
Sampai di markas Huangjin, seperti biasa Zhang Ziyi langsung di sambut oleh Rekan-rekannya.
"Bagaimana perkembangan kita? Sudah sejauh mana persiapan kita untuk berperang melawan Kaisar Langit?" tanya Zhang Ziyi pada Zhang Zhili serta yang lainnya.
"Sejauh ini kami telah mempersiapkannya dengan baik. Selain itu, peningkatan akan kekuatan signifikan sempat terjadi kembali pada kami. Aku yakin ini karena kau telah berhasil menerobos kembali ke tahap selanjutnya!" balas Zhang Zhili.
"Hmm, baguslah kalau begitu. Kita tidak perlu takut lagi dengan Kekaisaran Langit. DNA Ya, sepertinya efek dari Mutiara Darah Semesta telah habis. Setelah ini, tidak ada lagi peningkatan kekuatan saat aku meningkat nantinya."
Zhang Zhili serta yang lainnya mengerti akan apa yang dikatakan Zhang Ziyi tadi.
"Baiklah, sepertinya kita haru mempersiapkan pasukan sekarang. Menurut laporan mata-mata kita, pasukan Kekaisaran Langit telah selesai dengan persiapan mereka. Sebentar lagi mereka akan kemari dan memulai perang," ujar Zhang Zhili lagi.
"Baiklah, segera kumpulkan para pemimpin bawahan. Kita akan berdiskusi terkait dengan strategi dan langkah yang akan kita gunakan saat perang nanti," pintu Zhang Ziyi pada rekan-rekannya.
"Umm." Zhang Zhili serta yang lainnya segera pergi dari sana. Meninggalkan Shui Bing dan Zhang Ziyi.
Shui Bing menghampiri Zhang Ziyi, memeluk lengannya.
"Bagaimana dengan saudari Hei. Mengapa aku tidak melihatnya?" tanya Shui Bing dengan suara lembut.
Zhang Ziyi mencium kening Shui Bing sesaat sebelum menjawab pertanyaannya.
"Dia saat ini tengah di culik oleh Raja Iblis. Aku berencana akan menjemputnya setelah peperangan ini usai."
"Umm, lalu begitu aku ikut denganmu!"
Zhang Ziyi menatap lembut istrinya. "Di sana terlalu berbahaya. Aku janji akan kembali secepatnya."
Shui Bing ingin membantah, namun pada akhirnya dia mengiyakannya. Tahu betul bagaimana kekuatan Ras Iblis, sehingga kalau dia ikut bersama Zhang Ziyi, dia tidak lain hanya akan menjadi beban bagi suaminya itu.
"Baiklah Kak. Aku akan menunggumu di sini." Shui Bing memeluk Zhang Ziyi erat.
Membalas pelukan Zhang Ziyi sembari mengusap lembut rambut Shui Bing.
-
Rapat segera di mulai setelah semua pemimpin bawahan di kumpulkan.
"Bagaimana persiapan bawahan yang kalian pimpin?" tanya Zhang Ziyi pada Moi Hu serta pemimpin bawahan yang lainnya.
"Persiapan kami dalam menyambut perang ini sudah mencapai sembilan puluh persen, Pemimpin!" jawab Moi Hu.
"Ya, Sekte Palu Besi serta sekte-sekte kecil dan menengah lainnya juga telah siap, Pemimpin!"
"Kami dari ras Duyung juga telah siap untuk berperang!"
"Kerajaan Phoenix Es juga telah siap, Pemimpin!"
__ADS_1
Masing-masing dari para pemimpin bawahan melaporkan terkait dengan pasukan yang mereka pimpin. Hampir semuanya menyatakan siap dalam berperang nanti.
Zhang Ziyi memasang senyum kecil. "Bagus... Aku harap masing-masing dari kalian bisa menunjukkan potensinya dalam peperangan nanti. Kelompok yang melakukan usaha besar dalam peperangan nanti, akan mendapat tunjangan atas pencapaiannya itu!"
Mendengar itu, para pemimpin bawahan itu segera membulatkan mata. Mereka tahu betul hadiah yang diberikan Zhang Ziyi tidak ada yang mengecewakan.
"Tentu saja pemimpin. Kami pasti akan menunjukan kemampuan terbaik kami. Sampai pasukan Kaisar Langit bertekuk lutut terhadap Kelompok Huangjin!" ucap Pemimpin Sekte Awan Langit dengan mantap.
Beberapa dari pemimpin sekte menganggukkan kepala kecil, menyetujui perkataan dari Pemimpin Sekte Awan Langit tadi.
Selang beberapa saat, rapat itu pun selesai. Tak lupa Zhang Ziyi berpesan pada mereka, para pemimpin bawahan untuk mengumpulkan para bawahan dua hari setelahnya di aula luas yang telah Zhang Ziyi ciptakan sebelumnya.
Menurut laporan dari mata-mata sendiri, pasukan Kekaisaran Langit akan datang paling cepat besok. Sehingga Zhang Ziyi perlu mengatur waktu di Hutan Bintang Langit ini. Dimana dua hari di luar Hutan Binatang Langit sama dengan sehari di luar.
Setelah semuanya pergi, Zhang Ziyi juga ikut beranjak dari sana.
-
Malam harinya, rekan-rekan Zhang Ziyi, Moi Hu, Moi Wang, Raja Shui, Panglima Perang Kerajaan Phoenix, bersama dengan seorang lagi yang tak dikenali berkumpul di salah satu ruangan tertutup.
