
Dua pria saat ini tengah duduk berhadapan di pojok, lantai satu restauran. Tampaknya, kedua orang itu sedang membicarakan sesuatu yang begitu serius.
"Apakah kau sudah mendengar berita yang baru saja beredar," tanya salah satu pria tersebut kepada temannya.
"Hmm, berita seperti apa yang kau maksud?"
"Kabarnya, hari ini juga klan Zhang akan mengeksekusi kepala klan Zhang cabang di kota Bintang ini!" jelas pria tersebut.
"Benarkah?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti kebenarannya... Katanya, karena putra dari kepala klan cabang itu yang saat ini tengah berguru di klan utama, membuat masalah besar. Bahkan banyak anggota klan utama Zhang terbunuh karenanya!" pria tersebut menjelaskan dengan mimik serius.
"Bagaimana bisa? Yang ku tahu, putra dari kepala klan Zhang itu baik. Kultivasinya pun juga masih di ranah Pendekar, selain itu pemuda itu dulunya menggelar status sebagai sampah klan. Juga yang ku tahu, kebanyakan dan bahkan hampir semua anggota Klan utama Zhang memiliki kultivasi di Ranah Langit!... Bagaimana mungkin dia bisa membunuh begitu banyak anggota klan Zhang utama?" Pria yang satunya ikut menimpali.
"Entahlah! ... Mungkin karena mereka tak terima anggotanya banyak yang mati karena anak itu, sehingga mereka membalas dendam dengan menghukum mati orang tuanya."
"Ya, nyawa harus dibayar dengan nyawa.''
Saat asik berbincang-bincang, mereka langsung dikagetkan oleh seorang pemuda yang datang-datang langsung mengarahkan nafsu membunuh pada mereka berdua.
"Apa yang kalian katakan barusan?" tanya Zhang Ziyi sembari mengeluarkan tekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Kedua pria itu menoleh, dan mendapati wajah yang tidak asing.
"Tarik kembali nafsu–mu itu! Sopan–lah sedikit jika berbicara dengan orang yang lebih tua darimu!" ucap salah satu dari dua pria tersebut dengan intonasi meninggi.
"Tch, baru nafsu saja, kau sudah merinding... Bagaimana jika aura yang asli?" cibir Zhang Ziyi.
"Kau–!"
__ADS_1
Kemarahan terlihat jelas dari raut pria itu. Menunjuk Zhang Ziyi dengan jari telunjuknya. Kedua bola mata yang mulai mengeluarkan urat merah.
Darah Zhang Ziyi sendiri yang tadinya sempat meninggi, kini mulai kembali normal kala melihat ekspresi pria itu. Ya, seketika Zhang Ziyi melupakan amarahnya. "Cih, pak tua ini ternyata begitu mudah untuk memancing emosinya!" entah hendak tertawa atau bagaimana mengekspresikan raut wajahnya. Dia pun berinisiatif untuk menambah kekesalan pria tersebut.
"Oh, ya... Pak Tua, kau tampak begitu tampan dengan mukamu yang seperti itu! hehehe!" ujar Zhang Ziyi diselingi dengan tawa kecil.
Bertambah naik pula emosi pria itu. Dia berniat maju dan menyerang pria tersebut. Namun belum juga berhasil mencapai Zhang Ziyi, seekor anak harimau api telah lebih dulu menghadangnya.
"Auumm!"
Anak harimau itu tidak lain adalah Laohu. Laohu menggigit baju pria itu, lalu menghempaskan–nya di dinding. Pria yang satunya langsung menarik pedang kala melihat Harimau api tersebut.
"Pak tua, aku tidak berniat mencari masalah di tempat ini... Tak ada yang ku minta, Cukup dengan menceritakan padaku terkait masalah klan cabang di kota Bintang ini, seperti yang kalian perbincangkan barusan!" ucap Zhang Ziyi.
"Sebenarnya, aku tidak ingin memberitahumu, namun karena kasihan dengan nasib mu kedepannya, maka aku akan memberitahumu tentang apa yang terjadi di cabang klan Zhang kota Bintang."
Terdiam beberapa saat pria tersebut sebelum melanjutkan kalimatnya. Zhang Ziyi sendiri yang begitu tidak sabar mendengar kabar cabang klan Zhang di kota bintang saat ini, merasa kesal karena pria itu tak kunjung bercerita. Padahal belum juga satu menit pemuda itu terdiam, namun entah mengapa, bagi Zhang Ziyi terasa telah satu jam ia menunggu, sangking tidak sabarnya anak itu.
