Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit

Perjalanan Menggulingkan Kaisar Langit
Ch. 294 ~ Mau Aku Bantu?


__ADS_3

Lelaki berpenampilan acak-acakan serentak menghentikan langkah kakinya kala mendengar suara seseorang yang memanggil.


Hou Die tak memikirkan kondisi tubuhnya yang saat itu masih merasakan sakit akibat terbentur meja. Pemuda itu segera menghampiri pria tersebut.


"Paman... aku ingin mengikuti mu!"


Lelaki tersebut sontak mengernyitkan alisnya saat mendengar Hou Die yang tiba-tiba saja ingin mengikutinya.


"Hmm, mengapa kau ingin mengikuti–ku? Oh ya, terima kasih sebelumnya karena telah membantuku menghalangi orang-orang itu!" Lelaki tersebut berterima kasih, meski sebenarnya pisau-pisau yang di lemparkan oleh lima orang yang memiliki niat jahat tersebut tidak akan bisa menyakiti dirinya.


Hou Die menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga menyadari akan satu hal, bahwa lelaki ini tidak membutuhkan bantuannya tadi.


"Um, sama-sama!" Hou Die tersenyum canggung.


Dia berjalan mengikuti langkah kaki lelaki tadi yang menuntutnya keluar dari kedai.


Di sisi lain, pemilik kedai yang melihat kepergian Hou Die dan lelaki berpenampilan acak-acakan itu bermaksud untuk menahan dan meminta ganti atas kerusakan yang terjadi di kedainya, tapi dia sontak menghentikan niatnya kala mengingat bagaimana aksi lelaki berpenampilan acak-acakan itu dalam membunuh lima orang tersebut.


Sejenak sunggingan licik terukir di bibir lelaki pemilik kedai. "Hmm, biarlah kerusakan ini tidak usah kalian ganti, tapi aku akan mendapatkan bayaran besar dengan menjual informasi ini!"


Setelahnya dia lantas cepat-cepat membereskan kerusakan yang terjadi pada kedainya.

__ADS_1


***


Hou Dia dan lelaki tersebut terus berjalan hingga mereka sampai di ujung desa yang terbilang besar itu. Tepatnya sedikit mengarah ke hutan, mereka berhenti. Sempat pula pembicaraan singkat terjadi antar mereka. Dan dari situ, Hou Die bisa mengetahui bahwa nama lelaki yang bersamanya ini adalah Zhang Ziyi.


"Rumah paman?" Hou Die mengernyitkan dahi dan bertanya kala tak melihat adanya bangunan pun di kawasan situ.


"Umm!" Zhang Ziyi hanya mengangguk singkat. Dia lantas berjalan mendahului Hou Die, dan melompati salah satu pohon. Duduk dan menikmati arak yang barusan dia ambil dari kedai. Ya, arak itu dia curi tanpa sepengetahuan dari pemilik kedai sendiri.


"Rumah bukan berarti harus memiliki bangunan. Alam adalah rumah kita. Bahkan tidur di alam lebih nyaman dibanding dalam rumah. Jika bahaya datang, kita bisa langsung berlari tanpa perlu terhalangi oleh dinding rumah!" ucap Zhang Ziyi lalu kembali meneguk arak.


Sementara itu, Hou Die ikut duduk di bawah pohon tersebut sembari menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Dia tidak menanggapi perkataan Zhang Ziyi, pikirannya saat ini tengah melayang jauh.


"Apa yang mengganggu pikiran mu?" tanya Zhang Ziyi, dia tampak mengetahui bahwa Hou Die saat ini tengah memikirkan sesuatu.


"Hmm, aku memikirkan perkataan orang tadi yang mengatakan bahwa Sekte Tujuh Pedang telah dimusnahkan. Entah itu benar atau salah, tapi aku ingin segera mengetahuinya," ucap Hou Die mengungkapkan pikirannya.


Zhang Ziyi yang mendengar itu hanya melihat Hou Die sekilas, lalu dia berucap, "Baiklah, mari kita ke sana untuk memastikannya!"


Hou Dia langsung bereaksi saat itu juga. "Benarkah?" ucapnya.


"Umm, kau yang menunjuk jalan! Aku tidak tau jalan menuju sekte mu itu!"

__ADS_1


"Baik... Dari desa ini, harusnya masih ada beberapa ratus kilo untuk sampai!" Hou Die tampak berpikir.


"Hmm, kalau begitu tunggu apalagi."


Kedua orang itu pun lantas pergi beranjak dari sana.


***


Sampai di depan gerbang masuk sekte Tujuh Pedang dalam dua hari. Hou Die tertegun kala melihat kondisi sekte yang telah hancur.


Seperti halnya yang dikatakan dua pembunuh saat masih di dalam kedai, memang saat ini Sekte Tujuh Pedang sudah sangat hancur.


Segera berlari masuk ke dalam untuk memeriksa lebih lanjut. Berharap masih ada yang tersisa dari keluarganya, atau teman-temannya.


Tapi sejauh apapun dia melangkah, tetap tidak ditemukan satupun dari mereka.


Kedua tangan terkepal, emosinya naik saat itu juga. "Aku akan membunuh kalian!" ujar Hou Die dengan intonasi perlahan, namun tersirat rasa dendam yang teramat sangat.


Aura membunuh juga terlihat merembes keluar dari tubuhnya. Zhang Ziyi melihat itu cukup tersentak. Lalu dia memasang sunggingan kecil.


Mendekati Hou Die, lantas dia berkata, "Nak, mau aku bantu?"

__ADS_1


__ADS_2