
Kabut asap mengepul hebat. Zhang Ziyi tengah melayang di udara. tak berhenti pandangannya terlepas dari kabut tersebut.
Tak lama, kabut itu mulai menipis, hingga tak tersisa lagi. Seseorang yang tengah terluka, tengah berlutut. Tubuh yang penuh oleh luka. pakaian yang dia kenakan juga sebagian besar telah robek.
"Uhuk ... Uhuk!" Dewa Yun Biao terbatuk-batuk.
Duplikat-duplikat pedang Zhang Ziyi tadi tidak berhasil merenggut nyawanya, tapi, sudah cukup untuk menghilangkan sebesar 30 persen dari kekuatannya.
"Sialan! Bagaimana bisa aku kalah oleh seorang bocah ingusan sepertinya!" Dewa Yun Biao tampak kesal sekaligus geram.
Berdiri untuk bangkit kembali. Dewa Yun Biao meludah sejenak. Dia mengumpulkan energi spiritual yang ada di sekitar untuk merubahnya menjadi energi miliknya.
"Baiklah, bocah. Mari aku perlihatkan padamu kemampuan dari Dewa Ruang! Kau akan menyesali atas tindakanmu tadi!"
Dewa Yun Biao melayang. Energi hitam terpancar dari tubuhnya, memenuhi udara dalam waktu lima detik.
Angin bertiup sangat kencang. Para bawahan Dewa Yun Biao segera mendekat kala mendapat panggilan dari tuan mereka.
Semuanya mengambil posisi masing-masing. Lalu mulai melakukan suatu segel.
Zhang Ziyi bergeming. Dia lalu memfokuskan kekuatannya pada satu titik. Perisai transparan tercipta di depannya.
Segel yang di bentuk oleh bawahan Dewa Ruang berpusat pada Dewa Ruang sendiri. Susunan formasi dengan tulisan-tulisan kuno terlihat di bawah kaki mereka. Tidak hanya itu, kini bayangan seorang pria tua besar berwarna ungu tercipta di belakang Dewa Yun Biao.
Bayangan itu mengikuti gerakan tangan Dewa Yun Biao. Melepaskan serangan energi hitam keunguan ke arah Zhang Ziyi. Serangan energi itu bergerak lurus layaknya laser besar.
Baamm!
Ledakan terjadi kala serangan energi Dewa Yun Biao menghantam perisai yang di ciptakan oleh Zhang Ziyi. Bukannya hancur, justru serangan Energi Dewa Yun Biao tadi memantul dan menyerang Dewa Yun Biao sendiri.
Kejadian itu begitu cepat. Bahkan Dewa Yun Biao sendiri terlambat bereaksi. .
Duarr!!
Ledakan besar tercipta. Dewa Yun Biao terlempar jauh dan menabrak tebing dengan keras. Begitupun juga dengan bawahannya, juga mengalami nasib tidak bedah jauh dengan Dewa Yun Biao sendiri.
Di sisi lain, Zhang Ziyi pun juga tidak baik-baik sangat. Dirinya ikut termundur ke belakang sejauh sepuluh meter. Menabrak tanah dengan keras hingga menciptakan kawah dalam.
__ADS_1
"Sialan! energi itu begitu besar. beruntung Dinding ilusi masih sempat menahannya beberapa waktu tadi, sebelum pecah. Kalau tidak, mungkin aku akan langsung hangus oleh energi tadi." Zhang Ziyi berusaha bangkit, meski tubuhnya terasa sangat pegal sekarang.
Dia lantas mengeluarkan satu buah pil tingkat Surgawi. Menelannya untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Tapi Zhang Ziyi menyadari kalau efek dari Pil tingkat surgawi ini mulai menurun semenjak dirinya yang telah menerobos hingga ke ranah Dewa Abadi.
"Satu saja tidak cukup!" Kembali mengeluarkan empat buah pil dan menelannya.
Setelah merasa lumayan, Zhang Ziyi bangkit lalu menghilang. Dia muncul kembali 6tekat di depan sebuah tebing yang saat ini telah hancur sebagiannya.
Dia tidak perlu untuk menggunakan mata Dewa supaya bisa melihat lebih jelas akan bagaimana kondisi dari Dewa Yun Biao saat ini. Dengan kandungan norm sekalipun Zhang Ziyi telah bisa mengetahui kondisi Dewa Yun Biao.
Beberapa saat, Dewa Yun Biao muncul dari reruntuhan tebing. Kondisi tubuh yang lemah, berjalan tertatih.
Zhang Ziyi memasang seringai sinis!
"Apa kabar, kak Tua. Setelah pertemuan sebelumnya, kau bisa mengalahkan ku dengan mudah, maka kali ini aku yang telah mengalahkan–mu!" ujar Zhang Ziyi.
Dewa Yun Biao begitu kesal mendengar apa yang dikatakan Zhang Ziyi tadi. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, selain terdiam tanpa suara.
Zhang Ziyi bergeming. Dia merasakan adanya aura yang bergerak ke arah mereka. Bukan hanya satu, melainkan lebih dari itu.
"Pak Tua, aku tidak ada waktu untuk meladeni–mu. Cepat berikan Mutiara Darah Semesta yang ada di tangan mu itu padaku" Pinta Zhang Ziyi.
