
Dewa Kematian begitu terkejut kala melihat kemunculan Zhang Ziyi yang begitu tiba-tiba. Pasalnya dia mengira Zhang Ziyi masih bertarung di sana bersama dengan pecahan tubuh airnya. Tapi dia tidak menyangka ternyata Zhang Ziyi yang asli telah berada di sampingnya sejak tadi, saat pertama kali Zhang Ziyi menciptakan tujuh tubuh air tersebut.
"Mengapa kau terkejut?" Zhang Ziyi terkekeh melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Dewa Kematian.
"Kau, sejak kapan kau di sana?" Dewa Kematian berkata dengan penuh teliti dan penuh pengharapan atas jawaban yang di keluarkan Zhang Ziyi terhadapnya.
"Kamu nanyeak?"
Pertanyaan balik yang di lontarkan Zhang Ziyi itu, begitu membuat Dewa Kematian Kesal hingga ke ubun-ubun. Bagaimana tidak? Dia telah begitu serius dalam bertanya tadi, namun yang di dapat justru jawaban atau pertanyaan balik yang mengandung akan intonasi ejekan. Sehingga membuatnya kian kesal sampai ingin sekali menggampar Zhang Ziyi di tempat.
"Sialan! Aku hanya ingin—!"
"Kamu nanyeak?" Kembali Zhang Ziyi menyerukan kalimat itu. Disertai dengan tangan kanan yang di letakkan pada daun telinga kanan, membuatnya seperti meledek Dewa Kematian.
Sontak saja hal itu membuat Dewa Kematian kian memuncak.
"Sekali lagi kamu mengatakannya, maka—!"
"Kamu nanyeak???"
Belum juga Dewa Kematian menyelesaikan kalimatnya Zhang Ziyi kembali menyerukan dua kalimat ilahi tersebut. Itu seperti sihir yang langsung membuat emosinya semakin di ujung rambut. Kemarahan kian memuncak. yakin dan percaya setelah ini, kata-kata tersebut akan menjadi mimpi buruknya.
Dewa Kematian mengangkat kedua tangannya, melakukan suatu gerakan. Berniat menciptakan sesuatu yang nantinya akan dia gunakan untuk menyerang Zhang Ziyi.
Namun belum juga selesai dengan itu, Zhang Ziyi telah lebih dulu muncul di sampingnya dengan pedang yang telah di aliri dengan Elemen cahaya dan kekuatan roh, dia kemudian melayangkan keras dan tepat mendarat di lengan kanan Dewa Kematian.
Slasshh!
Goresan pedang merobek daging lengan hingga ke tulang. Begitu rapi sampai-sampai darah belum menetes hingga satu menit.
Tulang Emas yang telah tertebas sebagiannya terlihat dari otot lengan Dewa Kematian. Zhang Ziyi yang melihat itu hanya menganggukkan kepala kecil tanda mengerti. Kemudian melakukan hal yang sama, namun kali ini di tambah energi dua kali lipat dari sebelumnya.
Kecepatan yang begitu di luar batas, membuat Dewa Kematian yang tadi sempat meringis tidak sempat untuk mempertahankan lengannya. Menghindar terlambat, membuat pedang Zhang Ziyi melesat dengan begitu mulus. Untuk kedua kalinya menebas lengan yang sama hingga membuat lengan itu terjatuh.
Darah menetes pada bekas potongan lengan tersebut. Tulang Emas yang di milikinya, nyatanya tidak lebih baik dalam melindungi pertahanan keutuhan lengannya. Dewa Kematian meringis, segera dia mengaliri energi Qi pada lengan yang terpotong tadi, guna menghentikan pendarahan yang terjadi.
Zhang Ziyi tidak berniat memberikan jeda. Dia kembali melesat. Kali ini dengan menggunakan elemen racun di tubuhnya. Pedang Naga Langit yang telah terbalut oleh elemen racun tersebut kembali melayang. Begitu cepat, Dewa Kematian berniat menahan itu dengan pedang Roh. Sayangnya pedang roh tersebut malah tidak bisa menahan laju pedang Naga Langit, memungkinkan pedang Naga Langit terus melesat dan menancap dalam pada dada Dewa Kematian.
__ADS_1
Arggh!
Racun dengan cepat menyebar. Mengganti kulit putih Dewa Kematian menjadi hitam. Menyebar dan terus menyebar mengikuti aliran darah dan berakhir dengan merenggut nyawanya.
Zhang Ziyi menghela napas lega. Menggunakan topeng Hantu untuk menarik roh Dewa Kematian dari jasadnya yang telah membusuk. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja para roh yang memenuhi tempat itu membentuk manusia dan berkumpul semuanya di hadapan Zhang Ziyi.
Zhang Lan, Zhang Zhili serta yang lainnya yang saat itu tengah berusaha untuk menyingkirkan para roh semula berkumpul dan menyerang mereka, langsung menghentikan aksi masing-masing. Para roh itu telah menghilang.
Zhang Meng menilik sekitar. Semula dia juga heran terkait dengan menghilangnya para roh yang begitu tiba-tiba itu. Sampai mereka mengetahui bahwa para roh telah berkumpul semua di hadapan Zhang Ziyi.
"Pantas saja!"
