Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 96 ~ Tekanan


__ADS_3

Zhang Bie serta yang lainnya bertarung melawan tujuh orang dengan kultivasi ranah 4. Tampaknya mereka telah mendominasi jalannya pertarungan. Bahkan ketiga orang dengan kultivasi ranah Dewa tahap 5 itu juga saat ini telah turun tangan.


Dua orang kultivator dari ketujuh orang yang memiliki kultivasi ranah Dewa tahap 4 kini telah tewas. Tersisa 5 orang dengan kultivasi ranah Dewa tahap 4 dan 3 orang dengan kultivasi ranah Dewa tahap 5.


Zhang Zhili sendiri saat ini tengah menghadapi tiga orang kultivator ranah Dewa tahap 5 sendirian, sementara anak muridnya bersama Laohu kembali mendapatkan satu orang lawan kultivator ranah Dewa tahap 4.


Zhang Yin melibaskan pedang ke arah pria bertopeng dari arah samping, menargetkan lehernya. Namun refleks pria itu cukup cekat. Dia langsung berbalik dan menepis pedang Zhang Yin.


Tak hanya itu, dia juga membalas menebas Zhang Yin dengan sangat keras. Beruntung gadis itu memiliki kecepatan gerak yang terbilang luar biasa, sehingga dia bisa menghindar dengan mudah.


Sialnya, dia menghindar di tempat yang salah. Hingga satu kali hunjaman pedang, langsung menusuk perutnya dari belakang, hingga tembus ke depan perutnya.


Terbelalak mata Zhang Yin. Pandangannya turun ke bawah dan melihat pedang dari lelaki itu yang kini telah meneteskan darah segar miliknya.


Sementara itu, Zhang Meng yang melihat Zhang Yin tertusuk lantas meneriaki nama gadis itu. Tampaknya dia begitu marah kala melihat gadis yang begitu dia dambakan harus meninggal saat ini juga.


Hendak mendatangi lelaki bertopeng hantu yang menusuk Zhang Yin tadi, namun dia di sibukkan oleh lawannya saat ini.


"Sialan! Kau harus membayarnya!"


Dengan di bantu oleh emosi yang kian meninggi, Zhang Meng semakin mempercepat laju pedangnya. Semakin agresif dan gencar dalam menghadapi lawannya. Hingga dalam waktu singkat, tempo pertarungan yang semula seimbang, kini malah berganti menjadi Zhang Meng yang mendominasi.


"Hahaha! Sayang sekali gadis cantik! Kau harus mati sia-sia di tanganku. Ini juga salahmu karena terlalu agresif dan nakal dalam menyerang ku, sehingga aku terpaksa harus mengambil tindakan ini!" ucap lelaki bertopeng hantu yang membunuh Zhang Yin. "Kalau saja kau menurut dan kita bermain di atas ranjang. Mungkin aku tidak akan marah jikalau kau berbuat seagresif dan juga nakal dalam menyerang ku seperti tadi!" ucapnya kembali sambil membayangkan dia bersama Zhang Yin bermain di ranjang.


"Simpan pikiran kotor–mu itu di neraka, pria sialan!"


Slash!


Kepala pria itu tiba-tiba terpotong dan menggelinding ke bawah. Matanya masih terbuka lebar meski kepalanya telah terpisah dengan tubuhnya. Sorot mata itu, mengisyaratkan bahwa dirinya bingung plus tak percaya, dirinya telah meninggal dengan tiba-tiba tanpa tahu siapa yang telah membunuhnya.


Mungkin dia ini akan menjadi arwah penasaran dan bergentayangan ke sana ke mari mencari alamat pulang.


Di sisi lain, tubuh Zhang Yin yang mendapat tusukan itu, mendadak berubah menjadi air yang berjatuhan di tanah. Lalu kemudian terhisap oleh tanah.


Sementara tubuh pria tanpa kepala itu kini mulai tumbang. Memperlihatkan sosok gadis cantik dengan wajah datar sekaligus dingin, yang memandang jijik sekaligus penuh kebencian terhadap lelaki yang barusan ia potong.


Bukan jijik karena melihat darah, melainkan jijik karena mendengar perkataan lelaki itu sebelumnya.


Masih tak terima, Zhang Yin lantas membekukan tubuh laki-laki itu. Setelahnya menghancurkannya menjadi debu-debu es. Tak membiarkan setetes darah pun tersisa.


