
Pertarungan antar roh saat ini telah terjadi. Roh berwarna putih dan roh berwarna gelap saling menyerang. Hal itu sendiri tidak terlepas dari pengendali kedua roh itu sendiri.
Tidak hanya roh-roh itu, melainkan juga saat ini orang-orang dengan menggunakan setelan berbeda warna juga telah bertempur. Setelan putih polos dengan setelan hitam. Tapi keduanya memiliki aura yang sama, yaitu gelap.
Bentrokan besar itu sukses mengguncang wilayah Kekaisaran Langit sekitaran situ.
Roh membuncah, setelahnya membentuk makhluk besar. Berekor gerigi menyerupai Dino, Berjalan dengan menggetarkan tanah. Itu adalah milik pengendali roh dari Topeng Darah Hantu.
Di sisi lain, roh yang memiliki aura sangat negatif juga terkumpul dan membentuk Siluman Naga. Kedua makhluk yang terbentuk dari roh tersebut bertarung. Setiap hantaman yang di keluarkan keduanya, mengandung gelombang kejut yang besar. Meski demikian, tidak ada yang memperhatikan mereka. Semuanya fokus terhadap lawan mereka masing-masing.
Bamm!!
Baamm!!
Ledakan terjadi di mana-mana. Roh-roh yang terkumpul terpecah begitu saja saat serangan datang menghantam mereka.
Awan yang semula terkumpul hingga membentuk mendung besar, tak menyisakan cahaya matahari pun menembusnya.
Aura kematian datang menyapa. Menyatu dengan semilir angin berhembus kencang. Rasa gidik menyeruak, bahkan mereka yang terbiasa dengan roh-roh pun masih merasakan negri, kala merasakan aura tersebut.
Mereka yang notabenenya dari kelompok Topeng Darah Hantu merasakan sesak nafas karena aura tersebut. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang berada di pihak Dewa Kematian.
Bertambah gelap pula langit. Hingga siang yang baru saja menyongsong itu, kini malah tergantikan oleh malam kelam begitu cepat.
Guru Besar bersama dengan orang-orang penting Topeng Darah Hantu terkumpul di satu tempat.
"Dewa Kematian tampaknya telah bertindak. Apakah kita juga akan bergerak?" tanya salah satu orang penting itu.
"Ya, kalian hadang pengikut setia Dewa Kematian. Sementara Dewa Kematian sendiri biar aku yang urus!" ucap Guru Besar.
__ADS_1
"Kami mengerti!"
Mereka segera menghilang dari tempatnya. Menyisakan Guru Besar seorang.
"Huuftt!" Guru Besar menarik napas panjang. "Akhirnya saat ini telah tiba... Kematian Pemimpin, akan terbayarkan kali ini!"
Guru Besar memandang jauh di sana. Dimana dia melihat seseorang berwajah datar dengan aura kematian yang begitu pekat terpancar dari tubuhnya. Dendam telah lama dia tanam, meskipun belum yakin bisa mengalahkan Dewa Kematian, tapi setidaknya dia telah menemukan kesempatan untuk meluapkan amarahnya terhadap pria Dewa tersebut.
Apalagi saat melihat dia mengendalikan roh-roh tak bersalah itu, yang seharusnya telah di kirim ke pengadilan akhir, malah di jadikan sebagai bawahan oleh-nya.
Guru Besar melepaskan kekuatan besar. Aura yang terpencar dari tubuhnya meledak dan menetralkan aura kematian yang semula mendominasi Lembah Daratan Sunyi.
Tubuhnya melayang di udara.
"Roh yang mendiami Topeng Kebesaran. Aku memanggilmu! Keluarlah!!" ucap Guru Besar.
Setelahnya Topeng yang dia kenakan keluar Roh dengan kekuatan yang begitu besar. Mungkin menyamai besarnya kekuatan Guru Besar. Roh itu kemudian membentuk burung Elang yang langsung di kendarai oleh Guru Besar.
"Baguslah, Guru Besar Topeng Darah Hantu turun langsung di Medan perang. Sehingga aku tidak perlu mencari-cari mu lagi... Oh ya, serahkan semua roh yang Topeng Darah Hantu kendalikan pada ku, setelahnya aku akan pergi tanpa meninggalkan korban jiwa di pihak–mu!" Dewa Kematian berkata datar dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Cih, justru kau yang harus membayar akan perbuatan–mu itu. Kau terlalu banyak menyesatkan orang, bahkan roh tak berdosa pun kau gunakan sebagai pasukan!" balas Guru Besar.
