Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 145 ~ Formasi Para Leluhur


__ADS_3

Bias sang mentari menembus lubang-lubang kecil jerami kering dan menyapa hidung seseorang. Kicauan burung yang mengalun merdu, menabrak gendang telinga orang tersebut. Dia terbangun. Pertama kali membuka mata, silauan cahaya matahari langsung menyapa Indra penglihatannya. Melantarkan dirinya untuk kembali merapatkan kelopak matanya.


"Ahh!" Zhang Ziyi perlahan mengangkat badannya, mengambil sikap duduk.


Dia melempar pandangan ke sekeliling. Tak ada benda lain yang bisa Zhang Ziyi lihat, selain daripada dinding kayu yang mengelilinginya. Juga atap yang terbuat dari jerami. Cahaya mentari berhasil lolos di disela-sela lubang kecil dari jerami maupun dinding kayu.


"Gubug?" Zhang Ziyi bangkit dan berniat beranjak dari gubuk itu. Keluar dan mencari keberadaan teman-temannya.


Tidak seorang pun dari mereka tampak dimatanya. Semula dia berdiri di ambang pintu, namun kini dia melangkah keluar sepenuhnya. Mengitari sekitar, hingga pandangannya menangkap beberapa sosok orang yang tengah berkumpul di kejauhan. Tengah menonton dua orang bertarung beradu kekuatan.


Berbalik dan melihat ke arah gubuk yang di bangun di atas bukit itu. Hanya sebuah pohon yang berada di sampingnya. Sekilas Zhang Ziyi mengetahui gubuk itu di buat dari elemen kayu Zhang Zhili.


Dia membiarkan mereka di bawah sana. Zhang Ziyi memilih untuk berkultivasi memulihkan kondisinya.


Setelah merasa cukup, Zhang Ziyi bangkit. Berjalan ke arah orang-orang yang tengah berkumpul itu, yang tidak lain adalah rekan-rekannya.


"Kak Ziyi!"


Zhang Lan batal mengirimkan serangan api tatkala melihat kedatangan Zhang Ziyi. Zhang Meng yang menjadi lawan tarung Zhang Lan lantas mengalihkan pandangannya, mengikuti arah pandang Zhang Lan. Begitupun juga dengan lima orang serta Laohu yang tengah menonton.


"Kak Ziyi!"


"Ziyi'er!"


Beranjak dari tempat masing-masing mendekati Zhang Ziyi.


"Kau sudah pulih sepenuhnya?" tanya Shui Shan.


"Seperti yang kalian lihat! Aku sudah pulih, meski tidak sepenuhnya. Tapi jika aku bertarung melawan salah satu diantara kalian, aku masih sanggup."


Sedikit candaan itu, nyatanya mampu membuat Zhang Lan serta rekan yang lain tertawa.


"Omong-omong!" sedikit menghentikan perkataannya. Mereka berhenti tertawa dan menunggu Zhang Ziyi melanjutkan kalimatnya. "Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Hmm, kurang lebih Lima hari." Zhang Lan yang menjawab.


Lima hari bukanlah waktu yang sedikit. Zhang Ziyi membelalakkan matanya. "Benarkah?" bertanya dengan antusias.


"Apakah kak Ziyi akan mempercayai seorang pria idiot sepertinya?! Jangan pernah mau percaya dengan omongannya, karena kau hanya akan mendapati sebuah bualan semata," tutur Zhang Yin. Seperti biasa, selesai dengan berkata, Zhang Yin akan langsung membuang muka.


"Kau baru sadar setelah tiga hari pingsan!" Suara lembut dan penuh kesopanan terdengar dari mulut gadis cantik di samping Zhang Yin.


"Hohoho, hari baik dan begitu baik. Dua gadis cantik telah berani mengangkat bicara setelah sekian purnama menutup mulut!"


Berusaha menggoda, namun Zhang Lan malah mendapat tendangan keras tepat di bokongnya.


