
"Putra Kaisar Langit itu di titipkan di sebuah klan ...."
Pemuda tersebut tetap bercerita hingga beberapa puluh menit lamanya, dan tampak orang-orang itu begitu serius dalam mendengarkannya. Bahkan ekspresi yang di tunjukkan oleh mereka juga berubah-ubah seiring dengan jalannya cerita.
"... Putra Kaisar Langit mendapatkan Warisan Dewa Kematian ........ Hingga akhirnya dia berhasil mengalahkan ayahnya dan menjadi Kaisar Langit berikutnya!"
"Hebat... Aku jadi terharu mendengar kisah ini. Ini baru namanya seru..." Salah seorang dari pelanggan memuji cerita dari pemuda itu.
"Benar... Kisah dari Putra Kaisar Langit itu begitu menegangkan, tapi pada akhirnya dia berhasil mengalahkan ayahnya... " Yang lainnya juga ikut menimpali.
Pemuda itu kembali memasang sunggingan kecil. "Tunggu, ini belumlah berakhir."
Sontak saja kericuhan yang semula tercipta itu segera mereda.
"Setelah menjadi Kaisar Langit, bukan berarti masalah Sang Kaisar telah selesai... Dia kembali akan bertualang untuk menyelamatkan kekasihnya di alam Bawah... Tapi dia malah menghilang, bahkan di alam Bawah pun tidak ada jejaknya, dan cerita ini pun selesai..." Pemuda tersebut segera menundukkan badannya, memberi hormat.
"Apa yang terjadi dengan Kaisar Langit? Mengapa dia menghilang? Lalu bagaimana dengan kekasihnya itu?" Berbagai macam pertanyaan dilontarkan oleh sejumlah orang yang hadir.
"Hmm, kisahnya sudah selesai sampai di sana. Tidak ada lagi kelanjutannya, kalaupun ada aku juga tidak tau!"
__ADS_1
"Huuh... Padahal ceritanya sudah sangat seru... Sudahlah, sama saja! Lebih baik kita pergi saja!"
"Benar..."
Satu per satu dari orang-orang itu segera bangkit, dan kembali untuk melangkah pergi.
"Ettt ... tunggu dulu, bayar dulu semua makanan yang kalian pesan tadi." Sang Pemilik Kedai segera menahan mereka di depan pintu.
Mereka kemudian membayarnya, bagaimanapun banyak makanan yang mereka pesan tadi.
Setelah kepergian orang-orang itu, Pemilik Kedai memasang senyum lebar sembari memperhatikan koin perak yang ada di kantong kain. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya, pasalnya kisah yang disampaikan tadi cukup panjang, jadinya beberapa diantaranya memesan banyak makanan.
Setelah kepergian dari para pelanggan kedai tadi, Pemilik Kedai lantas menghampiri si pemuda. Bermaksud untuk memberikan sebagian koin padanya.
Namun Si pemilik kedai tetap menawarkan sejumlah uang kepada Pemuda itu. Hingga tak sengaja Pemuda tersebut melihat seorang lelaki dengan tampilan acak-acakan, dengan sebuah benda yang di gulung oleh kain usang. Lelaki itu tampak tertidur, kepalanya dia baringkan di atas meja dengan kedua tangan ikut berbaring di atas meja. Di atas meja sendiri masih ada beberapa kendi arak.
"Paman, dia siapa?" tanya si Pemuda.
"Dia itu orang Gila. Kabarnya lelaki itu ditinggalkan pergi oleh kekasihnya, makanya dia sangat bersedih. Arak-arakku habis oleh dia, untungnya dia masih bayar, kalau tidak mungkin sudah aku tendang dari dulu." Pemilik kedai menjelaskan dengan jengkel.
__ADS_1
Sementara si Pemuda mengernyit mendengar itu. "Hmm, terima kasih, Paman!" Pemuda itu berniat untuk menghampiri si lelaki tersebut.
"Halo Paman! aku Hao Die. Bisa kah aku duduk dan bergabung dengan Paman?!" ucap Hao Die dengan ramah.
Lelaki itu hanya memberikan anggukan kepala tanpa berniat mengangkat kepala menjawab perkataan Hao Die.
Lantas duduk, Hao Die memandang benda yang tersembunyi di dalam gulungan kain itu yang berada di dekat lelaki itu. Sekilas dia bisa menebak itu adlah sebuah pedang dengan ukuran sedikit besar. Hao Die kemudian menyimpulkan bahwa orang ini bukanlah orang biasa, melainkan juga seorang Kultivator sama sepertinya.
Tapi itu hanyalah sebuah dugaan. Sementara ini, Hao Die belum menemukan adanya suatu tanda-tanda Kultivator lain dalam lelaki ini, membuatnya kembali mempertanyakan keyakinan tadi.
Apakah lelaki ini merupakan Kultivator, ataukah bukan?
Selang beberapa saat Hao Die memperhatikan lelaki itu, mendadak serangan tak terduga datang.
Whush...
Whush...
Whush...
__ADS_1
....
Lima buah pisau tajam melesat dengan cepat ke arah lelaki tersebut.