialan, Kau!" umpat Guru Besar. Setelahnya dia menciptakan pedang roh lalu menyerang dengan jarak dekat.
Dewa Kematian tidak tinggal diam. Dia juga Manarik pedang dari bilah. Pedang yang memancarkan aura hitam, serta yang dahulu sempat dia gunakan untuk membunuh Dewa Kematian terdahulu. Melayang lalu dan.
Trang!!
Dua pedang saling bertemu. Meskipun bentuk dari pedang yang ada di cengkraman tangan Guru Besar terbuat dari Roh, tapi tetap menimbulkan suara nyaring ibarat dua buah pedang asli yang saling bertemu.
Layangan pedang kedua, kembali di lakukan oleh Dewa Kematian serta Guru Besar, tubuh keduanya pun berpindah tempat begitu cepat saat layangan pedang kedua itu mereka lakukan.
Sriingg!
Berlanjut pada layangan ke tiga hingga ke empat. Dalam beberapa detik saja, telah terjadi lebih dari seratus kali pertemuan pedang kedua orang itu. Dengan kecepatan yang tidak main-main, keduanya bersikeras untuk menjatuhkan lawan. Terutama bagi Guru Besar sendiri. Dia lebih agresif serta penuh akan ambisi untuk membunuh Dewa Kematian. Setiap serangan yang Guru Besar arahkan selalunya mengandung energi besar. Dia tampak tidak sabar untuk segera menghabisi lawannya ini.
Dewa Kematian memasang seringai sinis. "Apakah kau tidak menyayangkan energi yang kau buang sia-sia itu. Bahkan kita baru saja bertarung dalam beberapa menit terakhir, tapi kau justru telah menggunakan kekuatan besar untuk membunuhku!" ujar Dewa Kematian di sela pertarungannya. Tersirat ejekan dari perkataan tersebut, sebab merasa energi besar yang di sumbangkan oleh lawannya untuk menyerang dirinya begitu sia-sia.
"Kau terlalu banyak bicara. Itu hanya akan mendekatkan ku pada kematian!" tegas Guru Besar. Pedang yang penuh akan energi roh terlibas dengan keras ke arah perut Dewa Kematian, tapi berhasil di hindari.
__ADS_1
"Hohoho, apakah kau lupa bahwa aku adalah Kematian itu sendiri? Bagaimana kau bisa membuatku mati?!" Kembali seringai sinis di pasang Dewa Kematian.
"Baiklah, mari kita mulai serius!"
Mendengar itu, Guru Besar mengumpat keras. Padahal dia sudah mulai serius dari tadi. Eh tau-tau Dewa Kematian menganggap pertarungan tadi itu hanya sebagai pemanasan.
Dewa Kematian melepaskan kekuatan besar dari tubuhnya. Baru setelahnya dia berniat untuk kembali menyerang. Pertarungan kembali pecah setelah sebelumnya terjadi jeda dalam beberapa detik.
Jika posisinya tadi Dewa Kematian yang bertahan sementara Guru Besar yang menyerang, tapi kali ini tampaknya terbalik, dimana Guru Besar yang bertahan sementara Dewa Kematian sendiri menyerang. Setiap serangan yang di lakukan oleh Dewa Kematian sendiri begitu mematikan. Guru Besar kian kesusahan dalam meladeni setiap pergerakan Dewa Kematian ini. Semakin agresif serta berat.
Hingga tidak butuh waktu lama bagi Dewa Kematian untuk menyudutkan Guru Besar.
Satu libasan pedang yang di penuhi oleh energi hitam, berhasil membuat Guru Besar terpental dan menabrak tanah dengan keras.
Guncangan hebat terjadi sesaat. Dewa Kematian tidak diam saja, dia berniat mengakhiri hidup dari Guru Besar. Mengumpulkan energi pada pedang, setelahnya dia berniat melakukan serangan terakhir.
Tapi serangan itu tidak hadiah dia lakukan sebab perhatian Dewa Kematian mendadak teralihkan oleh sesuatu. Dia menoleh ke samping kanan bawah. Melihat situasi yang ternyata sangat menyudutkan pihaknya. Padahal beberapa saat yang lalu pihaknya mendominasi, tapi kini malah berbanding terbalik.
Dewa Kematian bisa melihat seorang pemuda bertopeng yang melesat dengan kecepatan tinggi. Semakin pemuda itu berpindah tempat, maka ratusan nyawa pasukannya juga akan ikut melayang dibuatnya.
Sejenak, Dewa Kematian mengernyit. Dia seperti mengenali aura yang di pancarkan oleh anak itu, meskipun saat ini aura nya teralihkan oleh kekuatan roh yang kian merasuki pemuda, tapi tidak cukup untuk membuatnya tidak mengenali aura asli dari pemuda itu.
Pemuda itu sendiri adalah Zhang Ziyi.
