Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 293 ~ Tunggu Paman.


__ADS_3

Whush...


Whush...


Whush...


....


Lima buah pisau tajam melesat dengan cepat ke arah lelaki dengan penampilan yang acak-acakan yang saat ini tengah tertidur di atas meja.


Melihat lelaki tersebut tidak mengambil tindakan untuk menepis pisau-pisau tersebut mengenainya, Hao Die yang duduk di depannya segera mengambil langkah untuk menepis.


Sringg...


Sringg...


Sringg...


Lima buah pisau menyebar di sembarang arah. Setelah berhasil menepis semua pisau itu, Hao Die langsung menyarung–kan kembali pedangnya.


Tatapan mata tajam Hao Die menatap lurus ke arah datangnya pisau.


Namun tak lama setelahnya datang kembali pisau-pisau yang melesat tajam. Kali ini bukannya lima, melainkan berjumlah tujuh buah.


Hao Die kembali menarik pedangnya dan menepis semua pisau itu. Nyaris saja dia lengah dan pisau itu mengenai lelaki yang masih terbaring itu. Beruntung Hao Die masih sempat menepis sebelum pisau benar-benar mengenai lelaki tadi. Meskipun dia harus dibuat terjatuh karenanya.


Tak lama setelahnya, muncul lima orang mengenakan pakaian hitam, disertai cadar yang menutupi muka mereka.

__ADS_1


Kedatangan mereka membawa serta nafsu membunuh yang kuat membuat ruangan dalam kedai terasa begitu sendat.


Pemilik kedai segers bersembunyi di bawah meja yang tertutup, namun dia akan sekali-kali berdiri mengintip untuk memastikan keadaan. Dalam hati pemilik kedai begitu khawatir akan keselamatan barang-barang dalam kedainya ini.


"Hmm, kau tidak perlu berpura-pura bodoh lagi pria Bodoh... Cepat ikut kami menghadap Pemimpin!" ucap salah satunya terhadap lelaki yang masih terbaring.


Di sisi lain, Hao Die yang mendengar itu malah mengernyitkan alisnya. Bagaimana bisa dia mengatakan lelaki tersebut sedang 'berpura-pura bodoh', sementara dirinya sendiri bahkan menyebutnya bodoh.


Bangkit, Hao Die mengacungkan pedang ke depan. "Apa yang kalian inginkan?" ucapnya dengan berani.


"Cih, hanya seorang bocah kecil yang berlagak sok pahlawan di siang bolong. Lebih baik kau pulang dan tidur. Jangan mencampuri urusan orang dewasa," ujar orang yang sama dengan yang berkata tadi.


"Haissh. Aku adalah murid Sekte Tujuh Pedang. Kami merupakan aliran putih, tentunya Paman tau sendiri bukan apa prinsip kami!" ujar Hao Die berkata dengan intonasi penuh percaya diri.


"Ya, kalian aliran putih memang sama bodohnya. Oh ya, omong-omong jika kau memang merupakan salah satu murid Sekte Tujuh Pedang, seharusnya kau juga mengetahui bahwa Sekte yang kau banggakan itu sudah hancur bukan?"


Hao Die menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu? Sekte Tujuh Pedang merupakan sekte Menengah, tidak ada yang berani mengambil tindakan semborono untuk menghancurkannya." Hao Die mencoba menepis perkataan itu. Sejauh yang dia tahu, sekte Tujuh Pedang cukup disegani oleh kelompok lain, meskipun masih berasa dari sekte menengah. Kecuali ada pergerakan dari beberapa pihak tertentu yang bekerja sama untuk meruntuhkan sekte Tujuh Pedang, namun itu juga sedikit tidak mungkin mengingat sekte yang tidak memiliki masalah akhir-akhir ini.


Dua orang segera bergerak bersama ke arah Hao Die. Terlihat jelas perbedaan kekuatan diantara mereka. Dalam waktu cepat Hou Dia telah dipaksa dalam keadaan terpojok.


Bukk...


Bukk..


Serangan telak terulang kali mendarat di tubuh Hou Die. Lelaki itu meringis, namun dia juga tidak bisa berbuat banyak. Fokusnya langsung hilang seiring dengan serangan yang terus menghujaninya.


Bukk...

__ADS_1


Tubuh Hou Die terlempar, menabrak meja dengan keras hingga membuat meja tersebut hancur. Kembali ringisan terdengar dari mulut lelaki itu.


Setelah selesai dengan membuat Hou Die tak berdaya, dua orang lainya menghampiri lelaki berpenampilan acak-acakan yang masih dalam keadaan tertidur itu.


"Dasar orang gila bau... Mati kau!"


Belum juga serangan mengenai orang yang masih terbaring itu, namun terlebih dahulu mereka malah dibuat terhenti tanpa bisa bergerak.


sesuatu yang sangat besar seperti mengendalikan tubuh mereka. Tentu saja itu membuat dua orang itu bergetar, bukan hanya mereka melainkan juga tiga orang yang ada di belakang mereka.


Tampak pergerakan telah ditimbulkan oleh lelaki berpenampilan acak-acakan itu. Mengangkat kepalanya, saat itulah terlihat wajahnya yang tampan serta memancarkan seri penuh akan keagungan. Tapi itu hanya bisa disadari oleh mereka yang memiliki penglihatan jeli. sementara yang lainnya hanya bisa melihat seorang gembel yang memiliki wajah sedikit tampan.


Dia bangkit dari posisi duduknya, sembari melakukan peregangan tulang. Lalu dia menatap lima orang itu.


"Hanya orang-orang kerdil yang memiliki aura hitam yang pekat. Kalian telah membunuh banyak nyawa," ucap pelan Lelaki itu seraya menggelengkan kepala pelan. Dia mendekati mereka, menyentuh pundak salah satu dari orang itu.


Srimmpp...


Mendadak tubuhnya mejadi debu darah yang berterbangan.


melihat rekan mereka yang mati begitu saja, membuat keempat orang tersisa merasakan takut yang luar biasa. Hendak meminta pengampunan, namun mulut mereka malah terkunci.


Lelaki itu kemudian menyentuh satu per satu mereka, membuat empat orang tersisa juga mejadi debu darah.


Setelah selesai membersihkan mereka, lelaki itu menghela nafas seraya berucap. "Haisshh. ... kekuatan ini masilah belum cukup, aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi. Namun pastinya akan membutuhkan banyak waktu untuk itu!"


Setelah mengatakan itu, dia lantas berjalan keluar dari kedai.

__ADS_1


Sementara itu, Hou Die segera bangkit dan mengejar lelaki itu.


"Tunggu, Paman..."


__ADS_2