
"Cih, sepertinya dugaan ku memang benar. Juga para pasukan ku tidak salah dalam menangkap orang. Melihat keberanian yang kau tunjukkan tadi, telah jelas bahwa kau memang orang itu... Dan yah, aku jadi tidak sabar untuk membawamu pada Kaisar Langit dan melihat akan apa yang akan di lakukan–nya saat melihat orang yang merebut pengakuan dari Roh Siluman Surgawi." Raja Shang berkata dengan tersenyum penuh provokasi.
Mendengar itu, telapak tangan Zhang Ziyi terkepal keras. Entah mengapa dia sangat tidak suka ketika pria ini menyebutkan nama Kaisar Langit.
"Kau tidak perlu mengantarku ke sana. Aku akan datang sendiri! Tapi bukan sekarang saatnya," batin Zhang Ziyi.
"Kau tidak akan bisa membawaku!" ucap Zhang Ziyi mantap.
"Hohoho, karena memiliki kekuatan yang besar, kamu mau sombong di depanku?" Raja Shang semakin menguatkan tekanan yang dia berikan pada Zhang Ziyi. Tidak hanya itu, bahkan sekarang tekanan yang di rasa oleh Zhang Ziyi bertambah berkali-kali lipat kala tatapan orang-orang penting yang ada di aula itu juga mengarah padanya. Semuanya memiliki pengaruh besar di alam Atas, sehingga secara otomatis mereka akan memiliki tekanan besar hanya dengan menatap saja.
Tidak hanya di arahkan pada Zhang Ziyi, melainkan juga rekan-rekannya terkena imbas. Zhang Ziyi memasang sunggingan miring, posisi kepalanya yang saat itu telah menunduk setelah sebelumnya menatap Raja Shang tadi, kini dia kembali mengangkatnya.
Pupil mata yang bercahaya emas, dengan dengan lingkaran energi emas juga merembes dari tubuh Zhang Ziyi. Itu seketika langsung menghentikan aksi yang dilakukan oleh orang-orang penting itu. Termasuk juga Raja Shang sendiri refleks menghentikan atau memutuskan tekanan yang dia lepaskan pada Zhang Ziyi.
Sisi lain, Zhang Ziyi tidak memperpanjang aura tersebut. Dia hanya ingin menggertak mereka dengan aura emas dan tidak berniat untuk mencari masalah lebih jauh. Meskipun dia yakin setelah ini masalah besar tidak akan bisa untuk di hindari di aula ini.
"Aku tidak ada waktu untuk bersama kalian seharian. Jika tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, maka biarkan kami untuk pergi!" Perkataan Zhang Ziyi itu ibarat Guntur yang terdengar menggelegar. Mereka yang mendengarnya akan secara otomatis tergetar hatinya. Gemetaran, bahkan merasakan seperti ada suatu energi yang mengandung ancaman sangat besar yang siap memakan mereka hidup-hidup.
Tidak ada yang menjawab perkataan Zhang Ziyi, untuk beberapa saat suasana hening tercipta. Bahkan rekan-rekan Zhang Ziyi saja merasa canggung sekarang. Nyatanya suara atau perkataan yang di keluarkan Zhang Ziyi tadi, tidak hanya membuat orang-orang penting serta Raja Shang terancam, Zhang Zhili serta rekan-rekan Zhang Ziyi pun juga merasakan hal demikian. Kini mereka memandang Zhang Ziyi dengan lain. Agak canggung serta tidak memiliki keberanian bahkan hanya untuk meliriknya saja.
Zhang Ziyi melempar pandangan di sekitar. Diam-diam dia menyunggingkan seringai ngeri, wajah tampannya kini tak lagi terlihat, tertutupi oleh kengerian yang tak kira-kira.
"Hmm!" Satu dengungan Zhang Ziyi berhasil membuat kaget beberapa orang yang merupakan orang-orang penting itu, begitupun juga dengan Zhang Lan serta Zhang Meng.
"Apakah kau tahu? Yakinlah mulai sekarang aku akan takut saat kembali berdekatan dengan Kaka Ziyi!" Zhang Lan berbisik pada Zhang Meng. Volume suaranya sengaja dia kecilkan bahkan sangat-sangat kecil. Takutnya itu di dengar oleh Zhang Ziyi.
"Ya, kau benar. Bahkan deheman tadi saja sudah berhasil membuatku khawatir!" Zhang Meng membalas dengan berbisik pula.
Sisi lain, Zhang Ziyi bukannya tidak mendengar bisikan kedua orang itu, melainkan dia hanya membiarkan mereka begitu saja.
