
Sebuah markas yang terbilang besar, begitu banyak aktivitas yang terjadi di sana.
Dua orang pria saat ini tengah berjalan tergesa menuju bangunan yang menjadi tempat pemimpin dari kelompok tersebut.
Di atas gerbang masuk bangunan tersebut tergambar seekor Harimau yang memancarkan cahaya merah darah, dengan mata yang menyala. Dua orang itu melewatinya.
"Salam, Pemimpin!" keduanya langsung membungkukkan badan.
Orang yang dipanggil pemimpin tersebut tida memberikan respons atas kehadiran mereka. Posisinya sendiri saat ini membelakangi dua orang itu, kedua tangan yang sibuk menggoresi lembaran kertas putih panjang. Tampak dia tengah membuat sebuah kaligrafi.
"Lapor, kami tidak menemukan keberadaan anak itu!"
"Benar, Pemimpin! Pemuda yang berasal dari Sekte Tujuh Pedang tidak ada di sektenya saat kami membantai dan menghancurkan Sekte Tujuh Pedang!"
Keduanya melapor atas misi yang mereka kerjakan.
Whush....
Kuas yang di pegang oleh pemimpin dari kelompok itu malah melayang setelah kabar buruk itu selesai tersampaikan.
Dan itu tepat mengenai kepala salah satu dari dua orang itu membuatnya terlempar beberapa langkah kaki ke belakang.
__ADS_1
"Kalau tidak ada keberadaan anak itu, mengapa kalian malah berlama-lama di sana?" geram pemimpin kelompok Harimau Iblis itu deng. intonasi meninggi.
Keduanya bersujud. "Maafkan kami pemimpin, kami lalai! Secepatnya pasti kamu akan mendapatkan anak itu!" ucap salah satu dari mereka dengan takut-takut.
"Baiklah... Aku beri kalian kesempatan sekali lagi. Temukan anak itu bagaimanapun caranya. Jangan sampai Giok Naga Langit direbutkan oleh orang lain!" ucap pemimpin dari kelompok Harimau Iblis itu.
"Ba-baik, Pemimpin!"
Setelah itu, pemimpin kelompok Harimau Iblis yang bernama Bai Shen itu segera memerintahkan kedua orang tersebut untuk keluar dari ruangannya.
Tanpa banyak menunda waktu keduanya segera pergi. Takut pemimpin mereka itu berubah pikiran dan malah menahan kepergian mereka.
Dua hari kemudian.
Sebenarnya Hou Die merasa sedikit gugup saat ini.
Ini baru pertama kali baginya akan menentang satu kelompok besar. Terlepas dari usianya yang masih muda, dia juga masih belum berpengalaman dalam hal membunuh orang.
"Nak, majulah... Kami akan menunggumu di sini!" ucap Zhang Ziyi pada Hou Die.
Menoleh sejenak ke arah gurunya, Hou Die kemudian mengangguk. Lalu berlari mendekati gerbang masuk kelompok yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Hei kau... Dari mana asalmu? Pergilah jika tidak ada urusan penting!" ucap salah seorang penjaga, tampak merendahkan Hou Die.
Menarik nafas sejenak. Entah mengapa rasa ragu kali ini malah perlahan mengisi hatinya. Antara berani dan tidak, meskipun sekte Tujuh Pedang ber–aliran netral, tapi sekte ini lebih menjurus ke hal-hal yang berkaitan dengan aliran putih. Sehingga untuk melakukan ini semua dia tampak khawatir.
"Aku– aku!" Dia terlihat khawatir sekaligus bingung dalam mengambil tindakan.
Salah seorang dari mereka mendekati Hou Die. Bermaksud mendorong tubuh Hou Die, tapi bukannya terbanting, malahan dia yang dibanting oleh Hou Die sendiri.
Buk...
"Kau—!"
Rekan-rekan lelaki itu begitu tersentak kala melihat rekan merak di banting oleh Hou Die dengan mudah. Geram, mereka langsung mengancam Hou Die dengan mengeluarkan aura intimidasi.
Maju dan menyerang Hou Die.
"Benar... Aku harus melakukan ini! Kalian yang telah membuat saudara serta rekanku meninggal!"
Whush....
Baamm...
__ADS_1
"Arrgghh...."
"Arrgghh...."