Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 150 ~ Mati


__ADS_3

Bulan merah besar terlihat menggantung di atas garis cakrawala merah darah. Tak lama setelahnya bulan itu retak dan terbelah.


Seorang lelaki yang berada di tempat itu langsung meringis kala merasakan gangguan pada mentalnya. Lelaki itu adalah Yun Biao


Nyatanya, tidak hanya berhenti sampai di situ. Awan merah di atas sana mendadak mengeluarkan butiran-butiran kecil air. Di tengah-tengah tempat yang menyeramkan itu, Dewa Yun Biao meringis. Hujan semakin lama semakin banyak yang turun, hingga deras dalam hitungan menit.


Mengetahui hujan ini bukanlah hujan biasa, Dewa Yun Biao lantas menciptakan sebuah perisai. Awalnya perisai itu masih bekerja, Tapi lama-kelamaan mulai retak, hingga satu tetes hujan darah yang bagaikan jarum itu menembus dan mengenai keningnya.


Kontan, hal itu membuat dia kembali meringis. Bahkan ringisan yang semakin besar saat merasakan kulitnya yang meleleh. Pelindung yang dia ciptakan tadi kini telah bisa untuk di tembus. Sontak saja tetesan hujan darah langsung membawa kabar ngeri pada kulit lelaki itu.


Terus berlanjut hingga beberapa saat, pria itu masih dengan ringisan–nya, namun sejurus kemudian dia mulai tertawa. Tawa yang begitu mengerikan, yakin siapa saja mendengarnya akan langsung bergidik hingga ke tulang.


"Hahahah.... Mainan anak-anak! Sayang sekali permainan mu ini begitu menggelikan bagiku!"


Kulit yang hancur perlahan mulai pulih kembali.


"Aku adalah Dewa Ruang. Mari biar ku tunjukkan padamu, kekuatan dari seorang Dewa Ruang yang sebenarnya!"


Pusaran besar tercipta di atas kepalanya. Pusaran itu membentuk lingkaran hitam dan menghisap semua hujan darah.


Hujan yang semula tersebar, mulai tersedot ke satu arah.


Swoosshh!!!!!!


Dalam hitungan detik, tak ada hujan yang tersisa, bahkan oleh awan merah darah yang semula menggantung di atas sana tersedot habis oleh pusaran tersebut.


Pusaran tadi telah menghilang. Yun Biao melepaskan kekuatannya yang sangat besar. Dunia ilusi Zhang Ziyi mulai terguncang hebat. Hingga pada akhirnya retak dan hancur berkeping-keping.


Dunia ilusi yang berhasil di patahkan oleh Yun Biao, membuat Zhang Ziyi tidak bisa untuk tidak merasakan efek samping. Kepalanya terasa pening, mentalnya terganggu. Nyaris terkena gangguan jiwa, beruntung dia masih memiliki aura emas Kaisar langit yang langsung menetralkan–nya.


Meski demikian, dia harus beristirahat dan memulihkan kondisinya terlebih dahulu. Untuk bertarung kembali, dia perlu mengumpulkan kembali Kekuatannya, terlebih kekuatan mental.


Menggunakan teknik ilusi hujan darah, membutuhkan pengorbanan kekuatan energi yang tidak sedikit jumlahnya. Di tambah ilusi tersebut yang berhasil di patahkan, membuat energinya terkuras banyak. Apalagi saat itu, Zhang Ziyi tidak berada dalam kondisi prima setelah sebelumnya menyuling pil tingkat Suci Agung.


"Bocah tengik. Cepat berikan pil tingkat Suci Agung kepadaku. Mungkin dengan begitu, kau masih tetap akan hidup." Yun Biao mencoba untuk bernegosiasi. Tapi jawaban yang dia dapatkan dari Zhang Ziyi malah di luar perkiraannya.


"Kau mau memiliki pil tingkat Suci Agung ini? maka kau bisa menyuling sendiri!" Zhang Ziyi berkata sembari membuang ludah. Posisinya saat ini yang tengah berlutut, dengan pedang Naga Langit ia jadikan topangan.

__ADS_1


"Hoi, mulutmu cukup mampu meski tenaga mu tak mampu lagi! Baiklah bocah, nampaknya kau begitu menginginkan kematian yang menyedihkan!"


Dewa Yun Biao mulai mengeluarkan jurusnya. Kepalan tinju yang terlapisi oleh debu hitam dia arahkan ke Zhang Ziyi. Berniat menonjok Zhang Ziyi dengan tonjokan penuh energi.


Taakk!!


Tinju tersebut di tangkis oleh Pedang Naga Langit. Sesaat, terjadi percikan bunga api, tapi tidak berlangsung selama dua detik, sebelum terhempasnya Zhang Ziyi ke belakang.


Kedua kalinya Zhang Ziyi menabrak batu besar di tengah gurun. Membuat batu itu retak hancur sebagiannya. Zhang Ziyi memuntahkan darah segar.


Tubuhnya terasa sakit, pukulan itu nyatanya memiliki sesuatu tak kasat mata yang langsung menyerang tubuh bagian dalam Zhang Ziyi. Kini dia mengalami luka dalam.


