Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 95 ~ Array


__ADS_3

Melepaskan serangan energi api, namun energi tersebut malah memantul dan berbalik menyerang Zhang Ziyi.


"Hmm..." Terdiam sejenak Zhang Ziyi tampak sedang memikirkan sesuatu.


Di sisi lain, dewa Gou Liang serta dewa Api yang tengah memperhatikan Zhang Ziyi dari jauh merasa aneh melihat Zhang Ziyi terdiam.


"Apakah anak itu telah menyerah?" Dewa Api bertanya kepada Dewa Gou Liang di sebelahnya.


"Entahlah. Namun sepertinya tidak!" balas dewa Gou Liang.


Keduanya kembali memperhatikan Zhang Ziyi. Lama memperhatikan, tanda-tanda suatu pergerakan, akhirnya tampak juga pada anak itu.


-


Zhang Ziyi memilih terbang mundur ke belakang. Sedikit jauh dari Array itu.


Melakukan suatu gerakkan, setelahnya berteriak lantang.


"Tornado Penghancur Surga!"


Pusaran angin besar tercipta. Berputar dengan begitu cepat, bergerak ke arah Array.


"Ledakan!"


Sedikit lagi sebelum Tornado menyentuh Array, Zhang Ziyi telah lebih dulu mengambil tindakan dengan meledakkannya.


Duarr!


Ledakan dahsyat tercipta membuat apa saja yang ada di bawah bergetar. Bahkan Zhang Ziyi bisa melihat array yang juga bergetar hebat sampai menimbulkan sedikit bunyi bising.


Kabut tebal mengepul sesaat akibat dari ledakan Tornado tersebut. Setelah kabut menipis, Zhan Ziyi sedikit kecewa melihat hasilnya. Dimana hanya terdapat keretakan pada Array dan tidak sampai menghancurkannya. Meski begitu, retak yang di timbulkan lumayan besar.


"Sial, keretakan pada Array, kini mulai menyatu kembali!" umpat Zhang Ziyi.


Secepatnya dia harus mengambil tindakan, kalau tidak maka retak pada Array itu akan kembali menyatu seperti semula.


***


Zhang Lan serta yang lainnya kian kesusahan dalam menghadapi para kultivator misterius ini. Kultivasi yang di bawah Kultivator-kultivator itu serta jumlah yang jelas-jelas kalah membuat mereka tidak di untungkan dalam hal ini.


Kelelahan menghampiri mereka kala itu. Luka-luka sayatan kini telah bertengger di sekujur tubuh mereka. Begitupun juga dengan Laohu.


Tampaknya mereka hampir mencapai batasannya.


"Sial! Kalau saja kak Ziyi ada di sini, mungkin kita tak akan kesusahan sepeti ini!" ucap Zhang Lan di sela-sela pertarungannya yang kian tersudutkan.


Satu tendangan keras menghantam dada Zhang Lan, membuat lelaki itu terpental ke belakang. Hampir saja terjatuh, beruntung dia termundur tepat di hadapan Zhang Meng, sehingga dia masih sempat di tahan oleh laki-laki itu.


"Sudahlah, jangan terlalu berharap pada kak Ziyi. Mari buktikan jika kita memang bisa tanpa kak Ziyi!" kata Zhang Meng.


Perkataan itu sukses membuat Zhang Lan bersemangat kembali. Dia seperti tersetrum sesuatu dan mengembalikan kembali sebagian semangat yang tadi sempat menghilang.


"Ya, Ada dan tidak kak Ziyi, tidak harus menjadi masalah. Asalkan memiliki usaha yang besar, musuh yang kuat pasti bisa untuk di kalahkan!" balas Zhang Lan. Dia mengeluarkan pil lalu menelannya.


Setelah pulih sebagian, Zhang Lan lantas kembali melesat ke arah lawan yang kini juga tampak telah bersiap hendak menyerangnya kembali.

__ADS_1


Namun belum juga Zhang Lan melayangkan pedang untuk menyambut serangan pedang yang di lancarkan oleh lawannya, mendadak pedang lain muncul dan menghalangi laju pedang lelaki bertopeng terhadap Zhang Lan.


Zhang Lan tampak kaget. Mengarahkan pandangan ke arah pedang tersebut dan semakin naik ke atas. Dapat Zhang Lan lihat seorang lelaki yang tidak lain adalah Gurunya, Zhang Zhili.


"Master!" ujar Zhang Lan.


