
Zhang Ziyi berlari dengan kecepatan tinggi menuju ke salah satu tempat di dimensi tersebut, setelah sebelumnya dia merampok harta benda milik tiga murid yang berniat merampok dirinya.
Entah telah beberapa tempat telah ia kunjungi, namun tak kunjung pemuda itu dapatkan sesuatu yang berharga pun.
Waktu kian cepat berlalu, dan 50 peserta nampak telah mendapatkan 50 lencana.
Karena 50 lencana telah di dapat, maka tak ada alasan bagi para peserta untuk tetap di dimensi itu.
Zhang Ziyi yang tengah berlari tiba-tiba merasakan sesuatu di tubuhnya. Mendadak tubuhnya menjadi debu dan tiba-tiba menghilang.
Zhang Ziyi serta para peserta muncul kembali di depan gerbang. Sempat bingung sesaat, namun tak berlangsung lama, mereka telah menyadari bahwa semuanya telah kembali di dunia nyata.
Zhang Ziyi berjalan hendak menuruni tangga. Namun belum sempat dia menginjak anak tangga, suara yang begitu dia kenali telah lebih dulu menghentikan langkahnya.
"Saudara Ziyi!"
Zhang Ziyi menoleh ke belakang. Dapat dia lihat Zhang Lan yang tengah berjalan cepat kearahnya.
"Apakah kau lolos?" tanya Zhang Lan tanpa basa-basi.
Zhang Ziyi mengangguk. "Kau sendiri?" tanya balik Zhang Ziyi.
"Bagaimana mungkin lelaki sekuat diriku ini tidak bisa lolos dalam ujian yang begitu mudah ini?" Zhang Lan berkata dengan angkuh.
"Cih... belaga!" Zhang Ziyi berkata tanpa menoleh. Pemuda itu kembali melanjutkan langkah. Tentu saja Zhang Lan juga mengikutinya dari belakang.
83 peserta kembali berbaris. Seorang wanita yang sebelumnya memberikan arahan kepada para murid klan cabang kembali berdiri di pertengahan anak tangga.
"Kalian telah menyelesaikan ujian kedua ... atau tahap akhir dari seleksi untuk menjadi murid klan utama.... Selamat untuk kalian yang telah mendapatkan lencana klan utama. Sedang kalian yang tidak mendapat lencana, silahkan bereskan barang-barang kalian dan meninggalkan klan utama."
Para peserta yang tidak lolos, menampakkan wajah kesal. Tidak sedikit pula yang mengoceh. Meski begitu, mereka tidak bisa berbuat banyak. Dengan hati berat, mereka meninggalkan tempat itu.
Dari 83 peserta, kini tinggal 50 peserta yang masih berdiri di tempat. Selain itu, semuanya memisahkan diri dengan hati kacau.
Setelah peserta yang tereliminasi pergi semuanya, wanita murid inti klan utama tersebut kembali berucap.
__ADS_1
"Kalian, para kontestan yang berhasil menyelesaikan dua ujian menjadi Murid Utama, silahkan kembali ke kediaman kalian! Lalu beristirahatlah... Besok adalah hari pengangkatan kalian menjadi Murid Klan utama Zhang..."
"Baik...." ucap semuanya serempak.
Zhang Ziyi serta Zhang Lan berbalik dan hendak kembali ke kamar.
Sementara itu Zhang Lou yang melihat Zhang Ziyi berdiri diantara jejeran murid-murid yang berhasil lolos sedikit tertegun. Kemudian pemuda itu mendekati Zhang Ziyi.
"Waah, saudara Ziyi, aku tak menyangka kau bisa menyelesaikan ujian itu! Selamat Yah...!" ucap Zhang Lou dengan ekspresi yang dibuat-buat.
Zhang Ziyi merasa muak melihat raut wajah Zhang Lou itu. Ia pun mengajak Zhang Lan untuk mempercepat langkah, meninggalkan Zhang Lou.
"Eeh, sepupu Ziyi! Kenapa kau begitu terburu-buru seperti itu?" Zhang Lou bergerak cepat mendekati Zhang Ziyi serta Zhang Lan.
Menghentikan langkah sejenak, Zhang Ziyi menatap Zhang Lou di belakangnya.
"Menjauh atau mati!" Perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Zhang Ziyi. Bahkan dengan tatapan mata yang begitu tajam itu sukses membuat Zhang Lou merinding.
"Saudara Ziyi, kenapa kau begitu berangasan sekarang?" Zhang Lou mencoba untuk membujuk Zhang Ziyi.
Mendengar itu, Zhang Ziyi malah semakin darah tinggi. Sebenarnya dia tidak ingin untuk menonjok pemuda ini. Dikarenakan dia adalah sepupunya sendiri. Juga di sini terlalu banyak orang. Namun tingkah Zhang Lou yang seolah-olah memancingnya untuk menonjok pemuda ini.
Satu tinju telak langsung melayang di perut Zhang Lou. Bahkan sangking kerasnya, tubuh Zhang Lou sampai dibuat termundur dan berakhir dengan jatuh terduduk.
"Aduhh!" rengek Zhang Lou. "Zhang Ziyi, apa yang kau lakukan?" berang Zhang Lou seraya memegangi perut.
Zhang Ziyi tak menanggapi, ia lebih memilih berlalu dari sana.
