
Di tengah gelapnya malam, seorang pria saat ini tengah mempercepat laju langkahnya. Menyusuri setiap lorong lalu kemudian berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Dua orang mayat tergeletak di tanah. Segera ia memeriksa kedua orang itu.
"Mereka mati dengan kondisi yang serupa!" Gumam pria tersebut yang tidak lain adalah Zhang Zhili.
Terhitung, sudah sepuluh mayat yang dia temukan, namun semua mayat yang ditemukannya memiliki keadaan yang sama.
Tanpa terlalu banyak membuang-buang waktu, Zhang Zhili kembali melanjutkan perjalanannya. Namun kali ini pria itu semakin mempercepat laju langkahnya. Dia berinsiatif untuk mencari Zhang Ziyi dengan berjalan kaki, dengan mengandalkan anggota cabang klan Zhang yang di bunuh Zhang Ziyi yang tergeletak di tanah itu sebagi penunjuk jalan.
Berjalan hingga beberapa waktu, Zhang Zhili mulai mendengar suara teriakan menyayat hati dari beberapa orang. Juga suara dentingan pedang yang saling beradu. Tanpa pikir panjang, Zhang Zhili langsung bergegas ke arah suara tersebut.
"Sudah ku duga akan seperti ini endingnya." Zhang Zhili melihat di salah satu arah. Zhang Ziyi di sana tengah di kerubuti oleh banyaknya anggota klan cabang. Meski begitu, terlihat tak sedikitpun Zhang Ziyi kesusahan dalam meladeni mereka.
Pasalnya anggota klan cabang ini kebanyakan memiliki kultivasi di Ranah Pendekar. Kalaupun di tingkatan Langit, pastinya hanya beberapa penatua saja yang mencapainya. Itupun tidak lebih dari Ranah Langit tahap 3.
Sementara Zhang Ziyi sendiri, meski kultivasinya masih di Ranah Pendekar, namun dia tetap unggul dalam berhadapan dengan kultivator ranah langit. Hal itu lah yang menjadi alasan mengapa Zhang Ziyi tidak kesulitan sedikitpun dalam meladeni mereka. Apalagi para anggota Klan cabang yang menyerangnya ini hampir semuanya berada di ranah pendekar.
Zhang Zhili memperhatikan Zhang Ziyi yang tanpa kesusahan sedikit pun dalam membunuh dua sampai tiga orang dalam sekali layangan pedang.
Kedua skill yang telah diaktifkan, juga amarah yang kian meluap, membuat serangan Zhang Ziyi kian mengganas. Anggota klan cabang sendiri sampai dibuat tak bisa berbuat apa-apa. Maju menyerang pun tidak berbeda dengan maju meminta kematian.
Melihat pemuda itu yang kian mengganas dan tanpa terkendali, beberapa penatua klan Cabang yang kultivasinya di ranah langit lantas maju dan diikuti oleh para anggota klan utama yang ada di klan Zhang cabang di kota bintang itu.
Murid-murid klan cabang di suruh untuk mundur dan berganti para penatua serta beberapa orang anggota klan utama itu yang maju menggantikan murid-murid untuk bertarung melawan Zhang Ziyi.
Di sisi lain, Zhang Zhili yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan mulai mengernyit kala melihat beberapa anggota klan utama itu. Dia mengenali mereka sebagai anggota klan yang bertugas untuk mengantar pesan.
"Pantas saja, mereka bisa mengeksekusi kepala klan Zhang Cabang di kota Bintang ini begitu cepat sebelum kami sampai, ternyata ada para pengintai dari klan utama di sini," gumam Zhang Zhili.
Beberapa orang yang dimaksud Zhang Zhili adalah, anggota yang memang memiliki tugas menyampaikan pesan kepala klan. Selain itu, mereka juga bertugas sebagai pengintai.
Kecepatan dalam mengumpulkan informasi, juga menyampaikan informasi dari klan utama kepada klan-klan lain begitu luar biasa. Sehingga tidak heran mereka bisa sampai di klan Zhang cabang ini lebih dulu dibanding kelompok Zhang Zhili serta yang lainnya.
-
Dengan bergabungnya para penatua serta para pengintai tersebut, Zhang Ziyi mulai berhasil dibuat tersudutkan. Bagaimana tidak, anggota pengintai memiliki kultivasi rata-rata di ranah Langit tahap 5. Jumlahnya sendiri ada sekitar 5 orang yang menyerang Zhang Ziyi ini. Sementara para penatua yang menyerang Zhang Ziyi rata-rata di ranah Langit tahap 1-3.
Ditambah, Zhang Ziyi yang saat itu menyerang dengan kepala panas, sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di benak Zhang Ziyi adalah membunuh dan membalas dendam. Sehingga serangannya kian asal-asalan tanpa perhitungan terlebih dahulu.
__ADS_1
Bertarung beberapa saat, Zhang Ziyi semakin tersudutkan. Bahkan pemuda itu kini telah menerima luka di beberapa bagian tubuhnya.
Melihat Zhang Ziyi mulai dipaksa bertahan oleh para penatua serta para pengintai, Zhang Zhili tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan pedangnya, memusatkan energi Qi pada pedang lalu ikut bergabung dalam pertarungan.
Zhang Zhili menepis pedang salah satu pengintai yang nyaris mengenai leher Zhang Ziyi.
"Lain kali berhati-hati lah dalam bertindak!" gumam Zhang Zhili mengingatkan Zhang. Ziyi.
"Guru!" Zhang Ziyi tersentak melihat gurunya yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Emosi yang semula susah terkontrol, kini mulai bisa ia kendalikan.
