Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Upah Karena Perbuatannya Sendiri


__ADS_3

Suasana halaman belakang Villa masih sama tenangnya. Zant sudah tidak lagi kesal, setelah dibujuk oleh istrinya. Suami posesif Rihan itu sudah kembali melakukan tugasnya sebelumnya, yaitu menyuapi istrinya.


"Hm?"


"Ada apa? Astaga! tanganmu berdarah. Biarkan kakak melihatnya." Avhin kaget ketika jari telunjuk Alen tidak sengaja teriris pisau ketika dia memotong daging. Avhin tidak habis pikir, kenapa adik angkatnya ini bisa ceroboh seperti ini. Belum lagi, respons Alen biasa saja ketika jarinya terkena pisau.


"Eh?" Alen sedikit kaget, tetapi kemudian kembali tenang dan membiarkan Avhin menghisap jarinya, guna menghentikan aliran darah. Meski awalnya sedikit tidak nyaman, karena ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan seorang pria selain saudara kembarnya.


"Aku bisa membersihkannya sendiri, Kak." Avhin sama sekali tidak menggubrisnya.


"Syukurlah, darahnya sudah berhenti. Apa yang kamu pikirkan sampai melukai tanganmu? Sudahlah. Duduk saja di sana atau bergabung dengan Rihan. Biarkan kakak yang menyelesaikan ini."


"Tunggu sebentar! kita harus menutup lukamu dulu." Sambung Avhin lalu menoleh ke sana kemari mencari kotak P3K.


"Sebentar, kakak akan mengobatinya."


Alen hanya diam dan membiarkan kakak angkatnya itu mengobati tangannya. Ingin menolak, tapi tidak dihiraukan sama sekali.


"Selesai. Apakah sakit?" Tanya Avhin setelah luka di jari Alen sudah ditutup. Avhin sedang meniupnya. Padahal, bagi Alen luka ini tidak sakit sama sekali.


"Tidak."


"Syukurlah! Duduk saja di sana. Jangan menyentuh apapun lagi." Tegas Avhin kemudian menarik Alen untuk duduk di salah satu kursi. Alen hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Sedangkan Alex dan pasangan suami istri itu sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri, sehingga tidak memperhatikan Avhin dan Alen.


"Kenapa tidak membantu kak Avhin?" Tanya Alex yang menghampiri Alen. Pria itu ingin mengambil daging untuk dipanggang lagi.


"Kak Avhin melarangku karena aku terluka."


"Di mana? Kenapa bisa terluka? Apakah sakit? Biarkan kakak melihatnya." Alex panik dan menarik Alen agar berdiri, karena dia ingin memeriksa bagian mana yang terluka.


"Ada apa?" Tanya Rihan karena suara Alex berhasil mengalihkan perhatiannya dan Zant.


"Alen terluka, Nona. Saya ingin memeriksanya,"


"Huh?"


"Ini hanya luka biasa karena tidak sengaja terkena pisau. Ini bukan apa-apa, Nona. Kak Alex terlalu panik."


"Kenapa tidak hati-hati? Sudah diobati?"


"Sudah, Nona. Kak Avhin sudah mengobatinya."


"Syukurlah. Kakak kira ada luka serius. Tetap di tempatmu dan biarkan kakak yang akan menyelesaikan sisanya."


"Istirahat saja, Kak. Biarkan kak Alex dan kak Avhin yang menyelesaikan sisanya." Sahut Rihan.


"Hais... padahal ini hanya luka biasa. Luka ini tidak ada apa-apanya dengan pelatihanku selama ini." Gumam Alen sambil mengusap pelan keningnya.


Alen hanya bisa menurut dan diam di tempatnya. Akhirnya, hanya Alex dan Avhin yang menyelesaikan sisa barbeque.


***


2 bulan kemudian.


Bandar Udara Internasional, Soekarno Hatta. Jakarta.


Pukul 8 malam.


Rihan dan Zant baru saja keluar dari bandara sambil berpegangan tangan. Negara terakhir untuk bulan madu mereka adalah Indonesia. Tepatnya kota Jakarta. Setelah dua bulan keduanya berkeliling ke beberapa negara, mulai dari Korea Selatan, Jepang, Inggris, Swiss, Dubai, Jerman, dan tujuan terakhir mereka yaitu Indonesia. Rihan ingin datang ke Jakarta untuk melihat keadaan teman-temannya dan yang paling penting, keadaan Ariana.


Terlihat jelas dari ekspresi wajah keduanya yang berseri-seri, menunjukan bahwa mereka sangat senang dengan perjalanan ini. Terlebih Zant. Pria itu selama satu minggu full di setiap negara, tidak membiarkan istrinya keluar kamar. Mereka akan keluar, setelah seminggu mengurung diri.


