
Hari ini mansion Rihan sudah kembali sunyi. Pasalnya, semua orang sudah pulang. Termasuk para anak muda. Kecuali Alen, karena dia harus selalu bersama Rihan di masa kehamilannya.
Meski awalnya ada sedikit perdebatan, tetapi keluarga Rihan dan Zant, akhirnya pulang juga. Mereka sudah cukup lama di sini. Satu minggu lebih mereka di sini, sehingga sudah waktunya mereka pulang. Rihan yang belum ingin pulang, tidak ikut. Mommy Zanri itu masih ingin menikmati liburannya di Indonesia.
Minggu lalu, Ariana sudah dimakamkan oleh keluarganya. Tidak banyak kerabat yang hadir. Hanya sebagian yang hadir. Kebanyakan tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Ariana, setelah Samuel Samantha, ayah Ariana dijebloskan ke penjara.
Sedangkan di media sosial, para netizen bersukaria karena meninggalnya si ratu bully. Mereka senang karena sudah tidak ada lagi yang mengganggu mereka.
Untuk bisnis keluarga Samantha, kini hanya tersisa satu hotel dan beberapa restaurant. Rihan hanya menyisahkan beberapa untuk mereka. Itupun, karena bisnis itu ditangani langsung oleh Alvin, kakak Ariana, sehingga tidak ada kecurangan dalam bisnis itu.
Jadi, ibu dan kakak Ariana tidak mengalami kesulitan ekonomi. Sedangkan Samuel Samantha, pria paru baya itu sudah masuk rumah sakit jiwa setelah mendengar kematian anak kesayangannya.
***
Rihan saat ini sedang bosan di ruang tamu. Suami posesifnya tidak ingin dia melakukan apapun lagi. Rihan hanya disuruh diam di tempatnya. Semua pekerjaan perusahaan sudah diserahkan sepenuhnya pada Alex. Rihan hanya akan memberi tanda tangannya, maupun pendapatnya jika diperlukan.
"Dimana suamiku, Kak?" Tanya Rihan pada Alen yang duduk di sofa depannya. Rihan sendiri sedang asik dengan game di ponselnya.
"Saya tidak tahu, Nona."
"Ya, sudah." Tangan Rihan masih asik menyentuh kesana kemari setiap ikon dalam layar ponselnya, demi menyerang maupun mempertahankan jagoannya dalam game.
"Nona tidak ingin makan sesuatu?" Tanya Alen sambil menatap lekat Rihan yang serius dengan ponselnya.
"Tidak, Kak."
"Baiklah."
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan hingga keduanya dikagetkan dengan kemunculan beberapa orang dengan kotak sedang di tangan masing-masing.
"Hm?" Rihan menghentikan permainannya dan menatap dengan sebelah alis terangkat, para bawahannya yang menaiki tangga sambil membawa kotak di tangan masing-masing.
"Saya akan bertanya pada mereka, Nona." AlenĀ membuka suara dan segera berdiri menyusul para bawahan Rihan itu.
"Apa yang kak Zant lakukan?" Gumam Rihan menggeleng kepalanya.
...
"Ada apa, Kak?" Rihan bertanya karena kemunculan Alen disertai dengan senyum tertahannya sedari tadi.
"Tuan Zant membeli banyak buku. Diantaranya ada; menjadi ayah yang baik, bagaimana merawat istri yang sedang hamil, bagaimana menjadi suami siaga, cara merawat bayi, apa saja makanan kesukaan ibu hamil, cara agar istri dan bayi tetap sehat, dan masih banyak lagi. Hahaha... suami idaman." Alen berbicara sambil menghitung jarinya kemudian tertawa.
"Kak Zant benar-benar." Rihan hanya bisa geleng kepala. Tapi dalam hati sangat senang.
"My King, kamu dimana?" Rihan bertanya pada Zant di seberang telepon.
"Kamu butuh sesuatu, My Queen? Katakan saja! Aku akan membelinya. Aku juga sedang dalam perjalanan pulang." Suara Zant terdengar khawatir.
"Aku butuh daddy Zanri, sekarang!"
"Eh? Baiklah. Tunggu daddy, Baby... lima menit daddy sampai. Tunggu suamimu ini, My Queen. Love you."
"Love you too."
Panggilan pun berakhir.
Tidak lama kemudian, Zant muncul di ruang tamu sambil menenteng dua plastik besar bermerek swalayan ternama di Jakarta. Rihan sudah bisa menebak apa isi dalam kantong plastik di masing-masing tangan suaminya.
"Kenapa sampai serepot ini?" Gumam Rihan setelah Zant meletakkan dua plastik yang dia bawa di atas meja, kemudian menghampirinya sekedar memberi kecupan di bibir dan di perutnya.
