
Meskipun Zhang Lan sert rekan Zhang Ziyi lainnya telah turun dan membantu pasukan utama, namun tetap saja mereka tidak bisa memberikan semuanya. Tak berlangsung lama mereka memblokir serangan para naga, kini Zhang Lan, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie, Shui Shan dan shui Bing telah mendapatkan lawan seimbang.
Mereka terpaksa harus meninggalkan suku Naga.
"Laohu dan Niao, kini giliran kalian yang turun. Alihkan suku Naga dan beri jalan bagi pasukan utama untuk sampai di gerbang Pertahan Langit!" perintah Zhang Ziyi pada Niao dan Laohu.
"Baik, Kami mengerti, Tuan!" ucap kedua siluman itu. Mereka mulai bisa menggunakan bahasa manusia, sebab tingkatan Siluman mereka telah memasuki ke tahapan lebih tinggi.
Setelahnya mereka bergerak, Niao memimpin pasukan Siluman.
Siluman yang di pimpin Niao sendiri jumlahnya sangat banyak. Mungkin sekitar tiga kali lipat dari jumlah suku naga.
Rombongan siluman itu kompak terbang cepat, menuju tengah-tengah pertempuran. Lalu mulai menyerang suku Naga.
Siluman dari berbagai ras itu menggunakan unsur elemen berbeda-beda dalam menyerang para suku Naga.
Mencari lawan yang memang memiliki unsur elemen sama dengan mereka untuk unjuk kekuatan.
Meskipun suku Naga terbilang suku yang sangat kuat diantara siluman lainnya, akan tetapi di sini mereka para siluman tidak mau kalah. Bahkan mereka menyerang secara rombongan satu seekor naga sama dengan 2 sampai 3 ekor siluman di bawah pimpinan niao. Namun bagi siluman yang memiliki tingkatan sama dengan lawan dari suku naga, maka mereka tidak perlu teman untuk melawannya.
Zhang Ziyi memperhatikan itu dari jauh, dia memasang senyum kecil saat melihat pasukan utama telah aman dari serangan para suku naga.
Terlihat di sana pasukan utama mulai bergerak kembali menuju gerbang Pertahanan Langit.
Di sisi seberang, Kaisar Langit melihat suku Naga mulai disibukkan oleh siluman-siluman berbagai ras dan tingkatan yang datang dari mana asalnya itu kembali mengernyitkan alis.
"Sialan!" umpat keras Kaisar Langit.
Dia kemudian memerintahkan Jenderal Kaisar Langit untuk segera mengumpulkan pasukan utama. Pasukan utama ini sendiri awalnya dia simpan untuk di akhir-akhir pertarungan.
"Baik, Yang Mulia!" Jendral Kaisar Langit membungkukkan badannya, kalau beranjak dari sana. Dia akan memimpin pasukan utama untuk menyerang pasukan utama dari kelompok Huangjin.
-
Pasukan Utama Huagjin telah hampir sampai di gerbang Pertahanan Langit. Semasa perjalanan, banyak pula sekte-sekte besar dari pihak Kekaisaran Langit mencoba untuk menahan mereka. Sayangnya kekuatan mereka tidak cukup untuk itu.
"Ayo semuanya! Runtuh–kan Gerbang Pertahanan Langit. Biarkan Bendera Huangjin berkibar menggantikan Bendera Kaisar Langit!" seru Panglima Tempur, menyemangati pasukan utama.
"Yaa.. Maju!!"
"Maju...!!!"
__ADS_1
Kobaran semangat berapi-api tergambar jelas dari raut wajah para pasukan Utama. Mereka tampaknya tidak sabar untuk meruntuhkan gerbang Pertahanan Langit. Mengibarkan bendera Huangjin menggantikan bendera Kaisar langit, seperti yang dikatakan oleh Panglima Tempur tadi.
Namun saat di perjalanan, sejenak pasukan Utama menghentikan langkah kalah merasakan tanah yang bergetar. Mereka tahu betul penyebab dari getaran tanah ini, yang merupakan langkah kaki dari para prajurit.
Benar saja dari gerbang Pertahanan Langit muncul ribuan pasukan utama Kaisar Langit yang siap menghadang mereka.
Tapi tidak ada rasa takut sedikitpun menghampiri Pasukan Utama Huangjin.
"Serang!!!" teriak Panglima Tempur.
Dengan gagah berani, mereka menghampiri pasukan utama Kaisar langit yang, saat itu juga berlari menghampiri mereka.
Dalam waktu singkat pertarungan di dua kubu pun kembali terjadi. Panglima Tempur sendiri mendapat lawan Jenderal Kaisar Langit, yang jelas-jelasan dari kultivasi di atasnya. Meski demikian dia tidak menyerah dan akan tetap melawan Jenderal Kaisar Langit itu.
Di tengah bentrokan dua kubu pasukan utama, Phoenix Api yang sedari tadi memperhatikan jalannya pertempuran di atas singgasana yang di duduki Kaisar Langit malah tertarik dengan sesuatu.
Kemudian dia mencoba untuk mengatakan keinginannya kepada Kaisar Langit.
