
"Dia!"
Kontan, semuanya langsung mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Zhang Ziyi.
"Master Zhili!" Zhang Wei, Master peringkat kedua bergumam. Setelahnya ia menengok ke arah Zhang Ziyi. Mencoba untuk memastikan tebakannya memang tidak keliru,.
"Benarkah, Master Zhili orangnya?" tanya Zhang Wei memastikan.
"Benar master!" jawab Zhang Ziyi dengan sopan, tak ingin menyinggung pria tua ini terlalu jauh.
"Cih, kenapa kau memilih dia? Bukankah pria itu merupakan master terlemah diantara master yang ada di klan utama Zhang ini!"
"Mohon maaf senior, Master Zhili mungkin memang terlemah diantara master yang lainnya. Akan tetapi, dia memiliki suatu kelebihan khusus diantara para master yang lain!" jelas Zhang Ziyi yakin.
"Ck... pertimbangkan kembali pilihanmu nak... Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari!" Zhang Wei berusaha memengaruhi Zhang Ziyi. Namun respons yang diberikan pemuda itu malah begitu diluar perkiraannya.
"Mohon maaf master... Junior memang telah yakin dengan pilihan Junior. Juga junior tidak mungkin menyesali pilihan Junior ini!" Zhang Ziyi kembali berkata sopan. Sekali lagi pemuda itu membungkukkan badan. Berusaha tidak membuat pria itu tersinggung terlalu jauh.
Terdiam sejenak. Berusaha menetralkan perasaannya yang mulai menaruh amarah terhadap anak ini. Terutama pada Zhang Zhili yang saat ini berdiri diantara para penatua. Zhang Wei kemudian berucap
"Baiklah nak, karena itu memang pilihanmu, maka aku tidak akan memaksamu! Namun ingat, kau akan menyesal nantinya!"
Setelah selesai mengatakan kalimatnya, Zhang Wei pun berlalu dari sana. Dalam sedetik, lelaki itu tidak terlihat lagi di sana.
"Saudara Ziyi, kenapa kau tak memilih Master Wei saja? Dengar-dengar, master Wei baru-baru ini telah menerobos Ranah Langit tahap 7. Dia juga menduduki sebagai master terkuat kedua diantara para master Klan utama ini!" Zhang Lan mendekati Zhang Ziyi.
"Aku tidak tertarik padanya!" Zhang Ziyi berkata tanpa menoleh.
"Eh, Sepupu Ziyi.... Aku tak menyangka kau akan seberani itu! Bahkan di depan umum, kau berani menolak mentah-mentah master Wei. Ckckck... Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur reputasinya tadi!" ucap Zhang Lou dengan intonasi terkesan mengejek.
"Berhati-hatilah, sepupu Ziyi... Aku yakin, master Wei pasti tak akan melepaskan mu setelah apa yang telah kau perbuat padanya barusan!"
Zhang Ziyi menoleh ke arah Zhang Lou. Pria ini sudah terlalu mengganggunya akhir-akhir ini, sehingga Zhang Ziyi merasa muak melihat wajahnya.
__ADS_1
"Kau nampak aku peduli?" ketus Zhang Ziyi, setelahnya ia berlalu dari tempat itu, Zhang Lan sendiri tak punya pilihan. Sebab tak ada master pun yang mau menawarinya sebagai murid. Sehingga dia tak ada pilihan lain selain mengikuti Zhang Ziyi.
Zhang Lou yang kembali di acuhkan oleh Zhang Ziyi merasa kesal. Meski begitu, tak ada yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Dengan kesal dia pun juga berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.
Zhang Ziyi serta Zhang Lan berjalan ke keluar dari aula dan berhenti di gerbang masuk aula tersebut. Setelah menunggu agak lama, nampak pula orang yang mereka tunggu. Terlihat, empat orang tengah berjalan kearahnya. Empat orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Zhang Zhili, Zhang Bie, Zhang Meng serta Zhang Yin.
"Saudara Ziyi...!"
"Saudara Ziyi....!"
Zhang Meng serta Zhang Bie kompak memanggil nama Zhang Ziyi.
Zhang Ziyi sendiri beranjak menuju kearah empat orang itu.
"Hormat, master! Saudara Meng, saudara Bie ... Saudari Yin!" Zhang Ziyi memberi hormat pada keempat orang itu. Juga diikuti Zhang Lan dibelakangnya.
"Saudara Ziyi, selamat karena kau telah resmi menjadi murid klan utama!" Zhang Meng memuji Zhang Ziyi.
"Terima kasih, saudara Meng." Zhang Ziyi membalas sembari melempar senyum kecil.
"Kau benar... Mulai sekarang kau harus berhati-hati dengan pak tua itu...!" Zhang Meng menambahkan.
"Kau tahu, Pak Tua itu senang sekali mencari masalah dengan guru, karena sesuatu yang tidak jelas... Dan sekarang, kau malah menambah beban guru terhadap pak tua itu!" Zhang Yin berkata dengan ketus.
Memang Zhang Zhili serta Zhang Wei kerap kali terjadi konflik antar keduanya. Bukannya Zhang Zhili, lebih tepatnya Zhang Wei yang kian mencari masalah dengan Zhang Zhili.
