
"Hei... Kamu! Melihat dari penampilan mu, seharusnya kau ini adalah seorang yang berasal dari keluarga kaya... Tinggalkan barang-barang mu kemari, dan kau akan selamat!"
Laohu mengehentikan langkah kakinya saat di cegah oleh lima orang yang tampak hendak merampoknya.
Lima orang itu tidak lebih hanyalah sekumpulan orang-orang yang memiliki kultivator ranah Langit tahap 8.
"Cih, meski tak meninggalkan sehelai benang pakaian ku pun tetap aku akan selamat!" ucap Laohu sinis membalas perkataan yang dilontarkan oleh salah satu dari mereka tersebut.
"Hahaha... Dia belum tahu siapa kita!!"
Kelima perampok tersebut saling berpandangan sembari menertawakan Laohu.
"Kau sangat sombong. Tampaknya kematian tidak akan lama lagi menghampiri mu!"
Sring...
Salah satu dari mereka segera menarik pedang dari sarungnya. Dia maju perlahan, mencoba untuk menakut-nakuti Laohu dengan pedang tersebut, sayangnya Laohu justru bergeming.
"Owh, mentalmu ternyata cukup bagus. Baiklah, karena kau sudah cukup mengujiku, maka stok kesabaran ku sudah habis."
Lelaki itu melangkah ke depan, semakin mendekati Laohu. Lalu dia melesat dengan padang yang telah dialiri dengan energi Qi lumayan banyak.
Srmpp...
Pedang mendarat di dada Laohu. Berhasil merobek lain bajunya, tapi pedang tersebut justru tak mampu melukai kulit, bahkan goresan kecil pun tidak ada.
Melihat hal itu, membuat lima orang tersebut sangat-sangat terkejut.
__ADS_1
"Ka–kau... bukan manusia!" salah seorang dari lima orang tersebut berkata dengan tak percaya apa yang barusan terjadi.
"Tentu saja aku bukan manusia!" ucap Laohu jujur.
Mendengar itu, kelima orang yang semula berlagak sok jagoan dan berkuasa tingkat dewa itu langsung ketakutan. Bahkan ketakutan yang menusuk hingga ke tulang.
Langsung saja mereka berlari tak karuan. Berhamburan tanpa arah, bahkan ada yang sempat terjatuh bangun dan lari lagi.
Laohu hanya bisa mengernyitkan kedua alisnya dengan kelakuan kelima orang itu.
"Bukankah aku memang jujur kalau aku bukan manusia melainkan seekor siluman. Lalu mengapa mereka berlari ketakutan seperti baru saja melihat hantu... sangat aneh?" gumam Laohu sejenak. Lalu dia menggeleng kepalanya pelan. Setelahnya melangkah melanjutkan perjalanan.
***
Dalam sebuah kedai, terdapat beberapa orang tengah berkumpul. Mereka tampak mendengarkan seorang yang tengah memberikan cerita.
"Lima pusaka legendaris. Lima pusaka tak tertandingi. Lima pusaka yang di perebutkan oleh banyak kultivator. Rela melakukan berbagai macam jalan untuk mendapatkan salah satu diantara kelima pusaka tersebut...
"Tak menutup kemungkinan juga pemilik pusaka akan tertorehkan namanya diantara jejeran Kultivator terkenal. Bahkan seorang kultivator biasa pun akan menjadi luar biasa dengan memiliki benda itu....
"Konon katanya lima pusaka itu merupakan pusaka milik para dewa penghuni Alam Atas yang tidak sengaja terjatuh ke Alam Tengah. Siapa saja yang memilikinya bisa menjadikan orang-orang itu menjadi seorang dewa...
"Tentu bagaimana tidak ada yang tidak tergiur dengan ini?
"Sayangnya, keserakahan manusia yang melebihi ras manapun membuat mereka rela membunuh kaumnya sendiri demi mendapat kekuatan tersebut...
"Pertumpahan darah yang tak berujung itu, telah terjadi hingga beberapa bulan lamanya. Jumlah populasi yang semula ratus ribu bahkan jutaan individu yang ikut berpartisipasi dalam hal pertumpahan darah itu kian menyusut seiring dengan berjalannya waktu...
__ADS_1
"Tak terhitung, sudah berapa banyak korban berjatuhan akibat sifat serakah. Tak ada yang mau mengalah untuk menyerahkan pusaka ke tangan lawan. Bahkan satu diantara pusaka akan terus berpindah dari tangan ke tangan...
"Daratan luas yang dijadikan sebagai media tempur kini tak ubahnya seperti tanah manusia. Banyaknya mayat yang terus berjatuhan. Entah sudah berapa lama terbaring di tempat itu, hingga cacing serta rayap pemakan daging telah bergerak secara berkelompok untuk memakan daging-daging yang telah membusuk...
"Anehnya, masih orang-orang itu seperti tidak peduli dengan bau bangkai yang menyengat di hidung. Ya. Ambisi untuk memiliki salah satu atau dua dari benda itu terlalu besar, sampai-sampai melupakan hal apa saja yang telah terjadi di sekitarnya...
"Kejadian itu telah terjadi selama ribuan tahun lamanya!" Seorang pencerita itu segera menghentikan kisahnya kala salah seorang dari mereka memotong begitu saja.
"Haiss, kau sudah menceritakan cerita itu belasan kali. Kami sangat bosan!"
"Ya, benar... Lebih baik kita pergi ke kedai lain saja yang lebih seru ceritanya."
"Benar... Kedai sebelah lebih seru, meskipun makanannya tidak seenak di sini, tapi setidaknya kita bisa mendengar cerita yang sama!"
Melihat pelanggannya bangkit satu per satu dan akan keluar, pemilik kedai sekaligus pembawa kisah itu panik. Segera dia menghentikan mereka dan membujuknya.
"Tunggu tuan-Tuan... Aku bisa membawakannya kisah lain yang lebih seru untuk menemani makan dan minum kalian."
"Alah, kau sudah mengatakan itu selama beberapa kali, tapi tetap saja cerita yang kau bawa semuanya sama..."
"Benar, mari kita pergi..."
Para pelanggannya tampaknya benar-benar akan pergi, dan ini membuat lelaki tua itu semakin panik dan khawatir kedainya akan kembali sepi.
Namun saat beberapa orang telah sampai di pintu keluar, mendadak seorang pemuda tampan dengan pakaian rapi dan pedang yang terselip di pinggangnya, berjalan santai masuk ke dalam kedai. Dalam waktu singkat telah menarik perhatian orang-orang itu.
"Ribuan tahun silam, Putra dari Sang Kaisar Langit Akan di bunuh oleh ayahnya. Namun dia diselamatkan oleh seorang Dewa, dan menyembunyikannya ke Alam Tengah." Pemuda itu menghentikan kisahnya sejenak. Dia lantas berjalan menuju panggung, pun juga dengan orang-orang yang tadinya sempat berniat untuk keluar, mendadak menghentikan niatnya dan memilih untuk duduk kembali sebab penasaran dengan kisah dari putra Kaisar Langit yang di ceritakan oleh pemuda itu.
__ADS_1
Memasang senyum sejenak dia lantas kembali melanjutkan ceritanya. Petikan senar juga langsung di mainkan oleh pemilik kedai, menggiring cerita dari pemuda itu. Dia berusaha memainkan senar dengan penuh perasaan dan kelihaiannya, guna pelanggan bisa merasakan setiap cerita yang disampaikan, sehingga mereka tidak akan berpaling ke kedai sebelah.
"Putra Kaisar Langit itu di titipkan di sebuah klan ...."