
Mommy Rosse dan Mama Shintia sudah sembuh sehingga diperbolehkan pulang, dengan alasan tidak boleh bergerak atau melakukan sesuatu yang mengganggu kondisi tubuh mereka. Terlebih Mama Shintia, karena luka sayatan di punggungnya.
Awalnya mereka akan tinggal sedikit lebih lama di Jerman mengingat kondisi dua wanita itu, tetapi mendengar anak kesayangan mereka sudah dibawa ke New York untuk pengobatan, Mommy Rosse memutuskan untuk pulang lebih cepat. Ibu kandung Rihan itu ingin sekali melihat kondisi anak semata wayangnya.
Sayangnya, Zant tidak mengijinkan keluarga Rihan untuk datang ke Lab pribadi gadis kecilnya. Sebenarnya bukan keinginan Zant, tetapi pesan Rihan sejak dulu pada Gledy agar keluarganya tidak boleh datang ke laboratorium ini. Entah kenapa Rihan tidak ingin keluarganya tahu dan melihat laboratorium miliknya.
Akhirnya dengan bujukan dan alasan yang bisa diterima, sehingga Zant hanya melakukan panggilan video agar keluarga Rihan bisa melihat keadaan gadis kecilnya.
...
"Di mana dia sekarang?" Tanya Neo melalui panggilan telepon pada Logan.
"New York. Kamu ingin ke sana? Untuk apa?"
"Entahlah. Aku hanya ingin ke sana. Aku berharap bisa bertemu dengannya,"
"Aku tidak yakin kamu bisa bertemu dengannya. Jangan lupa jika dia memiliki orang-orang posesif di sekitarnya. Belum lagi, melihat kamu yang datang ke sana, itu tidak akan mudah. Aku sarankan, lebih baik jangan pernah ke sana."
"Aku tahu kesalahanku sangat fatal dan tidak akan pernah bisa dimaafkan. Tapi aku akan terus berusaha mendapatkan maaf dari keluarganya lebih dulu. Apapun yang mereka inginkan, akan aku lakukan. Meski harus mengorbankan nyawaku sekalipun, aku tidak masalah. Asalkan bisa bertemu dengannya. Aku... aku sangat ingin bertemu dengannya, Gan." Suara Neo terdengar lirih.
"Aku mengerti. Tapi... sudahlah. Ikuti saja kata hatimu."
"Hm."
Panggilan berakhir.
Neo meletakkan ponsel di atas meja dan mengusap wajahnya kasar. Berbicara mengenai Rihan, dadanya terasa sangat sesak. Berkali-kali dia harus menghela nafas dan menghembuskannya pelan menenangkan dirinya sendiri.
Neo menatap layar laptop di depannya dan membuka email masuk sejak kemarin yang belum dibuka sama sekali. Neo belum membukanya karena tidak ingin mengetahui semua kebenaran tentang sang kekasih. Pria itu merasa semua ini hanya mimpi.
Neo berharap, andaikan perkataan pedasnya dan bahkan apa yang sudah dia lakukan pada Rihan adalah mimpi semata, sehingga ketika bangun, itu tidak akan membuatnya menyesal dan bahkan sakit seperti sekarang.
Sekali lagi, Neo menghembuskan nafas pelan, kemudian mengklik file yang terlampir dalam email. Setelah terbuka, Neo membacanya. Setiap kalimat, foto, rekaman kamera pengawas, dan bukti lainnya yang terdapat dalam file, sangat jelas, beserta tanggal dan waktunya. Dunia Neo seakan runtuh mengetahui semua kenyataan ini. Dadanya semakin sesak. Penyesalannya semakin besar setelah mengetahui fakta tentang kekasihnya.
"Hahaha... Betapa bodohnya aku tidak tahu apapun. Bagaimana bisa aku begitu percaya padanya hingga seperti ini? Kepercayaanku padanya membuatku melukai orang yang sudah banyak berkorban untukku dan keluargaku. Orang yang aku sayangi, aku melukainya dengan tanganku sendiri. Hahaha... benar-benar pria bodoh. Hiks..." Neo berbicara dari tertawa hingga menangis.
File yang dikirim padanya, semuanya berisi apa saja yang dilakukan Elle selama ini. Mulai dari menjebak Brand, menculik dan menyuruh orang memperkosa Phiranita hingga truma, berpura-pura menjadi kekasih Avhin, melakukan rencana pembunuhan pada Neo di perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Rihan, menukar makanan untuk Rihan sehingga membuatnya alergi, melakukan percobaan pembunuhan pada kedua orang tua Neo, dan kejahatan lainnya.
"Ya, Tuhan! jika saja... jika saja aku mengenal Rei lebih dulu, aku mungkin tidak seperti ini." Gumam Neo dalam hati.
"Aku lebih percaya padanya dari pada sahabat baikku sendiri yang hidup bersamaku sejak kecil. Aku lebih percaya pada wanita yang selalu bertingkah polos di depanku. Aku bisa gila..." Sambung Neo dalam hati semakin frustasi.
__ADS_1
Srek
Srek
Prang
Brukk
Brukk
Neo menghempaskan apa saja yang ada di atas meja ke bawah. Perasaannya saat ini campur aduk, antara sedih, kecewa, marah, menyesal, dan bahkan merasa lucu. Neo tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Tok
Tok
Tok
"Sayang! Kamu baik-baik saja? Aku mendengar barang jatuh dari kamarmu." Suara Elle terdengar dibalik pintu kamar Neo.