"Mundurlah, biar aku yang menangani orang ini!" kata Zhang Zhili, lalu melemparkan pil kepada Zhang Lan.


Menangkap pil tersebut, Zhang Lan lantas berterima kasih. Setelahnya ia menelan pil dan memulihkan diri.


Selesai memulihkan diri, Zhang Lan lantas bergerak dan membantu Zhang Meng.


***


Menyiapkan Pedang Naga Langit. Zhang Ziyi kemudian melakukan suatu segel tangan.


Pedang Naga langit di tangannya tiba-tiba melayang. Membagi diri menjadi beberapa pedang setelah itu bergerak ke belakang Zhang Ziyi.


Duplikat-Duplikat pedang Naga Langit terbentuk di belakangnya. Jumlahnya pun tidak main-main banyaknya. Sejenak, Zhang Ziyi tampak seperti Dewa Pedang.


Duplikat pedang yang membentuk setengah lingkaran, dengan dua baris dan Zhang Ziyi sebagai titik pusatnya.


"Teknik ketiga Pedang Naga Langit: Hujan Pedang Penembus Jantung!" ucap Zhang Ziyi dingin.


Duplikat-duplikat pedang Naga langit itu melayang cepat ke satu arah. Secara bersamaan dan bertahap. Bahkan ribuan pedang juga muncul dari ruang hampa, seolah pedang-pedang itu tak ada habisnya.


Trak!


Trak!


Trak!


Menghujam array tanpa jeda. Awalnya array masih memantulkan duplikat pedang Naga Langit, namun seiring dengan berjalannya waktu, duplikat pedang yang di keluarkan Zhang Ziyi semakin mendominasi, hingga keretakan pada Array juga kian membesar.


Kraakk!


Kraakk!


Kraakk!


Retak dan semakin retak, hingga pada akhirnya hancur berkeping-keping. Baru setelah itu Zhang Ziyi menghentikan laju duplikat pedang.


Pedang Naga Langit yang asli mulai kembali di tangan Zhang Ziyi, sementara duplikat pedang naga langit telah menghilang.


"Haah ... Haah... Akhirnya array ini berhasil aku hancurkan!" Zhang Ziyi berucap dengan napas tidak beraturan. Memang tadi dia mengeluarkan duplikat pedang Naga langit begitu banyak. Mungkin di luar batasannya.


Mencoba untuk mengatur deru napas yang kian memburu itu, dia lantas mengeluarkan pil dari cincin ruang dan menelannya.


Tepat setelah kondisinya kembali pulih sekitar delapan puluh persen, Dewa Gou Liang serta Dewa Api muncul sekejap di hadapan Zhang Ziyi.


"Aku benar-benar tak menyangka kau akan menghancurkan Array ini hanya dalam tiga kali serangan!" ucap Dewa Gou Liang.


"Hanya kebetulan saja, Kakek!" Zhang Ziyi merendah.


"Bahkan teknik ketiga dari pedang Naga Langit saja kau bisa kuasai dengan begitu mudahnya. Menimbang usiamu yang terlampau muda juga kultivasi-mu yang terbilang begitu rendah itu!" kembali Dewa Gou Liang memuji Zhang Ziyi.

__ADS_1


Zhang Ziyi sendiri mengernyit. Dalam perkataan Dewa Gou Liang tadi, ada beberapa kata yang dia garis bawahi. Yaitu kata terakhir, 'kultivasi–mu yang terbilang begitu rendah itu'.


"Apa maksudnya mengatakan demikian? Bukankah aku sudah berada di puncak dari ranah kultivasi, yaitu ranah Surgawi? Ataukah selain ranah Surgawi, ada ranah selanjutnya yang tidak aku ketahui?!" batinnya.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Kaisar Langit sangatlah hebat, mana mungkin keturunannya tidak akan hebat!" ucap Dewa Api. "Seperti janji kita sebelumnya, mari kita ke dalam dan melihat sesuatu untuk Zhang Ziyi." ucap Dewa Gou Liang.


"Tunggu dulu kakek!" Zhang Ziyi tiba-tiba menahan kedua lelaki tua itu.


Mereka yang saat itu hendak terbang, kini menghentikan niatnya karena Zhang Ziyi yang tiba-tiba menghentikan mereka.


"Ada apa?" tanya Dewa Gou Liang.