"Hehehe... menurut artikel yang aku baca, ibu hamil biasanya lebih suka memakan buah-buahan asam. Terutama mangga. Jadi..." Zant menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Itu semua tergantung ibu hamil itu sendiri, Kak. Kata mommy, dulu mommy tidak suka dengan buah yang asam. Justru, mommy lebih suka yang manis-manis."
"Benarkah? Berarti artikel itu salah." Komentar Zant lalu membuka ponselnya.
"Itu tidak salah, My King. Sudahlah. Jangan dipikirkan. Jika aku ingin makan sesuatu, aku pasti akan memintanya padamu."
"Ya, sudah. Ingat untuk merepotkan suamimu ini. Jangan merepotkan orang lain."
__ADS_1
"Oke."
Alen yang melihat dua orang di depannya ini, hanya tersenyum tipis. Sesekali Alen akan menoleh ke arah lain, karena tidak ingin melihat kemesraan pasangan di depannya ini.
"Tapi, My King."
"Hm?" Zant berdehem setelah mengecup sayang pucuk kepala Rihan yang bersandar di bahunya.
"Untuk apa membeli buku sebanyak itu?"
"Oh, sudah sampai? Baguslah. Kalau begitu, aku ingin melihat mereka sekarang."
"Nanti saja. Temani aku di sini. Dan juga, jawab pertanyaanku tadi."
"Baiklah. Kamu tahu, My Queen! Aku begitu bahagia ketika tahu aku akan menjadi seorang ayah. Aku bahagia sekaligus takut. Takut, jika aku tidak bisa menjaga keluarga kecilku. Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk baby Zanri. Aku takut, tidak bisa merawatmu selama hamil. Dan masih banyak ketakutanku, My Queen. Aku hanya ingin menjadi suami siaga untuk kalian."
Rihan hanya tersenyum tipis mendengar penuturan suami posesifnya ini.
"Aku mengerti ketakutanmu, My King! Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja. Naluri seorang ayah, dan seorang suami akan menuntunmu untuk menjadi suami dan ayah yang siaga. Aku dan baby Zanri tidak akan merepotkanmu. Tenang saja!"
"Aku tidak masalah direpotkan. Tidak apa-apa merepotkan daddymu ini, Baby. Asalkan jangan merepotkan orang lain." Zant berbicara pada perut Rihan, membuat Rihan merasa geli sendiri.
"Siap, Daddy!"
Keduanya lalu terkekeh lucu.
***
Pukul 4 sore, Rihan meminta pada Zant untuk jalan-jalan. Zant dengan senang hati mengiyakan permintaan istri dan anak tercintanya. Dengan mobil sport yang baru dikeluarkan dari garasi, keduanya meluncur meninggalkan mansion.
"Ingin jalan-jalan kemana?" Tanya Zant lalu tersenyum tipis.
"Antarik Univeristas."
"Sesuai keinginanmu, My Queen."
Mobil kemudian meluncur dengan kecepatan rata-rata menuju Antarik Universitas. Zant meski penasaran, kenapa sang istri ingin kesana, tapi daddy Zanri itu tidak ingin bertanya. Lagipula, dia akan tahu jawabannya jika sampai di sana.
"My Queen, aku ke toilet sebentar! Jangan kemana-mana. Tunggu suamimu di sini, hm?"
"Ya. Jangan lama-lama."
Zant dengan cepat pergi meninggalkan Rihan yang mulai berjalan dengan pelan menuju tugu peringatan di depannya. Meski sudah dua tahun berlalu, tapi tugu itu tetap terawat. Masih terlihat beberapa bunga segar di sana.
Rihan tersenyum tipis ketika membaca beberapa memo yang ditempelkan di tugu peringatan itu. Semua isi memo hampir sama. Yaitu, doa dan harapan untuk Tuan muda Rehhand yang tertulis dalam setiap memo.
Asik membaca memo-memo itu, Rihan seketika berhenti dan mengerutkan kening. Dia baru sadar, ternyata dia tidak sendiri di sini. Ada seorang pria juga yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu juga menatap sendu tugu di depannya.
"Sudah dua tahun berlalu. Bagaimana kabarmu? Aku tidak tahu, apa itu kamu atau bukan. Tapi... karena tidak bisa bertemu dengannya secara langsung, maka aku datang menemuimu di sini. Aku... aku merindukanmu." Gumam pria itu, tanpa mempedulikan Rihan di sampingnya. Sepertinya pria itu belum menyadari keberadaan Rihan di sana.
"Brand?" Rihan baru menyadari siapa pria itu.
Tidak ingin mengganggunya, Rihan berbalik dan pergi. Baru lima langkah, Brand menghentikannya.
