
Malam kedua sebelum peperangan. Zhang Ziyi bersama dengan Zhang Lan, Zhang Meng, Zhang Yin, Zhang Bie, Shui Bing, Shui Shan, Zhang Zhili serta Raja Shui dan Panglima Tempur kembali berkumpul di ruangan sebelumnya mereka gunakan untuk mengatur strategi.
"Mengapa Pemimpin memanggil kami kemari?" tanya Panglima Tempur, tidak mengerti mengapa dirinya di panggil. Sebab setahunya strategi telah selesai di bahas, tinggal menunggu hari esok sebelum melaksanakannya.
"Tolong jelaskaan saat kau bertemu dengan Dewa Kepintaran hingga kamu membawanya kemari," pinta Zhang Ziyi.
"Baik, Pemimpin!"
Panglima Tempur menceritakan pada Zhang Ziyi bagaimana dia bertemu dengan Dewa Kepintaran.
Saat itu, Panglima Tempur diminta Zhang Ziyi untuk mencari ahli strategi terbaik. Kebetulan mempunyai kenalan yang Kepintarannya tidak diragukan, maka Panglima Tempur menemui orang itu.
Mengingat keberadaannya yang lumayan tersembunyi, sehingga tidak banyak yang tau tentang keberadaannya. Mungkin juga termasuk Kaisar Langit sendiri.
Awal mula dia kesana dan menyampaikan maksudnya, Panglima Tempur di tolak mentah-mentah. Bahkan dia sampai di usir dari kediaman Dewa Kepintaran itu.
Panglima Tempur tidak menyerah dan datang kembali keesokan harinya. Mengingat Zhang Ziyi yang tampak begitu menaruh harapan padanya saat itu. Sehingga Panglima Tempur berinsiatif untuk tetap membawa Dewa Kepintaran bersamanya.
Anehnya, tidak seperti sebelumnya, di hari kedua Panglima Tempur datang, Dewa Kepintaran tidak menolak ajakannya. Bahkan tanpa di bujuk dua kali pun Dewa Kepintaran telah mau untuk ikut.
"Maka tanpa pikir panjang, langsung ku bawa dia kesini!" Panglima Tempur mengakhiri ceritanya.
"Baik, terima kasih." Zhang Ziyi mengalihkan perhatiannya pada meja yang berisikan peta.
"Sepertinya ada yang kurang, dari strategi yang Dewa Kepintaran jelaskan kemarin," ucap Zhang Ziyi lagi.
Panglima Tempur serta semuanya ada di sana, kecuali Zhang Zhili merasa heran dengan sikap ditunjukkan Zhang Ziyi yang menurut mereka aneh.
"Mengapa kita tidak menunggu Dewa Kepintaran terlebih dahulu, supaya dia bisa memperbaiki kesalahannya!" ujar Panglima Tempur.
"Dia tidak akan bisa datang, kecuali besok. Waktu di Hutan Binatang Buas telah aku atur lebih cepat dua kali lipat dari luar. Dan juga, kalaupun dia datang, dia juga tidak akan mungkin membantu memperbaiki kekurangan dalam strategi sebab dia bekerjasama dengan Kaisar Langit."
__ADS_1
Perkataan Zhang Ziyi membuat mereka yang hadir di sana, kecuali Zhang Zhili tersentak.
"Bagaimana Pemimpin bisa mengetahuinya?" tanya Panglima Tempur yang masih merasa sedikit tidak percaya.
"Apakah kau tidak merasa ada yang aneh semenjak hari kedua kau menemuinya. Sikapnya berubah sembilan puluh derajat dengan hari pertama. Menandakan bahwa ada pihak lain yang mendorongnya untuk ikut bersamamu." Zhang Zhili yang semula terdiam, kini mengangkat bicara.
Panglima Tempur sendiri memikirkan kembali apa yang di katakan Zhang Zhili barusan.
"Benar, mengapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya? Mengapa aku begitu bodoh?! Pemimpin, maafkan aku yang telah membawa musuh kemari!" Panglima Tempur merutuki tindakannya yang menurutnya bodoh. Seraya berlutut untuk meminta maaf.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Itu karena kau tidak ingin mengecewakanku, sehingga bersikeras membawanya kemari tanpa memikirkan terlebih dahulu akan bagaimana sesuatu itu terjadi." Zhang Zhili membela Panglima Tempur, lalu sejenak pandangannya dia arahkan pada Zhang Ziyi dengan menganggukkan sedikit kepalanya.
Zhang Ziyi sendiri membalas anggukan tersebut. Lalu berjalan perlahan mendekati Panglima Tempur. Menepuk pundaknya lalu berkata.