"Baiklah, terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia! Kami akan pergi dari sini!" Zhang Ziyi menangkupkan kedua tangan memberi hormat lalu berjalan berniat meninggalkan aula tersebut. Di ikuti oleh Zhang Zhili serta yang lainnya.
"Hmm!" Aura lain datang dari arah selatan. Menekan Zhang Ziyi serta tujuh orang di belakangnya.
"Cih, sudah ku duga. Lolos dari kandang singa tidak akan semudah itu!" Zhang Ziyi memasang sunggingan kecil.
Menyapu pandangannya di sekeliling, Zhang Ziyi lalu bergumam dalam hati. "Jika di pikir-pikir, mereka semua adalah kultivator ranah Dewa Abadi tahap akhir. Juga Raja Shang yang tampaknya memiliki kultivasi di atas orang-orang penting ini. Cih, pergi dengan mudah bukanlah sesuatu yang mudah di peroleh!" Zhang Ziyi menampakkan senyum kecut namun sangat samar.
__ADS_1
Zhang Ziyi mengalihkan tatapannya ke arah seorang pria dan wanita berzirah emas yang berdiri di samping Raja Shang. Dimana aura tersebut dari arah selatan tadi berasal dari seorang lelaki berzirah itu.
"Umm!" Raja Shang menganggukkan kepala memberi kode pada dua orang itu.
"Baik," Kedua orang itu menganggukkan kepala. Seorang pria berzirah, memiliki wajah garang itu datang ke depan beberapa langkah.
"Kau yang mencari mati, maka akan aku lakukan itu untukmu!" Pedang yang ada di terselip di pinggangnya dia tarik. Setelahnya pria itu maju dan menyerang Zhang Ziyi. Tampaknya orang ini tidak suka berbasa basi.
Libasan pedang yang terarah tajam, menukik keras menghantam pedang Naga Langit. Pria berzirah memandangi Zhang Ziyi dengan tajam. Zhang Ziyi pun demikian. Kedua orang itu saling berpandangan dengan melepaskan aura mendominasi ke arah lawan.
Sringg!
Pedang terpisah lalu kembali bertemu. Tanpa energi Qi namun berhasil menciptakan energi angin kuat yang langsung menyebar ke berbagai arah. Bersamaan dengan itu terlihat pula percikan bunga api dari kedua pedang yang saling bertemu.
Sisi lain, Zhang Zhili, Zhang Bie, Zhang Lan, Zhang Yin, Zhang Meng, Shui Shan dan Shui Bing sendiri mengambil tindakan menyingkir mencari jarak aman dengan pertarungan Zhang Ziyi. Ruang Aula yang begitu luas itu, membuat mereka tidak kesusahan sedikit pun untuk mencari tempat kosong.
Pertarungan Zhang Ziyi melawan pria berzirah semakin melebar. Setiap untaian pedang akan menimbulkan tekanan kuat. Kedua orang itu sendiri kian berpindah tempat, dengan kecepatan diluar nalar hingga aula yang luas itu kini tampak sempit bagi mereka. Beberapa kali serangan nyasar melesat dan menghantam tembok istana. Tapi tidak menimbulkan bekas sama sekali, menandakan istana tersebut di bangun dengan bahan yang sangat langka sekaligus kuat dan memiliki kualitas sangat tinggi.
Pertarungan semakin memasuki tahap serunya. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua orang itu semakin menambah tempo serangan. Bahkan yang tadinya tidak menggunakan enegi Qi, kini mereka mulai menggunakannya.
Baamm!!
Ledakan terjadi, namun tidak terjadi apa-apa pada orang penting itu. Bahkan dia masih tetap santai dan menikmati pertarungan yang terjadi di hadapannya.
Kedua orang melakukan serangan energi. Zhang Ziyi melepaskan serangan api yang di kombinasikan dengan serangan Petir. Menciptakan api biru yang mengeluarkan garis zig-zag petir bercabang.
Sisi lain, pria berzirah mengeluarkan serangan Api yang di bentuk Kepala Beruang.
Whush!
Whush!
Kedua serangan energi itu sama-sama melesat dan bertemu di titik tengah.
Duarrrtt!
Ledakan besar terjadi, menyebabkan ruangan tersebut bergetar. Kabut asap mengepul tebal. Zhang Ziyi menghilang dari tempatnya. Detik berikutnya, terlihat seorang yang melesat dengan sangat cepat, menghantam tanah hingga menimbulkan keretakan pada tanah tersebut.