"Berani kau mengatakan hal bodoh lagi, aku akan langsung memotong bibirmu." Zhang Yin mengancam.

__ADS_1


"Cih, bahkan hanya untuk mengatakan suatu candaan saja sudah mendapat tendangan telak. Saudara Meng, berhati-hatilah nanti saat kau bersama dengan saudara Yin nantinya."


Zhang Lan mengeluh. Meski begitu, keluhan yang disertai dengan bualan yang langsung memancing emosi Zhang Yin. Mengetahui sesuatu buruk akan segera menimpanya, Zhang Lan telah lebih dulu mengambil tindakan untuk lari. Namun pijakannya mendadak berubah licin. Dia yang tidak siap, pun langsung dibuat terguling-guling di atas batu es.


Tubuhnya membeku, menyisakan kepala yang masih aman.


"Saudara Yin, ampun... Aku hanya bercanda tadi!" gerutu Zhang Lan.


"Sudah ku beri peringatan tadi, namun kau malah menyia-nyiakannya. Maka, terimalah nasibmu!" ucap Zhang Yin acuh. "Kau bisa lepas asalkan es itu akan mencair dengan sendirinya."


Sementara itu, Zhang Ziyi semula tetap tersentak saat mendengar dari Shui Bing bahwa dirinya telah tak sadarkan diri selama tiga hari. Tapi hal itu tak berlangsung lama tatkala melihat kekonyolan kedua orang itu.


"Kita sudah terlalu lama di alam jiwa. takutnya Dewa Api telah kembali bersama dengan para leluhur sekte Tujuh Elemen!" ujar Zhang Ziyi, membuat suasana yang semula sedikit ramai oleh canda tawa kecil, mendadak berubah serius nan hening.


"Saudara Meng, bisakah kau membantuku mencairkan es ini!"


"Anak sialan. Tidak bisakah kau berlaku serius. Kita sedang membahas masalah penting." Zhang Meng memarahi Zhang Lan. Bisa-bisanya anak itu di saat orang mulai serius, dia malah menyuarakan hal konyol.


"Cih, aku juga mau serius. Makanya itu, cepat bantu aku untuk mencairkan es ini. Sungguh selain dingin, aku juga merasa kulitku gatal-gatal." Zhang Lan membalas dengan intonasi kesal.


Krrrkkk!


Kraakkk!


BUKK!


"Baik, mari kembali serius!" ucap Sui Shan. Dia juga yang telah menghancurkan es tersebut.


"Ziyi'er... Ada baiknya, kita kembali ke tempat semula kita bertemu dengn leluhur Sekte Tujuh Elemen. Periksa di sana untuk sementara waktu. Jika memang kita tak menemukannya, maka kita bisa kembali ke dunia ciptaan Dewa Waktu."


"Aku mengerti, Guru!"


Zhang Ziyi membalikkan badan, dia lantas berjalan beberapa langkah menuju meja yang berdiri sebuah tungku di atasnya. Tungku itu mendadak menghilang dan berpindah ke cincin ruang Zhang Ziyi. Hendak menciptakan portal untuk keluar. Namun dia mengentikan aksinya kala mengingat sesuatu.


"Eh, Guru! Di mana pil-pil yang aku buat kemarin?" bertanya sembari mengangkat alis.


"Aku menyimpannya di cincin ruang milikku." Zhang Zhili menjawab pertanyaan Zhang Ziyi. Lalu dia mengeluarkan lima bukit pil tingkat surgawi.


Aroma obat yang begitu pekat tercium begitu menusuk. Namun sangat nyaman ketika mencapai paru-paru.


"Terima kasih, Guru. Karena telah menyimpannya."


"Umm!"


Zhang Ziyi memasukkan pil-pil itu ke dalam cincin ruang miliknya. Portal dimensi menghubungkan dengan dunia luar tampak di depannya. Setelahnya mereka semua memasuki portal, tidak terkecuali Laohu.


