Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 42 ~ Pertarungan


__ADS_3

"Ba-bagaimana bisa?" Zhang Wei berkata dengan tak percaya.


Melihat murid yang semula biasa-biasa saja, kini lengan murid tersebut telah terjatuh kala memegangi pedang dari anak itu. Hebatnya lagi, lengan muridnya tersebut hancur lebur akibat tertimpa pedang tersebut, menandakan bahwa berat dari pedang tersebut melebihi batas yang dibayangkan.


"Pedang ini bukan pedang biasa!" Zhang Wei beranjak dan berniat meraih pedang yang terjatuh menimpa genangan darah dari lengan salah satu muridnya tersebut. Namun belum juga dia menyentuh pedang itu, Zhang Ziyi telah lebih dulu mendahuluinya.


Zhang Ziyi menendang tubuh Zhang Wei yang membungkuk hendak mengangkat pedang Naga Langit. Setelahnya Zhang Ziyi langsung meraih kembali pedang Naga langit dan mengacungkan ke depan. Dimana Zhang Wei berada.


Zhang Wei tak sempat menepis saat Zhang Ziyi menendang tangannya dengan begitu tiba-tiba hingga tubuhnya termundur beberapa langkah.


"Kau cukup berani bocah!" Zhang Wei mulai menunjukan tanda-tanda kemarahan dari intonasinya.


Tak ada tanggapan dari Zhang Ziyi. Zhang Wei sendiri yang terlewat kesal, kemudian menyuruh murid-muridnya untuk menyerang Zhang Ziyi.


"Tangkap anak itu!" perintah Zhang Wei.


Tanpa ada yang membantah, semua murid di belakangnya langsung mengeluarkan pedang masing-masing. Melesat dan menyerang Zhang Ziyi juga empat orang temannya.


Kontan mereka melakukan perlawanan. Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Lan serta Zhang Meng masing-masing mendapat satu lawan. Berbeda halnya dengan Zhang Ziyi yang melawan beberapa murid sekaligus.


Meski begitu, Zhang Ziyi nampak tidak kesusahan sedikitpun saat meladeni lawan-lawannya. Dengan lihai, pemuda itu memainkan pedang dan menghindari setiap serangan masuk dari lawan-lawannya.


Langkah bayang serta skill Eagle Eye begitu berguna dalam situasi ini. Meski mereka menyerang dengan cepat, namun Dimata Zhang Ziyi semuanya terasa lambat. Sehingga pemuda itu bisa mengimbangi mereka bahkan sedikit lebih diunggulkan.


Zhang Ziyi semakin mempercepat tempo serangannya. Meski di keroyok di berbagai sisi, namun nyatanya Zhang Ziyi masih bisa menyerang.


Jika biasanya yang dikeroyok yang bertahan, namun kali ini malah kebalik, dimana yang di keroyok yang menyerang.


Ya, di keributi oleh beberapa orang itu, tak membuat Zhang Ziyi kesusahan dalam menyerang. Menggunakan teknik dari Pedang Naga Langit, serangan Zhang Ziyi semakin tajam nan terarah.


Slash!

__ADS_1


Satu libasan pedang langsung memotong leher salah satu murid master Zhang Wei. Tak berhenti sampai di sana, Zhang Ziyi kembali mengarahkan pedang ke arah murid yang lain.


Pedang Naga Langit Zhang Ziyi tebas secara Vertikal, dari atas ke bawah. Kontan saja, murid Zhang Wei yang menerima libasan pedang Zhang Ziyi tadi bertindak cepat dengan mengarahkan pedang secara horizontal. Berharap pedangnya bisa menghentikan laju pedang Naga Langit untuk menebas tubuhnya.


Trang!


Slash!


Sayangnya, pedang Naga Langit terlalu kuat. Pedang yang digunakan murid Zhang Wei untuk menepis pedang Zhang Ziyi tadi patah. Mirisnya lagi, Seiring dengan patahnya pedang murid itu, pedang Naga langit juga bergerak mulus dan langsung membelah tubuh murid tersebut.


Zhang Ziyi memasang senyum sumringah setelah berhasil membelah dua murid Zhang Wei. Entah mengapa pemuda itu begitu menyukai pemandangan tersebut. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Padahal ini baru pertama kalinya dia melihat daging serta usus-usus manusia.


Murid-murid Zhang Wei yang lain menghentikan aksinya sejenak. Mereka terlalu terkejut dengan apa yang di lakukan Zhang Ziyi berusan. Bahkan beberapa diantaranya telah menunjukkan tanda-tanda akan muntah.