"Permisi... Kamu menjatuhkan ini,"
Rihan dengan santai berbalik dan menatap Brand.
"Kamu... ternyata benar kata Neo! kalian benar-benar mirip. Kamu Rihan, 'kan? Anak Jhack Lesfingtone?"
Brand memang sampai sekarang belum tahu bahwa Rihan adalah Tuan Muda Rehhand. Meski Neo sudah memberitahunya, tetapi pria itu tidak percaya jika dia tidak melihat secara langsung. Dan hari ini, dia akhirnya melihatnya.
Brand juga adalah orang yang setiap minggu selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke tugu peringatan Tuan Muda Rehhand. Dia akan selalu datang dengan membawa bunga. Brand juga yang meminta orang untuk menjaga dan merawat tugu ini.
"Kamu benar-benar dia?" Brand bertanya dengan pelan. Perasaan aneh mulai menjalar dalam hatinya.
"Bagaimana menurutmu?" Rihan balik bertanya.
"Izinkan aku menyentuh tanganmu sebentar saja," Rihan berpikir sejenak, kemudian mengulurkan tangannya pada Brand.
__ADS_1
SRET
GREP
"Jadi, ini...maksud perkataanmu dulu?" Gumam Brand setelah menarik Rihan kedalam pelukannya.
Brand kini percaya, bahwa Rihan dan Tuan Muda Rehhand adalah orang yang sama, setelah dia menyentuh tangan mungil itu. Brand teringat dengan pembicaraannya dulu dengan Rihan di taman mansion waktu itu.
"Terima kasih sudah kembali. Terima kasih untuk semuanya. Aku berdoa, kamu selalu bahagia." Ucap Brand di sela-sela pelukannya.
"Terima kasih, Kak." Balas Rihan pelan.
"Jadi, kamu sudah menikah?" Brand bertanya setelah pelukan mereka terlepas. Rihan hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku turut bahagia untukmu. Maafkan kesalahan Neo."
"Hm."
"Kamu masih hidup. Berarti, sia-sia aku datang melihatmu di sini setiap minggu." Brand terkekeh lucu pada dirinya sendiri. Rihan juga tersenyum tipis.
"Dengan siapa kamu datang?"
"Dengan suamiku."
"Oh. Aku ingin berkenalan dengannya. Aku ingin tahu seperti apa suami dari adikku ini."
"Sebentar lagi dia akan datang."
"Ini milikmu?" Brand menunjukkan sapu tangan.
"Bukan," Rihan menggeleng karena memang bukan miliknya.
"Lalu milik siapa? Ini ada didekat tempatmu berdiri."
"Bukan milikku."
"Ya, sudah. Aku akan menyimpannya kalau begitu."
Setelah itu, keduanya dalam pembicaraan santai, seputar kehidupan Rihan selama dua tahun ini. Brand bertanya karena ingin tahu. Rihan juga dengan senang hati menjawabnya.
Tidak lama kemudian, Zant datang dan segera membawa Rihan ke sisinya. Pria itu memeluk pinggang Rihan posesif. Penyakit kecemburuannya kumat lagi, karena melihat istrinya berbicara dengan seorang pria.
Brand tidak mempermasalahkan kelakukan Zant. Pria itu juga memakluminya, dan segera memperkenalkan diri sebagai kakak Rihan. Ketiganya kemudian bercerita sedikit hingga Brand pamit karena ada meeting perusahaan.
Setelah kepergian Brand, Zant masih memeluk pinggang istrinya posesif. Pria itu menanyakan kemana Rihan ingin pergi lagi. Rihan mengatakan, dia ingin melihat kelasnya. Keduanya kemudian menuju ke sana.
"Kamu tahu, My Queen! Aku tadi bertemu dengan seorang gadis yang tidak tahu malu." Zant mulai bercerita selama perjalanan mereka.
"Gadis tidak tahu malu?"
"Hm. Dia dengan tidak tahu malunya meminta nomor ponselku. Dia juga menggodaku dengan tubuhnya."
"Menggoda dengan tubuhnya? Seperti apa?" Suara Rihan terdengar dingin. Zant tiba-tiba meneguk ludahnya susah paya. Aura istrinya kali ini sangat menyeramkan.
"Sepertinya aku salah karena menceritakan ini padanya." Gumam Zant dalam hati.
"Jawab pertanyaanku!" Suara Rihan mengagetkan Zant.
"Dia... dia memeluk lenganku tadi."
"Apa lagi?"
"Dia menyentuh dadaku."
"Selanjutnya?"
"Hanya itu."
"Menjauh dariku sekarang!"
__ADS_1
"Maafkan aku, My Queen. Jangan begini, hm?"
"Bersihkan tubuhmu terlebih dahulu sebelum menyentuhku dan anakku!"