__ADS_1
Banyak tatapan tak percaya melihat orang yang terjatuh tadi. Tatapan itu sendiri berasal dari orang-orang penting, serta Raja Shang sendiri. Pria berzirah yang terjatuh itu adalah jendral yang menduduki peringkat ke 5 dalam Kerajaan Shang. Kekuatannya sendiri setara dengan Jenderal ke 25 Kaisar Langit. Namun dia sekarang terjatuh oleh seorang pemuda bermata emas.
Tampak kepanikan terlihat dari garis wajah Raja Shang. Dia kemudian menoleh ke arah Wanita yang juga mengenakan Zirah . Wanita itu sendiri merupakan Jenderal dengan peringkat keempat Kerajaan Shang. Terkenal akan ketegasana wajahnya, juga sepak terjangnya dalam dunia kultivator. Banyak pembelot kerajaan Shang yang berhasil dia tangkap, baik itu kembali dengan keadaan selamat, atau justru pembelot itu mati di bunuh langsung olehnya.
Keberadaan Wanita itu pulalah yang membuat Raja Shang tampak masih tenang sekarang, setelah Jenderal peringkat pertama sampai ketiga yang tidak berada di Istana, tengah menjalankan misi yang di berikan kerajaan kepada mereka. Maka dia hanya bisa menaruh harapan pada dua jenderal kepercayaannya ini.
Wanita itu maju. Dengan menampakkan wajah datar, dia menarik pedang dan langsung melepaskan aura bertarung yang kuat. Bergerak menyatu dengan angin,lalu muncul kembali di hadapan Zhang Ziyi. Dia juga melayangkan tebasan yang tidak main-main kuatnya.
Zhang Ziyi hampir tidak menyadari keberadaan Wanita itu. Dia menepis pedang yang datang dari arah depan dengan pedang Naga Langit.
Tringg!
Tebasan yang penuh akan energi.Zhang Ziyi termundur kebelakang saat menepis tebasan tadi. Namun segera dia menguasai diri. Wanita tadi kini telah menghilang dan muncul kembali tepat di hadapan Zhang Ziyi.
Pedang di arahkan miring, tubuh yang berputar dalam sekejap telah kembali menghilang.
"Kecepatan yang begitu mengerikan." Gumam Zhang Ziyi di sela pertarungannya.
"Dengan menggunakan atribut elemen angin. Dia bergerak menyatu dengan angin. Jika tidak hati-hati, bisa saja tebasan pedangnya akan merobek daging–ku!"
Adu pedang itu berlangsung cukup lama. Dengan kecepatan yang lebih cepat dari pertarungan Antara Zhang Ziyi dengan Pria berzirah tadi. Hingga sampai di puncak pertarungan, keduanya sama-sama termundur oleh dorongan tapak yang sama-sama mengenai pundak lawan.
Tak ada komunikasi, keduanya saling berpandangan dengan penuh arti. Wanita itu memandangi Zhang Ziyi dengan tatapan sinis, tersirat ingin membunuh langsung Zhang Ziyi di tempatnya. Sedangkan Zhang Ziyi sedikit mengagumi akan kecepatan wanita itu.
Zhang Ziyi melepaskan Pedang Naga Langit dari cengkaram–nya. Pedang itu terjatuh dan menancap lurus di tanah. Dia berniat menggunakan perubahan elemen untuk melawan wanita ini. Dengan kedua tangan yang di aliri oleh energi petir ganas, Zhang Ziyi kemudian menghilang. Dan dalam sekejap, muncul kembali di belakang wanita itu. Langsung mengarahkan tapak petir. Hampir saja serangan tapak itu mengenai si wanita, namun dengan sigap di hindari–nya.
"Baiklah, mari beradu kecepatan," ucap Zhang Ziyi. Dia menggunakan elemen petir untuk menambah kecepatannya.
Kedua orang itu saling mengejar. Berpindah tempat dengan sangat cepat. Orang-orang yang ada di aula itu sendiri sampai tidak bisa melihat pergerakan keduanya.
Menggunakan kecepatan hingga di ambang kemampuan. Zhang Ziyi berpindah dala waktu yang lebih cepat. Bahkan beberapa kali lipat cepat dari sebelumnya. Wanita berzirah tidak mampu lagi untuk mengikuti pergerakan Zhang Ziyi. Semakin gencar Zhang Ziyi dalam menyerang. Rentetan pukulan datang dari arah berbeda. Setiap saat menghunjam tubuh wanita itu. Hingga tinju terakhir di lancarkan Zhang Ziyi.
Baamm!
BUKK!
Wanita itu tersungkur di atas tanah.
__ADS_1