
Zhang Ziyi serta yang lainnya kembali ke markas. Membawa serta pasukan Kerajaan Phoenix Es. Hei An pun ikut, namun tidak dengan pasukan Kekaisaran Kegelapan.
Dengan menggunakan portal dimensi, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai.
Mereka langsung di sambut oleh Zhang Zhili serta para pemimpin bawahan.
"Hormat kepada Pemimpin!" ucap bawahan Zhang Ziyi secara bersamaan.
Berjalan melewati mereka. Sepanjang jalan, Tak henti Raja Shui melihat-lihat kanan dan kiri. Takjub dengan markas Huangjin. Begitupun juga dengan anggota Kerajaan Phoenix Es yang lain.
Zhang Ziyi, membawa Raja Shui ke markas utama. Pun juga dengan rekan-rekan serta ibu dari Shui Bing dan Shui Shan.
"Melihat kondisi Kerajaan Phoenix Es saat ini, Yang Mulia bisa tinggal di sini untuk beberapa waktu. Mengenai kerajaan Phoenix Es, aku akan menyuruh bawahan–ku untuk memperbaikinya!" ucap Zhang Ziyi.
Mendengar itu, Raja Shui hendak memberikan hormat. Namun segera di cegah oleh Zhang Ziyi.
"Terima kasih, Nak! Mungkin kalau kau tidak ada, Kerajaan Phoenix Es akan hancur seutuhnya," ucap Raja Shui.
Memasang senyum tulus, Zhang Ziyi lalu menjawab, "Kerajaan Phoenix Es adalah bagian dari kelompok Huangjin, sehingga yang menjadi masalah bagi kalian, itu sudah menjadi tanggung jawab kami dalam menanganinya... Mungkin butuh waktu sekitar dua sampai tiga hari, baru kerajaan Phoenix Es akan kembali utuh."
Raja Shui mengangguk. Memang dia sudah mengakui bahwa Kelompok Huangjin saat ini telah menjadi atasannya.
"Oh ya, jangan panggil aku yang Mulia, sebab kau adalah atasanku sekarang. Kalau berkenaan, bisa memanggilku dengan sebutan Saudara!" ucap Raja Shui yang tidak merasa tidak enak kala di panggil yang mulia oleh atasannya sendiri.
"Hmm, aku akan memanggilmu ayah saja. Sebab dalam waktu dekat, aku berencana akan menikahi putri mu!"
Mendengar itu, Raja Shui sedikit tersentak. Namun sejenak dia menyunggingkan senyuman.
"Siapa yang tidak ingin punya menantu hebat seperti Nak Ziyi. Baiklah ... kalau bisa pernikahan itu dilangsungkan besok. Sebab semakin cepat semakin baik," Raja Shui berkata yakin.
Zhang Ziyi mengernyit.
"Baiklah... Besok aku akan menikahinya."
Rekan-rekan Zhang Ziyi yang mendengar penuturan Zhang Ziyi, tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Mereka juga ikut bahagia , bahkan Zhang Lan sampai menggoda Shui Bing yang tampak malu-malu.
"Kalau bisa di lakukan, mengapa tidak?" Raja Shui juga ikut tersenyum.
Di sisi lain, wajah Hei An memburuk mendengar pernyataan Zhang Ziyi tadi. Dia lantas pergi dari sana.
Zhang Ziyi sendiri bukannya tidak menyadari kepergian Hei An. Namun dia membiarkannya.
***
__ADS_1
"Sial–Sialnya ku bertemu dengan cinta semu. Mengapa kakak Ziyi begitu terburu-buru untuk menikahinya, tanpa menunggu ku!"
Hei An tampak kesal. Dia membanting tangannya di udara. Meski tidak ada niatan untuk melepaskan kekuatan, namun nyatanya kekuatan itu terlepas dengan sendirinya.
Tornado gelap tercipta, berkekuatan besar hingga menerbangkan pohon-pohon yang ada di sekitaran situ.
Siluman-siluman yang semula berhabitat di sana melarikan diri, mencari perlindungan. Namun ada beberapa diantara yang terbawa oleh tornado itu.
"Apakah cemburu mu sangat besar, sehingga menghancurkan Hutan Binatang Langit ini?"
Hei An tersentak kala mendengar suara yang sangat dia kenali itu.
"E–eh... Siapa bilang aku cemburu!" jawab Hei An cepat.
Zhang Ziyi memasang seringai kecil.
