Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Apa itu Ancaman?


__ADS_3

Di kamar king size milik Rihan, Neo membuka matanya. Hal pertama yang pria itu lakukan adalah meraba bagian sampingnya apakah ada orang yang seperti biasanya tidur bersamanya atau tidak. Ternyata tidak ada sama sekali. Bagian itu terasa dingin. Itu berarti tidak ada yang tidur di sana sejak semalam.


Neo menghela nafas sebentar kemudian melirik jam digital di atas nakas. Ternyata sudah pukul 03.00 pagi.


"Tidur di mana dia?" Gumam Neo lalu bangun dan menyibak selimut kemudian turun dari tempat tidur.


Pria itu terlihat baik-baik saja tidak seperti kemarin. Neo kemudian menuju kamar mandi mencuci wajahnya sebentar kemudian keluar mencari teman tidurnya.


Dalam pikiran Neo tempat Rihan berada hanya satu, yaitu ruang kerjanya. Dengan senyum tipis, Neo menuju ke sana. Berusaha tenang dan tidak membuat suara langkah kaki, Neo masuk secara diam-diam di ruang kerja Rihan.


"Bisa-bisanya dia tidur di sini. Pasti tidak nyaman tidur seperti ini," Gumam Neo dalam hati lalu mengelus pelan rambut Rihan.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa seperti dulu lagi. Aku hanya ingin kamu seperti dulu, Rei. Aku hanya ingin kamu tidak berubah." Gumam Neo pelan.


Neo mengangkat Rihan dengan pelan dan hati-hati agar tidak terbangun. Setelah Rihan sudah dalam posisi bride style, Neo menatap wajah Rihan yang bersandar pada dadanya dan tersenyum tipis kemudian kembali ke kamar Rihan.


Sampai di kamar, Neo dengan pelan menidurkan Rihan di kasur. Pria itu ikut naik dan berbaring di samping Rihan, kemudian menariknya ke dalam dekapannya. Dagu Neo tepat di atas kepala Rihan.


"Sepertinya aku akan melanggar prinsipku sendiri," Gumam Neo lalu mengecup sebentar pucuk kepala Rihan kemudian ikut terlelap.


Satu jam berlalu, Rihan mengerutkan kening sebelum membuka matanya. Rihan berkedip beberapa kali dan tersadar bahwa dia ada dalam pelukan Neo. Keduanya terlihat saling memeluk dalam tidur.


"Sejak kapan dia membawaku ke sini?" Batin Rihan dan mendongak menatap wajah terlelap Neo.


Mendengus pelan, Rihan lalu melepas tangan Neo yang memeluknya kemudian bangun dan turun dari tempat tidur secara perlahan-lahan. Sebelum ke kamar mandi, Rihan melirik jam di atas nakas sebentar. Ternyata sudah pukul 04.15.


10 menit kemudian, Rihan baru keluar dari kamar mandi dengan setelan mantel mandi dan menuju walk in closet sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Hanya beberapa menit, Rihan keluar dari walk in closet dengan pakaian santai. Melirik Neo sebentar, Rihan beralih menuju cermin dan mengaplikasikan sedikit crim di wajahnya. Setelah itu, Rihan keluar dan turun ke lantai satu.


Alex dan Alen hari ini tidak ke kamarnya, karena Rihan sudah mengirim pesan semalam untuk tidak menunggunya atau membangunkannya.


Ting


Suara lift terbuka. Rihan keluar dan mendapati beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan lantai satu. Tidak mempedulikan mereka, Rihan bergegas ke kamar Brand.


Mengetuk pintu, ternyata tidak ada respon. Tanpa permisi, Rihan membuka pintu dan masuk ke dalam. Dapat Rihan lihat, seorang pria sedang terlelap dengan bagian dada telanjang, sedangkan bagian bawah, entahlah. Rihan tidak tahu, karena selimut menutup area pinggang hingga kaki.


"Seorang Bos harusnya sudah bangun sejak tadi. Bangun, Kak!" Rihan berbicara datar di samping Brand yang masih terlelap.


"Hm... sebentar lagi, Dom. Aku lelah." Suarq serak Brand terdengar. Pria itu berbalik dan membelakangi Rihan yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Padahal aku ingin memberitahumu pesan dari The Devil, tapi sudahlah. Aku akan kembali saja," Gertak Rihan dan melipat tangan di dada menunggu reaksi Brand.


