
Semua orang mengambil bagian di tempat mereka masing di meja makan, hanya menunggu kedatangan Alen dan Phiranita. Hanya perlu beberapa menit hingga kedua gadis itu muncul dengan Phiranita yang mulai gemetaran karena melihat kehadiran Max di sana.
"Ke...kenapa dia harus makan bersama kita, Han?" Tanya Phiranita yang berhenti dan berdiri di samping Rihan. Jangan lupa juga remasan kuat Phiranita lakukan pada bahu Rihan.
"Bukankah setiap hari kita makan bersama?" Balas Rihan datar. Rihan harus mengeraskan hatinya demi kesembuhan sahabatnya ini.
"Ta...tapi dia sudah menyakitiku, Han. A...aku takut padanya." Nafas Phiranita mulai memburu. Rihan yang merasakannya di samping, hanya menghela nafas dan menepuk pelan tangan yang berada di bahunya.
"Kamu masih ingat pesanku, 'kan?" Phiranita hanya membalas dengan anggukan pelan. Dapat Rihan lihat wajah sahabatnya itu mulai pucat.
"Nona boleh bertukar tempat duduk dengan saya jika tidak ingin terlalu dekat dengan Tuan Max." Saran Alen yang juga masih berdiri.
Lagi-lagi Phiranita hanya mengangguk dan kini sudah beralih menuju tempat duduk Alen sebelumnya, yaitu di sebelah kiri Rihan. Setidaknya dia tidak berhadapan langsung dengan Max seperti biasanya.
Melihat Phiranita sudah duduk, Alen juga mengambil bagian di sebelah Phiranita. Sebelum itu, dia sudah lebih dulu melayani sang majikan setelah itu Alen kembali duduk di tempat Phiranita.
Setelah semua piring sudah terisi, mereka akhirnya makan dengan tenang. Akan tetapi, pandangan ketiganya beralih pada tangan Phiranita yang memegang sendok. Pasalnya tangan gadis itu tiba-tiba gemetar ketika akan menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
Merasa diperhatikan, Phiranita meletakkan kembali sendok di atas piring.
"Maaf, ak...aku..." Phiranita tidak tahu harus berkata apa. Dia begitu ketakutan tetapi berusaha menahannya karena mengingat tekadnya untuk sembuh. Sayangnya tidak semudah yang dia bayangkan. Tubuhnya secara otomatis bergetar karena takut.
"Aku akan sarapan nanti,"
Max berkata demikian kemudian berdiri dan pergi dari sana. Max sendiri tidak bisa tidur tenang sejak kemarin, karena apa yang sudah dia lakukan pada Phiranita. Meski dia tahu itu hanyalah terapi untuk kesembuhan gadis itu tetapi dia tetap merasa bersalah.
Max juga sebenarnya senang melakukan ini karena hitung-hitung membalas Phiranita atas perhatian yang Rihan berikan padanya. Sayangnya hati kecilnya menjadi tidak tega melakukannya.
Kepergian Max membuat setidaknya ada helaan nafas legah dari Phiranita. Baru saja gadis itu legah, tiba-tiba tubuhnya limbung dan hampir jatuh mengenai lantai jika saja Alen tidak cepat menangkapnya.
Rihan yang melihatnya refleks berdiri dan mengambil alih sahabatnya itu ke dalam gendongannya. Jika diperhatikan dengan teliti wajah Rihan terlihat begitu khawatir meski disembunyikan oleh ekspresi khasnya yang datar.
"Saya akan menelpon Dokter Damar untuk memeriksa kembali nona Phi." Alex membuka suara setelah berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak perlu! Biarkan mereka istirahat. Hubungi saja Dokter Galant." Balas Rihan dan berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.
Biar bagaimanapun Rihan tidak tegah memaksa Dokter Damar untuk kembali lagi bekerja mengingat mereka tidak tidur semalaman. Jika Dokter Damar masih muda, maka tidak masalah. Akan tetapi usianya kini sudah paruh baya, sehingga tidak baik memaksanya untuk bekerja. Jadi, Rihan harus meminta dokter pribadinya untuk memeriksa sahabatnya ini.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
...
Membaringkan Phiranita dan menyelimutinya, Rihan kemudian berdiri dan menatap lembut wajah sahabatnya itu. Berkali-kali dia harus menghela nafasnya karena keadaan Phiranita.
"Jam berapa kelasku nanti?" Tanya Rihan setelah menatap sekilas jam tangannya.
"Anda masih punya waktu 2 jam lagi."
Rihan hanya menganggukkan kepalanya dengan posisi tetap menatap Phiranita.
"Dokter Galant 5 menit lagi sampai, Tuan." Lapor Alex setelah melirik lagi jam tangannya.
