Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 36 ~ Topeng?!


__ADS_3

Zhang Ziyi bertarung dengan Beast kera. Dikarenakan pikiran nya sedang kacau oleh Zhang Lou, sehingga Zhang Ziyi tak bisa fokus. Satu tinju keras dari beast kera langsung menerbangkan Zhang Ziyi dan menabrak dua pohon besar hingga menumbangkannya.


"Uhuk!"


Zhang Ziyi terbatuk-batuk. Berusaha bangkit sembari memegangi dadanya.


"Sial... Sia-sia aku melawan Binatang Buas ini pada akhirnya aku tidak mendapat apa-apa!" Zhang Ziyi mengepal keras tangan kirinya.


Selain tak mendapat lencana murid klan utama, Zhang Ziyi juga tak bisa mendapat kristal roh dari beast kera ini. Pasalnya, semua yang ada di sini hanyalah mimpi.


Mencengkeram gagang pedang naga langit dengan keras. Memusatkan energi Qi pada pedang. Mengaktifkan dua skill yang ia miliki. Lalu melesat dan menggunakan teknik Pedang Naga Langit.


Gerakan Zhang Ziyi semakin lincah. Pandangannya semakin menajam sejalan dengan tajamnya pedang Naga Langit. Gerakan Beast kera itu semakin terasa lambat di matanya.


Sempat dibuat kesusahan Zhang Ziyi beberapa saat, namun pada akhirnya beast Kera itu mati juga di tangan Zhang Ziyi.


Setelah membunuh beast kera. Zhang Ziyi kemudian bergegas mencari keberadaan Zhang Lou. Dengan menggunakan skill Eagle Eye yang bahkan jarak 2 kilo mampu dia lihat dengan jelas, tak butuh waktu lama bagi Zhang Ziyi untuk menemukan keberadaan lelaki itu.


Setelah me–nonaktifkan skill Eagle Eye Zhang Ziyi pun berlari ke arah dimana Zhang Lou berada. Namun sesampainya di sana, tak ditemukan lagi keberadaan Zhang Lou. Hanya sebuah goa di hadapannya.


Tanpa pikir panjang, Zhang Ziyi langsung memasuki goa tersebut.


Selang beberapa saat, Zhang Ziyi keluar kembali.


"Sial...!" Zhang Ziyi berdecak kesal. Di dalam terdapat sebuah kotak peti kecil, namun tak ada isinya. Zhang Ziyi menebak bahwa isi dari kotak tersebut adalah lencana klan utama. Dan Zhan Lou telah mendapatkan lencana tersebut.


Kembali ia memperhatikan peta. Tak ingin membuang-buang waktu, Zhang Ziyi pun bergegas ke arah timur. Dengan kecepatan yang relatif tinggi Zhang Ziyi berlari. Tak ingin membiarkan lencana di tempat kedua di rebut oleh peserta lain.


Selang beberapa saat, Zhang Ziyi sampai di sebuah tanah tandus. Tak ada apa-apa di sana selain dengan gundukan tanah kosong. Dia kemudian mencoba untuk mengaktifkan Skill Eagle Eye, namun sejauh mata memandang semuanya hanya tanah tandus.


"Aneh!"


Kembali memperhatikan peta, takutnya ada kesalahan. Namun dia tak menemukan adanya kesalahan pun. Memilih untuk tak memusingkannya, Zhang Ziyi akhirnya beralih memasuki tanah tandus.


Berlari dengan kecepatan tinggi hingga jarak satu kilo, namun tetap tak menemukan sesuatu pun. Zhang Ziyi mulai tak yakin. Mencoba kembali untuk memperhatikan peta. Saat tengah sibuk memperhatikan peta, saat itulah Zhang Ziyi mendengar suara beberapa orang yang juga hendak ke sana. Tanpa menggunakan skill Eagle Eye pun Zhang Ziyi sudah bisa melihat melihat titik-titik kecil yang berdiri di salah satu gundukan tanah, bergerak ke arahnya.


"Aku harus segera menemukan lencana itu, sebelum mereka."


