
Zhang Lan, Zhang Bie, Zhang Yin, serta Zhang Meng menyiapkan pedang masing-masing. Megambil sikap waspada kala melihat orang-orang yang tiba-tiba saja muncul di balik pepohonan rimbun.
Puluhan orang datang mengelilingi mereka dari berbagai sisi. Aura hitam juga bisa mereka rasakan terpancar dari tubuh orang-orang ini. Membuat keempat pemuda itu semakin waspada.
Tiga orang dari orang-orang itu sendiri memiliki kultivasi di ranah Dewa tahap 5. Tujuh orang diantaranya memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 4. Selebihnya memiliki Kultivasi di ranah Dewa tahap 1-3.
Zhang Lan menyinggung lengan Zhang Bie seraya membisikkan sesuatu. "Saudara Bie. Apakah orang-orang ini termasuk ke dalam bagian dari jalannya kompetisi ini?" tanyanya.
"Hmm, aku pikir tidak! Sekte Tujuh Elemen beraliran netral. Namun lebih mengarah ke putih dibanding hitam. Sementara untuk orang-orang ini memiliki aura hitam yang pekat." Zhang Bie membalas pertanyaan Zhang Lan.
"Hmm, ada yang aneh!" gumam Zhang Meng.
"Apapun itu, ini bukan hal yang baik. Lekas angkat pedang dan lawan mereka!" ujar Zhang Yin.
Keempatnya lantas mengangkat senjata, dan mengambil posisi siap bertarung. Bahkan Laohu pun juga tampak telah membakar ekornya.
"Hohoho! Kenapa kalian begitu terburu-buru sekali untuk bertarung. Apakah kalian tak ingin berbincang sebentar saja dengan kami? Atau melakukan suatu negoisasi," ucap salah satu dari orang-orang itu yang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 5 dengan suara berat.
"Cih, negosiasi kalau hanya untuk menjebak kami, lebih baik kau simpan saja negosiasi mu itu di dalam bokong–mu!" ucap Zhang Lan. Setelahnya maju dan berniat menyerang pria yang sebelumnya berucap tadi.
Tersinggung, namun pria itu mencoba untuk menahan diri. "Baiklah anak muda! Jangan salahkan aku, jika terlalu kasar terhadapmu." ucapnya. Lalu melakukan kode tangan.
Orang-orang bertopeng yang berdiri di belakangnya, lantas bergerak menghadang Zhang Lan.
Tidak hanya orang-orang bertopeng yang ada di belakang pria tadi yang bergerak, namun semua pria bertopeng hantu yang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 1-3 juga maju menyerang Zhang Bie, Zhang Meng serta Zhang Yin serta Laohu.
Zhang Yin, Zhang Bie, Zhang Lan, Zhang Meng begitu pun juga dengan Laohu tidak tinggal diam. Mengaliri pedang dengan energi Qi, lalu mulai menyambut orang-orang bertopeng itu.
Bertarung hingga beberapa waktu. Meski menghadapi puluhan kultivator Ranah Dewa tahap 1-3 sekaligus, dengan kultivasi di tahapan 3, namun tak membuat keemoat anak itu kesusahan sedikitpun.
"Tanah Penghisap!" Zhang Bie berkata lantang.
Tanah tempat orang-orang itu berpijak tiba-tiba menjadi fleksibel atau lunak. Tidak berlangsung lama, kaki mereka mulai terhisap ke dalam tanah tersebut. Masuk dan semakin masuk. Berusaha memberontak, namun sayang, semakin mereka bergerak semakin cepat pula tubuh mereka terhisap.
"Cih, terlalu lama!" gumam Zhang Bie kala melihat tanah penghisap miliknya yang tampak begitu lambat dalam menghisap orang-orang itu.
Ia lantas mengaliri kepalan tinjunya dengan energi Qi. Melakukan perubahan unsur elemen tanah.
Kepalan tinju Zhang Bie kini telah terlapisi dengan tanah. Setelahnya meninju tanah dengan keras. Bersamaan dengan terguncangnya tanah akibat tinju tersebut, orang-orang yang terhisap oleh Tanah Penghisap juga semakin turun dan tak berlangsung lama, menghilang di telan tanah.