Zhang Wei membenci Zhang Zhili sebab, Pria itu selalu mendapat perhatian dari banyak orang di klan dibanding dirinya. Merasa tidak adil sebab menurut Zhang Wei, tidak ada sesuatu yang istimewa pun yang dimiliki Zhang Zhili dibandingkan dengan dirinya. Namun entah mengapa pria itu lebih mendapat banyak perhatian dibanding dirinya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita bicarakan masalah ini di kediaman... Tidak baik membicarakan orang, apalagi di tempat umum di sini." Zhang Zhili mendekatkan dirinya ke arah anak muridnya itu."Perhatikan saat kalian membicarakan pria itu... hampir seluruh tempat di klan utama Zhang ini tidak luput dari mata-matanya." Zhang Zhili memperkecil nada bicaranya. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar kalau saja indera pendengar mereka tidak tajam.
Zhang Ziyi, Zhang Lan, Zhang Meng, Zhang Yin, serta Zhang Bie mengangguk. Setelahnya, keenam orang itu beranjak meninggalkan tempat itu, menuju kediaman Zhang Zhili, dimana di sana pula lah tempat Zhang Ziyi serta Zhang Lan akan tinggal.
Kediaman Zhang Zhili ini tidak terlalu luas. Tidak seperti master-master klan yang lain. Yang memiliki pekarangan begitu luas serta ramai akan murid-murid yang berlalu lalang. Kediaman Zhang Zhili juga sangat sepi. Sebab tidak ada murid yang mau berguru pada Zhang Zhili selain tiga orang tersebut. Bahkan beberapa bangunannya yang nampak sudah tua. Namun entah mengapa, Zhang Ziyi serta Zhang Lan merasa nyaman di sini. Entah karena jauh dari kebisingan atau apa.
__ADS_1
"Beristirahatlah... Besok kita akan mulai pelatihannya!" ucap Zhang Zhili saat mereka berada di sebuah bangunan yang merupakan kamar Zhang Ziyi serta Zhang Lan.
"Apa? Besok? ... Kenapa tidak lusa saja. Kami kan baru resmi menjadi murid utama. Bukannya memberi kami waktu untuk bersantai beberapa hari... Apalagi kami juga baru saja menyelesaikan seleksi yang notabenenya begitu menguras tenaga." Zhang Lan mengoceh. Tak terima dengan kebijakan Zhang Zhili barusan.
"Tidak ada kata santai dan aku tidak suka ada yang membantah." Berkata tanpa menoleh, Zhang Zhili kemudian pergi dari sana.
Zhang Meng menepuk pundak Zhang Ziyi serta Zhang Lan. "Semangat!!" ucapnya sesaat lalu juga ikut pergi dari sana.
***
Besoknya, seperti yang telah di janjikan. Zhang Ziyi serta keempat murid mulai berkumpul di tanah lapang. Beberapa saat menunggu, akhirnya Zhang Zhili datang juga.
"Karena aku melihat kekuatan fisik kalian yang begitu lemah, maka aku berniat memperkuat fisik kalian," ujat Zhang Zhili tanpa basa-basi.
"Di samping kanan kalian, terdapat lima buah keranjang yang berisi batu-batu... Yang harus kalian lakukan adalah mengelilingi kediaman sebanyak dua puluh kali putaran dengan memikul masing-masing keranjang. Aku juga telah memberikan tanda di setiap jalan yang akan kalian lalui nantinya." Zhang Zhili menjelaskan.
"Baik master!" ucap keenam orang itu tanpa membantah.
"Mulailah!"
Kelima orang itu memilih masing-masing keranjang, lalu mulai berjalan mengelilingi kediaman Master Zhang Zhili.
Awalnya memang sangat berat. Apalagi mereka hanya diperbolehkan minum satu kali sampai di pos. Putaran pertama masih sanggup, kedua juga demikian. Hingga sampai pada putaran ke tujuh belas, Zhang Yin mulai menampakkan tanda-tanda kelelahan. Gadis itu hampir saja tumbang, beruntung, Zhang Ziyi bertindak cepat dengan memapahnya.
Zhang Ziyi berniat mengambil sedikit beban Zhang Yin, namun dengan segera di cegah oleh gadis itu.
Setelahnya, mereka kembali melanjutkan berjalan. Memutari kediaman Master Zhang Zhili. Hingga sampai pada putaran ke sembilan belas, giliran Zhang Lan yang mengeluh. Meski begitu akhirnya mereka sampai juga pada putaran terakhir. M
Kelima orang itu merasakan kakinya yang pegal. Untuk hari pertama, memang terasa sangat berat bagi mereka, bahkan Zhang Lan sempat berpikir, bahwa setelah ini, dia tidak akan bisa bergerak lagi, sangking pegalnya pemuda itu.
Malamnya, mereka berendam di air panas, dan itu membuat mereka agak mendingan.
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Kini, dua puluh putaran bukan lagi masalah bagi mereka. Namun saat merasa enteng. Zhang Zhili malah menambah beban dengan memberikan keranjang yang lebih besar. Sempat dibuat kesal dengan itu, namun mereka juga menyadari bahwa ini juga demi kebaikan mereka. Mau tidak mau, kelima orang itu harus mengangkat keranjang besar itu.
Saat tengah berjalan hingga lima belas putaran. Kelima orang itu menghentikan langkah kala beberapa orang mendatangi mereka. Tentu saja Zhang Ziyi serta yang lainnya merasa kesal dengan kedatangan orang-orang ini.