Begitu pun juga dengan Zhang Wei. Pria itu juga merasa lain kala melihat usus-usus murid-nya itu yang berserakan di tanah. Sekejam-kejamnya dia dalam membunuh lawannya, namun tak pernah dia membunuh lawan sampai harus membuat usus-usus lawan terlihat dan berserakan di tanah.


"Kenapa berhenti? Apakah kalian takut sekarang?" sindir Zhang Ziyi, kala melihat murid-murid Zhang Wei yang terdiam mematung.


"Tch... Kau masih berani bersikap sombong setelah membunuh dua murid-ku, bahkan di hadapanku sekalipun.... Hari ini kau tak bisa meninggalkan tempat ini ... Detik ini, dan selamanya!!"


Energi berwarna biru mendadak merembes keluar entah dari mana asalnya. Energi itu kemudian berkumpul pada satu titik. Tak lama setelahnya, sebuah pedang tercipta dari kumpulan energi berwarna biru tersebut.


Zhang Wei mencengkeram gagang pedang yang memancarkan aura biru itu. Setelahnya, tanpa banyak bicara, dia langsung melesat ke arah Zhang Ziyi.


Kecepatan Zhang Wei begitu diluar nalar. Bahkan skill Eagle Eye nya pun tak bisa melihat pergerakan Zhang Wei barusan.


Zhang Ziyi sedikit panik sesaat. Namun pemuda itu mencoba untuk bersikap tenang. Menghela napas sejenak, Zhang Ziyi kemudian memperhatikan sekitar. Mencoba untuk mencari keberadaan Zhang Wei.


Pupil matanya yang berwarna biru muda bergerak ke kana dan ke kiri. Mencari-cari keberadaan Zhang Wei.


Beberapa saat, Zhang Ziyi menemukan suatu energi yang melesat cepat ke arahnya dari sisi kanan. Meski tidak terlalu jelas, namun Zhang Ziyi yakin bahwa energi tersebut adlah Zhang Wei.

__ADS_1


Trang!


Dua pedang saling bertemu. Zhang Ziyi serta Zhang Wei saling menatap untuk beberapa waktu.


"Cih, aku tak menyangka kau bisa menemukan keberadaan ku?!" ucap Zhang Wei yang tidak menyangka pergerakannya akan diketahui Zhang Wei. Apalagi kultivasi Zhang Ziyi saat ini belum mencapai Ranah Langit.


"Kau terlalu memuji, Pak Tua...!"


"Owh, masih bisa merendah rupanya! Baiklah, kuharap kau memberi ku sesuatu yang begitu menarik!"


Zhang Wei mendorong pedangnya lalu kemudian menyerang Zhang Ziyi dengan brutal. Setiap layangan pedangnya begitu tajam nan terarah. Yakin dan percaya, satu kali terkena libasan pedang Zhang Wei, salah satu anggota tubuh Zhang Ziyi akan hilang.


Zhang Ziyi sebisa mungkin mengaktifkan semua keterampilan yang dia miliki hingga ke titik maksimal. Meski begitu, dia masih belum bisa mengimbangi kecepatan Zhang Wei. Pedang satu namun terlihat begitu banyak. Beruntung Zhang Ziyi masih bisa menebak arah laju pedang Zhang Wei.


Waktu kian dirasa melambat. Satu detik telah terlewatkan dengan ratusan libasan pedang telah mereka keluarkan. Selang beberapa saat, keduanya mulai mengambil jarak.


"Anak ini begitu di luar perkiraan ku! Bahkan di usianya yang masih muda, juga kultivasinya yang terbilang begitu rendah itu, dia masih bisa mengimbangi kecepatan gerakku!" ucap Zhang Wei. Tentu saja dia mengatakannya dalam hati, tak ingin Zhang Ziyi serta yang lainnya tau bahwa dia sedang memuji Zhang Ziyi.


Juga sebenarnya dia sedikit mengkhawatirkan akan bertemu dengan Zhang Ziyi ini kedepannya. Pastinya anak ini akan bertambah kuat dan semakin kuat. Tidak menutup kemungkinan, dalam waktu dekat Zhang Ziyi pasti bisa melampaui dirinya.


Tak ingin larut dalam pikirannya, Zhang Wei kemudian kembali melesat ke arah Zhang Ziyi.


Zhang Ziyi sendiri tak tinggal diam. Deru nafas yang turun naik tak beraturan, berusaha dia netral-kan setelahnya menggunakan teknik pedang naga langit untuk menyambut serangan Zhang Wei.


Trang!


Tring!


Trang!


"...."

__ADS_1


Dua pedang yang saling bertemu terdengar bersahut-sahutan berpacu dengan kecepatan waktu. Baik Zhang Ziyi maupun Zhang Wei bersikukuh untuk menumbangkan lawan. Tak membiarkan lawan menemukan celah.


__ADS_2