Di sisi lain, Zhang Meng juga telah berhasil membunuh lawannya. Hendak ke arah pria yang membunuh Zhang Yin barusan, namun langsung mengurungkan niatnya kala melihat gadis yang dikiranya telah mati, kini berdiri dengan keadaan sehat. Menatapnya dengan tatapan sinis, lalu gadis itu beralih dan membantu Zhang Zhili melawan kultivator ranah Dewa tahap 5.


Memang sebelumnya Zhang Yin menggunakan teknik duplikat tubuh air, untuk mengelabui lawannya. Setelah lawannya masuk dalam perangkap, dia kemudian mengambil kesempatan dan membunuh lawan secara diam-diam.


***

__ADS_1


Zhang Ziyi mencoba untuk menyerap energi alam yang begitu pekat itu. Tekanan yang begitu berat membuat dia sedikit kesusahan dalam menyerap energi di dalam ruangan tersebut, merubahnya menjadi energi Qi.


Namun Zhang Ziyi tetap memaksakannya. Benar saja. Beberapa saat menyerap, Zhang Ziyi yang tadinya sedikit kesusahan, kini malah berubah nyaman. Membuatnya terbuai dan ingin terus berkultivasi.


Beberapa saat, Zhang Ziyi merasakan lonjakan enegi di tubuhnya. Lautan Qi–nya dengan cepat terisi.


Hingga dalam beberapa waktu, Dia telah berhasil menerobos ke ranah Selanjutnya.


Tak berhenti sampai di situ, Zhang Ziyi tetap tak menghentikan aksi menyerap energi yang ada di tempat itu. Energi alam yang begitu murni dan pekat, membuatnya cepat dalam hal meningkatkan kultivasinya.


Dua jam berlalu, kini Zhang Ziyi telah kembali berhasil menerobos.


Menerobos dan menerobos. Entah sudah berapa tahapan telah dia lewati.


Meski begitu, dalam satu tahap ke tahapan yang dia lewati, memiliki perbedaan durasi waktu untuk menerobos ke tahap selanjutnya. Misal, Zhang Ziyi membutuhkan waktu dua jam dalam menerobos ke ranah Surgawi tahap 2. Maka dia membutuhkan waktu empat jam untuk menerobos ke ranah selanjutnya. Begitu pun seterusnya.


Duarr!!


....


Duarr!!


....


Duarr!!


....


Zhang Ziyi membuka kedua matanya.


"Aneh, mengapa tak ada tanda-tanda akan menerobos ke ranah selanjutnya. Padahal aku sudah mencapai puncak ranah Surgawi," gumam Zhang Ziyi.


Memilih untuk kembali berkultivasi. Satu jam terlewat begitu saja, namun tetap tak ada tanda-tanda akan menerobos dinding ke ranah selanjutnya.


Dia tetap tak peduli dan tetap melanjutkan untuk berkultivasi agar menerobos ke ranah selanjutnya.


Dua jam kembali berlalu, karena tak ada tanda-tanda akan menerobos, Zhang Ziyi pun memilih untuk berhenti.


"Mungkin untuk menerobos ke ranah selanjutnya, harus melewati atau memenuhi beberapa syarat. Makanya di dataran tengah ini tidak ada yang berhasil menerobos ke ranah di atas Ranah Surgawi," gumam Zhang Ziyi.


Dia memilih untuk mengesampingkan masalah menerobos. Yang perlu ia fokuskan sekarang adalah tiga buah benda yang di lapisi oleh energi dengan warna berbeda itu.


Bangkit dari posisi bersila. Beban yang sebelumnya menekannya, kini tak dia rasakan lagi. Dia tampak begitu santai sekarang.


Zhang Ziyi berjalan ke arah tiga benda tersebut yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatnya.

__ADS_1


Berjalan hingga tiga meter, Zhang Ziyi kembali merasakan beban berat bertambah dua kali lipat dari beban sebelumnya. Dia yang mengira tekanan tersebut telah berhasil ia atasi dan tidak siap pun sampai dibuat berlutut.


"Sial! Kenapa tekanan ini bertambah hingga dua kali lipat dari sebelumnya?" gumam Zhang Ziyi.


Meski begitu dia masih bisa berdiri dan berjalan normal. Meski kini jalannya agak melambat, namun paling tidak dia masih bisa sampai di tempat tiga benda itu.


