Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 161 ~ Reruntuhan


__ADS_3

Kabut gelap terkumpul di udara,, semakin tebal hingga membentuk tiga sosok berbentuk manusia. Tapi bukanlah manusia, melainkan seorang Dewa.


Salah satu di antara ketiganya turun kebawah, dan memeriksa buaya tergeletak di atas tanah.


Asap putih keluar dari tubuh buaya dan langsung di arahkan pada sebuah pagoda. Lalu laki-laki itu terbang kembali ke atas. Berhenti tepat di belakang seroang pria berwajah tegas nan dingin. Dia memberi hormat, baru setelahnya dia berbicara.


"Lapor, Tuan. Dia telah mati!"


Sontak, aura merah bercampur gelap menyebar dari tubuh Lelaki yang berdiri di depan itu. Tampak kemarahan dari garis wajahnya kala mendengar laporan dari salah satu bawahannya.


"Cih, berani sekali orang ini membunuh siluman Peliharaan–ku!" ujar lelaki itu. Dia tampak sangat geram.


Siluman Buaya yang di bunuh oleh Zhang Ziyi itu ternyata adalah peliharaan dari lelaki ini yang tidak lain adalah Dewa Kematian. Makanya Buaya tersebut bisa mengeluarkan aura kematian yang pekat bersamanya.


Ketiga orang itu kemudian menghilang dari sana. Begitu tiba-tiba, hanya meninggalkan asap hitam yang menyebar, sebelum akhirnya menghilang dan menyatu dengan kabut yang menyelimuti daerah ini.


***


Zhang Ziyi terbang dengan mengendari Laohu. Di kepala Laohu sendiri saat ini berdiri seekor burung kecil imut yang tidak lain adalah Niao.


Entah kemana mereka akan mengarah. Zhang Ziyi tidak tahu menahu soal lika liku tempat ini, sehingga dia memerintahkan Laohu untuk terbang mengikuti instingnya.


Mereka melewati pepohonan rimbun di bawah sana, yang penuh akan kabut.


Terbang selama beberapa jam, terlihat di depan sana, hutan yang memancarkan aura dingin. Tampak salju juga turun menghujani hutan. Laohu terbang cepat dan memasuki hutan itu.


Suhu di sini ternyata begitu ekstrim. Apalagi saat terkena bunga salju, kulit serasa langsung membeku. Beruntung ketiganya bisa menguasai unsur elemen Api. Sehingga mereka bisa melindungi diri dari itu.


Pepohonan gugur, tak berdaun namun juga tidak tumbang. Seekor burung gagak bernyanyi riang di salah satu ranting pohon yang telah menjadi rangka.


Namun tak berlangsung lama, gagak itu itu mulai terbang menjauh. Bagaimana tidak, beberapa ratus meter di belakangnya saat ini telah terjadi badai salju. Badai mengerikan yang bergerak dengan kecepatan tinggi langsung melahap apa saja yang di lewatinya.


Kepulan awan hitam di atas sana begitu pekat. Menghantarkan tekanan listrik yang bertegangan tinggi. Meluncur ke bawah hingga menciptakan cahaya emas di sertai dengan bahana yang menggelegar.


Zhang Ziyi, Laohu serta Niao terlanjur memasuki hutan itu. Dan kini mereka tersesat oleh ganasnya amukan badai.


"Sial... Laohu percepat laju terbang mu! Jangan sampai kita di lahap oleh badai ini."


Laohu mengangguk mendengar perkataan dari tuannya itu. Tubuhnya dia perbesar hingga dua kali lipat. Sayap apinya itu melesat dengan kecepatan tinggi. Menembus angin kencang yang membawa serta hamparan salju menghalau pandangan.


Sialnya, badai itu ternyata memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan kekuatan terbang Laohu sendiri. Kini mereka terjebak di dalam badai, berusaha melawan angin kencang. Mereka tidak bisa berpindah tempat. Laohu Berusaha memposisikan diri agar tidak terbawa oleh ganasnya badai ini.


"Bertahanlah, Laohu!" ucap Zhang Ziyi menguatkan Hewan peliharaannya itu.

__ADS_1


Sialnya, petir ganas yang memiliki tekanan sangat tinggi tiba-tiba menyapa mereka. Kini Laohu mendapatkan dua masalah dalam satu Waktu. Harus menahan badai agar tidak membawa serta dirinya, atau justru menghindari petir ganas yang akan menyapa tubuhnya.


Duarrrttt!!!


Petir menyambar di mana-mana. Nyaris salah satu cabangnya menghantam Laohu, Zhang Ziyi serta Niao. Beruntung Laohu sempat menghindar. Dia terbang ke arah samping, sialnya gerakan kecil itu justru membawanya pada suatu masalah. Dia kini tak bisa untuk memposisikan dirinya. Terbawa arus badai yang sangat ganas itu.


Lalu berusaha terbang untuk melawan arus badai. Namun kekuatannya tidak cukup.


Niao tidak tinggal diam. Dia terbang dari kepala Laohu, lalu merubah dirinya ke bentuk aslinya. Melepaskan kekuatannya untuk menekan badai.


Dan berhasil. Tubuh mereka tak terbawa oleh badai yang kian mengamuk.


"Kerja bagus, Niao!"