Selesai dengan membereskan orang-orang itu. Zhang Bie lantas beralih ke orang-orang bertopeng lainnya.
seiring dengan berjalannya waktu. Orang-orang bertopeng itu mulai berkurang banyak.
"Duplikat Tubuh Air!"
-
__ADS_1
"Roda Api!"
-
"Angin Pembunuh!"
-
"Auumm!"
Teknik demi teknik Zhang Lan, Zhang Yin, Zhang Bie serta Zhang Meng keluarkan, bersama dengan Laohu yang menyerang dengan bola api miliknya. Dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membereskan orang-orang bertopeng yang datang menyerang namun malah berbalik diserang oleh keempat orang itu.
"Cih, kenapa kau mendatangkan orang-orang sampah seperti mereka untuk menyerang kami? Kalau perlu, kalian yang maju sekaligus !" Zhang Lan berkata dengan intonasi sedikit sombong.
Ketujuh orang bertopeng dengan kultivasi ranah 4, dengan tiga orang bertopeng hantu yang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 5 awalnya juga heran sekaligus tidak percaya kala melihat anggotanya di bantai habis-habisan.
"Cih anak ini! Kalian bertujuh, tangkap anak-anak itu!" ucap salah satu orang bertopeng dengan kultivasi Ranah Dewa tahap 5. Meski emosinya yang naik kala melihat semua pasukan yang dibawanya mati semua, di tambah perkataan dari Zhang Meng tadi memprovokasi dirinya, namun dia masih sempat untuk menahan diri
Ketujuh orang bertopeng dengan kultivasi renah Dewa tahap 4 tanpa pikir panjang langsung menyiapkan senjata dan melesat ke arah empat orang pemuda itu.
Zhang Lan, Zhang Bie serta Laohu mendapat satu lawan sementara Zhang Meng serta Zhang Yin mendapat dua lawan sekaligus.
Dihadang oleh dua orang sekaligus dengan kultivasi satu tingkat di atasnya, tak membuat Zhang Meng takut. Dia lantas mengaliri pedang dengan energi Qi lalu melakukan perubahan unsur elemen api pada pedangnya. Setelahnya menyambut serangan dari dua orang tersebut.
Bertarung hingga beberapa saat. Di hadang sekaligus secara bersamaan membuat Zhang Meng sedikit kewalahan. Apalagi kekuatan dua orang ini yang juga ternyata tak bisa di remehkan. Mungkin kalau satu orang diantara mereka, dia masih bisa mengalahkannya, namun berbeda cerita jika yang menyerang dua orang sekaligus.
Menebas secara horizontal, diselingi dengan mengaktifkan teknik Pekikan Elang Api.
"Pekikan Elang Api!"
Bayangan kepala burung Elang Api terbentuk menyelimuti Zhang Lan. Setelahnya memekik dengan begitu keras.
Gelombang energi berwarna emas terlihat dan bergerak ke arah dua orang bertopeng itu.
Keduanya sendiri yang menghindari libasan pedang Api Zhang Meng, lantas melakukan perubahan unsur elemen Petir pada senjata mereka.
Tongkat dengan ujung pedang itu tiba-tiba mengeluarkan petir biru yang bercabang-cabang. Kemudian kedua orang itu memutar cepat senjata mereka hingga membentuk sebuah tameng.
Gelombang suara Zhang Meng bertemu dengan tameng petir milik dua orang itu.
Cukup lama kedua energi itu beradu hingga ledakan besar tercipta dan menghentikan tolakan kedua energi tersebut.
Kabut tebal mengepul deras, hingga menutupi area sekitar. Tampak, Zhang Meng serta kedua kultivator bertopeng itu yang terdorong mundur ke belakang.
Zhang Meng memegangi dadanya yang sesak. Setelan yang dia kenakan kini telah sobek di beberapa bagiannya. Dengan menggunakan pedang sebagai tumpuan. Zhang Meng mencoba untuk bangkit. Dia memperhatikan sekitar, pandangannya menatap lurus ke satu arah, tepatnya dimana kedua orang yang menjadi lawannya itu berada.
Tampak, kedua orang yang kondisinya tidak terlalu buruk. Hanya beberapa luka ringan di beberapa bagian tubuh mereka.