"Hmm. Dimana Max?"
"Mungkin di kamarnya atau di ruang tamu. Ada apa, Tuan?"
"Katakan padanya untuk sarapan. Temani Max sarapan, Len."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Alen, Rihan menoleh ke samping untuk sekedar melirik Alex yang berdiri di belakangnya.
"Apa aku salah memaksanya untuk sembuh?" Gumam Rihan kembali menatap Phiranita.
Rihan tidak lagi berbicara dan hanya menatap Phiranita hingga sebelum 5 menit, Dokter Galant sudah datang bersama Alen dan Max. Jangan lupa juga senyum kecil Dokter Galant yang selalu terpancar karena untuk pertama kali Alen menjemputnya di pintu gerbang mansion.
"Periksa keadaannya." Tanpa menunggu Dokter Galant menyapa, Rihan lebih dulu membuka suara.
"Baik, Tuan."
Dokter Galant juga mengetahui penyamaran Rihan, tetapi akan memanggilnya sesuai dengan situasi yang sudah diajarkan bersama Alex dan Alen.
"Setelah ini, hubungi Dokter Lio untuk menemani Dokter Damar dalam merawat Tata. Katakan padanya untuk mengikuti kursus kilat selama 1 minggu di Amerika dan mengambil Specialis psikologis. Aku tidak ingin ada penolakan apapun." Rihan memberit perintah sambil tetap menatap Dokter Galant yang memeriksa Phiranita.
"Baik, Tuan."
"Persiapkan semua kebutuhan Dokter Lio sebelum keberangkatannya. Bila perlu kamu yang mengantarnya sekaligus menemaninya selama seminggu di sana."
"Bagaimana dengan anda, Tuan? Saya tidak mungkin meninggalkan anda begitu saja. Apapun alasannya saya akan tetap di samping anda." Tolak Alex tegas.
__ADS_1
Meninggalkan majikan tanpa pengawasannya selama beberapa menit sudah membuatnya khawatir, apalagi selama 1 minggu? Alex tidak tahu apa jadinya nanti.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Lex. Mereka juga selalu ada bersamaku."
"Tapi Tuan..."
"Sudahlah."
"Baik, Tuan." Balas Alex pasrah kemudian melanjutkan dalam hati.
"Anda selalu mementingkan orang lain dari pada diri sendiri, Nona."
"Kenapa bukan aku saja yang merawatnya?" Usul Dokter Galant yang baru saja selesai memeriksa Phiranita.
"Tugasmu bukan saja merawatku." Suara Rihan penuh penekanan menyadarkan Dokter Galant bahwa memang benar apa yang dikatakan Rihan.
Bukan hanya menjadi dokter pribadi Rihan saja, tetapi Dokter Galant juga merupakan orang yang bertanggung jawab dalam melatih bawahan Rihan di bidang medis, juga membantu menciptakan obat-obatan baru yang nantinya berguna di masa depan. Oleh karena itu, Rihan tidak ingin bawahannya memiliki pekerjaan lebih yang akan mengganggu kesehatan mereka. Mereka hanya manusia biasa yang juga membutuhkan istirahat yang cukup.
Walaupun apapun yang mereka konsumsi bukan makanan dan minuman sembarangan tetapi tetap saja mereka akan lelah sehingga Rihan berinisiatif meminta Dokter Lio membantu Dokter Damar. Lagi pula Dokter Lio tidak memiliki banyak perkerjaan setelah menjadi kepala rumah sakit. Kepala Rumah Sakit termuda itu hanya diperlukan untuk operasi jika benar-benar tidak ada dokter lagi atau keadaan mendesak saja. Untuk urusan kepemimpinan, tidak terlalu banyak karena dia dibantu oleh asisten kepala rumah sakit.
Dokter Galant akhirnya sadar bahwa perkataan sang majikan memang benar sehingga dia mengangguk mengerti.
"Jadi bagaimana keadaannya?" Tanya Rihan yang menatap sekilas dokter pribadinya itu.
"Dia begitu tertekan dan takut akan sesuatu. Apa benar begitu?" Tanya Dokter Galant beralih menatap Alex meminta penjelasan.
"Aku akan menceritakan detailnya padamu. Yang jelas nona Phi adalah penderita PTSD." Jawab Alex tenang.
"Pantas saja! Tapi sepertinya semakin parah." Ucap Dokter Galant sambil merapikan peralatan medisnya.
"Kamu benar! Nona Phi kemarin menjalani terapi exposure, tapi karena tidak kuat menahannya jadi dia semakin tertekan." Jelas Alex.
"Aku hanya memberinya sedikit penenang."
Setelah itu mereka semua meninggalkan kamar Phiranita menuju ruang tamu.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.