Melihat begitu banyak roh-roh tersebut yang mengelilingi Zhang Ziyi, membuat Zhang Lan, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie Zhang Zhili, Shui Shan, serta Shui Bing merasa kagum dengan itu. Meski beberapa kali mereka di suguhkan oleh pemandangan seperti ini, namun tetap saja mereka masih terkagum.
Zhang Ziyi memperhatikan roh-roh yang ada di depannya. Semula hanya mereka saja, namun kini telah bermunculan lagi dan telah mengelilingi Zhang Ziyi. Baik di darat, maupun di udara. Semuanya tampak hormat kepada Zhang Ziyi.
"Hahaha, Nak! Akhirnya kau berhasil membunuh pengganggu itu. Dan sekarang kamu telah resmi menjadi Dewa Kematian!" ujar suara yang tiba-tiba saja terdengar menggema di kepalanya. Tak lama, keluar asap kecil di kening Zhang Ziyi, membesar dan membentuk sosok menyerupai manusia. Dia adalah Roh Dewa Kematian terdahulu.
"Kamu sudah bangun! Tapi sejak kapan?" tanya Zhang Ziyi pada Roh Dewa Kematian.
"Hehehe!" Dewa Kematian tertawa tak bersuara. "Kamu nanyeak? Kamu nanyeak?"
"Aku berbicara serius!" Zhang Ziyi memasang muka datar.
"Hehehe, Nak... Aku hanya bercanda, jangan di ambil hati!"
"Umm!"
"Aku sudah sadar sejak kau bertarung dengan pria itu!"
Zhang Ziyi mengangguk. "Ya aku sudah mengetahuinya!"
"Aiissh, dari mana kau tahu? Dan kalau sudah tahu, mengapa kau tanyakan?" Roh Dewa Kematian tampak kesal.
"Kamu nanyeak??"
***
__ADS_1
Setelah kejadian di dimensi tersebut, Zhang Ziyi resmi di nyatakan sebagai Dewa Kematian. Dia juga belajar banyak hal dari Roh Dewa Kematian tentang bagaimana tugas dan tanggung jawab Zhang Ziyi sebagai Dewa Kematian. Meskipun Zang Ziyi belum menjalankannya.
"Kamu sudah memiliki dunia dimensi Dewa Kematian. Dan sekarang, bisa memindahkan orang-orang Topeng Darah Hantu ke sana. Biar nantinya mereka bisa bekerja, membantumu dalam mengambil roh mereka yang meninggal, membawanya pada Pengadilan Akhir," ucap Roh Dewa Kematian.
"Hmm, boleh juga." Zhang memikirkan perkataan roh Dewa Kematian tadi. "Apakah dahulu anggota Topeng Darah Hantu memang memiliki tugas ini? Yaitu menjadi pengumpul para roh-roh mereka yang meninggal?" tanya Zhang Ziyi sembari menarik sebelah alisnya.
"Hmm," Roh Dewa Kematian menganggukkan kepalanya pelan. Membenarkan pertanyaan Zhang Ziyi tadi.
"Dahulu memang Topeng Darah Hantu bertugas sebagai pengumpul roh. Namun semenjak kematian ku, tugas itu di ambi alih oleh Pria pengganggu itu beserta anak buahnya."
"Owh...!"
"Aku rasa untuk saat ini, kita tidak bisa membiarkan mereka bekerja dulu. Pasalnya, kekuatan Topeng Darah Hantu saat ini belum bisa di katakan baik pasca pertempuran dengan Dewa Kematian beberapa pekan lalu."
"Mereka akan memiliki kembali kekuatannya saat berada di dimensi Dewa Kematian!" Roh Dewa Kematian menepis keraguan yang semula bersarang di benak Zhang Ziyi terkait dengan Topeng Darah Hantu.
"Baiklah."
Setelah berbincang dengan Roh Dewa Kematian, Zhang Ziyi berniat kembali ke Topeng Darah Hantu, untuk menginfokan seperti apa yang di jelaskan oleh Roh Dewa Kematian tadi.
Bersama dengan Zhang Zhili, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Lan, Zhang Bie, Shui Shan, Shui Bing, serta Laohu, mereka memasuki portal yang langsung menghubungkan dengan Topeng Darah Hantu.
Whush!
***
Whush!
Pusaran debu hitam terlihat di atas sana. Memunculkan beberapa orang yang terbang dengan mengendarai seekor harimau bersayap api.
Laohu mendarat tepat di depan pintu yang masih tertutup rapat. Dengan beberapa rantai terlihat menguncinya.
Tanpa bersuara, pun pintu tersebut langsung terbuka dengan sendirinya. Zhang Ziyi serta yang lainnya pun berjalan melewati pintu besar tersebut.
Mereka di sambut oleh beberapa orang bertopeng. Mengantar Zhang Ziyi serta yang lainnya pada sebuah bangunan besar. Untuk sampai di sana sendiri mereka perlu berjalan lima ratus meter jauhnya.
"Silahkan, tuan-tuan!" Salah seorang yang mengantar tadi mempersilahkan Zhang Ziyi serta rekan-rekannya untuk memasuki sebuah gapura halaman bangunan tersebut.
__ADS_1
"Eh, ya... Aku lupa tentang satu hal. Apakah kamu bisa mengantarku pada Pusaran Kekuatan Roh Surgawi?"
"Kamu nanyeak??"