"Bukankah kakek sebelumnya bilang, kalau aku kalah, atau tidak bisa menghancurkan Array itu, maka aku akan kehilangan kekuatan dua kali lipat. Berarti otomatis, jika aku berhasil menghancurkannya, maka aku juga akan mendapat hadiah?" tanya Zhang Ziyi.


"Kau memang cerdas, Zhang Ziyi! Hadiah tersebut, kau akan mendapatkannya setelah sampai di sana!" Dewa Api membalas pertanyaan Zhang Ziyi.


Mengangguk. Mereka pun sepakat untuk ke dalam istana. Terbang sebentar, mereka sampai di halaman Istana.


Halaman yang begitu luas itu, dengan berbagai benda yang terbuat dari emas tertata rapi, tersuguh kan di hadapan mereka. Zhang Ziyi sendiri tidak bisa untuk tidak kagum melihat banyaknya emas itu.


Memperhatikan semuanya dengan teliti. Pemandangan yang begitu megah ini, seperti menyulap perhatiannya.


"Sudahlah, jangan terlalu di pandan dan kagum seperti itu. Semua benda yang ada di sini, tidak ada apa-apanya di banding dengan istana kekaisaran Langit. Dan jika memungkinkan, kekaisaran Langit suatu saat nanti akan menjadi milikmu." Dewa Api merangkul bahu Zhang Ziyi.


"Mari ke sana!" ajaknya.


"Umm!"


Mereka bertiga berjalan memasuki istana. Lama mereka berjalan, dengan dalam istana yang dipenuhi dengan lika-liku itu, hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas.


Di sini, Zhang Ziyi bisa merasakan aura yang lebih pekat lagi dari aura di luar. Bukan hanya itu, tekanan yang begitu berat juga bisa Zhang Ziyi rasakan di sini. Bahkan saat ini Zhang Ziyi tengah berlutut, akibat tekanan tersebut yang terlampau beratnya.


Dalam hitungan detik, keringat telah mengucur deras di pelipis hingga seluruh tubuhnya.


Berbeda dengan Zhang Ziyi yang harus menahan beban yang begitu berat itu mati-matian, Dewa Gou Liang serta Dewa api sangat santai saat memasuki ruangan ini. Seperti tidak ada beban sama sekali pada kedua pria itu.


"Hohoho! Sepertinya kau harus berjuang lagi anak muda, untuk mendapatkan sesuatu itu!'' ucap Dewa Gou Liang yang di selingi dengan sunggingan kecil.


"Angkat kepalamu dan lihat tiga benda yang masing-masing terlapisi energi itu. Jika kau beruntung, maka kau bisa mendapat ketiga benda itu sekaligus. Yakin dan percaya, setelah itu kau akan menjadi kuat dan bahkan Ranah Dewa Surgawi bisa kau lampaui," ucap dewa Api.


Meski berat, Zhang Ziyi tetap memaksakan diri mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Susah namun pada akhirnya dia bisa mengangkat kepalanya.


Memang di sana ada tiga buah benda yang masing-masing benda terlapisi dengan energi.


"Baiklah anak muda. Kami akan meninggalkanmu sebentar. Berjuanglah sampai kau mendapatkan ketiga dari henda itu."


Selesai dengan mengatakan itu, Dewa Api dan Dewa Gou Liang pun menghilang dari sana, meninggalkan Zhang Ziyi sendirian bersama dengan tekanan berat itu.


"A–!" Zhang Ziyi sebenarnya hendak menahan kedua orang itu untuk pergi. Sebab dia ingin menanyakan terkait dengan ranah kultivasi setelah Ranah Surgawi. Namun tekanan yang begitu berat itu memaksa dirinya untuk tidak bersuara.


"Sial!" umpatnya.


Kini dia harus berjuang sendiri. Hendak berbalik, namun Zhang Ziyi merasa sangat di sayangkan. Karena dia tahu, tujuan dari tekanan yang begitu besar ini adalah, untuk melatih dirinya.


Zhang Ziyi mencoba untuk tidak memberontak. Dia milih untuk membiasakan diri dengan tekanan itu. Selain itu, dia juga tampak sedang merenung.

__ADS_1


Lama ia merenung, hingga kini dia telah menemukan sebuah pencerahan.


"Tunggu dulu! Tekanan besar ini, juga di sertai dengan energi yang begitu pekat di tempat ini! Hmm, bagaimana jadinya jika aku menyerap energi yang ada di tempat ini!" gumamnya dalam hati.


__ADS_2