Zhang Ziyi mengacungkan jempol, memuji Niao. Burung itu sendiri langsung memasang ekspresi sombong setelah menerima pujian dari Zhang Ziyi tadi.


Tapi berhasil menyelesaikan masalah badai itu, mereka kini kembali di hadapkan pada satu masalah lain.


Gunung salju mendadak runtuh. Longsor salju terjadi dan langsung menelan Zhang Ziyi, Niao serta Laohu. Ketiganya tak bisa mengelak dan berakhir dengan tertimbun ombak salju yang sangat ganas itu.


***


Salju begitu rata, tak ada tanda-tanda jejak kaki di sana. Mendadak tangan muncul dari dalam salju, baru setelahnya tampak badan dari tangan itu yang tidak lain adalah Zhang Ziyi.


Zhang Ziyi melempar pandangannya di sekeliling. Mencari keberadaan Laohu dan Niao. Tapi tak tampak batang hidung kedua hewan peliharaannya itu.


Tampaknya mereka masih tertimbun di dalam salju itu.


Zhang Ziyi tak berniat mencari mereka. Dia bangun dan berjalan melihat-lihat sekeliling. Tak ada yang bisa dia lihat selain dengan hamparan salju yang membentuk lapangan luas. Sebuah tebing batu juga terlihat beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri saat ini.


Zhang Ziyi berlari ke arah tebing. Dia lantas memanjat tebing itu. Tak membutuhkan waktu tiga detik, dia telah berada di atas tebing.


Melempar pandangan ke bawah, di sana terlihat Laohu dan Niao yang sama-sama muncul dari dalam salju. Kedua hewan peliharaannya itu tampak linglung sejenak, laku mereka sama-sama terbang ke arah tebing kala melihat tuan mereka ada di atas tebing.


"Cuaca telah membaik sepenuhnya ... Laohu, apakah kau siap untuk kembali melanjutkan perjalanan?" Zhang Ziyi menengok ke arah Laohu yang telah berdiri di sampingnya.


"Auumm!" Laohu mengangguk.


"Baiklah, mari kita mulai!"


Zhang Ziyi menaiki Laohu, setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Terbang mengikuti arah matahari.


-

__ADS_1


Masih dalam wilayah salju, ketiganya sampai di reruntuhan. Laohu mendarat kala mendapat perintah dari Zhang Ziyi.


Turun dari punggung Laohu, setelahnya mereka memasuki reruntuhan itu.


"Ini sudah sangat tua. Mungkin ribuan tahun atau bahkan jutaan tahun bangunan ini runtuh." Zhang Ziyi meraba salah satu tiang dari reruntuhan.


Debu putih yang berasal dari salju menghalangi sebuah tulisan yang terukir di tiang tersebut. Zang Ziyi meniup debu agar dapat melihat jelas tulisan itu. Tapi karena terlalu lama, maka dia tidak bisa mengetahui pasti makna dari tulisan yang sudah lapuk ini.


Zhang Ziyi beralih dan memeriksa lebih dalam bangunan reruntuhan itu. Namun dia menghentikan langkahnya sejenak kala telinganya salah menangkap suara panggilan.


Dia yang penasaran segera melangkah ke arah suara itu. Lika-liku reruntuhan ia telusuri, hingga sampai di sebuah pintu besar. Pintu itu sendiri tertutup rapat, dan tampaknya telah lama sampai-sampai teksturnya yang semula terbuat dari kayu, kini mengeras layaknya batu.


Suara tersebut berasal dari dalam ruangan. Penasaran yang semakin besar, Zhan Ziyi mencoba untuk menghancurkan pintu.


Baamm!!


Ledakan terjadi, serangan energi api yang tadi di lepaskan Zhang Ziyi pada pintu nyatanya terpantul begitu saja.


Zhang Ziyi menghindari energi api yang di pantulan oleh pintu.


"Sebuah Array, yah!" gumam Zhang Ziyi.


Zhang Ziyi belum mengambil tindakan untuk dua pulu detik. Setelahnya dia mulai bergerak. Mengambil ancang-ancang lalu melepaskan tinju yang terlapisi oleh energi emas yang sangat kuat.


Bukkk!


Krkkk!!


Trakk!!


Pintu yang dilindungi oleh array, berhasil Zhang Ziyi hancurkan.


Dia, Laohu serta Niao melewati puing-puing pintu dan memasuki ruangan.


Whush!!


Aura aneh menyapa tubuh mereka. Zhang Ziyi serta dua hewan peliharaannya menghentikan langkah sejenak. Aura itu di rasa hanya sesaat, setelahnya kembali menghilang.


Melempar pandangan di sisi ruangan sejenak, lalu berjalan ke depan beberapa langkah. Dia berhenti tepat di sebuah peti mati.


"Sangat tua dan berdebu!" Zhang Ziyi meniup debu-debu yang memenuhi tutup atas peti mati.


Tidak sengaja pandangannya menangkap sebuah tulisan yang terletak di sisi peti itu. Dia lantas membersihkan sisa-sisa debu yang menempeli tulisan, lalu membaca tulisan tersebut.

__ADS_1


"Suatu Pengorbanan Akan Membawamu Pada Langkah Selanjutnya!"


__ADS_2