"Yang Mulia, Kaisar Langit! Bolehkah aku bergabung bersama Suku Naga. Membantu mereka membereskan para siluman lemah itu!"
Kaisar Langit tidak menoleh burung phoenix itu. Dia malah memperhatikan para siluman yang tengah bertarung. Tepatnya pada seekor Burung Phoenix Api biru yang bertarung dengan pemimpin suku Naga.
Tak butuh waktu lama bagi Kaisar Langit untuk mengetahui maksud dari burung Phoenix Api peliharaanya itu bergabung dengan suku Naga.
"Baik, Yang Mulia! Aku mengerti."
Setelahnya burung Phoenix Api tersebut segera terbang dan bergabung dengan Suku Naga.
Niao tengah bertarung melawan pemimpin suku Naga. Terlihat dia begitu mendominasi pertarungan. Beberapa kali pemimpin Suku Naga dibuat terpental jauh. Bahkan Niao tak membiarkan lawannya itu untuk membalas serangannya.
Hampir saja Niao membunuh pemimpin suku Naga. Saat melancarkan serangan terakhirnya, sosok aura merah panas mendatanginya. Seolah menekan–nya, namun Niao tidak merasa tertekan sama sekali.
Niao melirik ke arah sumber aura. Dapat dia lihat seekor burung Phoenix Api yang menyalakan nyala api merah di tubuhnya.
Kykk!!
"Kau nampak sangat familiar, Nak! Dimana Ibumu?" tanya Burung Phoenix api merah yang merupakan peliharaan Kaisar Langit pada Niao.
Niao tidak segera menjawab. Dia menatap tajam burung Phoenix Api di hadapannya.
"Apa urusanmu!" ketus Niao.
__ADS_1
"Hoo ... Kau sangat galak, Nak... Oh ya, apakah ibumu merupakan pemimpin Siluman di hutan Binatang Langit?" tanya kembali Burung Phoenix Api merah.
"Apakah aku perlu menjawabnya?" tanya balik Niao. Setelahnya dia langsung menyerang Burung Phoenix Api merah itu.
Pekikan tajam disertai dengan api biru yang menjalar hebat dikeluarkan oleh Niao. Menyerang Burung Phoenix Api merah.
Serangan itu segera dihindari oleh Burung Phoenix Api merah. Tapi Niao tidak berhenti sampai di sana. Dia terus menyerang tanpa berniat memberi jeda kepada burung Phoenix Api merah untuk menyerang balas dirinya.
Berbeda dengan saat bertarung melawan pemimpin suku Naga, kali ini Niao sedikit kesusahan dalam menyentuh Burung Phoenix Api merah. Dia harus menggunakan kekuatan lebih untuk menembus pertahanan Burung Phoenix Api merah.
Swosshh!!!
Serangan tajam berhasil menyentuh tubuh Burung Phoenix Api merah. Dan itu membuat sebagian apinya berubah membiru.
Sontak saja membuat Burung Phoenix Api merah yang semula merasa santai, kini tampak sedikit khawatir.
"Sial, anak ini sangat agresif!" gumam Burung Phoenix Api merah dalam hati. Kini dia tidak bisa untuk bersantai lagi.
"Baiklah, Nak. Cukup sampai di sini bermain-main–nya. Aku akan mulai serius!"
Api merah di tubuh Burung Phoenix Api merah mendadak berkobar semakin besar. Dia menatap tajam Niao, seperti hendak mencabik-cabik Niao dengan tatapannya itu.
"Huuh.. Ya, aku juga tampaknya akan mulai serius." Niao tampaknya hanya bermain-main pula tadi. Dan kini dia baru akan mengeluarkan potensinya.
Kedua burung Phoenix itu mulai saling menyerang. Menimbulkan bentrokan kekuatan yang sangat dahsyat.
Tampak enegi berwarna biru dan merah saling berbenturan cepat. Menimbulkan bunga api disertai dengan ledakan membahana layaknya Guntur yang menggelar.
Dua ekor burung itu semakin menjadi-jadi. Bahkan suku naga dan siluman yang semula berkumpul dan bertarung di sekitaran sana memilih untuk menjauh, ketimbang mendapat serangan nyasar dari dua burung tersebut.
***
Zhang Ziyi melihat pertarungan burung Phoenix peliharaannya itu dari jauh. Namun sesekali dia juga akan mengalihkan perhatiannya ke arah lain, dimana saat ini ayahnya juga tengah menatapnya.
"Aku sudah menunggu datangnya hari ini untuk membunuhnya... Baiklah, aku akan turun di medan tempur sekarang. Membantu pasukan utama dalam mencapai gerbang Pertahanan Langit," gumam Zhang Ziyi.
Lalu dia menoleh ke arah Zhang Zhili di sebelahnya.
"Guru, aku serahkan sisanya kepadamu. Aku percaya kau bisa mengaturnya degan sangat baik."
"Umm, berhati-hatilah, Ziyi'er!" ucap Zhang Zhili.
__ADS_1
Zhang Ziyi mengangguk. Lalu dia bangkit dari duduknya. Menoleh ke arah Dewa Kepintaran sejenak. Tampak pria itu yang begitu takut dengan tatapannya. Lalu Zhang Ziyi lantas menghilang dari sana.