"Cih, anak ini! Kenapa kau begitu tidak sabaran?" ucap pria tersebut. "Oh, ya... aku tidak akan bercerita jika harimau itu tetap mengejar temanku!"
"Laohu, berhenti!" Zhang Ziyi langsung menyuruh anak harimau–nya itu berhenti, karena tidak sabar untuk mendengar cerita.
Lelaki tersebut memasang senyum kecil, lalu mulai menceritakan masalah yang menimpa Cabang Klan Zhang di kota bintang.
"Yang ku tahu, sekarang ini ... Kepala cabang klan Zhang di kota Bintang saat ini sedang menerima hukuman mati... Itu–" Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Zhang Ziyi telah lebih dulu memotong perkataannya.
"Apakah benar yang kau katakan itu?" Zhang Ziyi bertanya memastikan. Suaranya pun nampak sedikit gugup. Ekspresi yang semula iseng kini berubah menjadi serius. Ada rasa gugup di hatinya, mendengar berita tersebut. Berharap apa yang di kata pria ini tidak benar-benar terjadi.
"Umm!" membalas dengan anggukan kepala pria tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih!" jawab Zhang Ziyi singkat, lalu bergegas meninggalkan pria itu. Zhang Ziyi berniat kembali ke klan untuk memastikan kebenaran berita tersebut.
"Ayo kita pergi dari sini!"
Zhang Zhili, Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Meng serta Zhang Lan mengernyit kala mendengar ajakan Zhang Ziyi barusan.
"Apa yang terjadi, saudara Ziyi? Kenapa kau tiba-tiba menginginkan kita untuk segera meninggalkan tempat ini!" Zhang Bie bertanya penasaran.
"Akan ku jelaskan nanti!"
Zhang Ziyi nampak semakin gugup. Pria itu harus segera sampai di klan dan menyelematkan kedua orang tuanya, sebelum mereka di eksekusi. Zhang Ziyi akan begitu menyesal jika tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya.
Tanpa menunggu respons dari kelima orang itu, Zhang Ziyi lantas beranjak pergi meninggalkan mereka. Sementara kelima orang itu sendiri sempat dibuat mengernyit sesaat, sebelum juga mengikuti Zhang Ziyi dari belakang.
Berlari dalam kegelapan malam. Disepanjang jalan, Zhang Lan serta Zhang Meng tidak henti-hentinya bertanya kepada Zhang Zhili terkait Zhang Ziyi yang begitu khawatir seperti itu. Bahkan pemuda itu begitu cepat dalam melesat, seolah-olah dia melupakan keberadaan mereka di belakangnya. Terpaksa juga mereka harus mempercepat laju larinya, demi mengimbangi kecepatan Zhang Ziyi.
"Guru, apa yang terjadi pada saudara Ziyi, kenapa dia nampak begitu panik sekaligus khawatir seperti itu?" tanya Zhang Lan di sela-sela laju larinya.
"Setelah insiden beberapa jam lalu, Klan utama Zhang tidak akan melepaskan kita begitu saja!" jelas Zhang Zhili.
"Maksud guru!" Zhang Meng menimpali.
"Kedua orang tuanya saat ini tengah dieksekusi! Hukuman mati hari ini, jika sempat maka kita bisa menyelamatkan mereka, namun jika kita terlambat, maka tamatlah riwayat mereka... Sudahlah, mari mempercepat laju lari, jangan sampai kita terlambat!"
Zhang Zhili kemudian menambah kecepatan larinya. Begitupun juga dengan keempat murid di belakangnya.
Berlari hingga beberapa saat, Zhang Zhili serta yang lainnya berhenti kala melihat Zhang Ziyi yang berhenti tepat di depan gerbang masuk klan. Pemuda itu terdiam mematung.
Karena penasaran, mereka lantas mendekati Zhang Ziyi.
__ADS_1
"Saudara Ziyi, apa yang terjadi?" Zhang Lan memegang pundak Zhang Ziyi, sembari berkata pelan.
Tak ada tanggapan dari Zhang Ziyi. Pemuda itu tetap terdiam membatu. Entah apa yang membuat anak ini seperti itu.