Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kekalutan Alex


__ADS_3

"Ternyata kami salah, sudah meremehkanmu!" Ucap pria yang dipanggil Bos. Pria itu sedang berusaha tenang karena tidak ingin Rihan menertawakannya yang mudah terpancing emosi.


"Dan saya tidak menyangka anda tidak menepati janji," Balas Rihan datar lalu duduk dengan tenang di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.


"Hahahaha... Kalau itu saya minta maaf. Saya hanya sekedar ingin anda dan asisten anda menikmati dessert yang kami sediakan." Ucap sang Bos setelah memaksakan diri untuk tertawa.


"Jika begitu, mungkin saya juga harus minta maaf untuk ini." Rihan tetap tenang, lalu mengambil iPad di tangan PB 010 yang berdiri di sampingnya dan meletakkannya di atas meja untuk dilihat oleh kedua pria di depannya.


"Hahaha... Anda tidak perlu minta maaf karena itu sudah menjadi tugas mereka setiap hari." Ucap sang Bos setelah menonton rekaman langsung yang berisi pergulatan panas antara dua wanita bayaran di kamar yang sedang dijaga oleh pengawal Rihan.


Dia berbicara seperti itu pada Rihan seolah-olah dia tidak mempedulikannya. Padahal dia sedang menggertakkan gigi menahan marah.


"Baguslah! Jadi saya tidak perlu merasa bersalah atas balasan dessert yang anda siapkan untuk kami." Rihan membalas dengan tenang, lalu menampilkan seringai liciknya pada pria di depannya, membuat pria yang menjadi dalang penculikan sang sahabat menatap Rihan tajam.


"Bisakah saya mendengar alasan anda menyusup ke mansion?" Sambung Rihan menompang dagunya dengan satu tangan dan menatap datar pria di depannya.


"Tidak ada alasan apapun. Saya hanya penasaran dengan mansion anda yang begitu megah dan jauh dari ibukota." Jawab pria itu tenang.


"Hanya penasaran dengan mansion saya, dan bukan ingin mencari sesuatu?" Rihan mengangkat sebelah alisnya.


Skakmat.


"Bajingan ini tahu tujuanku?" Batin pria di depan Rihan.


"Ya. Saya hanya sekedar penasaran sekaligus ingin tahu kenapa anda mendirikan mansion yang begitu megah di dekat hutan." Ucap pria itu.


"Saya hanya ingin ketenangan. Dan jika ada yang mengusik ketenangan itu, maka selamat mendapatkan kejutan dariku." Balas Rihan, lalu menggeser pelan gelas berisi wine yang baru saja dia isi di atas meja hingga jatuh ke bawah dan pecah.


Rihan melakukan itu untuk memperlihatkan pada mereka bahwa siapa yang mengusik ketenangannya maka dia akan berakhir sama seperti gelas berisi wine itu.


"Saya rasa ini merupakan pertemuan pertama sekaligus terakhir kita, Tuan Charmos Shortune atau Tuan Muda Chaudone Brandon Lexiusys?" Ujar Rihan lalu berdiri dan pergi meninggalkan pria itu dan bawahannya yang berdiri di sampingnya.


"Bagaimana..." Syok pria dengan nama panggilan Brand sekaligus pemilik perusahaan yang sudah berdiri hampir 10 tahun itu atau CEO misterius Miara Group.


"Kejutan karena berhasil mengusik ketenangan seorang Rehhand." Balas Rihan dengan langkah terhenti dan berdiri 3 langkah di depan pintu keluar.


Setelah mengatakan itu, Rihan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu meninggalkan Brand dengan wajah merah padam menahan amarah.


Prang.


Prang.


Bruk.

__ADS_1


Begitulah suara dalam ruangan yang Rihan tinggalkan. Sepertinya emosi seorang Brand benar-benar tidak bisa diredahkan.


"Apa saja yang sudah anak buahmu lakukan, Dom? Kenapa bajingan itu berhasil mendapatkan identitasku?" Marah Brand setelah mengeluarkan emosinya yang tidak lagi bisa ditahan dengan menghancurkan apa saja yang ada di atas meja di depannya.


Bagaimana tidak marah, jika ini merupakan pertama kalinya ada orang yang berhasil mendapat identitasnya. Sedangkan dia dikenal publik dengan nama Charmos Shortune. Hanya orang-orang dekatnya atau orang yang sudah mengenalnya lama yang tahu nama lengkapnya.


"Maafkan kami, Tuan! Sistem kita tidak mendapat tanda adanya penerobosan atau masuknya sistem lain untuk mencari identitas anda." Dom menjawab dengan wajah tertunduk saking takutnya dengan kemarahan sang tuan.


"Kamu memang tidak bisa diremehkan, Tuan Muda." Gumam Brand dengan kedua tangan terkepal erat.