Zhang Lou sendiri yang melihat Zhang Ziyi yang pergi begitu saja merasa geram. Memanggil-manggil nama pemuda itu pun sia-sia belaka. Zhang Ziyi terus saja berjalan tanpa mempedulikan dirinya. Bahkan banyaknya orang-orang di situ yang berbisik-bisik membicarakan dirinya. Membuat bertambah malulah Zhang Lou.
"Tch, anak ini... Awas saja, tak akan ku lepas dia!" gumam Zhang Lou, setelahnya berlaku dari sana.
***
Besoknya, Zhang Ziyi serta 50 peserta yang lolos seleksi murid utama berkumpul di aula, dimana di sana terdapat banyak sekali orang-orang yang hadir menyaksikan pengangkatan murid klan cabang untuk menjadi murid klan utama.
__ADS_1
Di sana telah hadir begitu banyak penatua Klan. Para murid inti klan utama pun saat ini berdiri di berbagai sisi berbeda. Sementara keberadaan para penatua duduk di lantai dua sebuah bangunan memanjang mengelilingi aula.
"Selamat datang dan Selamat bergabung di klan utama...!" Kepala klan utama Zhang membuka suara. Intonasi santai, namun bisa di dengar jelas oleh semua orang yang ada di aula.
"Karena kalian telah menyelesaikan seleksi kedua murid klan utama, maka Saat ini, dan detik ini juga, kalian telah resmi menjadi anggota klan utama Zhang."
Sontak semua yang hadir di sana bersorak-sorai. Ada juga yang bersiul keras, menambah suasana ramai di aula tersebut.
Setelah semuanya kembali tenang, kepala klan Zhang mulai kembali mengangkat bicara.
"Hari ini, untuk anggota baru klan utama, kalian akan di hadapkan pada pemilihan murid oleh master klan utama ini. Siapapun master yang memilih kalian, maka master itu pulalah yang akan menjadi guru kalian!" jelas Kepala klan uta Zhang.
"Untuk mempersingkat waktu... kepada para master, silahkan memilih murid anda."
Tepat setelah kepala klan menyelesaikan ucapannya, satu per satu master mulai turun dan memilih murid mereka. Zhang Lou sendiri di angkat sebagai murid oleh seorang master yang notabenenya adalah master terkuat ketujuh diantara jajaran master di klan utama ini. Sempat Zhang Lou meledek Zhang Ziyi karena pemuda itu sampai sekarang belum menemukan seorang master pun.
"Oi, sepupu Ziyi... kenapa sampai saat ini tidak ada seorang master pun yang mengangkat mu sebagai murid? apakah karena kau kurang berpotensi?? Lihatlah diriku, seorang master peringkat ketujuh terkuat sendiri yang mengangkat diriku sebagai muridnya!!" Zhang Lou berkata sembari membusungkan dada.
Zhang Ziyi sendiri tak menanggapinya. Pemuda itu masih dengan santainya berdiri, sembari menengok pada satu arah.
Zhang Lou yang terus menerus meledek Zhang Ziyi akhirnya dibuat bungkam kala seorang master dengan peringkat dua terkuat diantara jajaran master di klan utama Zhang ini mendatanginya.
"Aku perhatikan di ujian pertama dan kedua ini, hanya kau yang paling mudah dalam menyelesaikan setiap lika-liku ujian... Maukah kau menjadi murid–ku?" Master dengan peringkat kedua itu langsung menawarkan Zhang Ziyi untuk menjadi murid-nya. Tentu saja hal itu membuat banyak tatapan tak percaya serta iri dari peserta lain. Siapa yang tak mau di ajari oleh seorang master kuat?
Zhang Ziyi menoleh ke arah master tersebut sesaat. Lalu pemuda itu mulai menjawab. "Mohon maaf master... Bukannya aku meremehkan master, akan tetapi junior telah memilih guru junior di klan utama ini!" Zhang Ziyi berkata dengan sopan. Sembari berkata, Zhang Ziyi juga membungkukkan badan.
Kontan saja, jawaban dari Zhang Ziyi itu membuat heboh satu aula. Banyak orang yang menyindir Zhang Ziyi. Mengatakan bahwa Zhang Ziyi ini telah lancang menolak mentah-mentah seorang master terkuat kedua.
Master yang menawarkan Zhang Ziyi sendiri hanya bisa terdiam. Sebenarnya dia sendiri juga merasa tersinggung. Sebab tidak ada sebelumnya orang yang berani menolaknya seperti yang dilakukan Zhang Ziyi barusan. Bahkan hampir semua yang ia mau akan terlaksana. Namun kali ini, bahkan di depan banyak orang, pemuda ini menolaknya begitu saja. Seketika harga dirinya sebagai seorang terkuat kedua diantara jajaran master yang ada di klan utama jatuh.
Meski begitu, dia masih bisa memperlihatkan raut wajah tenang. Seolah-olah dia tidak mempermasalahkannya.
"Kalau boleh tahu, siapa master yang kau pilih untuk menjadi gurumu?"
Zhang Ziyi memasang sunggingan kecil. Tangan kanannya terangkat dan menunjuk seorang lelaki yang saat ini berdiri di bangunan tingkat dua.
__ADS_1
"Dia!"
Kontan, semuanya langsung mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Zhang Ziyi.