"Apakah kau pikir, aku tidak bisa untuk mengambilnya darimu?" Zhang Ziyi menarik sebelah alisnya.
Setelahnya menampakkan seringai aneh.
"Elemen Waktu, Penghentian Waktu!" ujar Zhang Ziyi tiba-tiba.
Dewa Ruang begitu terkejut saat mengetahui Zhang Ziyi menguasai elemen Waktu. Yang dia tahu, hanya Dewa Gou Liang sajalah yang memiliki kuasa atas elemen Waktu, dan sekarang dia bisa melihat satu lagi orang yang mengendalikan waktu.
Semuanya berhenti bergerak. Bahkan angin sekalipun tidak berhembus untuk beberapa saat. Zhang Ziyi membatasi elemen waktu terhadap dirinya dan Dewa Ruang saja.
"Kau, bisa mengendalikan waktu? Jangan bilang bahwa kau adalah murid dari Pria itu?"
Zhang Ziyi tidak menanggapi pertanyaan dari Dewa Ruang. Dia menggunakan akar rambat untuk mengikat pergerakan Dewa Yun Biao. Tangan kirinya dia lukai sedikit. Darah yang menetes langsung di kendalikan. Membentuk sebuah pil, lalu mengarahkan pil tersebut ke mulut Dewa Yun Biao.
Tak bisa mengelak saat pil racun itu telah masuk ke dalam mulutnya. Perlahan tubuhnya mulai menggila. Racun yang terkandung dalam tubuh Zhang Ziyi bukanlah sembarang racun. Tentu saja akan sangat mematikan.
__ADS_1
Dewa Yun Biao mulai merasakan efeknya. Pandangannya kabur dalam satu menit. Tapi anehnya Dewa Yun Biao tidak kehilangan kesadaran sama sekali. Melihat dengan keadaan sangat buram, tubuhnya kesemutan sesaat sebelum akhirnya rasa itu mulai membuat dirinya tersiksa.
Racun menyatu dengan darah dan bergerak ke seluruh tubuh. Urat hijau kehitaman menjalar di kulit lengan hingga wajahnya. Setelahnya kulit putih susu, berubah menjadi hitam arang.
"Akkhhhhrr!"
Dewa Yun Biao hendak mengeluarkan suara, tapi hanya percikan ludah yang keluar.
"Begitu lebih baik!" gumam Zhang Ziyi. Durasi penghentian waktu, akan kembali normal sebentar lagi. Zhang Ziyi meraih tangan Dewa Yun Biao yang tergantung. Lalu menggunakan kekuatan mentalnya. Mutiara Darah Semesta telah berhasil dia keluarkan dari cincin ruang Dewa Yun Biao.
Memasang sunggingan kecil sejenak, Zhang Ziyi kemudian melempar penawar racun ke dalam mulut Dewa Yun Biao. Baru setelahnya dia menghilang dari sana.
Di sisi lain, tempat dimana pertarungan Zhang Ziyi dan Dewa ruang tadi berlangsung, kini kedatangan seorang pria. Dia mengendarai pedang di kakinya. Melayang dengan pandangan menyapu sekitar.
"Hmm, Ayah...!" Fang Shi terbang dan mendekati Pria tersebut yang ternyata adalah ayahnya sekaligus berjuluk Dewa Pedang.
"Hmm!" Dia tidak menengok ke anaknya. Dirinya malah fokus memperhatikan sekitar yang tampak kacau. Dari sekali lihat, dia sudah bisa mendapat gambaran tentang hal yang baru saja terjadi di sini.
"Aku tidak berharap bertemu denganmu dangan kondisi yang sangat menyedihkan itu! Tch, kau sangat lemah dan tidak becus. Bahkan membiarkan orang lain merebut Mutiara Darah Semesta di tangan orang lain.. Tch, tidak berguna!" ucap Dewa Pedang dingin.
Semua anggota yang dikirim untuk mendapatkan Mutiara Darah Semesta, telah tewas. Dia tidak melihat keberadaan tetua di tempat ini, tapi dia juga tidak mencarinya, sebab Dewa Pedang menebak bahwa tetua pasti telah tewas sekarang.
"Ma–maafkan aku ayah!" Fang Shi tampak menyesal.
Dewa Pedang bergeming. Dia mengawasi sekitar menggunakan domain miliknya. Mendapati sesuatu pada tebing batu yang berjarak lima puluh meter dari tempatnya berada, Dewa Pedang lantas mengarah ke sana.
Benar saja, dia dapat melihat bekas tabrakan tubuh seseorang di sini. Batu tebing runtuh sebagian. Dia menghirup aroma udara sekitaran situ.
"Nafas ini? ... Dewa Ruang, berani sekali dia mencari masalah dengan ku!" geram Dewa Pedang. Setelahnya dia melesat, pergi dari sana. Begitupun juga dengan Fang Shi yang mengikuti arah terbang ayahnya.
Jauh di sebuah awan tinggi, beberapa orang berpakaian hitam tengah mengintai.
"Dewa Pedang ada di sana! kita tidak bisa untuk melanjutkan ini. Jika kita maju, maka tidak ada bedanya dengan me serahkan nyawa!" ucap salah satu diantara tiga orang itu.
"Ya, kau benar. Lebih baik kita kembali dan melaporkan ini pada Tetua!"
"Umm!"
__ADS_1
Keduanya terbang dan meninggalkan tempat itu.