
Zhang Ziyi sekuat tenaga menahan tekanan yang teramat sangat menekannya itu. Dia yang telah telungkup, berusaha untuk bangkit. Namun baru saja mengangkat tubuh menggunakan tumpuan kedua tangan, Zhang Ziyi malah kembali dibuat terjatuh.
"Sial!" untuk kesekian kalinya Zhang Ziyi mengumpat. Kedua lengannya kini terasa kejang setah tadi bergetar sangat hebat.
Tekanan yang terasa semakin menekan, ditambah tubuh yang tidak bisa dia gerakkan membuatnya putus asa.
Di tengah keputusasaan itu, Zhang Ziyi malah teringat akan rekaman yang sebelumnya pernah dia lihat bersama dengan Dewa Gou Liang.
Entah mengapa dia merasa geram dengan Kaisar Langit. Sampai di relung hati yang paling dalam. Melihat dirinya yang hendak di bunuh oleh ayahnya sendiri, sampai harus bersembunyi di alam tengah ini. Itu merupakan sesuatu yang sangat ia tidak sukai alias paling dia benci.
Rasa kesal karena tekanan yang terasa kian memberat itu, mendadak berubah menjadi rasa benci terhadap ayahnya. Zhang Ziyi malah menganggap tekanan besar ini yang di sebabkan oleh ayahnya sendiri. Membuat rasa dendam juga semakin menjadi-jadi.
(N/A: Siapa nih yang kalau lagi ngerasa berat ketika ngerjain sesuatu, bawaannya marah-marah dan berakhir dengan menyalahkan orang lain :))
Padahal, dia yang sebelumnya masih ragu mengakui Kaisar Langit adalah ayahnya. Namun entah mengapa sekarang dia telah berbalik dan mengakuinya.
Emosi yang kian menggebu. Rasa dendam yang begitu besar, juga tekanan yang semakin membuat emosinya naik, membuat Zhang Ziyi tak sadar bahwa dia telah membangkitkan sesuatu yang ada dalam tubuhnya.
Cahaya emas mendadak terpancar dari tubuh Zhang Ziyi. Bersamaan dengan itu, teriakan keras terdengar dari mulutnya. Teriakan yang di penuhi dengan emosi. benci, marah, dendam dan semua hal yang berkaitan dengan keterputusasaan, tampak tersirat dalam teriakannya itu.
Sorot mata Zhang Ziyi juga memancarkan cahaya keemasan. Lonjakan energi yang begitu besar, mengalahkan tekanan besar itu.
Cahaya yang terpancar dari tubuh Zhang Ziyi semakin membesar, hingga menutupi seluruh ruangan tersebut. Bahkan kedua orang yang sedari tadi memperhatikan Zhang Ziyi pun sampai harus melindungi kedua mata menggunakan bantuan lengan dari cahaya menyilaukan itu.
Lonjakan energi yang makin meningkat itu, mendadak meledak. Aura emas menyebar sesaat dan setelahnya terserap kembali ke dalam tubuh Zhang Ziyi.
Selang beberapa saat, Cahaya terang mulai redup. Tampak Zhang Ziyi yang melayang di udara, mulai turun perlahan. Pemuda itu sendiri belum sepenuhnya sadar. Hingga beberapa waktu, baru dia sadar.
Kedua pria itu sendiri kini telah menghilang dan muncul di dekat anak itu. Menjaganya, takutnya ada suatu masalah yang menghampiri Zhang Ziyi.
"Hebat, dia menerobos ke ranah Dewa Surgawi hanya dengan mengandalkan emosi yang meluap-luap!" ucap Dewa Api kala merasakan aura di tubuh Zhang Ziyi yang telah meningkat banyak. Pemuda itu kini telah menerobos ke Ranah Surgawi tahap 1.
"Ya, kau benar! Aku dulu bahkan membutuhkan waktu sekitar beberapa ribu tahun lamanya untuk menerobos ke Ranah Dewa Surgawi ini. Akan tetapi, dia hanya perlu membutuhkan waktu beberapa jam. Bahkan setelah peningkatan kultivasi yang begitu drastis ini, tampaknya tubuh anak ini masih kuat dan masih bisa untuk menampung energi Qi yang begitu padat di ruangan ini," balas Dewa Gou Liang.
Fokus kepada Zhang Ziyi. Dewa Gou Liang mengaliri tubuh Zhang Ziyi dengan energi Qi, hingga dia benar-benar sadar.