Enam meter dari tempatnya berkultivasi tadi, Zhang Ziyi kembali merasakan tekanan yang tiga kali lipat dari sebelumnya. Zhang Ziyi yang memang sudah susah, kini malah bertambah susah lagi kala merasakan beban tersebut.


Kini dia di paksa untuk berlutut kembali. Berusaha untuk bangkit, namun baru saja setengah berdiri, dia malah kembali dibuat berlutut.


"Aku mengerti sekarang. Setiap tiga meter, maka tekanan ini juga akan bertambah satu kali lipat dari tekanan sebelumnya!" gumam Zhang Ziyi kala menyadari sesuatu.


Mencoba untuk membiasakan diri dengan tekanan itu. Juga selain itu, dia mencoba untuk menyerap energi yang ada di tempat itu dan merubahnya menjadi energi Qi.


Satu jam Ia menyerap energi tersebut, Zhang Ziyi berhenti dan memilih untuk mencoba berdiri. Kini dia mulai terbiasa dengan tekanan di meter ke enam.


Berjalan. Sebelum menginjakkan kaki pada meter ke sembilan, terlebih dahulu Zhang Ziyi mengaliri dengan energi Qi pada kakinya, guna bisa menopang tubuhnya saat tekanan berat kembali menyapanya.


Benar saja, tepat setelah melangkah di meter ke sembilan, tekanan besar kembali menyapanya. Berusaha menahan, Zhang Ziyi akhirnya berhasil berdiri dengan mengandalkan kaki yang di aliri energi Qi. Tidak hanya di kaki, bahkan di seluruh badannya ia aliri dengan energi Qi.


Namun baru saja dua langkah, lutut yang dari tadi tidak berhenti bergetar itu malah tidak kuasa untuk menahan beban, dan berakhir dengan ambruk lagi.


"Sial! Sebenarnya siapa yang menciptakan tekanan besar ini?" geram Zhang Ziyi yang mulai naik emosinya. "Bahkan aku yang berada di puncak ranah Surgawi pun masih tidak dapat menahannya!"


Kesal. Zhang Ziyi mengulur waktu hingga satu jam. Dan setelah terbiasa, dia pun lantas kembali berdiri. Beruntung dia kini mulai terbiasa dengan tekanan tersebut.


Kini tinggal satu meter sebelum Zhang Ziyi bisa mencapai ketiga benda tersebut.


Menarik napas sejenak sebelum melangkahkan kakinya. Zhang Ziyi mempersiapkan diri untuk menginjak tekanan ke sepuluh. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, intinya dia harus siap. Baik siap secara fisik, maupun mental.


Hal yang sangat tidak Zhang Ziyi sangka terjadi begitu saja. Tekanan pada meter ke sepuluh ini lebih-lebih lagi dari meter ke sembilan. Bahkan baru saja ia melangkah, dirinya malah langsung di sambut oleh tekanan yang teramat besar menekannya, membuatnya di paksa untuk berlutut untuk kesekian kalinya.


Berbeda dari sebelumnya, Zhang Ziyi kali ini merasa pada tekanan terkahir ini lebih menyiksa. Bahkan lengan serta tubuhnya di buat bergetar hebat. Setelan yang ia kenakan kali ini telah basah oleh keringatnya sendiri.


"Oek!"


Seteguk darah segar, berhasil lolos dari mulutnya.


Di sisi lain, dua orang yang tengah memperhatikan Zhang Ziyi dari kejauhan memulai kembali diskusinya tentang anak itu.


"Menurut mu, apakah anak itu akan berhasil menyelesaikan tantangan terakhir tekanan itu?" tanya Dewa Api kepada Dewa Gou Liang.


"Entahlah. Melihat kondisinya saat ini, aku tidak terlalu berharap banyak. Di usia yang terbilang muda, dan bisa melewati tekan hingga meter ke sembilan dengan cepat, yang bahkan seorang kultivator Ranah Dewa Surgawi pun tak mungkin bisa melakukan seperti apa yang dilakukan anak itu., sudah terbilang bagus.... Namun entah mengapa hati kecil ku masih menaruh harapan terhadapnya!" ucap Dewa Gou Liang, membalas pertanyaan dari Dewa Api.


"Ya, kau benar. Aku yakin dia pasti bisa melewati tekanan terakhir ini."

__ADS_1


__ADS_2