Menyusuri setiap sisi dari wilayah tersebut, Zhang Ziyi tidak sengaja menginjak tanah hisap. Sempat dibuat panik beberapa saat. Zhang Ziyi mencoba menarik-narik kakinya. Namun semakin ia tarik, maka semakin solid pula tanah itu menghisap.


Beberapa saat, Zhang Ziyi mulai menyadari adanya keanehan pada tanah hisap itu. Zhang Ziyi mencoba untuk tidak memberontak, dan membiarkan tubuhnya terhisap.


Terhisap dan semakin terhisap. Pada akhirnya Zhang Ziyi tak terlihat lagi. Tanah yang menghisap Zhang Ziyi barusan ternyata menghubungkan dengan ruang bawah tanah.

__ADS_1


Setelah melepaskan diri dari tanah hisap itu, Zhang Ziyi mulai mengitari sekitaran ruang bawah tanah. Tak butuh waktu lama bagi Zhang Ziyi untuk menemukan sesuatu yang berharga. Topeng dengan aura hitam pekat terpancar dalam topeng itu. Juga di sampingnya ada kotak. Zhang Ziyi menebak dalam kotak tersebut adalah lencana kalan utama. Tanpa pikir panjang Zhang Ziyi langsung membuka tutup peta itu. Benar saja, benda yang ia cari ada di sini.


"Huuh, akhirnya."


Zhang Ziyi berniat keluar dalam ruang bawah tanah. Namun topeng putih yang memancarkan aura hitam itu begitu mengganggu pikirannya. Sempat dibuat bingung Zhang Ziyi apakah harus mengambil topeng tersebut, ataukah membiarkannya begitu saja. Pasalnya, aura hitam itu sedikit membuat Zhang Ziyi khawatir. Takutnya saat dia menggunkan topeng itu tubuhnya akan dimasuki sejenis roh-roh jahat yang menempati topeng itu.



Meski begitu, rasa ingin memiliki juga muncul di benak Zhang Ziyi. Sempat dibuat bimbang sesaat, sebelum akhirnya Zhang Ziyi memutuskan untuk membawa topeng tersebut.


Setelah memasukkan topeng ke dalam cincin ruang. Zhang Ziyi mulai memikirkan cara untuk keluar dari ruang bawah tanah. Sebab, Zhang Ziyi telah menyusuri setiap sisi dari ruangan tersebut, namun tetap tak ia temukan jalan keluar. Melewati tanah hisab sebelumnya juga tak mungkin baginya.


"Sial!"


Zhang Ziyi mulai putus asa. Dia duduk di sebuah batu besar sembari merenung.


***


Di sisi lain, di tempat dimana para penatua serta beberapa murid inti saat ini sedang menonton aksi para peserta yang yang sedang berjuang dalam menyelesaikan ujian kedua.


Saat ini, mereka tengah memperhatikan Zhang Ziyi yang menemukan ruang bawah tanah. Namun sialnya, belum juga mereka melihat keseluruhan aksi Zhang Ziyi, tiba-tiba saja rekaman yang memperlihatkan aksi Zhang Ziyi mendadak menggelap. Setelahnya beralih memperlihatkan murid-murid lain.


"Apa yang terjadi, kenapa gambarnya beralih ke murid-murid ini ... Mengapa tidak memperlihatkan aksi anak itu?" salah satu penatua mulai protes. Sebab mereka terlalu terbawa dengan tindak-tanduk Zhang Ziyi.


Mau tidak mau, mereka harus menonton aksi peserta lain yang notabenenya tidak memberikan kepuasan. Semuanya nampak biasa-biasa saja.


***


Hari kian cepat berlalu. Zhang Ziyi mulai kembali bangkit. Pemuda itu mulai menggunakan domain milik untuk memeriksa tempat itu.


Beberapa saat, Zhang Ziyi kembali membuka matanya. Sunggingan kecil terlukis di dua sudut bibir Zhang Ziyi.


"Akhirnya! kenapa dari tadi tak ku gunakan domain untuk memeriksa tempat ini?!" Zhang Ziyi mulai merutuki kebodohannya barusan.


