
Tanpa menunggu perayaan ulang tahun Antarik Company berakhir, Rihan sudah lebih dulu meninggalkan acara itu. Padahal ingin sekali dia melihat bagaimana reaksi Ariana ketika mendengar rencana perjodohan yang akan dilakukan oleh Julian Antarik. Sayangnya, Rihan mulai bosan mendengar pembicaraan ketiga orang itu.
Saat ini Rihan bersama kedua asisten pribadinya di dalam mobil dengan posisi duduk yang sama seperti tadi. Mobil kemudian melaju pergi meninggalkan Antarik Company menyisahkan rasa penasaran para tamu undangan yang ada disana.
Mereka penasaran kenapa Tuan Muda Rehhand itu sudah pulang lebih dulu padahal acara belum berakhir. Mereka hanya berpikir, pasti ada urusan mendesak sehingga Tuan Muda Rehhand itu pulang terlebih dahulu.
Sedangkan David yang melihat kepulangan Rihan hanya biasa saja. David bisa menebak alasan apa yang membuat Tuan Muda Rehhand itu pulang sebelum acara berakhir. David sangat yakin jika tuan muda itu pasti merasa risih dengan tingkah dua gadis manja yang terlihat sangat mengagumi sosoknya.
David mulai merasa kagum akan sosok Rihan yang terlihat sangat sulit untuk didekati. Melihat bagaimana pembawaannya yang tenang, membuat David semakin menguatkan hatinya dan merencanakan sesuatu yang nantinya membuat Rihan tertarik untuk berteman dengannya.
Bukan karena perkataan ayahnya untuk berteman dengan Rihan, tetapi David secara pribadi ingin sekali untuk lebih dekat dengan Tuan Muda Rehhand itu.
"Kenapa Ariana tidak menyapamu, Dev. Dia justru malah mendekati Tuan Muda Rehhand." Tanya ibu David membuyarkan lamunan David.
"Dev juga tidak tahu, Bu. Mungkin Ariana menyukai Tuan Muda Rehhand, entahlah." David hanya mengedikkan bahunya acuh dan berpura-pura tidak tahu.
"Ariana adalah gadis baik-baik yang ibu tahu. Jadi, tidak mungkin dia melakukan itu. Perjodohan kalian sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu, dan tidak ada penolakan apapun. Itu artinya Ariana sangat mencintaimu." Ibu David beralih menatap Ariana yang saat ini sedang bercanda ria dengan gadis-gadis seusianya.
"Terserah ibu." Jawab David dengan malas. Suatu saat ibunya pasti akan tahu sifat asli Ariana.
***
Beralih ke mobil Rihan yang dikendarai oleh Alex. Mobil tiba-tiba berhenti mendadak karena Alex secara refleks menginjak rem mobil sehingga mobil berhenti tiba-tiba.
"Anda baik-baik saja, Tuan." Tanya Alex dan Alen hampir bersamaan karena khawatir dengan keadaan majikan mereka yang dahinya terbentur kursi mobil di depannya ketika Alex menginjak rem mendadak.
"Ada apa?" Tanya balik Rihan tanpa menjawab pertanyaan kedua asisten pribadinya.
Rihan tidak merasakan sakit apapun pada dahinya. Sakit yang dirasakan pada dahinya tidak seberapa dengan rasa sakit akibat berlatih dan rasa sakit akibat masa lalunya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Ada orang yang tiba-tiba lewat di depan mobil kita sehingga saya menginjak rem secara mendadak. Maafkan saya, Tuan." Alex berbicara dengan nada bersalahnya. Keselamatan Rihan selalu menjadi prioritas utama mereka.
"Periksa keadaannya," Pintah Rihan datar lalu bersandar pada kursi kemudian memejamkan matanya.
Alex dan Alen yang mendengar perintah sang majikan langsung keluar dari mobil dan melihat orang yang hampir mereka tabrak.
Setelah sampai di depan mobil, mereka bisa melihat tubuh manusia yang terkapar tidak berdaya. Ketika diperhatikan lagi, ternyata tubuh itu adalah seorang gadis berambut panjang acak-acakan yang menggunakan kemeja kotak-kotak sebatas sikut dengan celana jeans tanpa alas kaki.
Pakaian yang dikenakan gadis itu terlihat berantakan dan sangat kotor seperti habis dirampok. Di seluruh tubuhnya juga terdapat banyak memar serta luka goresan. Penampilan gadis itu terlihat sangat mengenaskan. Entah apa yang sudah terjadi pada gadis itu. Kedua saudara kembar itu sangat prihatin melihatnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya, Kak?" Tanya Alen lalu berjongkok sambil memeriksa semua saku pada baju maupun celana gadis itu guna mencari identitasnya.
"Dirampok atau diculik lalu kabur, kakak juga tidak tahu. Kamu menemukan identitasnya?" Tanya Alex diakhir kalimatnya dan ikut berjongkok melihat apa yang dilakukan saudari kembarnya.
"Tidak ada, Kak." Alen menggeleng, lalu memeriksa denyut nadi gadis itu.
"Jantungnya melemah, Kak. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit." Alen cukup kaget ketika selesai memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan gadis itu.
"Tunggu sebentar," Alex lalu berdiri dan menuju mobil ingin meminta persetujuan Rihan.