Mereka sampai di tempat terakhir kali mereka bertemu dengan Leluhur Sekte Tujuh Elemen. Tidak ada siapapun di sana.

__ADS_1


"Apakah mereka sudah pergi?" tanya Zhang Bie.


"Hmm, biar ku periksa."


Zhang Ziyi memejamkan matanya sejenak. Pupil matanya yang semula coklat keemasan, kini berganti warna menjadi biru.


Lama dia memeriksa sekitar, namun tidak ada tanda-tanda atau bekas aura yang di tinggalkan oleh Leluhur Sekte Tujuh elemen.


"Mereka belum datang. Mari tunggu beberapa saat lagi!"


Tak ada yang bersuara setelah itu. Semuanya menyebar dan mencari tempat masing-masing. Zhang Yin seperti biasa akan mengajak Shui Bing untuk bercerita. Di sisi lain, Zhang Lan serta Zhang Men yang tidak memiliki kesibukan pun lantas menjahili Laohu. Namun bukannya Laohu yang di jahili, melainkan mereka berdua yang di permainan oleh Laohu.


"Sial, aku lupa kalau dia telah naik tingkatan."


"Raaawwrr!" Laohu berubah besar. Dia langsung mengejar Zhang Lan serta Zhang Meng. Kontan hal itu langsung membuat Zhang Bie serta yang lainnya tertawa.


Cahaya warna putih muncul di sisi ruang. Semuanya langsung menghentikan aktivitasnya masing-masing. Pandangan di lempar ke atas cahaya itu.


"Akhirnya mereka datang juga!" gumam Zhang Ziyi.


Benar saja, muncul delapan orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dewa Api beserta Tujuh Leluhur Sekte Tujuh Elemen.


"Hormat, Senior-senior..." Zhang Ziyi serta yang lainnya sontak memberikan hormat pada Delapan orang yang baru datang itu.


Dewa Api mengangguk, mewakili tujuh leluhur.


"Baik, mari kita mulai saja! Waktu kita tidak banyak." Dewa Api menjeda kalimatnya sejenak. Yang semula menghadap Zhang Ziyi, Zhang Lan, Zhang Bie, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Zhili serta Duo Shui, dia pun beralih mengahadapi ke belakang. dimana Tujuh Leluhur berada.


"Kalian, praktekkan formasi Tujuh elemen kepada mereka. Biarkan mereka mencerna dan menganalisa. Kalau memang masih belum mengerti, kalian bisa memberikan arahan pada tujuh orang teman Zhang Ziyi!"


"Kami mengerti, Guru!"


Tujuh Leluhur terbang beberapa meter ke depan. Mengambil posisi masing-masing. Posisi yang tampak berbeda dengan apa yang di peragakan Zhang Zhili dan yang lainnya sebelumnya.


Dimana yang berada di tengah, dua orang yang memiliki unsur elemen air dan api. Sementara leluhur yang memiliki unsur elemen tumbuhan berada di depan.


Tujuh Leluhur sama-sama melakukan segel tangan. Setelahnya Bintang mulai terbentuk.


Aura berbeda warna terpancar mengelilingi bintang Emas. Setelahnya membentuk lingkaran berwarna warni. Simbol elemen juga terbentuk di masing-masing penjuru bintang.


"Formasi Bintang Tujuh Elemen!"


Swoshhhh!


Energi yang terlampau besar melesat lurus ke depan. Bahkan saking besarnya energi yang terkandung dalam serangan itu, sampai merobek hukum ruang.


Zhang Zhili serta yang lainnya tidak bisa untuk mengedipkan mata. Tak ingin melewatkan kehebatan dari serangan energi itu. Bahkan jarak mereka dengan keberadaan para leluhur termasuk cukup jauh, namun mereka masih bisa merasakan tekanan besar saat pertama kali para leluhur melakukan segel formasi.

__ADS_1


__ADS_2