Neo hanya menatap datar pintu kamarnya tanpa berniat membalas. Neo lalu membuka laci meja, mengambil sebungkus rokok yang dibeli sejak kemarin. Neo kemudian mengambil sebatang rokok dan menghisapnya setelah membakarnya. Sangat jarang Neo merokok. Pria itu hanya merokok jika sedang stres. Seperti sekarang ini.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu, Rei. Aku... aku ingin meminta maaf padamu, meski aku tahu itu sulit. Hanya saja, aku ingin mencobanya. Jika tidak bisa, biarkan aku melihatmu sekali saja. Aku merindukanmu." Ujar Neo dalam hati lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Pandangan matanya ke arah langit-langit kamarnya.
Zant saat ini sedang menatap dengan seulas senyum tipis plang nama yang baru saja dia gantung di depan pintu rumah kecil yang sebenarnya adalah laboratorium pribadi milik gadis kecilnya. Dengan dua tangan terlipat di dada, Zant tersenyum tipis setelah membaca nama rumah kecil ini.
...*My Albany*...
Zant tidak pernah melupakan nama ini. Sejak kecil Zant sangat penasaran kenapa gadis kecilnya ketika merajuk, maka Zant akan dipanggil 'dasar Albany'. Karena masih kecil, Zant tidak terlalu mempedulikannya. Ketika dewasa, dia akhirnya tahu arti Albany yang adalah putih. Masalahnya, kenapa dia selalu dipanggil putih ketika gadis kecilnya merajuk?
Pria itu yakin, gadis kecilnya sudah melupakan nama itu, sehingga dia berinisiatif mengingatkan kembali masa kecil mereka. Alasan lain, karena rumah kecil ini baik luar maupun dalam semuanya berwarna putih, sehingga nama itu sangat cocok. Zant juga ingin melihat wajah kesal gadis kecilnya, dan juga ingin mendengar sendiri alasan dia dipanggil Albany.
"Putih?" Komentar Dokter Galant yang baru muncul dengan dua cangkir kopi di tangannya. Dokter pribadi Rihan itu lalu meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja.
Sudah satu minggu mereka tinggal di rumah kecil dengan nama baru My Albany ini. Zant berinisiatif membuatnya lebih nyaman lagi untuk ditinggali. Pria itu memesan beberapa set kursi dan meja untuk bersantai di depan rumah, membuat taman kecil di samping rumah dengan akuarium kecil yang menghiasi taman mini itu.
Jangan lupakan lampu-lampu kecil kelap-kelip yang juga dipasang di sekitar plang nama dan taman mini itu. Rumah kecil yang awalnya terlihat biasa saja dan tanpa penghuni, kini terlihat hidup dan enak untuk dipandang.
Dokter Galant hanya geleng kepala melihat kesibukan anak presiden Jerman itu selama hampir 3 hari ini. Zant juga memasang pembatas transparan yang dapat dikontrol dengan remote di depan My Albany agar angin pesawat tidak menghancurkan keindahan yang sudah dibuat.
"Tuan majikan akan marah melihat semua yang sudah kak Zant buat ini." Komentar Dokter Galant dan menggelelng.
__ADS_1
"Memang itu tujuanku," Balas Zant dan tersenyum tipis kemudian duduk di depan Dokter Galant.
"Cepatlah sembuh, gadis kecil. Aku ingin mendengar komentarmu tentang semua yang aku buat ini." Sambung Zant dalam hati.
"Sepertinya cake buatanku sudah matang. Aku akan mengambilnya sebentar, Kak." Pamit Dokter Galant dan masuk ke dalam setelah Zant mengangguk.
Tiba-tiba Zant menyeringai dan mengambil ponselnya dalam saku celana kemudian mencari nomor ponsel seseorang dan mulai menelponnya.
"Bagaimama kabarmu?" Tanya Zant datar setelah panggilannya dijawab.
"Tu...Tuan?" Suara di seberang sana terdengar gugup.
"Ada apa dengan suaramu? Tidak seperti biasanya." Tanya Zant santai.
"Maaf, Tuan. Saya hanya kaget anda menelpon."
"Hm. Bagaimana keadaan di sana?"
"Semua baik-baik saja, Tuan. Anda bisa tenang, karena saya menangani semuanya dengan baik."
"Benarkah?"
"I...iya, Tuan."
"Kalau begitu, aku ingin mendengar alasanmu. Kenapa Chi Corporation memblacklist Cognizant Technology."
"Itu..."
"Bagaimana dengan sekretarismu?" Tanpa mendengar jawaban, Zant sudah menanyakan hal lain.
"Dia baik-baik saja, Tuan."
"Aku pikir dia sudah dipecat, karena aku melihatnya bekerja di perusahaan lain."
"Hahaha... itu tidak mungkin, Tuan. Mungkin anda salah lihat."
"Benarkah? Aku bahkan melihatnya sibuk mengikuti acara untuk perusahaan itu. Apa mataku yang salah?"
"Itu... saya akan bertanya padanya nanti, Tuan."
"Hmm. Jangan lupa dengan tugas kalian. Aku tidak suka dengan orang yang tidak tahu menempatkan urusan pribadi dan bisnis."
__ADS_1
"Saya mengerti, Tuan."
"Kamu tidak mengerti sama sekali." Gumam Zant lalu memutuskan Sambungan telepon, karena Dokter Galant sudah datang dengan sepiring cake buatannya.