"Uhh!" Zhang Ziyi memegangi kepalanya yang terasa pening.
Terbangun dan membuka kedua mata, pertama kali yang dapat Zhang Ziyi lihat adalah dua orang pria tua. Saat itu pula lah otaknya mulai kembali bekerja dengan cepat.
"Kakek!" ucapnya pelan.
__ADS_1
"Hmm, tekanan itu masih ada, namun tak lagi terasa menekan bagiku," batin Zhang Ziyi kalau menyadari tekanan yang begitu berat, kini tak lagi ia rasakan.
"Selamat, kau telah menerobos Ranah Dewa Surgawi tahap 1. Dan karena ujian tekanan ini sudah berhasil kau lewati, maka ketiga buah benda yang ada dalam balutan energi ini juga bisa kau miliki!" Dewa Gou Liang mengucapkan selamat sembari mempersilahkan Zhang Ziyi untuk mengambil ketiga benda itu.
"Terima kasih, Kakek!" ucap Zhang Ziyi.
***
Hampir menang melawan orang-orang bertopeng. Kini tinggal tiga orang kultivator Ranah Dewa tahap 5 yang masih bertahan. Dan di serbu oleh kelima orang dengan kultivasi di ranah berbeda-beda, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Zhang Zhili serta keempat murid-nya. Ups, juga ada Laohu yang membantu mereka.
Selang beberapa saat bertukar pedang, mereka akhirnya mengambil jarak.
"Sial! Tak ku sangka anak-anak ini akan sekuat ini. Bahkan meski kultivasi mereka yang terbilang lebih rendah, namun mereka bisa mengalahkan rekan-rekan kita yang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 4.," gumam Salah seorang dari tiga orang pria bertopeng kepada rekannya.
"Kau benar!"
Baamm!
Ledakan yang di sertai dengan asap yang mengepul di udara terlihat di beberapa puluh meter dari tempat mereka berdiri saat ini. Tak hanya satu, melainkan tiga ledakan berturut-turut sekaligus terlihat di tempat yang berbeda-beda.
"Aku mengira, hanya kita saja yang kewalahan, ternyata kelompok yang lain juga demikian!" ucap salah satunya. Lalu mengeluarkan benda sejenis kembang api. Membakar sumbu lalu kemudian terbang ke udara. tepat di udara, kembang api itu meledak dan menimbulkan asap.
"Apa yang akan mereka lakukan?" tanya Zhang Yin.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan?" tanya Zhang Lan.
"Lawan Mereka dan lalu kemudian kabur!" belum juga mendapat persetujuan dari Zhang Zhili, Zhang Meng malah mengambil alih bicara dan setelahnya melesat ke arah tiga orang itu.
Mau tidak mau mereka harus mengikuti Zhang Meng dalam menyerang tiga orang tersebut. Gerakan yang semakin agresif itu, Hingga dalam waktu singkat, salah satu lengan orang bertopeng terputus.
Hendak mengakhiri hidup salah satu dari orang bertopeng, Zhang Zhili malah menghentikan tebasan pedangnya kala sebuah anak panah meluncur cepat, nyaris mengenai tengkuknya.
Termundur ke belakang. Tidak hanya Zhang Zhili yang bergerak mundur ke belakang, melainkan anak muridnya pun juga ikut mundur.
"Sial, kita terlambat!" umpat Zhang Lan.
Beberapa orang bertopeng dengan topeng yang sedikit berbeda dari orang-orang yang datang sebelumnya, muncul satu persatu di balik pepohonan.
Topeng yang di gunakan oleh orang-orang yang baru datang itu sendiri memiliki warna merah darah. Dengan kultivasi rata-rata di ranah Dewa tahap 5-7. Dua belas orang diantaranya memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 8. Sementara itu, lima orang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 9.
Melihat kedatangan kekuatan baru dari orang-orang ini, rasa gentar, kini mulai menghampiri anak murid dari Zhang Zhili.
__ADS_1
Kekuatan ini merupakan kekuatan yang teramat sangat mengerikan. Mampu mengumpulkan orang-orang dengan kultivasi ranah Dewa tahap 5 ke atas yang begitu banyak itu bukan lah hal yang mudah.
Bahkan, Zhang Zhili sendiri tidak mengetahui organisasi apa yang di naungi orang-orang ini. Mereka seperti baru saja muncul dari peradaban dunia.