Tak ada komunikasi antar mereka, membuat suasana malam itu tampak sunyi senyap. Bagi Zhang Lan serta rekan Zhang Ziyi yang lainya, mereka cukup mewaspadai orang yang asing ini.
Derap langkah kaki terdengar memecah keheningan yang semula tercipta.
Krekk!!
Penerangan dalam ruangan itu sendiri sengaja dibuat temaram. Hanya mengandalkan sebuah cahaya kecil yang dibalut dengan array.
Samar-samar terlihat seseorang memasuki ruangan tersebut. Dia tidak lain dan tidak bukan salah Zhang Ziyi, orang yang sadari tadi mereka tunggu-tunggu.
Zhang Ziyi melihat semua orang yang dia minta telah berkumpul di sana.
"Apakah kau sudah membawa orang yang kamu maksud itu? Seorang pengatur strategi perang terhandal, Dewa Kepintaran," tanya Zhang Ziyi pada Panglima Tempur.
"Benar, Pemimpin." Panglima Tempur kemudian mempersilahkan Dewa Kepintaran untuk memperkenalkan dirinya.
Dewa Kepintaran maju beberapa langkah, lalu menangkupkan tangan sembari memperkenalkan diri.
"Salam Pemimpin. Perkenalkan aku adalah Lue Zhan, Dewa Kepintaran. Aku bisa membantu pemimpin dalam mengatur strategi untuk perang melawan Kaisar Langit!" ucapnya yakin.
"Apa jaminannya jika kau berkhianat?"
Perkataan itu, membuat Dewa Kepintaran sedikit kaget. Tapi dia segera menguasai diri. "Anda bisa menjadikan nyawaku sebagai jaminannya!"
"Baiklah! Silahkan mulai!"
"Umm!"
__ADS_1
Dewa Kepintaran kemudian memulai mengatur strategi.
"Sebelum itu, aku perlu mengetahui jumlah pasukan kelompok Huangjin beserta dengan kekuatan mereka. Supaya lebih mudah dalam mengatur strategi ini."
Zhang Ziyi menatap Dewa Kepintaran itu sekilas. Dia belum mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal itu membuat Dewa Kepintaran merasa sedikit tidak nyaman.
Lalu Zhang Ziyi membuka mulut dan mulai menyebutkan satu persatu bawahannya, juga kekuatan mereka dengan perlahan serta pandangannya tidak terlepas dari Dewa Kepintaran. Setelahnya Zhang Ziyi menoleh ke arah peta yang ada di atas meja.
"Baik, terima kasih!" ucap Dewa Kepintaran.
Di atas peta Kekaisaran Langit yang dibentuk tiga dimensi serta telah diberikan patung dan label wilayah, Dewa Kepintaran memainkan kedua tangannya, sembari mulutnya juga ikut menjelaskan.
Seiring dengan penjelasan yang dilakukan oleh Dewa Kepintaran. Zhang Lan diam-diam mendekati Zhang Ziyi.
"Kakak Ziyi, apakah kita perlu menyerahkan semua padanya untuk mengatur strategi ini? Entah mengapa aku begitu meragukannya," bisik Zhang Lan.
"Kita lihat saja nanti. Lagipula dia juga telah memberikan nyawanya sebagai jaminan." Kedua sudut bibir Zhang Ziyi terangkat saat mengatakan itu.
Meski masih merasa berat untuk menerima, namun Zhang Lan tidak kembali bersuara. Dia memilih untuk ikut memperhatikan Dewa Kepintaran yang menjelaskan strateginya.
Waktu terlewat begitu cepat. Dewa Kepintaran selesai menjelaskan strategi.
"Seperti itulah, Pemimpin. Bagaimana menurutmu?" ujar Dewa Kepintaran, meminta pendapat Zhang Ziyi terkait dengan strategi yang dia atur tadi.
"Hmm, bagus. Karena kau telah mengatur strategi dengan sangat teliti dan penuh Aan perhitungan, maka aku ingin ku ikut serta dalam perang yang kan terjadi besok," ucap Zhang Ziyi pada Dewa Kepintaran. Bukan apa-apa, melainkan dia hanya ingin mengetes Dewa Kepintaran ini.
"E–eh... Tapi Pemimpin... A–aku–!"
"Mengapa? Bukankah kau sudah memberikan nyawamu sebagi jaminannya? Tapi kenapa kau tampak keberatan dengan itu?" Senyum simpul kembali terukir di bibir Zhang Ziyi.
"Bukan begitu, Pemimpin. Maksudku... ya, aku mau ikut serta dalam perang besok. Namun aku perlu mempersiapkan diri, malam ini."
"Baik. Aku akan menunggu kedatangan mu esok hari. Kau bisa kembali sekarang!"
"Terima kasih, Pemimpin."
Dewa Kepintaran memberikan hormat terlebih dahulu, lalu dia beranjak dari ruangan tersebut.
-
Dewa Kepintaran terbang di atas markas Huangjin.
"Sial, aku harus melapor kepada Yang Mulia Kaisar Langit terkait dengan ini!" ucap Dea Kepintaran. Setelahnya semakin memacu terbangnya.
Sayangnya, Zhang Ziyi saat ini masih memantau pergerakan Dewa Kepintaran, hingga Dewa Kepintaran keluar dari Zona Hutan Binatang Langit.
"Bermainlah sesukamu," gumam Zhang Ziyi pelan, tanpa ada yang menyadari. Setelahnya berlalu dari ruangan itu dengan masih mempertahankan senyum samar.
__ADS_1