"Kendalikan emosimu, jangan biarkan emosi itu mengendalikan–mu. Kau tidak tahu betapa bahayanya emosi itu jika berhasil mengendalikan dirimu," jelas Zhang Zhili lagi. Setelahnya mulai memainkan pedang dan bertarung dengan beberapa penatua serta para pengintai.
Zhang Ziyi sendiri mulai kembali mengangkat pedang dan ikut bertarung melawan para penatua serta para pengintai. Kali ini serangannya mulai teratur, tidak seperti sebelumnya.
Tak lama setelahnya, Zhang Yin serta Zhang Lan muncul.
"Guru ... Saudara Ziyi!" Zhang Lan serta Zhang Yin kompak memanggil nama Zhang Ziyi serta gurunya. Kedua orang itu kemudian ikut mengangkat pedang dan bergabung dalam pertarungan.
Sempat terjadi pertarungan beberapa saat, hingga pada akhirnya Zhang Zhili memutuskan untuk mundur dan pergi dari sana.
"Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini... Zhang Ziyi, Zhang Yin, Zhang Lan... Segera tinggalkan tempat ini, biar guru yang menahan mereka... Setelahnya guru akan menyusul kalian!"
"Bagaimana bisa begitu?" protes Zhang Lan tidak terima.
"Jangan membantah, pergilah... aku akan menyusul kalian nanti!"
Bukan tanpa alasan Zhang Zhili meminta ketiga muridnya untuk lebih dulu meninggalkan tempat itu, sementara dia akan menahan orang-orang ini. Pasalnya, pria itu memiliki sesuatu rencana.
"Guru, ini masalahku, jadi sebaiknya kalian yang lebih dulu pergi..." ucap Zhang Ziyi sembari menepis pedang salah satu penatua.
"Tidak Zhang Ziyi, kalian pergilah lebih dulu... aku memiliki rencana untuk ini!"
Sempat terjadi perdebatan sesaat, namun karena Zhang Ziyi terus saja memaksa, akhirnya Zhang Zhili memilih untuk menyerah. Namun sebelum pergi, Zhang Zhili, Zhang Lan, serta Zhang Yin mempercepat pola serang, melukai salah satu lawan lalu melesat meninggalkan lokasi pertarungan. Melompat tinggi lalu menghilang di balik gelapnya malam.
Di sisi lain, para penatua tak berniat membiarkan Zhang Zhili serta kedua orang tersebut untuk meninggalkan lokasi pertarungan begitu saja. Berniat mengejar, namun dengan segera menghentikan aksinya kala energi berbentuk bulan sabit melesat dan nyaris mengenai mereka.
"Lawan kalian adalah aku!" gumam Zhang Ziyi.
__ADS_1
"Cih, hanya seorang anak kecil, berani menghentikan kami! ... Kalian! urus anak itu, sementara aku dan dua penatua lainnya akan mengejar mereka!" ucap salah satu
penatua dengan nada sedikit menyindir Zhang Ziyi, lalu berniat kembali melanjutkan mengejar Zhang Zhili serta kedua penatua yang dimaksud.
"Hohoho.... Siapa yang mempersilahkan kalian untuk meninggalkan tempat ini!" sosor Zhang Ziyi.
Zhang Ziyi mengaliri pedang Naga Langit dengan energi Qi, setelahnya melibaskan ke arah ketiga penatua tersebut. Energi putih berbentuk bulan sabit kembali tercipta dan langsung melesat cepat ke arah tiga penatua tersebut.
Kontan saja kedua penatua yang melihat energi yang di lepaskan Zhang Ziyi tersebut langsung menghindar, sementara yang satunya lagi tidak sempat menghindar.
Slash!
Energi tersebut langsung memotong lengan penatu tersebut.
"Kau!" berang pria yang sebelumnya mencibir Zhang Ziyi barusan. Setelahnya pria itu mendekati penatua yang terpotong tangannya tadi.
"Anak kecil, berani sekali kau melukai salah satu penatua klan Zhang... Kau harus membayarnya dengan nyawamu!"
Para penatua serta para pengintai kembali menyerang Zhang Ziyi. Menyerang dengan kombinasi yang begitu teratur layaknya air mengalir. Zhang Ziyi sendiri sampai di paksa bertahan tanpa bisa menyerang. Zhang Ziyi terus bertahan dan bertahan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Zhang Ziyi merasa kian terpojok seperti sebelumnya.
Bahkan pemuda itu kini kembali mendapat luka-luka berat di sekujur tubuhnya.
"Aku harus bertahan sedikit lagi!" batin Zhang Ziyi.
Pemuda itu memaksa untuk bertahan beberapa waktu lagi... Setelah dirasa Zhang Zhili serta yang lainnya telah jauh, Zhang Ziyi memilih untuk segera menghindar dari sana.
Dengan mengaktifkan mode tubuh hantu, Zhang Ziyi mulai menghilang dari sana. Meninggalkan tanda tanya di benak para penatua serta para murid yang sedari tadi menonton pertarungan mereka.
"Kemana perginya anak itu?"
"Entahlah....!"
"Cepat menyebar dan cari dia!"
Baik penatua, para pengintai, maupun murid-murid klan mulai menyebar mencari keberadaan Zhang Ziyi.
Di sisi lain, Zhang Ziyi telah sampai di pintu gerbang keluar klan. Tubuhnya kembali terlihat kala mode tubuh hantu telah selesai durasinya.
__ADS_1
Zhang Ziyi mengeluarkan pil tingkat bumi tersisa. Menoleh ke arah pil tersebut sesaat, lalu pemuda itu bergumam.
"Pil tingkat bumi hanya tinggal satu pil ini, dan sekarang kau harus menelannya...." menghentikan perkataannya sejenak, Zhang Ziyi menghela napas panjang, lalu menghembuskan-nya kasar. "Haiiss, sepertinya setelah ini, aku harus kembali menyuling pil tingkat Bumi...!"