"Lagipula kau juga telah memberikan kompensasi atas tindakanmu itu. Kaisar Langit akan mengira bahwa mereka telah menang dan telah membaca semua strategi yang akan kita pakai nantinya saat berperang. Atau dalam kata lain, mereka termakan oleh trik yang mereka buat sendiri!" ucap Zhang Ziyi.
Perkataan Zhang Ziyi tadi sedikit menenangkan Panglima Tempur.
"Benar. Tapi, kemarin kak Ziyi juga telah menyebutkan jumlah pasukan kita. Secara otomatis kaisar Langit juga mendapat poin dari situ," ujar Zhang Lan dengan lugunya.
Hantaman keras datang dari tangan Zhang Yin pada kepala Zhang Lan.
"Dasar Dungu. Kemarin kak Ziyi hanya menyebutkan satu per tiga dari jumlah pasukan kita. Serta kekuatan pasukan pun tidak benar sepenuhnya." Zhang Yin menjelaskan dengan malas.
"Haissh, bisakah kau bersikap sedikit lembut padaku!" Zhang Lan juga ikutan kesal.
Tidak ada jawaban, Zhang Yin malah mengacuhkannya begitu saja.
Beralih pada tujuan awal, Zhang Ziyi kemudian mulai mengatur ulang strategi. Kali ini dia dan Zhang Zhili yang mengaturnya.
"Kaisar Langit akan mengirimkan pasukan terlemah lebih dulu, agar nanti kita terkecoh dan saat terpancing, maka mereka akan langsung mengepung pasukan kita. Maka kita harus mengambil tindakan ini..."
__ADS_1
Strategi demi strategi telah berhasil di susun Zhang Ziyi dan Zhang Zhili. Dan semuanya penuh dengan perhitungan. Baik masalah terkecil yang nantinya akan terjadi di Medan perang, Zhang Zhili bahas dengan rinci. Menciptakan strategi baru yang bisa di bilang ampuh dan sangat kuat.
Malam semakin larut, hingga mendekati fajar. Mereka selesai membahas strategi. Semuanya tersenyum puas melihat hasilnya.
"Bersiap-siaplah. Besok kita akan mul berperang!" ujar Zhang Ziyi pada semua orang yang ada di sana.
"Umm!" Semuanya menganggukkan kepala penuh kesiapan.
Di sisi lain, dua orang saat ini tengah mengintai mereka. Namun sialnya, sejauh ini, tidak ada yang bisa dia dengar dari pembicaraan Zhang Ziyi bersama degan rekan-rekannya itu.
"Sial, apa yang mereka bicarakan di dalam sana? Aku yakin kemampuan mendengarkan telah masuk ke tahap lebih tinggi dari sebelumnya. Namun mengapa aku masih tidak bisa mendengar dari jarak sedekat ini," gumam orang yang mengintai tadi.
"Lebih baik aku segera kembali dan melaporkan pertemuan mereka pada Yang Mulia Kaisar Langit!" ujarnya lagi. Setelahnya dia lantas bangkit dan segera beranjak dari sana.
Terbang dengan kecepatan bayangan, namun tiba-tiba saja dunia yang dia rasakan terasa berbeda. Yang semula gelap, kini malah berubah menjadi merah.
Pengintai itu refleks menghentikan laju terbangnya. Malah memperhatikan area sekitar.
"Gawat, aku terjebak!" ucapnya panik.
Mengeluarkan pedang dan berniat menghancurkan alam ilusi itu. Melepaskan kekuatannya yang berada di ranah Suci Semesta tahap 9.
Sayangnya sejauh yang dia coba, itu tetap tidak berpengaruh apapun terhadap alam ilusi.
Mendadak turun setetes air darah dari atas langit. Dia terkejut saat merasakan tetes air darah itu bersifat korosif, sehingga melukai kulitnya.
Tak lama setelahnya, tetesan-tetesan lain kembali datang. Membentuk hujan darah yang membasahi dunia alam ilusi itu.
Pengintai tadi segera menciptakan perisai energi untuk melindungi dirinya dari hujan darah itu.
Namun hujan darah itu bahkan bisa menembus perisai yang dia ciptakan. Tetesan-tetesan hujan melelehkan perisai dan berakhir dengan tubuh pengintai itu.
__ADS_1
Setiap tetes yang menyentuh kulitnya, akan langsung melelehkannya. Hingga tubuh pengintai itu tak terbentuk lagi.
Di sisi lain, Zhang Ziyi memasang senyum kecil. Pengintai yang barusan dia bunuh tadi merupakan seorang yang tidak biasa. Orang banyak menyebutnya dengan sebutan Dewa bayangan, karena kemampuan bersembunyi–nya yang begitu tidak terdeteksi. Namun sayangnya, kali ini dia bertemu dengan orang yang salah, membuatnya kehilangan nyawa dengan tragis.