"Masukan dia dan bawa ke rumah sakit Setia." Rihan segera membuka suara ketika merasakan kehadiran seseorang. Rihan masih dengan posisi yang sama tetapi mata tajamnya kini melihat Alex yang berdiri di samping pintu mobil seakan tahu maksud Alex menghampirinya.
"Baik, Tuan. Bisakah anda juga pindah ke kursi depan agar Alen duduk di kursi belakang dan menjaga gadis itu?" Alex berseru dengan pelan.
"Aku yang akan menjaganya di sini." Balas Rihan datar.
"Tapi Tuan..."
"Lakukan saja, Lex." Potong Rihan pada Alex sambil memandangnya tajam.
"Baik, Tuan." Alex lalu berbalik dan menggendong gadis itu kemudian memasukannya ke dalam mobil, tepatnya kursi belakang yang diduduki oleh sang majikan.
***
Rihan memangkunya tanpa merasa risih ataupun jijik karena tubuh gadis itu yang begitu lusuh layaknya pengemis. Sedangkan kedua asisten pribadinya begitu gelisah di tempat duduk mereka. Mereka tentu tidak ingin merepotkan Rihan.
Awalnya Alen yang akan memangku gadis itu di belakang tetapi Rihan bersikeras untuk memangkunya dan kedua asisten pribadinya tidak bisa membantah apapun perintah sang majikan.
"Percepat mobilnya, Lex. Kondisi gadis ini semakin melemah." Perintah Rihan tegas pada Alex karena melihat gadis dipangkuannya mulai berkeringat dingin dan terlihat menarik nafasnya susah paya.
Rihan tidak bisa membantu gadis itu, karena dia tidak membawa peralatan medis apapun. Juga menurutnya, kondisi gadis ini tidak akan membawanya pada kematian, sehingga Rihan tidak terlalu khawatir. Dia hanya meminta Alex untuk mempercepat laju mobil karena dia tidak tegah melihat bagaimana tersiksanya gadis dipangkuannya ini.
"Tapi anda baik-baik saja jika saya menambah kecepatan mobil, Tuan?" Tanya Alex tanpa melihat lawan bicaranya karena dia sedang fokus mengemudi.
"Jalankan saja." Rihan menjawab tegas sambil membersihkan keringat di wajah gadis di pangkuannya dengan sapu tangannya.
"Baik, Tuan." Alex kemudian menambah kecepatan mobil membelah jalanan kota Jakarta menuju rumah sakit Setia.
***
__ADS_1
"Selamat datang, Presdir." Sambut para dokter di depan pintu masuk rumah sakit Setia.
Rihan hanya menganggukkan kepalanya tanda menerima sapaan mereka dan terus memperhatikan beberapa suster yang mendorong brankar berisi gadis yang dipangkunya tadi.
Sebelum sampai di rumah sakit, Alen sudah menghubungi pihak rumah sakit agar mempersiapkan brankar di depan pintu untuk membawa gadis yang hampir mereka tabrak tadi.
Rihan tiba-tiba merasa heran karena ketika sampai di depan rumah sakit Setia, sudah banyak dokter maupun perawat yang menunggu di depan pintu. Jika hanya satu atau dua petugas medis, bisa dimaklumi karena dia tahu, pasti Alen yang menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap menjemput pasien.
Memang pihak rumah sakit tidak diberi tahu apapun jika sang presdir akan datang. Akan tetapi, mereka yakin jika presdir baru mereka akan datang karena asisten pribadinya menelpon untuk mempersiapkan perlengkapan pasien.
Awalnya mereka khawatir jika terjadi sesuatu dengan sang presdir, sehingga dihubungi langsung oleh asisten pribadinya. Tetapi mereka kembali merasa legah, karena ternyata yang sakit adalah orang lain.
Dalam pikiran mereka, mungkin saja pasien adalah kenalan presdir sehingga diantar langsung olehnya. Akan tetapi ketika mendengar penjelasan Alen, mereka kini semakin kagum dengan sang presdir yang sangat baik hati meskipun terlihat dingin.
...
Rihan saat ini ada di ruangannya, tepatnya sedang duduk bersandar pada kursi kebesarannya sambil memejamkan matanya menunggu kedatangan Alex untuk menyampaikan informasi yang diinginkannya.
*Tok
Tok
Tok*
"Masuk!"
"Maaf, Tuan. Setelah dilakukan seleksi untuk posisi kepala rumah sakit, kini hanya tersisa 5 calon dari 10 calon yang mendaftarkan diri. Anda ingin bertemu dengan mereka sekarang atau nanti?" Alex mengatakan maksud kedatangannya dan diakhiri dengan pertanyaan ketika memasuki ruangan sang majikan dan berdiri tepat di depan meja kerja Rihan.
"Nanti saja. Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Rihan datar lalu memandang Alex tenang.
"Menurut dokter yang memeriksanya, sepertinya gadis itu mengalami tindak kekerasan dan pelecehan seksual, dilihat dari banyaknya luka di seluruh tubuhnya dan juga adanya memar di alat vitalnya. Dokter hanya mengdiagnosis, mungkin gadis itu akan mengalami trauma berkepanjangan. Untuk mengetahui traumanya, kita hanya perlu menunggu agar gadis itu sadar dan melihat kondisinya." Jelas Alex panjang lebar.
"Pantau selalu kondisinya, urus administrasinya dan cari tahu penyebab tindak kekerasan yang dilakukan padanya, juga cari identitas lengkapnya." Rihan lalu beralih menatap keluar jendela.
"Baik, Tuan."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.