__ADS_1
"Hmm, akhirnya ku menemukanmu! Kau yang membunuh Siluman Peliharaan ku, dan telah membunuh begitu banyak pasukan–ku saat ini. Hahaha, aku tidak ada alasan untuk mencabut nyawamu!" ucap dewa Kematian. Antara dendam terhadap Siluman Buaya, peliharaanya yang dahulu pernah di bunuh oleh Zhang Ziyi, juga geram karena Zhang Ziyi pula lah yang menyebabkan pasukannya berkurang banyak.
Dia mengacuhkan Guru Besar dan beralih ke Zhang Ziyi. Mengarahkan ayat kematiannya yang begitu pekat itu apda Zhang Ziyi. Dan itu berhasil menghentikan aksi anak itu dalam membantai pasukannya.
Zhang Ziyi menengadah ke atas. Dapat dia lihat di atas sana seorang yang memiliki aura menyeramkan bersamanya tengah menatap tajam dirinya. Zhang Ziyi juga bisa merasakan hawa sekitar yang berubah mencekam. Itu tidak lain berasal dari aura Kematian yang di arahkan oleh Dewa Kematian terhadapnya. Nafasnya terasa sesak. Tapi Zhang Ziyi memilih untuk mengacuhkan Pria di atas sana dan beralih kembali membantai pasukan Dewa Kematian. Pasalnya, semakin banyak yang dia bunuh, maka roh yang ada pada tubuhnya kian bertambah. Di situlah kekuatannya juga ikut meningkat.
"Kurang ajar ... berani sekali kau mengacuhkan ku, Bocah!" Dewa Kematian tampak geram. Apalagi Aura Kematian yang tadi dia arahkan nyatanya tidak banyak bekerja pada Zhang Ziyi.
Mengambil tindakan dengan menyerang Zhang Ziyi dari jarak jauh. Pedang di tangannya ia libas, memotong angin. Setelahnya tercipta lesatan energi hitam tajam berbentuk bulan sabit. Itu melesat kurun dan mengarah ke Zhang Ziyi. Meski Zhang Ziyi terus berpindah-pindah tempat, tapi nyatanya Energi itu juga ikut bergerak, seiring dengan pergerakan langkah Zhang Ziyi.
Tengah membantai pasukan Dewa Kematian, Zhang Ziyi membalikkan badan saat merasakan adanya bahaya yang mengintai dari belakang. Sontak saja Pedang Naga Langit dan Pedang Pembalik Langit dia letakkan ke depan dada, membentuk tanda silang. Lesatan energi Hitam tajam berbentuk bulan sabit menghantam dua pedang di cengkraman Zhang Ziyi. Memaksa Zhang Ziyi untuk terdorong mundur beberapa langkah.
Setelah berhasil membereskan lesatan energi hitam tadi, Zhang Ziyi beralih kembali membantai pasukan musuh. Karena dengan begitu dia bisa menambah kekuatannya dan ada kemungkinan bisa melawan Dewa Kematian. Meskipun dia juga tidak yakin dengan itu, tali setidaknya tidak ada salahnya untuk mencoba.
Pedang Naga Langit dan Pedang Pembalik Langit tidak berhenti berayun begitu cepat. Mencabut setiap nyawa dari musuh-musuh yang ada di depan mata. Bahkan saat ini Pasukan dari Topeng Darah Hantu seperti tidak bergerak untuk membunuh musuh, sebab saat hendak membunuh, mereka telah lebih dulu keduluan oleh Zhang Ziyi.
Merasakan serangannya kembali gagal, kemarahan Dewa Kematian kian meningkat. Kali ini dia berniat menyerang dengan serangan besar. Tak peduli lagi apakah pasukannya akan ikut mati oleh serangannya kali ini atau tidak. Yang terpenting baginya adalah bisa membunuh Zhang Ziyi dengan serangan terakhirnya ini.
Dia memilih untuk menyimpan Pedang di tangannya. Beralih dengan menggunakan pagoda. Melakukan segel tangan, setelahnya pagoda tersebut mulai bereaksi. Mengeluarkan debu-debu hitam yang tidak lain adalah roh negatif. Kemudian mengendalikan mereka, membentuk serangan tombak roh yang langsung di arahkan pada Zhang Ziyi.
Bersamaan dengan melesatnya tombak roh, waktu Seolah-olah berhenti bergerak. Banyak yang menyaksikan itu dengan keadaan slowmo. Termasuk Zhang Ziyi sendiri. Dia merasakan ancaman sangat besar. Kekuatan yang sangat besar tengah mengarah padanya. Niat awal ingin membantai lebih banyak, Zhang Ziyi pending. Sementara tombak itu semakin dekat dengan dirinya.
Beberapa orang yang berada dalam radius jangkauan tombak roh itu berusaha berlari untuk menghindar. Tapi sepertinya terlambat. Tekanan besar yang membuat pergerakan mereka melambat, yakin dan percaya, sekali saja tombak itu mendarat di tanah, baik kawan maupun lawan, akan mati dalam jumlah yang tidak sedikit.
__ADS_1