"Aku bangun, jadi katakan padaku pesan apa yang ingin dia sampaikan?" Tanya Brand dengan semangat, meski nyawanya belum semua terkumpul.


"Syukurlah dia memakai celana di sana." Legah Rihan dalam hati karena sempat melirik bagian yang ditutupi selimut, setelah Brand menyibaknya.


"Bersihkan dirimu, dan ikut ke ruang kerjaku." Ucap Rihan datar dan keluar dari sana.


"Ini bukan waktu bangunku, Rei. Tunggu sampai jam 6," Brand berusaha bernegosiasi.


"Silahkan saja, maka pesan itu akan hangus. Aku pergi!" Ancam Rihan kemudian beranjak pergi dari kamar Brand.


"Astaga! aku masih mengantuk," Rengek Brand, tapi terpaksa turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


...


"Jadi, apa pesannya untukku?" Tanya Brand setelah masuk ke ruang kerja Rihan. Pria itu menghampiri Rihan yang duduk di sofa.


"Tidak ada." Jawab Rihan santai tanpa menatap Brand.


"Huh? Lalu kenapa membangunkanku? Kamu membuatku kesal, Rei."

__ADS_1


"Salahmu sendiri kak, mudah ditipu. Sudahlah, lihat ini!" Rihan menunjukan notebook pada Brand.


"Ck... apa itu?" Tanya Brand dan mengerutkan kening menatap ke layar notebook. Sebelum itu, Brand duduk lebih dulu di samping Rihan.


"Lihat apakah kakak mengenal mereka."


"Memangnya mereka siapa?" Tanya Brand.


"Jika aku tahu, aku tidak mungkin bertanya." Kesal Rihan.


"Hehehe... Aku tidak mengenal mereka, tapi aku tahu kecelakaan itu." Ucap Brand dan menatap serius foto kecelakaan itu.


"Ceritakan padaku yang kakak tahu."


"Foto ini pernah aku lihat di rumah Neo. Pria bodoh itu menyimpannya di tempat yang tidak diketahui oleh orang tuanya. Entah kenapa dia tidak ingin Om Evan dan Tante Dara tahu.


Karena aku penasaran tentang foto itu, jadi aku bertanya padanya. Katanya itu kecelakaan saat dia umur 7 tahun kalau tidak salah. Saat itu Neo dan kedua orang tuanya akan pergi berlibur. Sayangnya kecelakaan itu terjadi dan menewaskan 3 orang. Seorang supir dan sepasang suami istri. Hanya anak mereka yang selamat. Om Evan, Tante Dara dan Neo juga selamat waktu itu."


"Hm... lalu kenapa dia menyimpan foto ini?" Tanya Rihan mengerutkan kening.


"Dia sedang mencari anak yang selamat dalam kecelakaan itu."


"Kenapa dia mencari anak itu?"


"Minta maaf atau apalah, aku juga tidak tahu."


"Aku mengerti. Kak Brand tahu nama sepasang suami istri itu?"


"Tidak. Neo juga tidak tahu. Dia sudah berusaha mencari, tapi identitas mereka ditutup rapat. Berita tentang kecelakaan waktu itu juga sudah tidak ada lagi. Semua orang yang bersangkutan dengan kecelakan itu tidak ingin membuka suara. Seseorang pasti sudah membungkam mereka."


"Bagaimana dengan anak itu. Berapa orang tepatnya yang selamat dari kecelakaan itu?"


"Neo dan kedua orang tuanya, ditambah seorang gadis kecil."


"Bisa jadi. Lalu siapa anak laki-laki ini?" Tanya Brand.


"Saudaranya mungkin. Wajah mereka terlihat sama." Jawab Rihan lalu bersandar pada sofa.


"Aku setuju. Tapi aku penasaran, dari mana kamu mendapat foto-foto ini," Tanya Brand menatap Rihan di sampingnya.


"Rahasia." Jawab Rihan datar.


"Ck..." Cebik Brand dan terus menatap foto di layar notebook.


"Ketika semua informasinya terkumpul, aku akan memberitahumu, Kak. Tenang saja!"


"Oke. Aku tunggu. Jika butuh bantuanku, atau ada yang ingin kamu tanyakan, aku siap kapanpun."


"Hm."