Tidak hanya memiliki kultivasi tinggi, bahkan aura dipancarkan oleh masing-masing orang bertopeng ini memiliki warna gelap.
"Guru, bagaimana ini?" tanya Zhang Lan. Tampak dari intonasi yang ia keluarkan, lelaki itu tengah menahan rasa gugup sekaligus khawatir.
"Cukup sulit untuk melawan orang-orang ini dengan kultivasi kita yang terpaut begitu jauh dengan mereka. Apalagi jumlah mereka yang begitu banyak ini!" ucap Zhang Zhili. Perkataannya itu sukses membuat anak muridnya itu bertambah tidak semangat. Nyali mereka seketika ciut.
"Hmm, melawan langsung, tidak akan berguna banyak!" Zhang Zhili lantas mengeluarkan senjata dari cincin ruangnya dan menyerahkan masing-masing anak muridnya itu satu buah senjata penemuannya.
"Gunakan alat ini. Aku telah mengembangkannya beberapa hari terakhir. Dan kualitasnya sudah lumayan bagus. Bisa langsung membunuh seorang kultivator di ranah Dewa tahap 5 sampai 6 dalam sekali serangan. Dan mampu membunuh kultivator ranah Dewa tahap 7 dalam tiga kali serangan. Dan kalaupun tidak meninggal, pastinya mereka akan mendapat luka yang cukup fatal!" Zhang Zhili menjelaskan panjang lebar terkait senjatanya itu, yang baru-baru ini telah ia kembangkan.
Ya, saat Zhang Ziyi serta yang lainnya di sibuk dengan kompetisi, Zhang Zhili menggunakan waktunya untuk melanjutkan penelitiannya tentang senjata yang barusan dia kembangkan.
-
Rasa pesimis yang sebelumnya menghampiri anak-anak murid Zhang Zhili ini, sekarang mulai menghilang kala melihat senjata yang barusan di keluarkan Zhang Zhili ini.
Meski cukup bagus, namun Zhang Zhili sempat berpesan kepada mereka untuk menggunakan senjata itu baik-baik, sebab peluruh yang tersedia tidak begitu banyak.
"Kami mengerti guru!" ucap anak muridnya bersamaan.
Setelah itu, mereka berdiri saling membelakangi. Menatap orang-orang bertopeng merah yang mengelilingi mereka, tampak wajah-wajah mereka yang menggambarkan bahwa mereka telah siap untuk kembali bertarung. Meski rasa gugup juga saat ini masih menghantui mereka.
Tak lama setelahnya, pemimpin dari rombongan topeng merah itu, maju beberapa langkah. Aura membunuh yang begitu pekat, dapat mereka rasakan dari tubuh orang bertopeng ini. Tampaknya dia tak menahan aura membunuh itu dan berniat memamerkannya.
"Kalian cukup hebat! Bahkan mampu membunuh begitu banyak anggota topeng putih, dengan kultivasi kalian yang terbilang rendah... Salut!" Lelaki bertopeng berkata sembari bertepuk tangan.
Suasana yang saat itu hening, membuat tepukan tangan pria itu terdengar menggema.
"Bagaimana kalau kalian ikut bergabung bersama kami. Namun demikian, gadis cantik itu harus tidur bersamaku malam ini dan seterusnya!" tawar kembali lelaki itu.
"Cih, Simpan saja tawaranmu itu. Kami bukan orang-orang seperti kalian, yang rela bersekutu dan menjadi budak Iblis demi mendapatkan sebuah kekuatan instan!"
Mendengar apa yang di katakan Zhang Zhili tadi, kontan pria bertopeng merah dengan kultivasi ranah Dewa tahap 9 itu membelalakkan matanya.
"Bagaimana dia bisa tahu akan hal itu?". batinnya.
"Aku salut sama dirimu. Meski kelompok kami baru kali ini muncul di peradaban dunia, namun kau sudah bisa menebak dengan tepat. Sayangnya, orang-orang seperti kau ini, akan menjadi ancaman di masa mendatang kalau terus dibiarkan untuk hidup."
__ADS_1
Laki-laki yang mengenakan topeng merah darah itu lantas menyuruh anak-anak buahnya, untuk bergerak menyerang Zhang Zhili serta empat muridnya.
Tanpa ada penolakan, mereka lantas bergerombol, bergerak dan menyerang Zhang Zhili serta yang lainnya.