"Hahaha, aku suka gaya pria tua ini! Baiklah, bicara baik tidak mendapat apa-apa, maka jalan satu-satunya adalah dengan kekerasan." Dewa Kematian berkata dingin. Tampak begitu menusuk, sampai ke tulang. Dia juga melepaskan mental kematiannya berniat mempengaruhi Guru Besar. Tapi tampaknya rencananya itu tidak berjalan mulus, sebab Guru Besar tampak baik-baik saja sekarang.
"Hahaha, trik yang sama, tidak akan kembali mendapat umpan yang sama!" Guru Besar berkata sinis. Dahulu sekali dia sudah pernah merasakan Mental Kematian ini, jadinya dia telah menemukan cara untuk mengatasinya.
"Baik, aku akui kau memang hebat Sekarang. Tapi apakah kau bisa menahan ini!"
Dewa Kematian mengeluarkan pagoda berukuran kecil sembilan tingkat,dimana di sanalah tempat dia mengurung semua roh. Pagoda itu melayang di udara. Berputar cepat layaknya gasing. Setelahnya mengeluarkan energi-energi negatif di setiap celah pagoda.
__ADS_1
Energi-energi itu berputar-putar membentuk pusaran tornado dengan pusat berada pada pagoda itu sendiri. Semakin kencang pusaran itu terjadi. Energi merah darah juga terlihat berbaur dengan enegi gelap yang tidak lain adalah para roh di dalam pagoda.
Kekuatan sangat besar melintasi seisi lembah. Penuh akan energi gelap negatif serta merah darah. Semua yang ada di sana tidak ada yang tidak merasakan energi tersebut. Bukan hanya lawan, melainkan kawan yang merupakan pihak Dewa Kematian sendiri juga merasakannya.
***
Zhang Ziyi sampai di Medan perang. melihat pertempuran telah menemukan titik tengahnya. Beberapa diantaranya telah tewas. Kebanyakan dari kubu topeng Darah Hantu, sementara pihak Dewa Kematian sendiri tidak begitu banyak.
"Kacau!" Entah mengapa Zhang Ziyi merasakan getaran pada tubuhnya. Melihat anggota dari Topeng Darah Hantu yang berjatuhan, membuatnya sesak.
"Tidak, ini tidak bisa di biarkan!" ujar Zhang Ziyi. Rasa khawatir menyeruak di hatinya. Setelahnya dia turun dan ikut bergabung dengan pasukan Topeng Darah Hantu.
Tepat setelah bergabungnya Zhang Ziyi di Medan tempur, Zhang Zhili, Zhang Bie, Zhang Meng, Zhang Lan, Zhang Yin, Shio Shan, Shui Bing serta Niao muncul. Mereka sempat melihat Zhang yang melesat dengan kecepatan tinggi, bergabung di area pertarungan dua kubu dan membantu pihak di kubu Topeng Darah Hantu.
"Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap kak Ziyi!" ujar Zhang Yin.
"Ya, kau benar. Biasanya dia akan meminta izin atau sekedar memberi hormat terlebih dahulu kepada guru Zhili, sebelum hendak beranjak. Tapi mengapa sekarang berbeda!"
"Sudahlah, jangan di bahas. Lebih baik kita turun dan membantu Topeng Darah Hantu dalam melawan pasukan ber–aura hitam itu." Zhang Zhili menengahi mereka.
"Baik, Guru!" jawab mereka kompak. Sebelum mereka bergerak, terlebih dahulu aura hitam pekat datang menghampiri mereka. Tornado roh juga bisa mereka lihat di kejauhan. Entah kekuatan apa yang ada di sana, yang jelas, itu bukan berada di level mereka.
***
Zhang Ziyi menggunakan dua pedang langsung dalam membantai pasukan Dewa Kematian. Dia begitu agresif Sera antusias dalam melayangkan serangannya. Hingga dalam satu detik telah ratusan nyawa melayang di tangannya.
Setiap kali pedangnya melayang dan mengambil nyawa pasukan Dewa Kematian, dia akan merasakan suatu perasaan yang tidak bisa dia artikan. Bahkan dari perasaan itulah yang membuat dirinya haus akan nyawa. Nyawa dari pasukan di pihak musuh.
Hujan darah kian tercipta dari tubuh musuh-musuh yang di habisi Zhang Ziyi, tapi tidak setetes pun darah yang berhasil mengenai tubuh Zhang Ziyi. Hal ini terjadi sebab kecepatan Zhang Ziyi dalam berpindah begitu ekstrim.
__ADS_1
Tapi satu hal yang tidak Zhang Ziyi sadari. Bahwa roh yang telah dia bunuh tadi akan secara otomatis terhisap dalam topeng Hantu yang dia kenakan. Tidak hanya itu roh-roh negatif yang di kendalikan oleh pasukan Dewa Kematian yang telah dia bunuh tadi pun juga ikut menjadi milik Zhang Ziyi.