Setelah mengisi dayanya, Zant akan memanjakan istrinya selama beberapa jam, kemudian istirahat, lalu dilanjutkan dengan mengisi dayanya untuk proyek tim sepak bolanya lagi.


Rihan sendiri tidak marah, karena dia juga menikmatinya. Bagaimana bisa marah, jika perlakuan suami posesifnya yang memanjakannya, membuatnya senang dan rasa lelahnya sirna begitu saja.


...


Sampai di tempat parkir, sudah ada mobil di sana. Zant membukakan pintu mobil untuk Rihan di bagian depan, karena Zant sendiri yang akan menyetir.


"Pulang atau jalan-jalan dulu?" Zant bertanya setelah mobil mereka keluar dari bandara.


"Terserah kak Zant saja." Rihan menjawab sambil memejamkan matanya.


"Oke. Kita pulang kalau begitu. Kamu pasti lelah."

__ADS_1


"Hm."


"Istrihatlah! Aku akan membangunkanmu setelah sampai." Zant berbicara sambil tangan kanannya memegang kendali mobil, sedangkan tangan kirinya mengusap pelan kepala istrinya.


"Kak..." Panggil Rihan setelah mobil memasuki area jalan tol.


"Kenapa, hum?"


"Bagaimana pendapat kak Zant jika kita mencari pasangan untuk tiga jomblo akut itu?"


"Sejak kapan istriku ini berubah profesi menjadi biro jodoh?"


"Hehehe... aku sedikit kasihan melihat mereka."


"Itu terserah mereka, My Queen... Jodoh akan datang jika sudah waktunya. Sama seperti kita. Di saat aku mencarimu sejak dulu, ternyata aku tidak bisa menemukanmu. Tapi, pada akhirnya kita dipertemukan juga karena takdir. Jadi, biarkan saja. Aku tahu maksudmu, tapi tidak usah." Rihan hanya mengangguk lalu kembali memejamkan matanya.


"My Queen, sepertinya ada pertunjukan menarik," Suara Zant berhasil membuat Rihan membuka matanya.


"Lihatlah!" Ujar Zant lalu menunjuk dengan dagunya.


Zant sudah menepikan mobilnya, karena dia ingin menunjukan sesuatu di seberang jalan sana pada istrinya.


"Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya. Apa yang terjadi padanya?" Gumam Rihan sambil mengerutkan kening, kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Rihan pada orang dibalik telepon, tanpa mengalihkan pandangannya dari objek di seberang jalan sana.


"..."


"Hm. Awasi dia!" Setelah mengetahui apa yang sudah terjadi, Rihan memutuskan sambungan telepon.


"Dia melarikan diri dari orang yang menculiknya." Ujar Rihan memberitahu.


"Melarikan diri?"


"Hm. Dia diculik di rumah sakit saat sedang dalam masa perawatan. Orang yang menculiknya adalah saudara laki-laki gadis yang pernah dia bully dulu."


"Sejak kapan dia diculik? Bukankah keluarganya menjaganya? Belum lagi, ada orang-orangmu juga yang mengawasi."


"Sejak tiga hari lalu. Orang yang menculiknya itu ternyata cerdas, sehingga dengan mudah mencari kesempatan menculiknya. Untuk orang-orangku, mereka hanya membiarkannya saja. Lagipula, tugas mereka akan sedikit berkurang karena penculik itu."


"Mereka sengaja membiarkan dia berkeliaran dulu. Bukankah bagus, dia bisa merasakan hidup selama beberapa hari di jalanan?"


"Mereka yang kamu maksud, orang-orangmu?"


"Hm."


"Itu berarti, semua akses untuk menghubungi keluarganya diblokir oleh orang-orangmu?" Rihan hanya membalas dengan anggukan.


"Tapi, bukankah dia terlihat sangat menyedihkan?" Zant sedikit iba melihat 'dia' yang mereka bahas sedari tadi, yang sedang kesusahan mendorong kursi rodanya karena terhalang sebuah balok di trotoar.


"Itu upah karena perbuatannya sendiri."


"Tidak ingin membantunya?" Zant bertanya ketika melihat beberapa pria menghampiri orang yang duduk di kursi roda di seberang jalan sana.


"Tidak."


"Sayang sekali, wanita itu ternyata tidak beruntung." Setelah Zant mengatakan itu, keduanya kembali diam dan hanya menatap ke seberang jalan.


"Eh? Katanya tidak ingin membantu. Kamu terlalu baik, My Queen." Zant bergumam lalu tersenyum tipis ketika istrinya tiba-tiba keluar dari mobil.


Zant jelas tahu kemana kesayangannya itu akan pergi. Kemana lagi, kalau bukan membantu wanita yang sedang berusaha memberontak dari cengkraman seorang pria yang menarik pergelangan tangannya, seorang pria berusaha mendorong kursi roda, sedangkan seorang pria lagi hanya tertawa mengejek di belakang.