Zhang Ziyi belum sempat mengeluarkan pil dari cincin ruang miliknya saat sebuah tendangan keras melayang dan langsung menghantam tulang pipinya.


Zhang Ziyi terdorong oleh tendangan itu. Bertumpu pada wajah yang tergeser di tanah kering.


Dewa Yun Biao kembali muncul di depan kepala Zhang Ziyi. Kakinya terangkat dan langsung menginjak ke ras kepala Zhang Ziyi., hingga membuatnya semakin terbenam ke tanah.


"Hahaha, Bocah Tengik. Inilah pelajaran yang kau dapatkan jika berani berurusan dengan Dewa Ruang."


Zhang Ziyi tidak ingin diam saja. Dia berusaha memberontak dengan sisa-sisa tenaganya. Sayangnya kekuatannya tidak cukup untuk mengalahkan kekuatan kaki dewa Yun Biao, yang secara otomatis mengunci pergerakannya.


Sisa-sisa energi, Zhang Ziyi mengaliri tubuhnya dengan energi api hijau. Api itu langsung menjalar dan membakar pakaian bagian bawah Dewa Yun Biao.


Refleks Dewa Yun Biao langsung melepaskan pijakannya pada kepala Zhang Ziyi dan beralih memadamkan api pada pakaiannya itu. Beruntung dia cukup cepat, sehingga api tadi hanya membakar sedikit saja.


"Sialan kau, Anak Bangs*t! Berani sekali kau membakar pakaianku. Kau akan membayarnya dengan kematian yang menyakitkan!"


Dewa Yun Biao yang terlampau marah, lantas menginjak tanah dengan keras. Tanah retak sedangkan tubuh Zhang Ziyi langsung terangkat di udara.


Zhang Ziyi pasrah. Api hijau di tubuhnya masih menyala, tapi matanya terpejam. Anak itu tampaknya akan pingsan, namun berusaha ia tahan.


"Kau sangat lemah bocah. Namun mengapa kau bisa menciptakan pil yang begitu mengerikan itu!" Dewa Yun Biao mengatakan itu, juga tangannya yang perlahan terangkat, memberikan tekanan pada tubuh Zhang Ziyi.


Zhang Ziyi tidak mampu menjawab perkataan dari Pria itu. Dia hanya bisa meratapi nasibnya. Entah setelah ini dia masih hidup atau mungkin datang suatu keajaiban yang menyelamatkannya.


Tekanan yang kian besar, semakin mengekang tubuh Zhang Ziyi. Beruntung kualitas tulang Zhang Ziyi telah di tingkatkan. Kalau tidak, mungkin dia akan retak.

__ADS_1


"Hohoho, tulang mu cukup bagus, bocah. Namun bagaimana kau bisa menahan ini!"


Tekanan yang mengekang semakin meningkat hingga berkali-kali lipat. Tidak hanya itu, aura hitam menyelimuti tubuh Zhang Ziyi, bersamaan dengan petir hitam nan ganas menyerbu tubuh Zhang Ziyi.


"Aaarggghhh!" Dia masih bisa berteriak histeris dengan sisa kekuatannya.


"Hahaha... Aku suka nyanyian ini... Teruskan lah nak!" Dewa Yun Biao tertawa girang.


Sesaat, ekspresinya kembali berubah serius.


"Tubuhmu sangat lemah. Kau tidak pantas memiliki kekuatan besar ini bersamamu... Kau cocoknya menjadi sampah busuk!" perkataan dingin dan sangat menusuk.


Ingatan akan masa lalu kembali terngiang di benak Zhang Ziyi. Sebutan sampah terhadapnya, begitu mengingatkannya pada masa-masa pahit silam. Perkataan itu sering di dengar olehnya hingga beberapa tahun. Meski begitu, dia masih membencinya sampai sekarang.


Zhang Ziyi tak terima dan sangat geram. Rasa benci terhadap Dewa Yun Biao makin besar.


Tapi, apalah dayanya sekarang. Dia hanya bisa menerima tanpa mampu memberikan perlawanan.


"Kekuatan ini lebih cocok jika bersamaku."


Pusaran hitam kembali tercipta. Namun kali ini tidak sebesar sebelumnya. Pusaran yang kemudian mulai menyedot kekuatan yang ada pada tubuh Zhang Ziyi. Semakin lama dan semakin mengganas.


Energi emas mulai merembes dari tubuh Zhang Ziyi, dan beralih masuk ke dalam pusaran hitam.


"Berhenti... Jangan...!" Zhang Ziyi memohon, namun tidak mendapat pengindahan dari Dewa Yun Biao.


Semakin lama, kekuatan Zhang Ziyi semakin terkuras, hingga habis sepenuhnya.


Tubuh tanpa kekuatan itu kini tampak layu. Tak ada lagi aura kehidupan yang terasa dari dalam tubuh Zhang Ziyi.


Melihat mainannya yang telah meregangkan nyawa, Dewa Yun Biao tersenyum puas. Setelahnya dia melempar tubuh Yun Biao bagaikan boneka.


...—...


...Terima kasih bagi yang masih setia membaca kisah petualangan Zhang Ziyi sampai di bab ini....


Salam dari penulis :)

__ADS_1


__ADS_2