Rihan memang akan mengetahui identitas lengkap seseorang hanya dengan melihat langsung seperti apa rupa orang yang dia lihat, karena Rihan memakai lensa khusus yang bisa memperlihatkan identitas lengkap seseorang tanpa diketahui. Entah alat canggih apa yang sudah Rihan pakai.


***


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Alex ketika Rihan memasuki mobil dan duduk di bagian belakang sedangkan Alex sendiri di bagian depan, tepatnya kursi kemudi.


"Kamu berharap aku sakit?" Balas Rihan masih ingin mengganggu sang asisten.


"Bukan itu maksud saya, Tuan." Balas Alex lalu menjalankan mobil meninggalkan hotel milik keluarga Alexander.


"Hmm."


Setelah 10 menit hening, Alex kembali membuka suara.


"Hmm."


"Saya minta maaf karena tidak bisa menjaga diri dengan baik." Ucap Alex dengan nada bersalah. Alex sebenarnya malu jika membahas ini, akan tetapi dia harus membahasnya.


"Hmm."


"Tuan, saya merasa sangat kotor. Bisakah anda..." Nada suara Alex sangat menyedihkan membuat Rihan menjadi tidak tegah. Akan tetapi, dia harus tetap pada pendiriannya, yaitu mengerjai asisten pribadinya ini.


"Kamu akan tetap di sisiku. Kamu mengatakannya seolah-olah kamu adalah seorang gadis dan sebentar lagi akan bunuh diri." Rihan memejamkan matanya berusaha tidak luluh.


"Tuan..."


Ckiiit.


"Maafkan saya, Tuan! Anda baik-baik saja?" Tanya Alex karena hampir saja dia menabrak mobil di depannya. Alex lalu menghentikan mobil di pinggir jalan.


"Biarkan PB 010 yang mengemudi. Kamu hampir saja membuatku menginap lagi rumah sakit setelah 3 tahun." Ucap Rihan dengan maksud bercanda di bagian menginap di rumah sakit. Sayangnya, kalimat itu membuat Alex merasa bersalah.


"Saya minta maaf sebesar-besarnya Tuan, sa... saya benar-benar tidak bisa fokus." Alex mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya dan menyandarkan dahinya pada setir mobil.

__ADS_1


Alex benar-benar kalut karena merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya diperkosa oleh seorang gadis. Dirinya sangat tidak tenang, apalagi sang majikan mengetahuinya. Alex benar-benar sangat malu. Seharusnya dia yang menjaga sang majikan, akan tetapi malah dia yang dijaga ketika tertidur.


"Gantikan Alex." Ucap Rihan pada PB 010 yang baru saja datang dan menunduk hormat pada Rihan di luar mobil.


"Baik, Tuan Muda." Balas PB 010 dan membuka pintu mobil.


"Biarkan saya yang mengemudi, Tuan." Ucap PB 010 pada Alex yang baru saja menatapnya dengan sayu.


Alex hanya menganggukkan kepalanya kemudian berpindah duduk di kursi sebelah agar PB 010 yang akan mengambil alih setir mobil.


***


"Ada apa dengan kak Alex?" Tanya Alen pada PB 010 setelah sang majikan sudah masuk ke kamarnya.


Alen menanyakan itu karena ketika sang kakak keluar dari mobil, wajahnya benar-benar kusut dan menjadi lebih diam dari biasanya yang akan mengusap kepala Alen ketika baru pulang dan bertemu dengannya.


"Tuan Muda mengerjainya, Nona." Jawab PB 010 sambil menahan senyumnya karena merasa lucu dengan orang yang paling ditakuti kedua setelah Rihan.


"Mengerjai bagaimana? Tidak biasanya tuan muda begitu," Heran Alen.


"Tuan nuda mengatakan bahwa Tuan Alex diperkosa oleh seorang gadis setelah diberikan obat tidur." Jelas PB 010 masih menahan senyumnya. Ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak, akan tetapi takut membuat gadis dingin di depannya ini marah.


"Astaga... Ya, ampun. Hahahaha..." Tawa lepas Alen ketika mendengarnya.


Bukannya kasihan sang kakak dikerjai, gadis cantik itu malah tertawa lepas. Alen sendiri tahu apa yang terjadi di kamar itu karena dia ikut menontonnya lewat kamera pengawas berbentuk capung yang diperintahkan Rihan untuk dikirim ke sana.


Tawa lepas Alen membuat beberapa penjaga termasuk PB 010 yang melihatnya begitu terpesona karena ini pertama kalinya mereka melihat tawa lepas seorang gadis tanpa ekspresi seperti Alen. Jangankan tawa, senyum pun belum pernah sama sekali.


Satu kata ketika melihat tawa lepas Alen.


Sangat cantik!


Merasa ditatap oleh beberapa pasang mata penuh kekaguman, Alen berhenti tertawa dan kembali memasang wajah datarnya. Mereka yang melihat perubahan itu, hanya bisa bernafas kecewa.


"Kamu boleh kembali." Ucap Alen datar lalu bergegas pergi entah ke mana.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2