...


"Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan dariku?"


"Banyak, sayang. Salah satunya adalah menikmati tubuhmu. Hahaha..."


"Tunggu bro! Bukankah dia adalah wanita yang dicap oleh para netizen sebagai wanita tidak tahu diri itu? Benar. Dia adalah wanita itu. Wanita jahat yang selalu membully teman-temannya."


"Benar. Dia adalah wanita yang dengan kejamnya menyiksa anak pengusaha Amerika itu. Bukan hanya itu. Ada juga kejahatan lainnya yang dia buat."


"Memang benar. Dia adalah wanita itu. Bagus sekali. Jika kita menikmati tubuhnya lalu merekamnya, pasti banyak orang setuju dengan kita. Sudah banyak orang ingin sekali dia mati."


"Ya. Meski dia cacat dan wajahnya buruk rupa, tapi tubuhnya sangat menggoda."


"Hahaha... aku setuju. Mari kita gilir dia di tempat yang sepi."

__ADS_1


"Ayo!"


"Tidak... lepaskan aku! Biarkan aku pergi."


"Jangan bermimpi j****g! Ini akibat karena perbuatan burukmu. Kami hanya membantu membalaskan rasa sakit orang-orang yang kamu bully. Hahahah..."


"Bagaimana rasanya ditindas di saat kamu tidak bisa melakukan apapun?" Sebuah suara mengalihkan perhatian 3 pria dan satu wanita itu.


"Kamu... mereka pasti orang suruhanmu, 'kan? DASAR J****G! LEPASKAN AKU!" Marah wanita itu yang tidak lain adalah Ariana.


Rihan menaikkan sebelah alisnya sambil melipat tangannya di dada. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran rubah betina ini.


"Jika aku ingin menangkapmu, untuk apa aku melepaskanmu? Untuk apa aku membiarkanmu berkeliaran bebas seperti ini?"


"J****G... Lepaskan aku!"


"Lepaskan dia!" Pintah Rihan datar.


"Bro, gadis ini benar-benar cantik. Kita sangat beruntung malam ini. Bawa dia dan kita nikmati bersama." Ketiga pria itu tidak terlalu mengenal wajah Rihan.


"Siap. Kita akan bersenang-senang malam ini."


Sebelum mereka mendekat, Rihan lebih dulu menoleh ke mobil untuk memberi kode pada suami posesifnya, agar tidak ikut campur. Rihan ingin menyelesaikan ini sendiri.


BUGH


BRUK


Hanya sekali tendangan di ************, pria yang ingin menangkap Rihan langsung saja tumbang.


"Kurang ajar... rasakan ini..." Seorang pria dengan marah ingin menampar wajah Rihan.


SRET


HAP


Sebelum tangan pria itu mengenai wajahnya, Rihan sudah menahan tangan kekar itu. Ariana dan dua pria lainnya kaget, karena tangan mungil milik Rihan bisa menahan lengan besar itu.


KRAK


"Argghhhh..."


BUGH


Rihan dengan tenang mematahkan lengan berotot itu, kemudian dilanjutkan dengan pukulan telak di wajah pria itu.


BRUK


Rihan kembali menargetkan ************ pria kedua, sehingga dia jatuh sambil meringis sakit.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya pria tersisa yang sedang menahan Ariana yang masih duduk di kursi roda.


"Hanya orang tidak penting. Lepaskan dia atau kamu ikut berbaring bersama kedua temanmu."


"Ba...baik."


Dengan ketakutan, pria itu melepas genggamannya pada pergelangan tangan Ariana dan menghampiri dua temannya, berusaha membantu mereka. Setelah itu ketiganya pergi dengan susah payah.


"Apa yang kamu inginkan dengan menyelamatkanku? Kamu pikir aku akan meminta maaf? Jangan mimpi! Lebih baik aku mati di jalanan, dari pada meminta maaf padamu."


"Sampai kapan kamu akan berubah, Ariana. Kondisimu sudah seperti ini, tapi kamu masih menahan egomu? Aku penasaran, apa yang ada dalam pikiranmu." Rihan hanya bisa menggeleng tidak habis pikir dengan Ariana.


"Cuih... AKU TIDAK AKAN MEMINTA MAAF PADAMU. JANGAN PERNAH BERHARAP!" Tekan Ariana lalu berusaha membalik kursi rodanya dan pergi dari sana.


Rihan hanya menghembuskan nafas pelan dan membiarkan Ariana pergi. Terus memperhatikannya, hingga Rihan mengerutkan kening dan segera berlari menyusul Ariana.


"My Queen, berhenti!"


BRAK


.


.


.


Sampai ketemu di Chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2