
"Satu langkah saja kamu meninggalkan pintu kamarku, hanya namaku yang akan kalian lihat di batu nisan!" Sambung Max dengan ancaman karena melihat tatapan Rihan yang tidak peduli. Hanya ini satu-satunya cara agar Rihan tidak meninggalkannya.
"Kenapa aku harus bertemu pria aneh ini?" Batin Rihan tidak habis pikir dengan jalan takdirnya yang bertemu dengan Max.
Jika untuk menjadi penolong Max, Rihan tidak masalah. Akan tetapi, dia tidak suka berurusan dengan orang yang suka memaksa.
"Hubungi Dokter Damar, Lex." Perintah Rihan datar sambil terus menatap Max yang kini tersenyum lebar karena Rihan tidak meninggalkannya.
"Sudah tersambung, Tuan." Alex menyerahkan ponselnya pada Rihan.
"Undur jadwal terapinya. Aku akan terlambat!" Ucap Rihan to the point.
"Han..."
Mendengar teriakan dibalik sambungan telepon, Rihan segera menjauhkan sebentar ponsel di telinganya.
"Maaf, Tuan. Nona Phi ingin berbicara dengan anda," Suara Dokter Damar terdengar takut.
"Berikan ponselmu padanya," Balas Rihan datar.
"Han, kapan kamu pulang?" Tanya Phiranita dengan nada suara merengek di seberang telepon.
"Aku akan terlambat! Bisa terapi tanpa aku?" Rihan menghela nafasnya pelan.
"Tidak mau! Aku akan marah padamu jika kamu tidak menemaniku."
"Baiklah. Aku akan pulang sebentar lagi,"
"Jangan lama, Han. Aku menunggumu."
" Hmm. Aku tutup!" Rihan kemudian mematikan sambungan telepon.
"Aku harus pergi. Ada yang membutuhkan aku. Kita akan bertemu lagi jika kamu sudah lebih baik," Ucap Rihan setelah memberikan ponsel pada Alex.
"Kamu tidak mendengar ancamanku?" Ujar Max pelan. Max kini sudah dalam posisi duduk.
"Aku mendengarnya! Aku rasa kamu sudah tidak sakit lagi. Ingatlah untuk berpikir dewasa. Sampai jumpa di kampus." Ucap Rihan datar lalu berbalik dan meninggalkan ruangan Max. Rihan tidak peduli dengan apapun. Apa yang sudah menjadi keputusannya, tidak boleh diganggu gugat.
Ketika sudah di luar ruangan, dapat Rihan dan Alex dengar suara benda-benda jatuh dari ruang rawat Max. Sepertinya pria itu sedang mengamuk.
Rihan tidak terlalu menghawatirkan Max karena gangguan yang dideritanya tidak akan berbahaya atau tidak akan kambuh jika tidak ada yang menolaknya. Selagi Rihan bisa menerima Max menjadi temannya, pria itu pasti baik-baik saja.
Untuk ancaman Max sendiri, Rihan tahu itu hanya ancaman belaka, karena Max tidak akan mungkin melakukannya karena dia sedang berusaha membuat Rihan dekat dengannya.
Sedangkan sang sahabat, sudah menjadi kebiasaannya untuk terapi dengan adanya Rihan di sampingnya. Akan sangat berbahaya jika Phiranita mengamuk. Dia akan menyakiti dirinya sendiri, dan Rihan tidak suka itu.
Meski Rihan mengatakan pada Max bahwa tidak akan adil jika ada yang diprioritaskan, itu hanya agar Max tidak semakin berulah.
Bagi Rihan, jika membandingkan Max dan sahabatnya, tentu saja, Phiranita yang harus diprioritaskan lebih dulu. Rihan memang akan memprioritaskan yang seharusnya diprioritaskan.
***
__ADS_1
"Siapa yang sudah menjadi prioritas Rehhand, Dok?" Tanya Max dengan nafas memburu setelah berhasil meredahkan amarahnya dengan menghempaskan apa saja yang ada didekatnya.
Beberapa alat medis hampir ikut terjatuh jika Dokter Adi tidak segera menahan kemarahan Max.
"Saya juga tidak tahu, Max. Kamu tahu sendiri jika Tuan Muda Rehhand itu sangat susah didekati." Jawab Dokter Adi tenang. Dokter paru baya itu harus bisa menenangkan pasiennya ini. Dia juga tidak berdaya jika berurusan dengan si tuan muda Rehhand.
"Cari tahu, Dok. Aku ingin tahu secepatnya." Balas Max datar.
"Ini bukan kamu, Max. Kenapa kamu bisa berubah seperti ini? Semoga ini satu-satu cara melawan penyakitmu." Batin Dokter Adi heran dengan sikap tidak biasa pasien yang sudah dirawatnya belasan tahun ini.
"Kamu harus menjadi temanku, Rei. Bagaimanapun caranya!" Batin Max sambil menampilkan ekspresi wajah penuh tekad.