"Aku juga akan menikahi–mu secepatnya. Namun aku perlu menemui ibumu, untuk meminta restu." Memeluk pinggang Hei An dari belakang, dan mencium rambutnya.
"Kapan?" tanya Hei An yang tidak sabaran.
"Secepatnya ... Mungkin selepas aku menikahi Bing'er."
Pernyataan itu membuat Hei An kembali merasa kesal. Namun seenak, dia mencoba untuk mengerti dan tidak egois.
"Aku berjanji, Dewiku."
Hei An membalikan badannya. Setelahnya langsung menciumi pipi Zhang Ziyi.
"Ini sebagai jaminannya!"
"Hmm..."
Zhang Ziyi hendak membalas, mencium bibir ranum Hei An.
"Heeh... Jangan menciumku. Kita belum halal . Tunggu sampai kakak menikahiku, baru aku akan mengizinkannya."
Hei An keluar dari pelukan Zhang Ziyi, lalu terbang dan menghilang.
"Heeh, gadis ini.... Ehhh halal itu apa?" pikir Zhang Ziyi.
"Hiissh, Wanita memang sangat sulit untuk di mengerti!" Menggeleng kepala, lalu dia beranjak pergi dari sana.
***
__ADS_1
Whush!
Whush!
....
Dua orang muncul, langsung mengambil posisi berlutut.
"Salam Yang Mulia!" Kedua orang itu sama-sama memberi salam.
"Bagaimana kabar kalian? Apakah berhasil mengambil alih Kerajaan Phoenix Es?" Suara menggema nan berwibawa itu, terdengar keluar dari mulut seorang Pria yang tengah duduk di atas singgasana kebesarannya.
Kedua orang itu belum langsung menjawab. Saling berpandangan dengan tubuh menahan gemetar. Keringat dingin pun juga telah mengalir di pelipisnya.
"E–eh... Ma—!" Baru juga salah satu orang itu mengeluarkan suara hendak menjelaskan, terlebih dahulu dirinya di tekan oleh Aura hebat. Begitupun juga dengan teman di sebelahnya.
"Hmm ... Sudah ku katakan, tidak ingin aku mendengar kabar buruk..." Pria yang berada di singgasana itu tak melirik keduanya. Namun tekanan yang dia berikan pada dua orang itu tidak menghilang sedikitpun.
Kode kecil dia berikan pada seekor burung Phoenix Api, yang berdiri di sisi kirinya.
Burung itu mengangguk, lalu terbang dengan mengeluarkan energi api yang sangat besar. Dia berniat menyerang dan menghabisi kedua orang itu.
Dua orang yang tengah berlutut, merasa khawatir yang teramat sangat. Percaya dan yakin, nyawa mereka telah berada di ujung tanduk. Tau betul bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka hari ini, selain dengan keajaiban.
Tinggal lima inci kuku tajam Burung Phoenix Api menyentuh kedua orang itu, namun segera berhenti begitu saja.
Du orang yang tadinya merasa pasrah, kini muncul kembali harapan, membuat mereka bernapas lega.
"Melihat kalian yang masih berani menunjukkan muka setelah kekalahan kalian, aku pikir kalian membawa serta berita penting untuk ku!" ucap kembali pria itu. Dia adalah Kaisar Langit.
"Be–benar, Yang Mulia... Pemuda yang baru-baru ini muncul dan telah menjadi perbincangan ramai di alam Langit ini, ternyata adalah ... Pu–putra Yang Mulia Kaisar Langit!" salah seorang dari mereka mencoba menjawab, namun dengan terbata.
Sontak saja mendengar hal itu, Kaisar Langit yang semula memasang ekspresi datar, kini alisnya berkerut. Pun juga dengan mata yang melebar.
"Bicara yang seadanya. Apakah bukankah waktu itu, Jenderal ketiga telah membunuhnya?" Terkandung rasa penasaran, khawatir sekaligus emosi dari intonasi yang di keluarkan oleh Kaisar Langit.
"Entahlah Yang Mulia, namun kami begitu yakin bahwa di memang putra Yang Mulia Kaisar Langit."
Kaisar Langit tidak menjawab, dia sibuk dengan pikirannya. Antara Khawatir dan tidak percaya.
Di sisi lain, Qin Chen diam-diam menguping dari balik pintu. Dia mengepal keras pergelangan tangannya.
"Cih, meski kau masih hidup, aku akan mencari dan membunuhmu dengan tanganku!"
__ADS_1