"Satu lagi yang membuatku penasaran. Kenapa kamu peduli dengan urusan orang lain? Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Jika kamu ikut campur, bukankah itu sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri?" Brand mengerutkan kening menatap Rihan.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin memastikan apa ini berhubungan denganku atau tidak."


"Kalau tidak bagaimana?"


"Kita lihat saja nanti."


"Aku hanya ikut kamu saja,"


"Hm."


"Jadi kamu membangunkanku sepagi ini, hanya untuk ini?" Tanya Brand kembali kesal.

__ADS_1


"Hm."


"Sabarkanlah aku, Tuhan." Gumam Brand pelan.


"Sudahlah. Di mana kecelakaan itu terjadi?" Tanya Rihan menatap datar ekspresi Brand yang kesal.


"Swiss."


"Oke. Kembalilah, Kak. Sisanya aku yang urus."


"Kamu mengusirku?"


"Bisa jadi."


"Ck... ya, sudah. Aku pergi!"


"Hm."


Setelah kepergian Brand, Alen masuk dengan secangkir susu di tangannya.


"Selamat pagi, Tuan."


"Pagi, Alen. Di mana Alex?" Tanya Rihan setelah mengambil gelas berisi susu itu dan meminumnya.


"Kak Alex sedang melakukan sesuatu. Dia akan datang sebentar lagi untuk melapor." Rihan hanya membalas dengan anggukan.


"Apa ini ada hubungannya dengan Cognizant Technology?" Batin Rihan berusaha berpikir setelah meletakkan gelas kosong di atas meja.


"Lalu, bagaimana dengan Elle? Masa lalunya juga tertutup rapat. Orang di belakangnya begitu kuat ternyata." Sambung Rihan dalam hati.


...


"Tuan, orang-orang kita sudah menyelidiki penerbangan ke Jerman, maupun pesawat pribadi yang menuju ke sana. Mereka mendapati Elle memang ke sana beberapa waktu lalu dengan penerbangan biasa. Tim IT kita berhasil mendapatkan rekaman cctv bandara Jerman yang memperlihatkan kedatangan Elle di sana." 


"Itu bagus. Selagi rubah dan ular itu masih belum bergerak, awasi terus mereka. Untuk sementara ini, kita urus Elle lebih dulu." Ucap Rihan tenang.


"Siap, Tuan."


"Aku sudah menyetujui proposal dari Cognizant Technology. Hubungi mereka dan lihat apa yang mereka inginkan." Rihan kemudian menyerahkan proposal perusahaan Cognizant Technology yang sudah ditandatangani.


"Baik, Tuan. Saya pamit untuk mengirim ini pada Mentra."


"Hm."


Baru saja Alex akan membuka pintu, Neo lebih dulu masuk ke ruang kerja Rihan dengan wajah kesal. Pria itu tanpa merespon Alex, dia justru menuju Rihan yang tadinya hanya menatapnya sekilas, kini beralih membaca berkas di depannya.


Alex hanya bisa menghela nafas untuk menahan diri agar tidak memberi bogem manis di wajah Neo yang selalu seenaknya itu. Asisten Rihan itu lalu bergegas keluar.


"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk bekerja?" Sindir Neo kesal.


"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk marah-marah?" Balas Rihan santai sambil membuka lembar selanjutnya dari berkas yang dia baca. Pandangannya fokus pada berkas di depannya tanpa peduli pada pria di depannya.


Brak


"Apa aku harus membuat R.A Group bangkrut agar kamu tidak usah bekerja?" Kesal Neo setelah menggebrak meja kerja Rihan pelan.


"Apa itu ancaman?" Tanya Rihan santai.


"Tidak."


"Lalu?"


"Sepertinya kita harus meluruskan pembicaraan waktu itu yang tertunda," Ucap Neo datar lalu beranjak ke samping Rihan, kemudian menarik berkas di tangan Rihan dan membuangnya sembarangan.

__ADS_1


Pria itu lalu menekan Rihan di tempat duduknya. Posisi mereka saat ini, Rihan yang duduk di kursi, Neo yang berdiri di depan Rihan dengan kedua tangan berpegangan pada pegangan kursi kebesaran milik Rihan, dengan wajahnya berada beberapa senti dengan wajah Rihan. Keduanya saling menatap lekat satu sama lain.


__ADS_2