***
"Sepertinya Max sedang berusaha melawan penyakitnya dengan membuat anda berada di sisinya, Tuan." Alex membuka suara setelah menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan Antarik Hospital.
"Usahanya akan berubah menjadi sebuah obsesi," Balas Rihan sambil bersandar pada kursi mobil dan memejamkan matanya.
"Percepat mobilnya Lex, waktu kita banyak terbuang." Sambung Rihan.
"Baik, Tuan." Alex lalu mempercepat mobilnya menuju mansion Rihan.
...
"Selamat datang, Tuan muda!" Sambut Alen dan beberapa pelayan di pintu masuk mansion.
Rihan hanya menganggukkan kepalanya dan terus berjalan hingga berhenti di ruang tamu. Di sana sudah ada Phiranita yang duduk dengan wajah cemberutnya di sofa singel.
"Lama sekali, Han." Phiranita masih cemberut menatap Rihan yang juga menatapnya datar.
"Mulai saja terapinya, Dok." Ucap Rihan pada Dokter Damar, tanpa membalas Phiranita. Jika dia menanggapinya, sahabatnya itu akan semakin merengek.
"Baik, Presdir."
"Mari saya antar ke ruangan khusus terapi, Dok." Alen lalu mempersilahkan Dokter Damar dan dua Suster yang bersamanya untuk mengikutinya dari belakang.
"Ada apa dengan ekspresimu?" Tanya Rihan datar pada Phiranita. Rihan kini berdiri di depan Phiranita yang sedang duduk.
"Kamu menyebalkan, Han." Balas Phiranita menatap Rihan dengan mata berkaca-kaca. Phiranita merasa Rihan tidak peduli padanya.
"Aku memang menyebalkan, jadi cepatlah sembuh dan kamu bisa pergi dariku." Rihan menjawab dengan datar sambil terus menatap sang sahabat.
"A...aku tidak mau meninggalkanmu, Han. Aku... hiks...hiks... Aku tidak bisa jauh darimu! Tolong jangan katakan itu lagi. Hanya kamu yang aku punya selain paman dan bibi. Hiks..." Phiranita kini sudah menangis sambil memeluk erat pinggang Rihan yang sedang berdiri di depannya.
"Sudahlah. Berhenti menangis! Kamu bukan anak kecil lagi," Rihan menghembuskan nafas pelan sambil membelai sayang kepala Phiranita. Gadis ini menguji kesabarannya.
"Mm..." Balas Phiranita sambil mendongak menatap Rihan.
"Ayo, kita naik ke atas." Rihan lalu melepas pelukan Phiranita dan menuntunnya untuk berdiri. Keduanya lalu menuju lift untuk naik ke lantai atas.
Sedangkan David, Dian dan Albert hanya bisa menyaksikan bagaimana interaksi Rihan dan sahabatnya itu dalam diam.
__ADS_1
"Sepertinya perasaan ini memang harus dikubur dalam-dalam." Batin Dian miris melihat pemandangan di depannya.
"Jika kamu ditakdirkan untukku, aku janji tidak akan melepaskanmu." Gumam David dalam hatinya.
David sedang berusaha menahan sesak di dadanya dikala mengingat pencariannya pada sang pujaan hatinya yang belum ada titik terang sama sekali.
"Rehhand benar-benar sangat menyayangi Ira, Dev." Bisik Albert pelan pada David.
"Hmm." Deheman David tanpa menatap Albert.
"Ck... Sudah tertular anak ini," Gumam Albert kesal.
***
"Maaf, Tuan. Sandera saat ini masih ada indonesia. Tepatnya kota Jakarta." Lapor seorang pria pada tuannya.
"Siapa yang menyelamatkannya?" Tanya seorang pria pada orang kepercayaannya.
"Presdir rumah sakit Setia, Tuan." Jawab sang bawahan takut.
"Anak kedua pengusaha Prancis itu?" Tanya pria yang dipanggil tuan itu mengerutkan keningnya.
"Iya, Tuan."
"Hmm. Sekarang dimana gadis itu berada?"
"Sampai sekarang kami belum menemukan jejak keberadaannya, Tuan. Jejak terakhirnya adalah rumah sakit Setia." Jawab sang bawahan.
"Siapkan penerbangan untuk ke indonesia." Ucap sang tuan datar.
"Baik, Tuan. Jam berapa anda ingin berangkat?" Tanya orang kepercayaan pria itu.
"3 jam lagi." Jawab pria itu.
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semua keperluan anda."
"Bagaimana dengan pemilik R.A.Grup?" Tanya sang tuan sambil menatap orang kepercayaannya tajam.
"Belum ada titik terangnya, Tuan. Sistem mereka benar-benar tidak bisa ditembus." Jawab orang kepercayaan pria itu.
"Ya, sudah. Kamu boleh pergi!"
"Baik Tuan."
"Apa kamu menyembunyikannya?" Batin pria itu sambil memejamkan matanya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.