
Selain dengan bergabung dalam pembuatan senjata rahasia, Zhang Ziyi menyempatkan diri untuk membantu para pemimpin bawahan, melatih para bawahannya.
Dia juga memberikan iming-iming, bagi mereka yang berhasil mencapai ranah Dewa Abadi, maka mereka akan mendapatkan dua buah pil tingkat Suci Agung sekaligus. Tentu saja mereka yang mendengar itu akan langsung bertambah semangat. Apalagi bawahan yang masih tersesat di ranah Semesta.
Bawahan Zhang Ziyi sendiri saat ini telah banyak yang mencapai Ranah Suci Dewa Surgawi. Di sisi lain, Zhang Zhili serta enam rekan lainnya telah berhasil mencapai ranah Suci Alam Surgawi.
Kekuatan ini bisa di bilang sudah bisa untuk membangun sebuah Kerajaan baru.
Namun, saat ini Zhang Ziyi menutup markasnya dari dengan interaksi dunia luar. Sehingga tidak ada yang mengetahui pasti akan bagaimana kekuatan yang di simpan oleh mereka.
"Kak Ziyi, telah lama kita mengurung diri dari dunia luar. Hampir dua bulan telah berlalu. Namun kita belum memiliki nama untuk kelompok kita ini." Zhang Lan bersuara di suatu ketika.
"Hmm, benar. Apa yang di katakan oleh Zhang Lan benar. Kita belum menemukan suatu nama untuk kelompok ini," ucap Zhang Zhili.
"Ya, akhir-akhir ini, pekerjaan kita terlalu banyak sampai melupakan ini," Zhang Ziyi membenarkan perkataan dua orang itu.
Mereka mulai memikirkan nama yang cocok untuk kelompok mereka di alam Atas.
"Sesuai dengan tujuan kita, Yaitu menjadi kelompok yang berkuasa di Alam Atas. Bagaimana kalau Tongzhi!" Moi Hu yang hadir dalam rapat tersebut memberikan saran.
"Hmm, cukup bagus. Tapi mari kita lihat saran dari yang lainnya," ucap Zhang Ziyi.
__ADS_1
Beberapa orang mulai mengangkat tangan sembari menyebutkan nama yang ada dalam pikiran mereka terkait dengan kelompok mereka.
Selang beberapa saat, pengajuan nama itu telah selesai dilakukan. Zhang Ziyi kemudian mengambil satu nama yang di ajukan oleh Zhang Zhili. Yaitu Huangjin. Tentu saja hal ini ia mintai sara dan pendapat dari orang-orang yang hadir dalam acara rapat tersebut.
Setelahnya rapat itu selesai di gelar. Semuanya kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Zhang Ziyi merasa akhir-akhir ini dia memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang sekali dia bersama dengan Shui Bing. Makanya kali ini dia mengajak gadis cantik itu untuk jalan-jalan. Berkeliling Alam Atas dengan mengendarai Laohu.
Dalam keadaan berpelukan, sembari menyaksikan suasana Alam Atas dari atas udara.
"Lihatlah, ada burung Pelangi Api!"ucap Shui Bing kala melihat rombongan burung Peri yang mengeluarkan cahaya pelangi api di tubuh mereka. Tangannya pun juga terangkat, menunjuk rombongan burung itu
Dua orang itu memperhatikan keindahan burung-burung pelangi api. Rombongan itu tampaknya hendak bertransmigrasi.
"Umm!" jawab shui Bing dengan anggukan kepala ringan. Kepalanya dia sandarkan pada dada Zhang Ziyi.
Tangan yang melingkar, erat dalam memeluk Zhang Ziyi.
"Eh, Bing'er! Mengapa kau–?" Zhang Ziyi tidak melanjutkan perkataannya. Dia tidak mengerti akan maksud dari sikap Shui Bing , yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.
"Kakak, Terima kasih! Terima kasih telah menyempatkan waktumu, untuk mengajak ku jalan-jalan di tengah pekerjaan yang tidak ada habisnya!" lirih Shui Bing.
__ADS_1
Terkait dengan hubungan Zhang Ziyi dengan Hei An, Shui Bing pun telah mengetahuinya. Dia tidak marah, sebab berpikir bahwa orang sekuat dan jenius, Zhang Ziyi ini tidak akan mungkin memiliki istri lebih dari satu orang saja.
"Umm. Kau adalah wanitaku. Bagaimana aku tidak menyempatkan waktu untuk mu!"
Kali ini Zhang Ziyi membalas pelukan Shui Bing. Memperhatikan rombongan burung Pelangi Api yang memanjang tidak ada habisnya.
Tanpa sepengetahuan Zhang Ziyi, Shui Bing meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, kak Ziyi. Aku ingin selalu bersama mu. Berada di sampingmu dan mendukungmu setiap saat. Tapi, aku tidak bisa," batin Shui Bing dalam hati. Dia semakin mempererat pelukannya.
Zhang Ziyi merasa aneh, saat Shui Bing memeluknya erat, namun dia tidak mau memikirkan itu terlalu jauh. Hanya membalas memeluk Shui Bing.
"Jika takdir mempertemukan dan menggariskan kita untuk bersama, maka kita pasti akan selalu bersama, apapun dan se–mengerikan apapun rintangan yang akan kita hadapi nantinya," Kembali Shui Bing membatin.
Sementara Laohu terus mengepakkan sayapnya, tidak akan berhenti sebelum tuannya menyuruh untuk berhenti.
-
Sampai di tempat matahari terbit. Zhang Ziyi menyuruh Laohu untuk berhenti. Di atas hamparan awan, yang sedikit banyak terkena terpaan emas matahari senja. Zhang Ziyi dan Shui Bing duduk di punggung Laohu. Pandangan keduanya lurus ke depan, menikmati pemandangan indah, pas untuk menghilangkan beban sejenak.
Namun kedamaian itu hanya bertahan sebentar. Hamparan awan senja bak permadani emas itu, mendadak berubah menjadi beku.
__ADS_1
Zhang Ziyi langsung mengambil sikap waspada. Begitupun juga dengan Laohu.
Di sisi lain, Shui Bing yang memasang wajah buruk. Apa yang dia takutkan hari ini benar-benar akan terjadi.