__ADS_1
"Sial! Kedua orang ini bukan kultivator pada umumnya. Mereka mungkin sama dengan kami, yang memiliki kekuatan di atas kultivator di ranah yang di capai," gumam Zhang Meng.
Khawatir, tentu saja dia khawatir dengan itu. Apalagi tiga orang bertopeng yang saat ini tengah sibuk memperhatikan mereka, belum bertindak.
Mengeluarkan pil tingkat Langit pemberian Zhang Ziyi, dia lantas mengangkat senjata dan menyambut dua orang lawannya yang kini telah bergerak ke arahnya.
***
Terbangun. Wilayah sekitar tampak begitu asing dimatanya. Zhang Ziyi bangkit dan memperhatikan lebih jelas wilayah sekitarnya.
Sumberdaya alam yang begitu melimpah tersuguh–kan di hadapannya. Tak hanya sumberdaya yang melimpah, melainkan juga energi alam di sekitaran situ yang lebih padat tiga kali lipat dari energi alam yang berada di dunianya.
Berjalan sembari memperhatikan lebih detail area situ. Mencari-cari, apakah ada seseorang di sana.
Cukup lama dia terbuai oleh indahnya tempat itu. Dia saat ini ibarat berada di dunia dongeng. Dengan pohon yang berwarna-warni tumbuh subur di berbagai tempat. Rumput-rumput hijau yang bergoyang ke kanan-kiri di terpa angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Berjalan dan terus berjalan, Zhang Ziyi tidak sengaja melihat Istana megah terbuat dari emas yang dibangun di atas awan yang membentang luas.
Terkagum-kagum Zhang Ziyi. Mengecek kedua mata, takutnya dia hanya berimajinasi, atau hanya sekedar ilusinya saja. Namun tetap istana itu tak menghilang, menandakan ini memang benar-benar nyata.
Dia berlari hendak ke istana itu. Namun langsung menghentikan aksinya kala memikirkan sesuatu.
"Bagaimana aku bisa naik ke istana itu? Sementara aku tidak bisa terbang seperti burung!" gumamnya berpikir.
"Kau bisa naik ke sana ... Asalkan kau memiliki niat dan usaha yang bagus, maka istana itu bisa kau capai hanya dengan sedetik." Suara seseorang yang berat terdengar menggema di tempat itu.
Zhang Ziyi tersentak. Segera ia menoleh ke belakang, mencari asal suara tersebut. Beberapa saat menilik sekitar, namun tak kunjung dia menemukan pemilik suara.
Berhenti mencari. Zhang Ziyi memilih untuk menggunakan kekuatan jiwanya. Aura putih menyelimuti Zhang Ziyi, setelahnya membentuk benang-benang energi yang bergerak menyebar.
Beberapa saat, dapat dia lihat dua orang lelaki tua yang mengenakan setelan berwarna merah serta yang satunya mengenakan setelan berwarna putih tengah menatap lurus ke arahnya.
Kontan Zhang Ziyi yang terkejut lantas menonaktifkan domainnya.
"Tidak mungkin... Hanya kultivator yang memiliki kekuatan jiwa besar yang bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh dua orang pria tua itu!" gumam Zhang Ziyi.
"Hahaha... Tak ku sangka kau akan menemukan tanaman herbal yang ku maksud! Padahal ciri-ciri yang aku jelaskan padamu waktu itu sedikit melenceng dari ciri-ciri asli tanaman herbal rumput jiwa!"
Dua orang pria yang tadi sempat dia lihat menggunakan domain miliknya, kini telah berada telat di belakangnya.
Kembali Zhang Ziyi dibuat tersentak dengan suara yang tiba-tiba itu. Bahkan dia tidak merasakan kehadiran dari dua orang itu.
Berbalik, dapat Zhang Ziyi lihat dua orang Lelaki tua. Yang satu tampak tidak asing baginya, sementara yang satunya lagi dia merasa asing.
"Bukankah kau roh dewa api yang waktu itu aku temui di dalam goa?" tanya Zhang Ziyi
"Hohoho! Ingatanmu ternyata cukup bagus, anak muda!" ucap Lelaki yang tidak lain adalah Dewa Api.
__ADS_1