Segera Zhang Ziyi beralih ke salah satu sisi ruang bawah tanah. Menengok ke samping, Zhang Ziyi menemukan sebuah lobang di tempat gelap. Lubang itu sendiri menghubungkan dengan dunia luar, dengan posisinya yang miring keatas.


Tanpa pikir panjang, Zhang Ziyi segera memasuki lubang tersebut. Meski agak kecil, namun pas dengan ukuran tubuhnya. Zhang Ziyi mulai merangkak. Selang beberapa saat, dia akhirnya sampai di pada mulut lubang.


menghela napas lega. Saat hendak keluar dari lubang tersebut, mendadak pedang panjang melintang di lehernya.


"Serahkan benda yang kau dapatkan dari lubang itu, atau nyawamu akan melayang." Pemuda yang mengarah kan pedang ke lehernya tersebut berucap dengan nada yang terkesan begitu angkuh.


Zhang Ziyi sendiri sempat dibuat tersentak sesaat. Pasalnya, tiada angin tiada hujan, tiba-tiba saja pedang panjang akan merobek kulit lehernya. Namun setelah mendengar perkataan pria tadi, entah mengapa Zhang Ziyi malah merasa muak.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa memberi kalian lencana ini, sedangkan tubuhku pas dengan lubang yang sangat kecil ini!"


Zhang Ziyi mulai menggerakkan tubuhnya menjelaskan bahwa tangannya tidak bisa bergerak untuk mengambil lencana yang ada di saku bajunya, sebab lubang yang begitu sempit itu.


Lelaki yang mengarahkan pedang ke leher Zhang Ziyi nampak berpikir Sejenak. Menoleh ke arah temannya, dan meminta pendapat.


"Jangan dengarkan dia... Apakah kau tahu pemuda ini juga lah sebelumnya yang telah membuat enam orang murid celaka!"


"Ya, kau benar... Jangan sampai kau melepas lelaki ini, bukannya kita yang merampoknya, tapi malah dia yang merampok kita!" Salah satunya juga ikut memberikan saran.


Sementara Zhang Ziyi memasang senyum sinis mendengar perkataan pria itu. Zhang Ziyi mulai memikirkan akan hal itu setelah ia keluar dari sana. Berniat merampok mereka seperti apa yang di kata lelaki itu.


Sementara lelaki yang mengarahkan pedang pada leher Zhang Ziyi nampak berpikir sejenak. Menoleh ke arah Zhang Ziyi, berusaha mencari kebohongan di mata Zhang Ziyi, namun ia tak menemukan bahwa pria ini akan berbohong. Lalu kembali dia menoleh ke arah dua temannya itu, yang kini memberikan dia isyarat 'jangan' dengan menggelengkan kepala.


"Baiklah! Aku pegang perkataan–mu!"


Lelaki itu menurunkan pedang, dan membiarkan Zhang Ziyi keluar.


Senyum sinis nampak di bibir Zhang Ziyi sesaat. Setelahnya tanpa pikir panjang, Zhang Ziyi segera keluar dari lubang tersebut.


"Uhh... akhirnya aku bisa keluar dari sana!" ujar Zhang Ziyi.


"Sekarang, serahkan lencana murid klan utama itu!" lelaki tersebut kembali mengarahkan pedang ke arah Zhang Ziyi.


"Cih, kenapa kau begitu yakin aku akan memberikan mu lencana ini?" Zhang Ziyi menampakkan senyum miring.


"A-apa maksudmu?!" lelaki yang mengarahkan pedang mulai khawatir.


"Serahkan semua barang-barang berharga kalian baik-baik, dan aku akan melepaskan kalian baik-baik pula."


Ketiga pemuda itu terdiam sejenak Saling berpandangan.


"Owh, baiklah.... Kalian lebih menyukai cara kasar dibanding cara halus rupanya. Maka jangan salahkan aku untuk ini!"


Sepersekian detik kemudian...


Bukk!


Bukk!


Bukk!


"Argh..."

__ADS_1


__ADS_2